Poligami, Syariat patriarki Dalam Islam?

Pada hakekatnya, poligami bukanlah sebuah budaya atau tradisi baru, namun akhir-akhir ini saja, poligami sering menjadi bahan perbincangan hangat dimasyarakat terutama sejak maraknya kaum feminis dan emansipasi wanita mengangkat isu tersebut ke ranah publik, dan mendakwanya. Dengan dalih bahwa adanya praktik poligami merupakan bentuk ketidak adilan bagi wanita. Bagi mereka praktik poligami merupakan buntut dari budaya patriarki, dimana laki-laki menjadikan wanita hanya sebagai pemuas nafsu mereka.dengan bukti maraknya praktik poligami yang dibarengi dengan nikah siri tanpa sepengetahuan istri pertama, menunjukan bahwa si suami tak menghargai perasaan istrinya demi tersalurnya nafsu birahinya atas nama agama.

Dalam hal ini, kaum feminis sangat lantang dalam menyuarakan keadilan martabat perempuan di era modern.namun faktanya, apabila kita menilik sejarah, beberapa tokoh pejuang keadilan justru turut andil dalam praktik poligami. Sebut saja IR.Soekarno, presiden pertama RI. Ia pernah menentang kebolehan poligami dalam debatnya bersama natsir yang membolehkannya atas nama agama. Namun justru Soekarno lah yang pada akhirnya berpoligami sampai 9 istri sedangkan M.Natsir tetap monogamy hingga wafat. R.A Kartini, tokoh emansipasi wanita nasional yang pada akhirnya menjadi istri ke empat bupati jepara pada eranya.

Adanya kultur moral postmodernis yang memandang jika praktik poligami sudah tidak relevan di zaman ini juga turut andil dalam merubah paradigma masyarakat mengenai praktik tersebut yang sebelumnya merupakan hal lumrah, dan sekarang menjadi suatu hal yang tabu. Namun sayangnya, diwaktu bersamaan maraknya LGBT, prostitusi, seks bebas yang sebelumnya merupakan aib masyarakat, di era ini malah banyak yang memperjuangkan kebebasannya dengan dalih HAM. Terlepas dari itu, agama islam malah menjadi salah satu objek pengkambing hitaman atas maraknya kasus praktik poligami. Karena adanya ayat al-quran surah an-nisa ayat 3 yang membolehkan pria menikahi sampai 4 istri. Ditambah lagi banyaknya oknum praktikum poligami yang mensyiarkan tindakannya atas nama islam, menjadikan islam identik dengan poligami. Maka dibuatnya makalah ringan ini tentu bukan untuk menolak poligami, atau mengkampanyekannya. Tulisan ini dibuat untuk memahami poligami dalam kacamata epistemologis,theologis,dan historis.yang mana sebagian orang gagal faham dan menjadikannya kambing hitam, atau malah tameng.

Epistemologi Poligami
Pada umumnya, poligami dikenal masyarakat sebagai praktik seorang pria yang menikahi istri lebih dari satu. Padahal, seorang wanita yang menikah dengan pria lebih dari satu, juga disebut sebagai poligami. Oleh karenanya, poligami terbagi menjadi tiga : poligini : suatu praktek laki-laki menikahi lebih dari satu istri. Dan yang ke dua ialah poliandri : seoramh wanita yang menikah dengan 2 suami atau lebih. Dan terakhir iaah Group marriage : yang berarti sekelompok pria yang menikahi sekelompok wanita dalam satu rumah tangga. Secara bahasa poligami berasal dari bahasa yunani,PolyPolus : kawin/perkawinan. Yang beraarti secara epistemologis poligami adalah sebuah praktik pernikahaan kepada lebih dari satu istri sekaligus. Ketiga bentuk poligami ditemukan dalam sejarah manusia, namun poligini merupakan bentuk yang paling umum.

Sejarah perkembangan praktik poligami
Awal mulanya, praktik poligami tidak hanya dipengaruhi atas dasar nafsu saja, melainkan juga banyak factor yang mempengaruhinya seperti social, politik serta territorial. Dahulu ketika manusia masih berjummlah sedikit,zaman dimana bertani,berburu,dll menjadi pekerjaan utama, banyak diantara mereka yang berusaha memperbanyak keturunan karena dengannya, akan lebih mudah untuk mengklaim territory yang tak berpenghuni dan menamakannya atas nama keluarga mereka.maka perempuan dituntut untuk bisa menghasilkan anak sebanyak-banyaknya dalam waktu dekat.dan poligami merupakan solusi atas tuntutan tersebut.dan ketika jumlah manusia mulai padat, mereka mulai sering bertempur satu sama lain guna memperebutkan satu wilayah/mata air, untuk di dirikannya disana sebuah peradaban atau sebuah dinasti/kerajaan.

Secara tidak langsung, karena intensitas pertempuran diantara mereka tinggi, yang dimana memaksa mereka untuk menghasilkan banyak anak laki-laki dalam waktu dekat. Karena laki-laki saat itu menjadi tumpuan kehidupan, laki laki lah yang berburu, berperang, membuat rumah dlll. Ketika seorang istri gagal melahirkan anak laki laki, seorang suami akan mencari wanita lain untuk dinikahinya agar bisa melahirkan anak laki laki dan lagi-lagi, poligami merupakan solusi, demi berdirinya sebuah peradaban dengan cepat. Sedangkan poligami yang terjadi karena factor politik biasanya terjadi ketika seorang penguasa ingin memperluas teritorialnya. Maka ia menikahkan putrinya kepada penguasa daerah yang ingin dikuasainya.meskipun ia sudah mempunyai istri, maka pernikahan tersebut murni karena politik.

Pada faktanya, poligami ada sebelum datangnya risalah kenabian Muhammad SAW, yakni islam. Poligami ada ribuan tahun jauh sebelum agama ini lahir. Selain pemaparan dua factor (social dan politik) diatas yang mempengaruhi lahirnya praktik ini dikalangan masyarakat yang akhirnya menimbulkan budaya patriarki dan mereka mendiamkannya,tak dipungkiri, muncullah factor baru yang terkesan negatif, memantik kaum adam dalam praktik poligami. Ya faktor nafsu biologis hingga perbudakan. Ini terjadi ketika manusia telah sampai dalam puncak kenyamanan, dimana adanya tempat tinggal,mata air, secara kasat mata seharusnya mereka sudah tidak membutuhkan praktik tersebut. Namun karena buntut patriarki yang akhirnya lahir karena factor laki-laki yang menjadi tumpuan hidup, membuat sebagian manusia menjadikan poligami sebagai pemuas nafsu birahi dan praktik tersebut terus berkembang dengan lahirnya system perbudakan wanita dikalangan kelas social atas atau selir di kalangan penguasa.
Data menyebutkan, bahwa praktik poligami di lingkungan luar islam sangatlah ekstrim.

Ini dibuktikan dengan banyaknya laki-laki yang bisa memiliki puluhan istri atau lebih, yang di barengi dengan ratusan budak/selir. Sebut saja raja Montezuma 2,(1466 M) penguasa Aztec di meksiko memiliki 4000 selir, dan dalam tradisi masyarakat Aztec, mewajibkan para bangsawan kelas atas untuk memiliki selir/istri cadangan sebanyak-banyaknya. Raja kashyapa dari sri lanka ( 495 M), memiliki 500 perempuan dalam harimnya. Selama dinasti Ming di china, ada 100.000 kasim yang melayani raja dan para harimnya Raja Arumbi 2 dari Afrika (1968), telah menikahi 100 wanita. Dan konon Genghis khan, memiliki begitu banyak kekasih, yang saat ini ia meninggalkan 16 juta keturunan yang masih hidup. Kaisar tibertius di abad 4-37 M,dianggap sebagai seorang yang nyeleneh dalam masalah sex, dimana ia suka mendirikan pesta Sex dan membangun pusat pornografi bagi dirinya di kota chapri.

Penguasa terkenal Mesir kuno yang kita kenal dengan sebutan Fir’aun, salah satu yang tersohor bernama Ramses 2 (1225-1292 SM), hidup di era nabi Musa.ia telah memiliki 8 istri yang dibarengi dengan banyaknya selir, hingga ia melahirkan 150 keturunan.adanya dinding biarra pemujaan merupakan bukti sejarah terkuat, dimana disana tercantum nama nama istrinya, dan yang paling terkenal ialah Nefetteri dan Asiyanefer/Isisnefer(yang dalam Al Quran disebut sebagai wanita firaun yang menjaga keimanan dan kehormatannya). Para nabi agama semit (Islam, Kristen, Yahudi) pun juga banyak yang melakukan praktik poligami, diantaranya Nabi Ibrahim yang memiliki 2 istri (Sara yang melahirkan nabi ishaq bapak bangsa ibrani dan Hajar yang melahirkan nabi ismail kbapak bangsa arab). Nabi ya’qub,memiliki 2 orang istri (Liya dan Rachel). Demikian pula nabi Daud dan putra nya Nabi Sulaiman, mereka memiliki banyak istri dan selir karena mereka sekaligus seorang raja bangsa ibrani. Dalam kitab Bibel juga menyebutkan bahwa beberapa tokoh memiliki banyak istri seperti abiyah,ahab,kale,elivah,elkana,esaw,uzair dll.

Dalam pemaparan sejarah diatas, dapat kita simpulkan bahwa adanya poligami setua dengan umur manusia dibumi, dimana praktik tersebut tidaklah adil apabila di identikan dengan ajaran islam. Justru syariat islamlah yang terkandung dalam surat An nisa ayat 3 datang mengatur praktik tersebut, karena poligami telah mengakar dalam tradisi masyarakat di seluruh penjuru dunia, tak terkecuali di Arab Jahiliyah. Merupakan suatu hal yang lumrah pada era tersebut, bahwa seorang laki-laki menikahi lebih dari satu istri. Dikarenakan factor geografis arab yang dipenuhi dengan gurun, membuat suku-suku disana saling berebut mata air dan daerah kekuasaan.situasi politik juga selalu memanas dengan perang sebagai jalan keluar, memaksa mereka untuk memperbanyak keturunan laki-laki.hal inilah yang menjadikan wanita turun kasta social menjadi kelas yang ke dua. Bahkan, masyarakat arab jahiliah tidak senang apa bila anak yang lahir dari Rahim istri mereka merupakan anak perempuan. Hal ini terabadikan dalam al quran surah An Nahl ayat 58-59
وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلْأُنثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُۥ مُسْوَدًّۭا وَهُوَ كَظِيمٌۭ ٥٨ يَتَوَٰرَىٰ مِنَ ٱلْقَوْمِ مِن سُوٓءِ مَا بُشِّرَ بِهِۦٓ ۚ أَيُمْسِكُهُۥ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُۥ فِى ٱلتُّرَابِ ۗ أَلَا سَآءَ مَا يَحْكُمُونَ ٥٩
Setiap kali salah satu dari mereka diberi kabar baik tentang seorang bayi perempuan, wajahnya menjadi muram, saat dia menahan amarahnya.
Dia menyembunyikan dirinya dari orang-orang karena kabar buruk yang dia terima. Haruskah dia membuatnya malu, atau menguburnya ‘hidup’ di tanah? Sungguh jahat penilaian mereka!

Maka Islam dengan tegas melarang praktik pemguburan anak perempuan melalui pesan yang tersirat di ayat tersebut. Ditambah dengan beberapa hadist-hadist nabi yang mengangkat derajat perempuan, dengan menjanjikan beberapa keutamaan. Yang pertama
Anak perempuan menjadi jalan menuju surga : Diriwayatkan Abdullah bin Abbas, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Siapa yang memiliki anak perempuan, dia tidak membunuhnya dengan dikubur hidup-hidup, tidak menghinanya, dan tidak lebih mengutamakan anak laki-laki, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga,” (HR. Abu Daud).

Anak perempuan menjadi pelindung dari api neraka :
Rasulullah SAW pun berkata: “Siapa yang diuji dengan kehadiran anak perempuan, maka anak itu akan menjadi pelindung baginya di neraka.” (HR. Ahmad)

Anak perempuan sebagai pelindung dihari kiamat. Diriwayatkan dari Uqmah ibn Aamir, Rasulullah SAW juga pernah bersabda: “Siapa pun yang memiliki tiga anak perempuan dan sabar terhadap mereka, dan memberi mereka makan, memberi mereka minum, dan pakaian dari hasil usahanya, maka mereka akan menjadi pelindungnya di hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah)

Dekat dengan rasulullah
Anas (ra) melaporkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapa pun yang menanggung nafkah dua anak perempuan sampai baligh (mencapai kedewasaan), maka pada hari kiamat antara saya dan dia seperti ini (beliau menggabungkan jari-jarinya.” (HR. Muslim).

Dalam tradisi masyarakat Arab jahiliyah lain yang sangat merendahkan martabat wanita ialah, mewarisi istri-istri dari ayah yang sudah wafat dimana saat itu apabila seorang laki laki memiliki sepuluh istri, misalkan 5 diantaranya sudah tua dan sisanya masih muda, ketika laki-laki tersebut meninggal, maka anaknya berhak mewarisi 10 istri nya. Si anak juga berhak, jika ia hanya ingin mengambil istri istri ayahnya yang masih muda dan melarang istri istri tua ayahnya untuk menikah seumur hidup. Atau membiarkannya menikah dengan orang lain dengan syarat ia berhak atas maharnya sebagai ahli warist. Maka sungguh betapa rendah martabat wanita di era tersebut, dimana wanita bak property barang yang dapat diwarisi. Islam pun datang dan secara tegas melarang praktik keji tersebut, karena berpotensi seorang laki laki memiliki 10 istri atau lebih dengan turunnya surah An-nisa ayat 19 :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَحِلُّ لَكُمْ اَنْ تَرِثُوا النِّسَاۤءَ كَرْهًا ۗ وَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ لِتَذْهَبُوْا بِبَعْضِ مَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اِلَّآ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا
Wahai orang-orang beriman! Tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.

Dan dua ayat setelahnya, yakni ayat ke 22 merupakan ayat yang sangat panjang, mengatur para laki-laki dalam masalah wanita yang haram untuk dinikahi,menunjukan bahwa perhatian islam terhadap mamrtabat wanita sangatlah besar. Maka sampai disini dapat kita simpulkan bahwa ribuan tahun sebelum lahirnya pegerakan progesif emansipasi wanita dan feminism, pada abad ke 7 agama Islam telah lebih dahulu mengangkat derajat kaum wanita serta memerangi budaya patriarki yang saat itu sangat melekat di kalangan masyarakat Arab jahiliyah. Padahal, di era itu ada beberapa agama yang eksis dengan jumlah pengikut yang cukup banyak di makkah maupun madinah, dari agama semit kuno (yahudi dan Kristen)maupun animism dan dinamisme (agama nenek moyang), akan tetapi, tak satu pun diantaranya mampu berperan aktif dalam merubah kondisi wanita yang sedang tertindas. Maka semua tuduhan keji di era modern yang tersebar yang berbunyi “Islam agama yang kental dengan budaya patriarki”, merupakan tuduhan tanpa landasan apapun !

Poligami dalam bingkai syariat.
Setelah melewati pembahasan praktik poligami dari sisi epistemologis dan historis, dapat kita simpulkan bahwa adanya poligami bukanlah sebuah produk agama, melainkan sebuah tradisi yang telah mengakar kuat dilingkungan masyarakat sejak zaman dahulu kala. Praktik tersebut juga pada awalnya lahir sebagai jawaban atas tantangan social, politik,dan geografis manusia yang hidup di zaman dahulu.dan praktik tersebut terus berkembang menjadi sebuah kesenangan biologis ketika manusia telah sampai pada titik kenyamanannya. Maka datangnya syariat poligami dalam islam sebagai aturapembatasan,dan bukanlah anjuran. Untuk mengangkat martabat wanita yang sebelumnya telah jatuh karena berbagai macam factor, salah satunya penyelewangan poligami yang membabi buta. Namun, yang cukup disayangkan, di era modern ini, banyak oknum praktisi poligami yang mensyiarkan tindakannya atas nama islam. Berdalih bahwa perintah poligami termaktub dalam quran. Dan dilakukan oleh nabi dan para sahabat.maka mengikutinya merupakan sebuah ibadah.
Kekeliruan paradigma yang tersebar di sebagian masyarakat muslim, tentunya karena salah dalam memahami produk dari sebuah hukum fiqh, dengan mengabaikan beberapa ilmu alat dalam studi islam yang membantu terlahirnya hukum itu sendiri. Seperti pemahaman tekstual ayat poligami An nisa 3 dengan mengabaikan konsep I’jaz balaghi pada ayat tersebut dan juga metode tafsir ulama dalam penjabarannya, serta asbabun nuzul yang menjadi sebab mengapa ayat itu turun di masyarakat. Contoh lain ialah penggabungan definisi kata “sunnah” dari segi ilmu hadist dan ilmu fiqh. Yang dimana kedua disparitas tersebut cukup jauh.

Maka disini akan dilakukan penjabaran praktik poligami dalam bingkai syariat melalui pembedahan ayat al quran surah An nisa ayat 3,,beserta pemaparan I’jaz balaghi dan asbabun nuzulnya yang di ikuti dengan penjabaran tafsir ulama pada ayat tersebut. Serta penjabaran ulama fiqh mengenai status hukum poligami. Allah berfirman dalam surah An nisa ayat 3
وَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تُقْسِطُوْا فِى الْيَتٰمٰى فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ النِّسَاۤءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ ۚ فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ ذٰلِكَ اَدْنٰٓى اَلَّا تَعُوْلُوْاۗ
Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim.

Dari segi tata bahasa, ayat tersebut menggunakan metode taqdim dan ta’khir dalam alquran. Jadi kenapa ayat disebut diawal (taqdim) atau di akhir (ta’khir) karena punya maksud tersendiri. Biasanya, ta’khir menunjukan jika pesan intinya terletak di akhir ayat karena pesan intinya mengerucut.(takhsis).lalu mengapa pada ayat tersebut yang didahulukan kalimat “matsna wa tsulaatsa wa rubaa”. Karena pesan intinya terletak di akhir, dimana konteks pada waktu itu orang orang arab punya banyak istri, maka ma’na pesan dari ayat tersebut dari “ ‘aam” menuju “khaas”. lalu muncul pertanyaan, “mengapa Allah SWT tidak memerintahkan umat muslim menikahi satu istri terlebih dahulu, baru diikuti dua tiga atau empat bila mampu?” maka jawabannya adalah karena tradisi poligami di kalangan masyarakat jahiliyah sudah mengakar kuat. Bahkan membabi buta, dimana seseorang bisa memiliki 10 istri atau lebih,bahkan bisa mewarisi istri istri nya ke anaknya. Maka proses penyampaian pesan dalam ayat ini perlu yang namanya tadarruj atau step by step. Karena bila penyapaian pesan langsung kepada inti yang menyalahi tradisi ta’addud pada waktu itu, akan menimbulkan ketidak siapan di masyarakat arab. Allah SWT mengutamakan pesan pembatasan poligami dengan maksimal empat istri, yang di ikuti dengan pesan inti ialah anjuran monogami di akhir ayat.
Sedangkan,apabila kita tinjau dari segi asbabun nuzul, akan kita dapati bahwa sebab diturunkannya ayat ini karena sebagian kaum muslimin di era itu yang susah menginfaq an hartanya untuk anak yatim piatu, namun diwaktu bersamaan mereka menghamburkan hartanya untuk bermudah mudahan dalam masalah poligami tak teratur. Banyak diantara mereka yang beritri 5,10 hingga belasan. Tentu praktik tersebut mangandung unsur penghambur hamburan harta. Bahkan sebagian mereka tidak berlaku adil terhadap istri istri nya. Maka ayat tersebut bermaksud menyampaikan pesan bahwa “apabila kalian khawatir akan tidak berlaku adil terhadap anak yatim, maka khawatirlah kalian akan ketidak mampuan untuk adil terhadap istri-istri kalian.maka nikahilah wanita yang memungkinkan kalian bias menegakan hak hak mereka.”(perkataan ibnu abbas pada riwayat al walibi di kitab tafsir karya Dr.wahbah az zhuhaili).

Menurut az-Zuhaili bentuk kata perintah (fi’il amar) yang berbunyi فَانْكِحُوا (maka nikahilah), memiliki fungsi al-ibahah atau suatu kebolehan, seperti halnya bentuk amar dalam ayat وَكُلُوا وَاشْرَبُوا (makanlah dan minumlah kamu sekalian…).
Bentuk amar tersebut juga bisa difahami menjadi wajib (للوجوب), artinya wajib meringkas atau membatasi atas jumlah yang telah ditentukan oleh lafadz selanjutnya, yaitu sampai maksimal 4 orang istri. Namun bukan berarti wajib untuk menikah sesuai jumlah tersebut, hanya boleh maksimal empat, dan hal ini wajib.

Lafadz مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ) dalam ayat tersebut menunjukkan tahapan atau adanya pilihan untuk menikahi 2 hingga maksimal 4 orang istri. Apabila seseorang itu khawatir tidak akan mampu berbuat adil, maka nikahilah hanya seorang saja, karena orang yang dibolehkan untuk berpoligami adalah orang yang yakin terhadap dirinya akan mewujudkan sifat adil. Bahkan ketika ayat ini turun, Nabi SAW. Memerintahkan beberapa sahabatnya yang memiliki istri lebih dari ketetapan maksimal dalam alquran, untuk menceraikannya dan hanya memilih empat diantaranya. Imam Malik,An Nasa’I,Ad Daruqutni meriwayatkan bahwa rasulullah SAW memerintahkan Sailan binUmayyah yang memiliki 10 istri, untuk memilih hanya empat diantara mereka. Harris binQais al asadi memiliki 8 istri, dan ia harus menceraikan 4 diantaranya, Naufal bin muawiyah ad daily, memiliki5 istri dan harus menceraikan satu diantaranya. Riwayat siroh sahabat ini memperkuat argument bahwa syariat poligami dalam islam adalah sebagai pe,batasan,dan bukanlah anjuran.
Sedangkan mereka yang berdalih bahwa hukum poligami adalah sunnah karena dilakukan oleh rasulullah SAW. Ini perlu pengkajian yang lebih dalam.

Poligami adalah sunnah, adalah benar apabila sunnah yang dimaksud menurut definisi ahlul hadist bahwa segala sesuatu yang rasul lakukan disebut sunnah. Sedangkan dari segi hukum, kita telah melewati pembahasan ikhtilaf ulama bahwa mayoritas berpendapat hukum asal poligami ialah mubah,tidaklah sunnah. Jadi definisi sunnah menurut ulama hadist bukanlah suatu hukum, melainkan apa apa yang dilakukan nabi. Karena peletakan hukum suatu amal dari wajib,sunnah,makruh,hingga haram merupakan ijtihad ulama fiqh yang baru ada berabad-abad setelah rasulullah wafat.dan jika kita menilik kembali ke sirah nabi di buku fiqh siroh karya Al Buthy, Rasulullah semasa awal-awal pernikahannya dengan Khadijah RA, beliau monogamy hingga wafatnya istri pertama nya. Lalu setelah itu beliau menikah dengan siti Aisyah yang diikuti setelahnya istri-istri lainnya. Namun perlu digaris bawahi, bahwa kesemua yang rasul nikahi setelah aisyah merupakan seorang janda. Dan tentu disetiap pernikahannya dengan salah seorang istrinya karena suatu alasan, bukan karena nafsu biologisnya saja.

Dr. Wahbah az zuhaili pun berkesimpulan setelah penafsiran dan pemaparan dari asbabun nuzul surah An nisa ayat 3 ini kepada tiga hal :
Kewajiban untuk bersikap adil dalam segala hal, baik adil dalam mengelola harta anak yatim, adil ketika menikahi mereka dan juga adil ketika ber-poligami.
Ayat ini bukan perintah, namun menunjukkan kebolehan untuk berpoligami, sampai maksimal empat orang istri.

Haram hukumnya menikahi lebih dari empat orang perempuan secara bersamaan, kecuali sebelumnya ia menceraikan salah satu dari istrinya.
Maka telah jelas kepada kita bahwa syariat poligami merupakan bentuk pembatasan kepada umat muslim yang dikala itu tak ada batasan dalam menikahi wanita. Sedangkan, beberapa ulama fiqh dalam masalah poligami sedikit berbeda pendapat dalam masalah status humukmnya. Sykeih Abdurrahman ibn baaz berpendapat bahwa hukum asal sebuah pernikahan ialah ta’addud yang berarti anjuran untuk berpoligami.namun bila tidak mampu maka dianjurkan monogamy. Sedangkan mayoritas ulama Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa hukum asal poligami ialah mubah, dengan anjuran monogamy yang utama.
Setelah kita mengetahui bahwa poligami merupakan produk budaya manusia bukan agama, dan adanya syariat poligami dalam islam sebagai batasan dan bukanlah anjuran, dan di era modern poligami sudah tidak lagi relevan bagi manusia, lantas mengapa Allah SWT tidak langsung mengharamkannya saja?

Dalam hal ini, tentu kita tidak bisa dengan mudah mengharamkan apa yang di halalkan oleh Allah SWT sebagaimana surah At Tahrim ayat 1. Lantas, apakah poligami masih memiliki maslahat dalam kehidupan manusia? Tentu saja, karena hal inilah yang menjadi alasan praktik poligami tidak dilarang secara mutlaq. Dalam beberapa kasus di era modern, poligami merupakan solusi dari masalah yang ada, dan tentu jauh berbeda dari kasus di era kuno. Dr Wahbah az zuhaili menjabarkan, hikmah mengapa poligami tidak diharamkan secara mutlaq dalam islam, melainkan hanya dibatasi.
yang pertama, poligami menjadi solusi ketika suami ingin memiliki keturunan, sedangkan istrinya mandul.
Yang kedua, poligami kembali menjadi solusi dikala istri mengalami sakit berat, dan tak ada yang mengurus rumah tangga.
Kedua masalah diatas apabila urgent,dan atas perizinan istri pertama, maka poligami merupakan solusi. Karena dengan poligami akan menguntungkan kedua belah pihak. Dari si suami yang akan mendapat keturunan atau urusan rumah tangga yang teratasi.serta dari pihak istri yang tetap mendapatkan nafkah dari suaminya tanpa harus diceraikan.

Kesimpulan
Maka telah jelas kepada kita, bahwa poligami dalam islam merupakan perkara kompleks yang tak bisa hanya kita fahami dari satu sisi saja, dengan mengabaikan sisi lain seperti sejarah perkembangan poligami itu sendiri,serta lingkungan social masyarakat arab pada waktu itu. Tentu, terjawab sudah tuduhan beberapa pihak terkait islam sebagai agama patriarki dengan poligami sebagai salah satu buktinya, merupakan tuduhan tanpa landasan. Karena justru islam memuliakan martabat perempuan dengan memuliakan praktik poligami yang sebelumnya telah ternodai dan terselewengkan. Dan juga, telah terpatahkan semua argument-argumen oknum praktisi poligami yang mengatas namakan islam sebagai agama yang menganjurkan tindakannya, dengan pemaparan panjang sub pembahasan poligami dalam bingkai syari’at.

Ditulis oleh:
Muhammad Nizhamuddin
Mahasiswa IIUI Islamabad