Menghidupkan Kembali Cabang dan Ranting Muhammadiyah Dengan Sentuhan Kearifan Lokal

    Bermuhammadiyah hari ini tentu berbeda tantangannya seperti para pendahulu dan perintis kala itu. Salah satu tantangan terbesar adalah   ketika mengalami krisis kader sebagai regenerasi berkelanjutan pimpinan pengurus di persyarikatan dan ortom, kecuali AUM yang masih cenderung relatif mudah. Situasi Bermuhammadiyah dewasa ini lebih bernuansa programatis formalistik, sehingga program hanya dirasakan setiap ritual saja.

    Hal ini dikarenakan tuntutan kerja yang semakin berat ditambah hampir semua profesi melahirkan banyak organisasi atau asosiasi sebagai bentuk eksistensi profesi dan nilai perjuangan profesi. Hal itulah yang kadang membuat menjadi kurang aktif di Muhammadiyah yang membuat kegiatan tidak berjalan atau vacum masih kosong. Itulah tantangan yang kini dirasakan tiap pimpinan pengurus di setiap tingkatannya.

    Perlunya gerakan kembali ke Muhammadiyah untuk meramaikan, menghidupi, dan mengembangkan segala kegiatan yang ada tanpa harus banyak pertimbangan. Bisa kembali menjadi struktural atau pun hanya sebagai kultural tanpa lagi merasa bingung, sungkan, malu, tak enakan, dan takut ikut serta aktif bersama dalam rangka kumpul bersama dalam kegiatan Bermuhammadiyah. Harus ditanamkan sikap rasa memiliki, rasa peduli dan rasa cinta untuk kembali berorganisasi melalui gerakan persyarikatan Muhammadiyah yang besar ini. Aktif dan ikut serta mendekat kepada Muhammadiyah baik di PDM, PCM dan PRM tentunya untuk bersama secara berjamaah membangun keluarga besar Muhammadiyah. Ini merupakan perjalanan dakwah dengan harapan mencari ridho Allah semata bersama Muhammadiyah.

    Menghidupkan kembali cabang dan ranting Muhammadiyah merupakan jalan kemuliaan yang dapat dilakukan sebagai bentuk hamba Allah yang bergerak pada perkumpulan persyarikatan di Muhammadiyah. Bila belum memiliki kartu anggota atau nomor baku, maka daftarkan diri kepada PCM terdekat agar mendapatkan identitas NBM di Muhammadiyah. Setelah itu ikut serta dan aktif pada kegiatan cabang atau ranting, jika berkenan dan siap masuklah sebagai pimpinan pengurus struktural di PCM atau PRM agar dapat membesarkan Muhammadiyah ini. Jika dirasakan telah berkembang, pelan-pelan PCM dan PRM membangun amal usaha Muhammadiyah sendiri sebagai jalan dakwahnya sekaligus membangun gerakan Pendidikan, kesehatan maupun dakwah kemanusiaan.

    Pentingnya Menghidupkan kembali cabang dan ranting di era disrupsi, era post modern dan era digital dewasa ini. Di saat banyaknya eksistensi organisasi islam yang kian meredup, di saat organisasi islam kian pragmatis oportunis, di saat organisasi islam kini jadi alat kendaraan politik, tentu sebagai kader dan warga Muhammadiyah harus bisa menjaga ideologi, khittah, prinsip, dan nilai teologi Muhammadiyah itu sendiri. Muhammadiyah sebagai jalan dakwah dan bukan dijadikan batu loncatan semata menuju ambisi pribadi dalam berorganisasi.

    Muhammadiyah tentu tidak bisa lepas dari cabang dan ranting, walaupun sampai sekarang malah ada PDM yang kesulitan mendirikan PCM, dan begitu pula PCM lebih tak mampu melahirkan PRM di daerah-daerah tertentu yang mulai kurang tertarik berorganisasi islam. Jamaaah sebagian ujung tombak PCM dan PRM haruslah dijaga, dirawat dan ditingkatkan atau minimal dipertahankan berapapun jumlah anggota warga Muhammadiyah nya. Sebab itu bagian dari eksistensi kecil kelas mikro yang juga bagian dari kapal besar persyarikatan Muhammadiyah dibawah pimpinan pusat Muhammadiyah tentunya. Saling berkejasama, saling taawun, dan saling bahu membahu agar bisa mendirikan cabang dan ranting minimal setiap PDM memiliki 5 PCM dan tiap PCM memiliki 5 PRM serta terus menambahkan nya secara perlahan maupun bertahap. Sebab Muhammadiyah adalah rumah bersama dalam mencari kebaikan dan kemaslahatan bersama persyarikatan Muhammadiyah.

    Upaya untuk terus Menghidupkan cabang dan ranting umumnya dengan kegiatan pengajian, kegiatan rapat, kegiatan sosial, kegiatan musyawarah maupun lainnya. Pimpinan cabang atay ranting sudah cukup walau hanya 7 orang personil dan itu sudah bisa membuat kegiatan yang disesuaikan dengan lingkungan daerahnya masing-masing. Bermuhammadiyah ini harus diniatkan lillahi taala saja dan jangan berharap apapun secara materialistik, karena Bermuhammadiyah sama dengan Jihadul hayat agar senantiasa bahagia di dunia dan di akhirat. Berikan saja semampunya, sebisanya dan sesanggupnya dalam bermuhammadiyah walau hanya di PCM dan PRM, Karena itu sudah bagian dari sejarah kebaikan hidup dalam bermuhammadiyah. Sembari terus mempelajari dan mendalami sejarah Muhammadiyah seperti para pendahulu para pendiri di bawah Kiyai Ahmad Dahlan sebagai tokoh inspirasi utama di Muhammadiyah.

    Dengan demikian bisa Menghidupkan kembali cabang dan ranting Muhammadiyah serta berusaha pula untuk mengembangkan lagi memajukan cabang dan ranting Muhammadiyah. Tumbuhkan saja kecintaaan, kepedulian dan kesukarelaan dalam bermuhammadiyah ini, agar Allah berikan kemudahan dalam setiap aktivis kehidupan yang dijalani. Ajak dan rangkul siapa saja yang ingin bersama cabang dan ranting baik tua atau muda, selama memiliki semangat kepedulian serta mampu bekerjasama berjamaah bersama dalam Menghidupkan cabang dna ranting nya. Semoga semua usaha, Upaya dan ikhtiar mulia ini menjadi amal ibadah dalam bermuhammadiyah menuju manusia yang bermanfaat bagi semuanya.

    Ditulis Oleh : As’ad Bukhari, S.Sos., MA
    (Alumni Pendidikan Intensif Muballigh Muda Berkemajuan)