Tangis Matahari

Henikulsumg

B

ocah manis itu menyusup di pangkuan ibunya, ketika telunjuk ayahnya ditempelkan ke bibir mungilnya. Seketika tangisnya reda. Ia sebenarnya belum begitu mengerti. Hanya tatapan tanya polosnya ketika tiba-tiba wajah ayahnya dipenuhi keringat. Ia pun belum mengerti kenapa tiba-tiba jantung ibunya berdebar, detaknya tak beraturan, setiap kali terdengar suara lantang berteriak dengan intonasi ancaman, kemudian disusul suara ringikan kuda.

Lama-kelamaan suaranya melemah, menjauh dan hilang bersamaan dengan detak jantung ibunya yang kembali normal. Beberapa saat kemudian, bapak setengah baya itu mengusap keringatnya. Ada kelegaan dalam setiap hirup nafasnya.

Anne, bocah kecil itu menatap ayahnya. Senyum polosnya seakan berkata ‘akupun lega, ayah, meski aku belum mengerti apa sebenarnya yang sedang terjadi’.

“Dari pagi tadi aku tidak melihat Henry. Di mana dia, Mery?” Ibu dari dua orang anak itu tersenyum.

“Dia semalaman bermalam di rumah bibinya, suamiku” jawab Mery tanpa menoleh suaminya.

            “Oo, kalau begitu, aku pergi dulu, Mery. Jaga anak-anak! Aku yakin kamu tahu apa yang mesti dilakukan kalau para prajurit itu menanyakanku. Jangan biarkan tangan kasar mereka menyentuh anak-anak kita!” Lelaki baya itu memegang erat tangan istrinya. Sorot matanya tajam, menekuri lantai rumah, sudut demi sudut dan kemudian terpejam. Ada kebencian yang mendalam dalam roman mukanya. Entah pada siapa dan mengapa.

Sambil tersenyum Mery mengangguk. Ada kecemasam tersembunyi di balik senyumnya. Senyum manisnya tiba-tiba terasa hambar ia rasakan. Tatapannya lurus menelusuri gurat-gurat wajah suaminya. Entah kenapa, Mery merasakan hal yang aneh berkecamuk dalam jiwanya. Ada perasaan berat melepas suaminya. Kalaulah bukan karena tugas, mungkin ia hanya perlu satu kalimat sebagai ungkapan keberatan ditinggal suami tercinta.

“Siapa yang akan menjaga aku dan anak-anak kalau kau pergi, suamiku?”

Tapi tidak. Mery bukan seorang Istri yang cengeng dan egois. Ia tahu tugas mulia suaminya. Melepas kepergiannya adalah sebuah kemuliaan dan kehormatan bagi keluarganya. Lagi-lagi hanya tatapan polosnya yang mampu mewakili rasa penasaran Anne kenapa ayahnya berkata demikian. Kenapa pula ibunya begitu cemas dengan ayah. Bukankah selama ini ayahnya sering pulang pergi tak menentu. Kadang pergi pagi-pagi buta, dan baru pulang pagi-pagi tiga hari kemudian, atau kadang baru pulang seminggu kemudian, itupun datang dan pergi dengan sembunyi-sembunyi sebelum aku bangkit dari pembaringan. Sebenarnya Anne ingin bertanya ini dan itu, mengapa dan kenapa, tapi bibir mungilnya tak mampu membantunya mengucapkan sederet kalimat tanyanya. Hanya tangisnya yang ia tunjukkan ketika ayahnya menghilang di balik pintu belakang. Aku tersenyum getir mendengar tangisnya. Tangis manis yang suci dan terlalu dini untuk dipertaruhkan bagi kepergian perjuangan sang ayah tercinta. 

***

Lima tahun kemudian kalimat tanya itu terucap dari bibir Anne. “Kak Henry, kenapa kita mesti terus sembunyi?” Henry hanya tersenyum.

            “Nanti Anne pasti tahu jawabannya. Sekarang sambil menunggu Ibu menyiapkan makanan, Anne ulang lagi apa yang tadi kakak lafalkan, ya!” bujuk Henry kemudian.

            Anne mengangguk. Sebenarnya ia ingin memaksa kakaknya menjawab semua tanyanya, tapi ia tak berani. Kakaknya terlalu baik untuk dipaksa. Walau umurnya hanya terpaut dua tahun, tapi Anne sangat menghormati Henry. Setelah kepergian ayahnya empat setengah tahun yang lalu, Henry adalah kakak sekaligus ayah baginya. Ayahnya meninggal akibat siksaan berat kerajaan atas tuduhan heresy*, sebagai pengikut al-Masih alias Yesus. Hanya derai isak tangis ibu yang dulu Anne lihat, setelah salah satu adik ibunya mengabarkan kematian ayahnya.

Mulai detik itu, ia akan menjalani hidup tanpa seorang ayah. Kini ia tak bisa melihat lagi ayahnya melafalkan sesuatu ke telinga kakaknya. Ia tidak bisa mencuri dengar lagi semua penjelasan ayah tentang Yesus. Ia hanya tahu tentang kelahirannya di Bethlehem lima mil dari selatan Arshelen.  Pada masa kekuasaan Yahudi berada di tangan Herodes. Lalu tentang penangkapanya, ketika ia mengadakan perjamuan terakhir atau perjamuan paskah dengan murid-muridnya, dan sesudah itu dia pergi ke Taman Getsemane. Di sana dia ditangkap serdadu yang dipimpin oleh Yudas Iskariot pada masa kekuasaan Pontius Pilatus. Oh, ya, Anne hampir lupa. Ayah bilang sebenarnya yang ditangkap dan disalib itu bukan al-Masih, tapi murid al-Masih, Yudas yang Tuhan serupakan dengan al-Masih. Itu terjadi ketika al-Masih mengadakan perjamuan terakhir bersama para muridnya. Dan tunggu satu lagi, ketika prajurit Romawi ingin menangkap al-Masih, dia sebenarnya sudah tidak ada di ruangan perjamuan itu. Terus untuk kabar selain itu?

Sayang sekali telinga mungil Anne belum mampu menangkapnya dengan jelas. Semua perkataan ayahnya masih terlalu berat menembus gendang telinganya. Tapi meski demikian, Anne sangat bangga. Dengan senang hati kakaknya, Henry selalu meluangkan waktu baginya. Henry bercerita tentang satu dan banyak hal, termasuk cerita al-Masih. Dari Henry, Anne tahu bahwa penangkapan Yesus adalah buah dari pengkhianatan Yudas Iskariot.

“Jadi Yesus itu utusan Tuhan, ya Kak?” Henry hanya mengangguk.

“Anne, ngomongnya jangan terlalu keras!” Henry berbisik mengingatkan Anne.

 Tiba-tiba ibunya berteriak. “Henry, Anne, cepat kemasi barang-barang kalian!” perintah ibu tegas.

 Tanpa ba-bi-bu Henry langsung membereskan lembaran-lembaran yang berserakan. Meski belum mengerti apa yang terjadi, dengan sigap Anne membantu ibu mengemasi semua baju dan barang lainnya. Henry sangat paham nyawa mereka selalu terancam. Ancaman kebencian dan siksaan kini bukan hanya dari kalangan Yahudi Farisi ataupun Saduki, namun mulai merembet ke kekaisaran Romawi. Henry tahu persis apa yang bakal mereka terima dari kerajaan, kalau kerajaan mengetahui mereka termasuk pengikut setia Yesus. Dan entah apa lagi yang akan mereka terima, kalau ternyata dirinya juga diketahui menyimpan warisan naskah Gospel atau Euangelion dari ayahnya. Henry sangat hafal akibat dari semua yang selama ini ia dan keluarganya yakini. Keyakinan itulah yang menyebabkan para tetangganya menjerit kesakitan dan akhirnya meregang nyawa, dijemput kematian yang mengenaskan. Henry pun sangat mengerti ketika ibunya menawarkan mereka untuk menyingkir dari Yerusalem, tanah kelahirannya ke Antokia, menyusul para pengikut Yesus yang telah hijrah ke sana lebih dahulu.

***

Ibukota Roma memerah. Keperkasaan si merah meninggalkan kepulan asap tebal yang hitam. Kemudian angin menyambutnya dengan duka penuh tanya. Asap itu semakin menipis. Tahun 64 M. adalah awal penyiksaan tanpa henti bagi pengikut Yesus. Kerajaan mencari pelaku pembakaran Roma. Sementara, di satu ruangan penjamuan kerajaan Romawi, puluhan serdadu Kaisar Nero tertawa lepas. Tawanya menggema memenuhi seluruh ruangan, meninggalkan pantulan suara menakutkan. Melalui celah-celah ventilasi udara aku berhasil melihat pesta kemenangan Nero.

“Jadi kita jadikan kebakaran Roma sebagai alasan, tuanku?” tanya seorang serdadu berkumis tebal sambil menyeringai penuh kemenangan.

 “Kamu cerdas! Ha..ha..ha…!!! sekarang cepat laksanakan keinginanku, aku ingin melihat pengikut Yesus punah.”

Tanpa terasa sore menjelang. Aku kembali ke peraduan. Sunnatullah memaksaku pulang.

 Sepeninggalku, aku tak tahu apa yang terjadi di luar sana. Hanya jerit tangis yang membangunkanku pagi-pagi. Aku terbelalak. Aku tak kuasa melihat adegan tragis itu. Tapi apa daya mataku harus terbuka sepanjang hari. Dari hari ke hari aku terpaksa menyaksikan semua perilaku kejam para prajurit Kaisar Nero terhadap Kristian, pengikut setia Yesus. Kristian begitu lelah menerima penyiksaan demi penyiksaan. Apakah penyiksaan yang selama ini mereka terima belum cukup.

Bukan!! Bukan mereka yang membakar Roma. Bukankah sejak awal abad pertama Masehi mereka disiksa. Penyiksaan mereka atas tuduhan pembakaran Roma adalah fitnah. Tuduhan itu adalah omong kosong. Kau memang tidak menyukai mereka, Nero! Kau sangat membenci mereka. Sebenarnya kau takut pada mereka. Kau takut prestise kekuasaanmu terancam dengan keberadaan mereka. Kau licik, Nero! Tuduhan itu kau lemparkan agar kau lebih leluasa membantai mereka. Aku benci kau!!! Kau bukan manusia. Oh, tidak. Jangan…, jangan…, Nero!! Aku menjerit, menangis ketika prajurit itu dengan seenaknya menebas leher-leher tak berdaya.

Ya, Tuhan sekejam itukah mereka. Apa itu? Oh, tidak. Aku menutup wajahku dengan awan, ketika mataku menerangi warna merah menghitam yang begitu tebal. Oh, genangan darah yang membeku.

“Ha..ha..ha..!!” prajurit-prajurit itu tanpa henti meneruskan aksinya. Ingin rasanya aku turun ke bumi. Akan ku katakan bahwa mereka tak berdosa apa-apa. Tapi apalah daya, si bengis itu tak akan mendengarkanku, seperti mereka tak mendengarkan pemintaan ampun seorang kakek renta yang diseret dengan paksa dari rumahnya karena terbukti sebagai pengikut Stefanus, salah seorang kelompok dua belas, kelompok orang yang dipilih Yesus semasa hidupnya untuk melambangkan pembaharuan Israel sebagai figur eskatologis.

Akupun tak kuasa menahan tangan kasar para prajurit ketika mereka melemparkan jasad yang entah sudah berbentuk apa ke depan anjing-anjing buas yang kelaparan. Tawa mereka semakin membahana ketika prajurit yang lainnya melemparkan badan yang bercucuran darah ke dalam godokan aspal yang akan dijadikan bahan penerang sepanjang jalan kerajaan. Kemanusiaan mereka sungguh telah mati. Hati nurani mereka telah bisu. Kini, hanya dendam dan gemuruh kebencian mendalam yang berkata. Mereka memang bukan manusia. Karena manusia punya hati dan kasih sayang. Air mata tak kuasa lagi ku bendung ketika ku saksikan jerit tangis kesakitan bocah-bocah cilik.

Anjing-anjing buas itu merobek-robek tubuh mungil mereka tanpa ampun. Dan tangisku semakin menjadi ketika ku saksikan tubuh milik Mery terbujur kaku, tepat di samping kaki belakang kuda putih kehitaman salah seorang prajurit Nero yang terbahak-bahak menyaksikan atraksi anjing buasnya. Bajunya terkoyak. Wajahnya membiru. Bekas cambukan memanjang dari pipi hingga lehernya.  Mereka  prajurit Nero memang tak akan membiarkan pengikut Yesus mati begitu saja. Mereka seakan belum puas kalau Kristian mati dalam keadaan tenang. Paling tidak mereka cukup puas kalau seribu satu cambukan dan penyaliban bisa menghantarkan Kristian menemui akhir kehidupannya. Lembut sinar mataku menyapa wajah Mery yang semakin kaku.  

***

Tahun 66 Masehi pun datang menjemput. Lembar sejarah manusia berpindah angka. Anne kecil kini menginjak umurnya yang ke tujuh. Sedang Henry menginjak umurnya yang ke sembilan. Sepeninggal ibunya, Anne dan Henry tinggal bersama adik ibunya di sebuah gubuk kecil, empat kilo meter dari gereja perdana Yerusalem yang didirikan pada hari Pantekosta. Henry baru mandi ketika terdengar suara ribut di luar, disusul dengan kepulan asap hitam yang membumbung di angkasa. Dengan segenap keberaniannya, Henry keluar mencari tahu apa yang tengah terjadi.

 “Bibi, bibi, apa yang terjadi?” Henry menghadang seorang wanita empat puluh tahunan yang berjalan terburu buru menuju selatan rumahnya.

“Ada kerusuhan. Hati-hati jangan keluar sembarangan, anakku” pesannya sambil terus berjalan.

“Ada apa, kak?” Anne bertanya penasaran ketika kepala Henry tersembul di balik pintu.

“Entahlah, tapi yang pasti di luar sana ada kerusuhan” Papar Henry penuh tanda tanya.

“Aku harus mencari tahu” tekad Henry kemudian.

 “Anne ikut, kak!” ucap Anne dengan penuh harap. Henry mengangguk.

Melihat itu senyum Anne merekah. Ada kebahagian tersendiri ketika ia mampu mengetahui apa yang dilakukan kakak semata wayangnya. Setelah kematian ibu dan ayahnya, rasa hormat, cinta dan sayang Anne dari hari ke hari semakin kuat. Bahkan kadang ia menangis ketika Henry menolaknya untuk sekedar ikut pergi ke luar mencari bahan makanan.

“Hati-hati di jalan, Henry” bibinya mengingatkan.

 “Dan kalau ada apa-apa pergilah, selamatkan diri dan adikmu, jangan pedulikan bibi” tambahnya kemudian.

“Tapi, bi…?” potong Henry menggantung.

“Sudah…, kau jangan khawatir! Bibi bisa jaga diri” sambil memegang pundak Henry, Bibinya meyakinkan. Henry mengangguk pelan. Setelah menyiapkan perbekalan, dua anak manusia itu pergi, berjalan sembunyi-sembunyi.

Aku menguntit mereka dari belakang. Aku merasa kagum dengan mereka. Kegesitannya dalam bersembunyi ketika para prajurit kerajaan beroperasi membuatku iri. Pengalaman hidup memang mengajarkan mereka segalanya, hidup waspada dan penuh perhitungan di antaranya. Itulah sebabnya setiap pembantaian mereka selalu selamat dari penangkapan.

 “Henry, Anne, cepat lari!! Jangan hiraukan Ibu, nak! Cepat pergi!!!” hanya itu yang masih teringat dalam benak mereka dua tahun yang lalu, ketika prajurit Nero dengan kasar menyeret tubuh ringkih ibunya yang tengah terbaring sakit. Ke dua anak itu terus berjalan menuju arah gereja Yerusalem. Dan sesekali bersembuyi di balik puing-puing rumah kubus milik penduduk dan kemudian akhirnya berhenti di depan gereja yang kini menghitam.

Anne dan Henry tidak lagi melihat Petrus sang pemimpin gereja dan para rahibnya. Suasana begitu lengang. Kalbu Henry bertanya, kenapa ia baru tahu kalau di Yerusalem ada kerusuhan. Ia berpikir, mungkin ia begitu tekun mengulang pelajaran ayahnya, sehingga tak menyadari apa yang tengah terjadi. Oh, ia ternyata masih beruntung karena rumah bibinya tidak jadi korban kerusuhan. Anne dan Henry berkeliling mengamati suasana gereja.

“Apakah anda tahu kemana para pengunjung gereja pergi?” tanya Henry pada seorang kakek yang duduk termenung memandangi gereja dari bawah pohon kering beberapa meter dari gereja. Sebenarnya aku ingin berteriak. 

“Anne, Henry aku tahu semuanya!”

 “Aku tahu  pemberontakan seminggu yang lalu itu, berakhir dengan kekalahan Yahudi dan akibatnya Yerusalem dibumihanguskan termasuk gereja di hadapanmu itu, Henry! Kaummu pergi ke kota Bala, Henry! Hai, Henry, Anne, kau mendengarkanku tidak?” Kok bengong begitu?” Ugh! sayang sekali, ternyata teriakanku terbang entah kemana. Angin tengah hari membawa semua rangkaian kataku. Awan tipis menatapku kasihan. Hai, jangan menatapku begitu dong, kayak nggak ada kerjaan aja! Aku puas, kakek tadi ternyata mewakili hak suaraku. Aku sedikit emosi dengan tatapan si awan yang seakan mengejekku. Beruntung aku bisa cepat menguasai emosiku yang hampir tumpah. Henry dan Anne manggut-manggut tanda mengerti, kemudian mereka termenung. Kenapa ya!

 “Kalian bisa ikut rombongan yang lainnya sore nanti” paparnya kemudian. Beberapa jam kemudian mereka bergabung dengan rombongan yang dipimpin si kakek, yang diketahui Henry dan Anne kemudian salah satu Rahib Petrus. Mereka terus berjalan menyusuri jalanan penuh debu menuju kota Bala, sebelah utara Beirut. Mereka pergi membawa secercah harapan dan mimpi kebebasan. 

***

Pasangan pemuda pemudi itu bercengkrama begitu akrab di ruangan tengah yang tidak begitu luas. Akupun sesekali menyapa mereka dengan kehangatan sinar pagiku. Beruntung aku bisa menerobos jendela yang kebetulan ditutup tidak begitu rapat. Wajah ceria mereka seketika berubah. Keringat dingin membasahi wajah sang pemudi.

“Kak Henry, jangan-jangan…?” Pemudi itu berbisik cemas, ketika suara berat kuda mendekati rumah mereka.

“Tenanglah Anne, mereka tidak akan menemukan kita” bisik Henry menenangkan.

 “Tapi, kak?” potong Anne menggantung

“Sst..sst..! jangan berisik” Henry sedikit kesal. Henry kemudian menarik tangan Anne, perlahan masuk kamar bersembunyi di belakang lemari baju tak berpintu. Tangan Henry bergetar ketika terdengar pintu depannya digedor-gedor keras. Brakk! Suara pintu terjatuh. Lembaran dalam genggaman tangannya hampir jatuh. Tangannya tiba-tiba mendingin. Badannya menggigil. Wajah Anne pucat pasi, sangat ketakutan. Mereka pasrah dengan apa yang bakal terjadi.

            “Jangan biarkan mereka lari. Ayo, cepat cari!” Bentak suara lantang disusul dengan suara tempelengan “Plak…, plak…! bego kau. Ya, di ruangan ini” jawabnya kemudian.

            Dari balik persembunyian, Anne dan Henry menyaksikan empat orang prajurit lengkap dengan pedang di pinggangnya. Wajah mereka bengis, kasar, penuh amarah. Iihhh! Menakutkan.

             “Sudah, tuan. Mereka telah melarikan diri” lapor suara cempreng setelah berhasil mengobrak-abrik kamar milik Henry. Prajurit itu lupa tidak menggeledah lemari pinggir tempat tidur lapuk milik Henry. Henry menarik nafas terdalamnya ketika suara ringikan kuda semakin menjauh dari rumahnya. Mereka baru keluar dari persembunyiannya ketika diam-diam aku keluar dari jendela.

***

Di usianya yang ke sembilan belas, Henry berharap hidupnya terbebas dari ketakutan. Begitu pula Anne. Tapi mereka salah. Tahun 81 Masehi adalah tahun kekejaman tak termaknai. Penyiksaan demi penyiksaan seakan tak akan berhenti. Kekejaman di atas kekejaman. Kaisar Domisian menginginkan kematian mereka. Sebenarnya nyawa mereka tidak begitu berharga kalau mereka tidak diketahui menyimpan lembaran Gospel atau Injil. Henry tetap bersikukuh mempertahankan lembaran itu ketika Anne membujuk Henry untuk membakarnya. Pembantaian dan penyiksaan sadis kaum Pagan terhadap kaumnya tak mampu menggetarkan Henry. Wasiat ayahnya rupanya ia pertahankan sampai titik darah penghabisan.

***

            Tidak…! mereka akan dibawa ke mana? Aku berteriak ketika para prajurit Domisian menggusur paksa tubuh Henry dan Anne. Mereka diikat, digusur dan ditarik dengan seekor kuda. Entah apa yang dirasakan Henry dan Anne ketika tubuhnya menubruk batu yang dilewatinya. Para prajurit terbahak-bahak melihat jerit kesakitan Anne. Sesampainya di lapangan alun-alun kota, tali mereka dilepas. Air mata meleleh dari sudut mata Henry. Baju mereka tak berbentuk lagi. Luka lecet bercampur darah memenuhi tubuh. Wajah Anne terkelupas, darah merembes dari hidungnya. Henry memejamkan mata merasakan luka jari-jari tangannya yang hampir terputus. Beberapa saat kemudian mereka tidak sadarkan diri.

Henry…, Anne…! Air mataku tumpah.

Tubuh Anne dan Henry ada di antara tumpukan mayat. Leher mereka menganga. Darah menggenang di sekitarnya. Tak jauh dari mereka, gundukan lembaran hitam terbakar seakan berkata ‘terima kasih kau telah menjagaku, wahai kawan!’ Kerongkonganku kering menahan tangis. Mataku perih. Wajahku sendu. Aku tak bersemangat meneruskan tugas mulia hariku. Seorang anak manusia yang diharapkan jadi pengemban risalah telah pergi akibat keserakahan penguasa.

Beberapa ratus tahun pertama memang masa-masa penganiayaan umat Kristen. Bukan hanya itu, para penguasa bahkan menghancurkan segala hal yang menyangkut Kristenitas yang bisa mereka temukan termasuk lembaran-lembaran ajaran Yesus dan gereja-gereja. Begitulah penyiksaan demi penyiksaan diterima Henry, Anne dan yang lainnya. Hal ini berlangsung lama. Hingga abad ke-empat pun datang membawa angin segar dan harapan baru bagi pengikut Injil. Kaisar Konstantine memberikan toleransi bagi pengikut Injil. Kristen disejajarkan dengan agama yang lain, bahkan Kristen dijadikan agama resmi negara. Dari sinilah peresmian keyakinan trinitas yang digagas Paulus terlahir.

            Penyiksaan yang diterima Kristian dari zaman al-Masih masih terasa hidup sampai tahun 313 M. Membawa pengaruh yang besar terhadap hilangnya naskah Injil asli. Dengan hilangnya Injil asli termasuk naskah yang selama ini dijaga Henry dan adiknya, Anne. Maka muncullah berbagai macam versi Injil yang didasarkan atas anggapan dan asumsi. Bahkan pada awalnya Injil-Injil ini ada sampai lebih dari 70 buah, dan kemudian diadakan penyeleksian menjadi 4 buah Injil; Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Ke-empat injil yang dianggap kitab suci Nasrani ini dikenal dengan Perjanjian Baru (the New Tastement), yang baru diakui secara resmi pada abad ke-tujuh Masehi.

Semenjak itu hidupku dipenuhi kecemasan dan ketidakpastian. Entah apa yang akan terjadi besok. Aku seakan menjadi makhluk paling tidak berdaya. Gerak langkahku terbatas. Harapanku seakan kandas. Henry dan Anne yang diharap mampu menyebarkan ajaran Tauhid telah tiada. Aku benci si Paulus yang telah menyesatkan Kristian dari tauhid ke trinitas. Tapi aku yakin, harapku masih berharga. Paling tidak kelahiran al-Masih bukan saja sebagai “juru selamat” yang telah lama dinantikan di Caesarea Phillippi, tapi aku yakin berita yang dibawa al-Masih pasti datang. Kelahiran Nabi terakhir yang dirindu akan kusaksikan. Masa di mana tangis dan airmataku  akan lebih bermakna.

*Heresy : Aliran yang bertentangan dengan aliran resmi

Kairo, 06 Februari 06

Butrie Permai 09:56 WK

Kepustakaan

Da’watu al-Rusul ilalLah Gayatuha wa Tarikhuha, Diktat kuliah tahun III Univ. al-Azhar, Fak. Syari’ah Islamiyah, tahun ajaran 2005-2006;

Qishshah wa al-Hadharah, Qaishar wa al-Masih, Will Durant, Jilid ke-6, Terjamah Muhammad Badran dkk, Haiah al ‘ammah li al kitab.

– Makalah Seputar Teologi Kristen, Wahyudi Abdurrahim, Lc.; dllnya.