Adakah Yang Lebih Baik Daripada Perubahan Global?

Apa itu perubahan sosial? Mengapa bisa terjadi sebuah perubahan sosial? Kenapa harus ada perubahan sosial? Tentu ada banyak sekali jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan diatas. Sebenarnya apa esensi dari perubahan sosial yang sudah terjadi? apakah ada keterkaitannya dengan perubahan sosial budaya yang ada di dalam masyarakat? Ataukah perubahan sosial yang terjadi hanya gimmick semata? Akan dikupas di dalam paper ini. Paper ini juga akan menjawab pertanyaan “Adakah yang lebih baik dari Perubahan Global?” Pertanyaan yang diajukan untuk memenuhi UAS Matakuliah Teori Pembangunan.

Latar Belakang :
Mencoba membahas mengenai perubahan dalam konteks perubahan sosial, tentu perlu ditarik benang merah awal mula terjadi sebuah perubahan dalam skala global. Perubahan baik itu ekonomi, politik hingga budaya yang terjadi sangat berkolerasi dengan perubahan sosial Ada banyak sejarah awal terjadinya sebab-sebab muncul perubahan, namun di dalam paper ini akan membahas pada masa Rennaissance abad 14 di Eropa dan masa Revolusi Industri. Perubahan yang terjadi pada masa Rennaissance di Eropa adalah munculnya ilmu pengetahuan, kesenian dan ilmu sastra setelah sekian lama mereka berada di bawah tekanan Gereja yang tertuang di dalam ajaran John Calvin “Calvinisme” yang mendukung bahwa agama adalah penentu segala hal pada saat itu.

Ajaran Calvinisme juga mencakup kondisi orang miskin yang terjadi disebabkan oleh takdir untuk orang yang tidak bekerja keras. Kondisi agama Protestan yang dominan saat itu membuat beberapa aktor bergerak untuk memunculnya masa Rennaissance di Eropa. Titik balik berubahnya kondisi global di Eropa dari masa kegelapan menuju masa terang dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan. Bermula dari awal masa Rennaissance hingga saat ini, masyarakat global telah melahirkan banyak para ahli di dalam bidang ilmu pengetahuan. Sebut saja, tokoh filsuf terkenal Karl Marx, Max Weber, George Ritzer, Adam Smith dan lain-lain. Berbagai teori-teori bermunculan dan mencoba menyesuaikan dengan kondisi jaman. Mulai dari teori Klasik, hingga teori Post-Modernisme. Namun di satu sisi, Weber percaya bahwa Agama juga berperan penting di dalam perubahan yang terjadi. Ini tertuang di dalam buku tesisnya yang berjudul “The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1864-1920)” mengatakan bahwa “Ajaran agama meskipun bukan persepsi satu-satunya, tenyata juga memiliki peran penting di dalam gerakan perubahan sosial dalam skala global. Pembuktian teori yang digagas oleh Weber dibuktikan dari munculnya gagasan-gagasan keagamaan tertentu yang berhasil menggerakkan gelombang perubahan di Eropa Barat.

Jika penulisan diatas membahas mengenai masa Rennaisance di Eropa, maka selanjutnya akan membahas mengenai perubahan dengan skala global yang mulai terlihat sejak masa Revolusi Industri 1.0 hingga Revolusi Industri 4.0 dengan rumor bahwa 5.0 akan segera hadir di dalam masyarakat kita saat ini. membicarakan mengenai Revolusi Industri 1.0, revolusi ini hadir dengan membawa perubahan secara besar di bidang manufaktur, pertanian, pertambangan, teknologi dan transportasi. Revolusi 1.0 merupakan pionir di dalam perubahan sosial berskala global.

Jika pada waktu itu manusia masih menjadi tenaga penggerak dengan upah murah atau bahkan tanpa upah, mulai digantikan dengan tenaga mesin secara perlahan. Perubahan tidak hanya terjadi di kelima bidang tersebut, namun terjadi juga di dalam perubahan sosial dan budaya. Macionis dan Ritzer juga memberikan pandangan terkait definisi di dalam perubahan sosial yang terjadi secara global. Bahwa perubahan sosial terjadi itu mencakup perubahan budaya dan kondisi sosial yang terjadi di dalam masyarakat. “Variations over time in the relationships among individuals groups, cultures, and societies,Ritzer (1990: 642)” “Macionis (2017: 648): the transformation of culture and social institutions overtime”. Seiring berjalannya waktu, Revolusi Industri 4.0 saat ini juga memberikan dampak baik positif maupun negatif. perubahan teknologi secara berkelanjutan, percepatan perubahan arus globalisasi, Artificial Intelligence hingga menjadi penyebab efek climate change serta serangkaian permasalahan sosial yang semakin banyak di bumi yang sudah tua ini.

Perubahan sosial yang terjadi tidak hanya menjadi gimmick semata, ia nyata dan banyak gagasan-gagasan sosial yang berangkat dari adanya perubahan. Adanya perubahan sosial yang terjadi, memunculkan banyak perspektif dan definisi. Namun jika membahas mengenai pola yang muncul di dalam perubahan sosial, Paradigma perubahan sosial itu selalu beriorientasi kepada beberapa pemahaman seperti pemahaman Radikal Humanist & Struktural, Ekonomi Politik hingga Struktural Fungsional. Tergantung bagaimana dan apa permasalahan yang terjadi. Paradigma perubahan sosial sudah melalui diskusi panjang para ahli namun tentu paradigma dapat berubah seiring berjalannya waktu jikalau sudah tidak relevan lagi kedepannya. Hanya waktu yang dapat menentukan apakah paradigma yang dibangun masih tetap relevan atau akankah muncul paradigma perubahan sosial yang baru kedepannya.

Fokus Pertanyaan: Berangkat dari latar belakang sebab perubahan sosial yang terjadi dan berbekal pemahaman paradigma perubahan sosial, paper ini mencoba menjawab pertanyaan:
“Adakah yang lebih baik dari Perubahan Global?” Arus perubahan dalam skala global akan mengacu kepada Revolusi Industri 4.0 dan 5.0 jika terjadi sesuai dengan yang dirumorkan dimana perubahan akan terjadi secara massif. Termasuk dampak yang ditimbulkan juga akan lebih banyak dari sebelumnya. Namun untuk saat ini yang ada di depan mata adalah permasalahan yang berkaitan dengan ketenagakerjaan dimana AI atau Artificial Intelligence akan menggantikan manusia. Justru yang menjadi tantangannya apakah arah perubahan global yang baru akan dapat menyelesaikan dampak negatif yang tidak terselesaikan peninggalan dari tiga revolusi industri sebelumnya. Bagaimana cara kita dapat memahami alur perubahan, tentu dengan berfokus kepada paradigma perubahan sosial agar kita dapat memahami bahwa perubahan global berkembang namun masyarakatnya juga ikut berkembang dalam penambahan wawasan agar tidak terjebak di dalam pusaran kebodohan. Namun bagi saya, untuk saat ini belum ada yang lebih baik dari konsep perubahan global. Mungkin kelak, akan ada bentuk perubahan yang bersifat revolusioner sama seperti masa Rennaisance, tetapi tidak untuk sekarang.

Untuk saat ini kita sebagai bagian dari individu dan kelompok harus mengamati dengan baik dampak positif maupun negatif dari pattern perubahan yang sedang berjalan saat ini. Revolusi Industri 5.0 diharapkan akan membawa arah perubahan yang jauh lebih baik dengan menyelesaikan permasalahan dampak negatif. Namun jika ternyata 5.0 justru menambah permasalahan baru di dalam kehidupan masyarakat, perubahan yang bersifat memberontak mungkin tidak buruk seperti masa Rennaisance.

Ditulis oleh:
Pandu Prasojo (Mahasiswa S2 PSdK Fisipol UGM 2023)