Gerhana Matahari Apakah Tanda Awal Bulan dalam Kalender Hijriah?

    Tanda awal bulan (month) dalam kalender Hijriah adalah terlihatnya hilal, bukan terjadinya gerhana matahari karena gerhana matahari adalah tanda masuknya fase bulan (moon) baru. Untuk penentuan awal bulan Hijriah, umat Islam memiliki cara dan kriteria tersendiri meski hingga kini belum ada kriteria tunggal yang disepakati bersama.

    Gerhana matahari adalah konjungsi atau kesegarisan antara matahari, bulan, dan bumi yang teramati. Meski konjungsi menjadi tanda masuknya fase bulan (moon) baru, tidak otomatis menjadi tanda datangnya bulan (month) baru dalam kalender Islam. Di antara banyak sistem penanggalan bulan, kalender Islam adalah satu-satunya kalender yang bersifat astronomi atau berbasis pengamatan

    Gerhana matahari adalah fenomena toposentrik atau di permukaan bumi yang bisa terjadi di sekitar waktu konjungsi, baik sebelum atau sesudahnya. Sementara hilal adalah fenomena geosentrik atau diukur dari inti benda langit yang masing-masing memiliki ukuran tersendiri. Akibatnya, saat dilihat dari permukaan bumi saat matahari terbenam, bulan akan memiliki tinggi dan elongasi tertentu.

    Meski konjungsi matahari, bulan, dan bumi menandai awal bulan baru kalender Hijriah, tidak setiap bulan terjadi gerhana matahari. Kondisi itu, menurut Pelaksana Tugas Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG Muzli dalam seminar Jembatan Budaya Sains dalam rangka Festival Gerhana Matahari Total di Biak, terjadi akibat bidang edar bulan mengelilingi bumi tidak berimpitan dengan bidang orbit bumi memutari matahari. Bidang edar bulan itu miring 5 derajat terhadap bidang orbit bumi. Akibatnya, seperti disampaikan Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional Thomas Djamaluddin dalam kesempatan terpisah, gerhana matahari saat konjungsi hanya akan terjadi jika lintang ekliptika bulan 0-1 derajat. ”Jika lintang ekliptika bulan saat ijtimak mencapai 1-5 derajat, ijtimak tidak akan teramati atau tidak terjadi gerhana matahari,” katanya.

    Awal Bulan
    Dalam penanggalan berbasis bulan lainnya, seperti kalender China, hari terjadinya ijtimak ditetapkan sebagai hari pertama dalam bulan baru pada kalender mereka. Model penetapan awal bulan ini disebut sebagai model matematis atau berbasis pada perhitungan (hisab) atau hisab hakiki yaitu hisab berdasarkan kondisi nyata benda-benda langit. Selain sederhana, model ini juga memastikan bulan purnama akan tepat terjadi di tengah bulan. Namun, metode itu tidak digunakan dalam penentuan awal bulan kalender Islam yang sering dianggap sebagai satu-satunya kalender bulan berbasis astronomi atau pengamatan. Untuk masuk dalam bulan baru kalender Hijriah, setelah terjadinya konjungsi, ada sejumlah kriteria yang harus dipatuhi. Namun, hingga kini belum ada kriteria kriteria tunggal awal bulan Hijriah yang dipakai organisasi massa atau negara-negara Islam sehingga perbedaan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha masih sering terjadi.

    Di Indonesia, saat ini setidaknya ada dua kriteria besar yang digunakan, yaitu kriteria wujudul hilal atau terbentuk hilal yang dipedomani Persyarikatan Muhammadiyah dan kriteria Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) baru yang digunakan Kementerian Agama, Nahdlatul Ulama, dan sejumlah ormas Islam lain. Di luar dua kriteria itu, masih banyak kriteria lain yang digunakan kelompok-kelompok kecil umat Islam Indonesia.

    Kriteria wujudul hilal digunakan dengan menggunakan hisab hakiki. Cara perhitungan ini membedakannya dengan sistem hisab lain, seperti hisab urfi yang ditentukan berdasarkan waktu rata-rata bulan mengelilingi bumi. Contoh hisab urfi itu digunakan dalam kalender Jawa yang mematok bulan ganjil memiliki 30 hari dan bulan genap 29 hari sehingga bulan Pasa atau setara Ramadhan dalam kalender Islam selalu memiliki panjang 30 hari. Dalam kriteria wujudul hilal, awal bulan baru terjadi jika ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam, bulan terbenam setelah matahari terbenam, dan hilal sudah di atas ufuk saat matahari terbenam. (Red)