IMM dan IPM Purbalingga bersama Adakan bincang Tokoh Muhammadiyah Banyumas KH. Abu Dardiri

Muhammadiyah merupakan salahsatu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Muhammadiyah telah menjadi bagian dari sejarah panjang bangsa Indonesia. KH. Ahmad Dahlan sang pendiri Muhammadiyah semasa hidupnya telah banyak melakukan pengkaderan kepada generasi-generasi muda di tempatnya kala itu, sehingga muncul para kader yang militan dan menjadi tonggak perjuangan di Persyarikatan.

Pada awal berdirinya, organisasi Muhammadiyah masih terbatas di wilayah Yogyakarta saja. Pada era kepemimpinan KH. Ahmad Dahlan, beliau banyak melakukan tabligh ke berbagai daerah. Tidak sedikit masyarakat yang tertarik dengan dakwah yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan. Masyarakat yang aktif mengikuti dakwah KH. Ahmad Dahlan kemudian mereka mendirikan Muhammadiyah di daerahnya masing-masing.

Banyumas merupakan salah satu wilayah di Provinsi Jawa Tengah yang kala itu sudah dijangkau oleh dakwah Muhammadiyah. Berdirinya Muhammadiyah di Banyumas tidak bisa lepas dari peran dakwah KH. Ahmad Dahlan yang kala itu pada tahun 1921 melakukan pengajian di Purwokerto yang kemudian di akhir pengajianya, beliau mengajak kepada jamaah untuk mendirikan persyarikatan Muhammadiyah di Purwokerto. Dengan berdirinya Muhammadiyah di Purwokerto menjadi awal lahirnya Muhammadiyah di bumi Banyumas. Pada perjalananya, Muhammadiyah di Banyumas telah melahirkan tokoh hebat, beliau adalah KH. Abu Dardiri.

Sebagai bentuk pengenalan terhadap tokoh KH. Abu Dardiri, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Purbalingga bersama Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Purbalingga mengadakan bincang tokoh KH. Abu Dardiri. Acara ini dilaksanakan pada hari Sabtu 30 September 2023 di aula Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Purbalingga (ITBMP) acara ini dihadiri oleh peserta dari ranting IPM SMA/K Muhammadiyah se-Purbalingga. Materi pada diskusi ini dibawakan oleh Bimba Valid Fathony, selaku bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan (RPK) IMM Purbalingga dan Salsa Delia Fita selaku ketua Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Purbalingga.

Pada diskusi ini Bimba membawakan materi terkait sejarah KH. Abu Dardiri dan kiprahnya dalam perkembangan Muhammadiyah di wilayah Banyumas. KH. Abu Dardiri merupakan konsul PP Muhammadiyah untuk wilayah Banyumas, beliau menjabat sebagai konsul Muhammadiyah semenjak tahun 1930 hingga tahun 1963. Karena lamanya masa jabatan tersebut beliau dijuluki sebagai konsul abadi PP Muhammadiyah. Dalam diskusi ini Bimba turut menjelaskan sejarah berdirinya Muhammadiyah di Kabupaten Purbalingga, Muhammadiyah di Purbalingga sudah berdiri semenjak tahun 1920-an sumber lain menyebutkan, masyarakat Muslim Pubalingga sudah mengenal Muhammadiyah di tahun 1918.

Sejarah Muhammadiyah di Purbalingga tidak bisa lepas dari tokoh KH. Abu Dardiri yang dimana beliau merupakan ketua pertama Muhammadiyah cabang Purbalingga saat pertama kali berdiri.
Bimba menjelaskan, salahsatu peninggalan KH. Abu Dardiri yang masih dapat kita saksikan hingga kini adalah gedung pendopo KH. Ahmad Dahlan yang terletak di kompleks SMA Muhammadiyah 1 Purbalingga yang kini digunakan sebagai kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah Purbalingga. Awalnya gedung ini adalah milik perorangan dan masih berstatus menyewa, kemudian Muhammadiyah Purbalingga di tahun 1946 berupaya untuk membeli gedung tersebut salah satu stu donator yang melunasi pembelian gedung tersebut adalah KH. Abu Dardiri karena beliau memiliki hubungan erat dengan Purbalingga walaupun saat itu beliau sudah menjabat sebagai konsul Muhammadiyah Banyumas dan tinggal menetap di Purwokerto.

Pemateri kedua dibawakan oleh Salsa Delia Fita, ia membawakan tema KH. Abu Dardiri: Implementasi spirit dakwah Muhammadiyah untuk kalangan muda. Dalam materinya, Salsa menjelaskan supaya kita sebagai generasi muda terutama para kader-kader IPM untuk meneladani spirit perjuangan KH. Abu Dardiri yang mana beliau telah banyak berjuang dan berkiprah di Persyarikatan Muhammadiyah. Salsa mengutip salahsatu pesan KH. Ahmad Dahlan “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiya”, semboyan ini harus ditanamkan kuat teruntuk para kader muda Muhammadiyah yang kelak menjadi penerus perjuangan di Muhammadiyah.
Dengan diselenggarakanya diskusi ini diharapkan mampu mengenalkan sejarah tokoh Muhammadiyah di skala lokal, sehingga para generasi muda Muhammadiyah dapat meneladani perjuangan dan dedikasi yang telah dilakukan oleh tokoh tersebut. Terkhusus di Persyarikatan Muhammadiyah Kabupaten Purbalingga. (Bimba Valid Fathony)