Semangat (Dalam) Bermuhammadiyah

    Dinamika kehidupan masyarakat berbangsa, bernegara dan beragama mulai berada garis akhir yang membuat semakin hari semakin terkikis karena kemajuan zaman. Khususnya dalam kegiatan organisasi islam atau organisasi masyarakat yang cenderung semakin banyak wadah, akan tetapi sedikit pula kualitas dan kuantitas yang diperlihatkan. Hal itu karena hanya untuk sebatas eksistensi dan pengakuan saja sebagai jalan mencari panggung kekuasaan ataupun kekayaan. Tak heran kadang, walaupun tumbuh seribu sebuah perkumpulan namun juga mati seribu kembali sebuah perkumpulan tersebut, dan muncul kembali nama dengan warna baru. Ini menjadi tantangan yang dapat membuat orang tertarik dan terpengaruh berpindah tempat.

    Dari berbagai organisasi atau perkumpulan, ada organisasi Islam bernama persyarikatan Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan dan kemudian menjadi besar diusia memasuki abad keduanya. Yang dulunya organisasi ini sangat tinggi kualitasnya dan memang masih sedikit rendah kuantitasnya. Sehingga hampir berbanding terbalik dan jauh dengan wajah persyarikatan Muhammadiyah hari ini yang mungkin saja sudah semakin tinggi kuantitas akan tetapi kembali semakin lemah dan rendah pula kualitas dari seluruh warganya.

    Ada satu hal yang sangat menarik ketika membahas tentang semangat dalam bermuhammadiyah sebagai warga persyarikatan. Selama ini semangat dalam bermuhammadiyah hanya dipahami secara garis besar ialah ketika menjadi pimpinan atau struktural kepengurusan dan ketika bekerja sekaligus beramal usaha di Muhammadiyah yang dimiliki baik sekolah, kampus, pesantren, koperasi, lembaga, dan amal usaha lainnya. Padahal semangat dalam bermuhammadiyah juga sangat luas, termasuk bagi warga Muhammadiyah kultural meskipun bukan sebagai pimpinan dan tidak bekerja atau berprofesi di dalam lingkungan amal usaha Muhammadiyah. Semangat dalam bermuhammadiyah lintas profesi dan lintas institusi juga bagian ikut serta dalam memajukan Muhammadiyah melalui bidangnya sekaligus melalui latar belakangnya.

    Tentu sebagai bagian dari warga Muhammadiyah yang baik, memiliki kepedulian yang besar terhadap organisasi ini. Sebagai eksistensi keanggotaan idealnya memang sudah memiliki kartu tanda anggota sebagai nomor baku Muhammadiyah, hal ini merupakan bentuk komitmen dalam memiliki kendaraan dakwah bersama Muhammadiyah. Terlepas itu masih banyak yang belum sesuai dengan harapan dan matan kepribadian Muhammadiyah atau pih juga belum totalitas dalam pedoman hidup islami warga Muhammadiyah. Komitmen selanjutnya ialah berusaha menjaga status resmi sebagai warga Muhammadiyah dengan tidak menduakan Muhammadiyah dengan masuk ke banyak organisasi Islam serupa dalam bentuk alasan apapun. Hal itu bisa menjadi transeden yang dapat memberikan indikasi polemik besar di kemudian hari, sekaligus juga mempertahankan pesan KH. Ahmad Dahlan agar tidak menduakan Muhammadiyah dan menjadi apa saja di mana saja tetapi tetap kembali kepada Muhammadiyah dengan penuh semangat dalam bermuhammadiyah.

    Semangat dalam bermuhammadiyah juga sekaligus masuk dalam kategori semangat berdakwah, semangat beribadah, semangat beragama dan semangat berilmu sesuai dengan prinsip, nilai, tujuan dan khittah dalam Muhammadiyah. Tentu hal ini tidaklah mudah, apalagi bagi warga Muhammadiyah yang hanya sebagai warga tanpa amanah dan bukan dalam profesi amal usaha Muhammadiyah, sehingga berbeda halnya dengan yang menjalankan amanah sebagai pimpinan dan berkeja di lingkungan amal usaha Muhammadiyah. Apapun itu tetaplah saling menjaga silaturahim, komunikasi, koordinasi dan tetap berjamaah dalam membangun kemajuan di persyarikatan Muhammadiyah ini.

    Semangat dalam bermuhammadiyah ini harus terjaga dan juga jangan sampai membuat sesamanya semakin menjauh, karena pada prinsipnya seperti teologi wal asri adalah saling menasihati atau mengingatkan dalam kebenaran dan juga saling menasihati atau mengingatkan dalam kesabaran dalam bermuhammadiyah. Dengan sikap sabar, syukur dan tafakkur tetaplah menjadi insan yang bahagia bersama Muhammadiyah dalam beragama sekaligus menjalani kehidupan di dunia ini sampai akhirnya bertemu kembali di surganya nanti.

    Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA.
    (Alumni Pendidikan Intensif Muballigh Muda Berkemajuan)