Benarkah Kini Kualitas Pemimpin Indonesia Semakin Rendah Kualitasnya ?

    Melihat kualitas para pemimpin Indonesia yang memegang jabatan dan amanah publik kian hari kian rendah integritasnya. Pemimpin tak lagi berjiwa pemimpin, melainkan pemimpin berjiwa robot dan pemimpin berjiwa tukang suruhan orang berkepentingan. Pemimin sejati itu tidak mudah didikte dan dikendalikan siapapun, sebab punya prinsip, nalar, ideologi dan pandangan yang sangat esensial dalam kehidupannya sebagai seorang pemimpin. Pemimpin akan dilihat dan dipegang ucapannya, tindakannya, janjinya, sumpahnya serta komitmennya. Bukan hanya sebatas sensasionalitas dan selebritas dalam menjalani aktivitas kegiatan tanggung jawabnya. Salah, khilaf atau keliru hal yang sangat manusiawi bagi pemimpin akan tetapi bila menjadi kebiasaan, kebablasan bahkan keseringan itu bukanlah karakter pemimpin sejati.

    Pemimpin berkualitas akan cepat menyadari kesalahannya, cepat belajar dari kelemahannya dan cepat bergerak ke arah kemaslahatan apalagi bila telah mandapatkam kritikan baik kritik konstruktif maupun kritik intimidatif atau kritik destruktif. Pemimpin baik yang menjadi pejabat publik, pemimpin nasional, pemimpin keluarga pastilah memiliki peranan yang sangat besar sesuai dengan lingkupnya. Mengayomi, melindungi, menjaga, mempertahankan, mendamaikan, merangkul, mengajak, dan memastikan hidup yang layak lagi pantas. Tidak ada niatan untuk menjatuhkan, merusak, menghancurkan, mengadu domba, menjelekkan, menyudutkan dan hal buruk lainnya karena itu justru pengkhianat atau pemimpin pengkhianat. Pemimpin itu harus memiliki jiwa kemanusiaan, karena humanisasi manusia bagi seorang pemimpin haru mampu, mahir dan lihai agar menjunjung tinggi nilai prikemanusiaan. Jangan sampai suka menuduh yang tidak semestinya dilakukak, karena memimpin itu siap menerima penderitaan dan harus kuat pendengaran sekaligus tahan amarah.

    Rendahnya kualitas pemimpin indonesia dikarenakan adanya sistem pengkaderan an sistem pelatihan yang efektif serta lemahanya sistem penyaringan untuk mencari pemimpin berkualitas dan berintegritas yang dapat diterima semua golongan dan mengayomi semua kalangan. Tidak hanya bemental selalu ingin mendapatkan pujian ataupun penghargaan dan penghormatan, melainkan juga rela hati mendatangi siapa saja termasuk pembencinya, pencelanya, musuhnya dan orang yang mendengkinya. Bukan justru menjadi benalu dan parasit apalagi bila pemimpin itu tak kuasa terhadap dirinya karena adanya intervensi, kontrol dan doktrin pengaturnya. Rendahnya kualitas pemimpin apabila budaya korupsi semakin merajalela, kriminalisasi semakin marak, polarisasi semakin tajam, ujaran kebencian semakin parah, kerusakan semakin besar dan orang-orang jahat bandar, mafia, preman, vandal semakin bertambah.

    Mentalitas pemimpin haruslah kuat, apalagi bila menghadapi orang-orang yang berpotensi melakukan kejahatan, krimal dan konspirasi yang merusak tatanan kehidupan masyarakat. Kalau memimpin hanya sekedar bermain, bercanda tawa, cengar cengir, ngakak ngikik, maka tentu tidak elok karena merusak reputasi dan kepercayaan kebangsaan baik di mata nasional dan internasional. Bila tidak sanggup memimpin yang jangkauannya luas dan besar maka kesadaran sangat penting, mundurlah pimpinlah yang jangjuannya sesuai kapasitas diri sendiri. Agar tidak melemahkan diri, menyulitkan diri bahkan mengacaukan situasi menjadi rumit lagi kacau hamburadul. Sehingga kejujuran dan ketulusan pemimpin menjadi sangat penting untuk mengukur kualitas pemimpin. Indonesia hari ini menbutuhkan pemimpin yang berkualitas dan berintegritas yang memiliki jiwa humanis, nasionalis, agamis dan pluralis.

    Tentu hal ini merupakan cerminan rakyatnya, bawahannya, pengikutnya ataupun anggotanya. Bila pemimpin itu cerdas makan akan tertular sampai bawah. Bila pemimpin itu buruk maka akan tertular ke akarnya begitu juga dengan yang lainnya. Belajarlah dari sejarah bangsa indonesia yang memiliki stok pemimpin berkualitas dan berintegitas di zaman revolusi sampai reformasi. Jangan hanya menjadi pemimpin berjiwa robotik dan berjiwa apatis, tapi harus berjiwa patriotik dan berjiwa humanis sekaligus egaliter. Dengan terus mengasah diri, meningkatkan kualitas diri serta terus belajar memperluas wawasan kebangsaan, wawasan kontemporer dan wawasan keagamaan. Agar menjadi pemimpin yang selamat baik secara vertikal maupun horizontal dan kerap menjado teladan bagi seluruh komponen. Senantiasa menularkan akal sehat, nakar intelektual, daya kritis, dan budi luhur yang baik. Karena indonesia membutuhkan pemimpin yang cerdas, berkualitas, berintegritas dan pekerja keras serta berhati ikhlas. Bukan yang hanya sibuk dengan hal yang tidak bermanfaat apalagi berpotensi mengkhianati siapa saja, tidak jujur, asal bicara, serta tingkah laku buruk maupun kelemahan diri yang terus dititupi dengam kebohongan agar menjadi pembenaran dalam pembelaan yang tidak ada ujung sandiwaranya.

    Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA
    (Analis Kajian Islam, Pembangunan dan Kebijakan Publik)