Tanyakan ke Salafi, Apakah Menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Perjuangan Indonesia juga Haram?

    Tanyakan pada kelompok yang merasa paling benar paling nyunah paling dekat dengan para salaf saleh dan mengklaim kelompoknya punya otoritas memvalidasi hukum halal dan haram itu: Apakah menyanyikan lagu Indoenesia Raya, Mars Muhammadiyah dan Yala al Wathan juga haram? Sebab salafi tak akan terima hujjah sekuat apapun yang tidak diucap dari lisan gurunya, ketika saya bawakan ayat Al quran mereka bilang, tafsirnya tidak begitu, ketika saya bawakah hadits mereka bilang, ini dhaif.

    Gus Baha’ menganjurkan: Gerakan Cangkem Elek. Afwan saya tak akan kutip fatwa Majelis Tarjih tentang hukum musik pasti ditahdzir, tapi cangkem elek.

    Jadi benarkah menyayikan lagu Indonesia Raya bisa melupakan Tuhan, menyanyikan Mars Muhammadiyah dan Mars Aisyiyah menjauhkan diri dari jalan yang benar mendekatkan pada jalan bathil, juga menyanyikan lagu Yala al Wathon dapat melemahkan ghirah perjuangan tegakkan syiar Islam? Ahhhh yang bener saja, ibarat penyamun keluar dari sarangnya pernyataan ustdaz Adi Hidayat tentang musik syair dan tafsir atas surat as-Syyura seperti dua mata pedang yang tak pandai bermain bakal terluka, dan memancing kelompok salafi membuka jati dirinya. Dengannya menjadi jelas siapa ’ana siapa antum’.

    Membuat kelompok salafi gerah dan tak mampu menahan untuk tidak memperlihatkan karakter aslinya saya pikir sebuah jebakan maha dahsyat yang bisa memporqk peorandakan strategi yang lama di susun, tanyakan pula : Apakah Milad Muhammadiyah itu bid’ah? Apalah Harlah NU juga bid’ah? Apakah HUT 17 Agustus tidak ada dalil dan tuntunan dari Nabi saw dan salaf saleh? Gampang mentahdzir menjadi karakter yang susah diubah betapapun itu. Merasa paling benar. Paling Adil. Paling taqwa adalah hal lain yang melekat dalam karakter yang spontan kerap terungkap,

    Seseorang mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, bertaqwalah kepada Allah.’
    Spontan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam marah dan beliau menjawab;
    ‘Celaka kau, bukankah aku penduduk bumi yang paling bertaqwa kepada Allah.’ Beragama penuh curiga. Selalu berprasangka buruk dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang negatif. Anti budaya. A-sosial, dan jauh dari akhlaqul karimah yang diajarkan Nabi saw. Bukankah para ulama salaf selalu mengedepankan akhlaq ul karimah jika berikhtilaf,  bukan mentahdzir dan mudah memberi stigma sesat, liberal  kafer karena tidak sepandangan.

    Nabi Muhammad SAW bersabda: “Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Al Qur`an. Dimana, bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian daripada shalat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Al Quran dan mereka menyangka bahwa Al Quran itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Quran itu adalah (bencana) atas mereka. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya.

    Ditulis: nurbaniyusuf
    Komunitas Padhang Makhsyar