Pembekuan KOKAM DIY dan Tradisi Intelektual Jogja


© Ditulis oleh: Doni Riw

Kokam DIY dibekukan melalui surat keputusan yang ditanda tangani oleh ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Dzulfikar Ahmad, 29/09/23. Alasan pembekuan itu lantaran Kokam DIY tidak mengindahkan perintah pimpinan di atasnya. Pembekuan itu imbas dari ketidak hadiran Kokam DIY dalam apel akbar Kokam di stadion Manahan Solo 20/09/23. Hal itu dibenarkan oleh Komandan Kokam DIY, Rizal Ismail.

Pembekuan itu menuai beragam reaksi dari bawah. Salah satu yang menolak tegas adalah Kokam Piyungan. Dalam video yang beredar luas di sosmed, Kokam Piyungan menegaskan bahwa pembekuan itu otoriter. Sebagai mosi tidak percaya, Kokam Piyungan menyatakan tidak mengakui kepemimpinan PP Pemuda Muhammadiyah.

Sulit ditolak, bahwa Apel Akbar Kokam di Stadion Manahan Solo yang dihadiri oleh presiden Joko Widodo itu bernuansa politis. Sebab, seperti kita ketahui, Jokowi sendiri cawe-cawe alias tidak netral di dalam proses pilpres 2024. Jokowi membentuk Tim 7 untuk mengembangkan strategi pemenangan Bakal Calon Presiden (Bacapres) Ganjar Pranowo. Hal tersebut dibenarkan Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto.

Komandam Kokam DIY sendiri menyatakan bahwa ketidakhadiran tersebut terkait soal Rempang. “Karena kita tahu saudara-saudara kita di Rempang sedang ada persekusi,” ujar Rizal , Senin (10/2).

Keberanian untuk mengambil keputusan berbeda yang dilakukan oleh Kokam DIY ini tidak lepas dari tradisi intelektual yang tumbuh subur di Yogyakarta sebagai kota pendidikan. Orang-orang yang terbiasa menggunakan akal sehat memang selalu siap sedia melawan setiap kezaliman.

Kepemimpinan berpikir akan membimbing akal, sehingga berani menyelisihi kepemimpinan struktural jika pemimpin struktural itu melenceng dari jalur kebenaran. Semestinya, kepemimpinan struktural sensitif dengan berbagai dinamika yang ada, agar tindakannya tidak mendapatkan perlawanan dari bawahan, karena kesadaran di bawah yang menyadari realitas zalim yang tengah terjadi.