KOKAM Bukan Komunis

    Kehadiran Kokam dalam sejarah sangat penting, dikarenakan lahir dari rahim cikal bakal Kopasus yang dulu bernama pasukan RPKAD. Kokam bukan merupakan pasukan politik partai mana pun dan bukan pula alat penguasa dalam sayap organisasi yang sebagian orang disalahpahami. Kokam ada karena peristiwa gerakan 30S/PKI yang merupakan peristiwa merah berdarah dan sejarah kelam bangsa pada aspek politik kekuasaan terhadap gerakan kudeta maupun gerakan pemberontakan dari dalam. Sehingga Kokam menjadi garda terdepan dalam menjaga kebangsaan dan menjaga kehormatan negara.

    Sangat disayangkan bila hari ini ada warga Muhammadiyah yang merasa sebagai kader melalui berbagai proses pengkaderan dan menjadi elit ortom atau Muhammadiyah selalu mengatakan bahwa tak perlu lagi membahas PKI maupun sejarahnya yang dianggap tak relevan. Kemudian menafikan kehadiran kokam terhadap sejarah kelahirannya, bahkan jika pun ia pemuda yang berserakan doreng atau loreng kokam akan tetapi jiwa semangat anti komunisnya padam, lemah, hilang dan cenderung melupakan. Tentu ini fenomena yang miris di dalam lingkungan Muhammadiyah khsusnya melihat Kokam, apalagi jika Kokam hanya dijadikan sebagai alat kepentingan politis maupun batu loncatan untuk mendapatkan posisi strategis politik kekuasaan atau politik kepentingan.

    KOKAM bukan komunis karena memang kokam lahir sebagai bagian untuk menghadapi gerakan PKI yang semakin liar dan buas di era itu. Walaupun dalam perjalanan nya sampai hari ini, masih banyak warga Muhammadiyah yang sinis, sentimen, dan sulit menerima kenyataan bahwa kokam bukan komunis, kokam perlawanan PKI, dan kokam adalah laskar, para militer, jihadis, dan semi militer nya Muhammadiyah terhadap gerakan kiri komunis yang telah terbukti melakukan kejahatan politik maupun kejahatan kemanusiaan. Aneh rasanya jika ada generasi muda Muhammadiyah risih bicara PKI dan lantas mengatakan sebagai kemunduran, disebabkan kemajuan dicapai itu melihat masa depan dan menutup masa lalu dalam sejarah kelam. Antara tak paham dan gagal paham atau kelewat merasa bijak tapi malah salah sikap.

    Sampai hari ini Kokam masih eksis meskipun memang dibeberapa wilayah atau daerah kehadiran anggota nya tidak banyak maupun massif. Akan tetapi kokam sampai kapan akan terus menjaga Muhammadiyah, Agama, Bangsa dan Negara. Kokam bukan alat politik oleh siapapun baik partai politik, anggota dewan, pejabat publik maupun siapapun itu. Memang anggota kokam memiliki hak politik, akan tetapi itu dikesampingkan karena yang paling utaman adalah menjaga kehormatan, kedaulatan dan keadaban bangsa. Sehingga jangan ragukan jiwa raga kokam apalagi ingin menafikan maupun merendahkan kokam beserta seluruh anggotanya dimanapun berada.

    KOKAM disebut juga sebagai gerakan Perkasa yang artinya gerakan untuk Pertahankan kalimat Syahadat, sebagai ciri khas laskar jihadis islam yang menjaga marwah agama Islam dalam kalimat Syahadat. Sebab hari ini banyak yang merasa muslim, namun berani menghina serta melecehkan agama atau kalimat syahadat hanya karena untuk lelucon maupun guyonan semata. Tak mampu membedakan mana sejarah mulia dan mana lelucon yang dianggap hanya lucu-lucuan dalam memandang kokam. Yang jelas kokam bukan komunis dan bukan gerakan kiri pada ideologi atau partai politik manapun. Semua bisa berkontribusi dalam kokam, akan tetapi jika keluar dari semangat dan cita-cita kokam, maka kehadirannya pun akan sinar dengan sendirinya meskipun kontribusi tetap melekat di Kokam. Sekali kokam tetap kokam dan kokam bukan komunis serta kokam bukan kader Muhammadiyah terbelakang apalagi menjadi kepentingan alat politik manapun itu.

    Kokam tetap perkasa dan selalu menjalankan amanat Bima sena sekaligus merata trilogi kokam walau harus berhadapan sesama anggota kokam sendiri jika tak lagi berani tegas, tak sanggup menyuarakan kebenaran apalagi diam karena proyek yang menggiurkan sehingga melemahkan independensi kokam.

    Ditulis oleh:
    As’ad Bukhari, S.Sos., MA
    (Kader KOKAM Diklatsar Sleman DIY)