Langgar Hukum Malah Jadi Duta di Indonesia Ini

Tahun 2016 yang lalu, seluruh media digegerkan dengan pemberitaan salah satu artis pendatang baru yang terkenal dengan goyang itiknya karena dijadikan sebagai duta Pancasila. Si Goyang itik itu, menjadi duta setelah ia menodai simbol negara yaitu Pancasila di sebuah acara disalah satu media televisi swasta Nasional Indonesia. Menghina simbol negara, jadi duta, sangat tidak masuk akal.

Selang satu tahun kemudian, pada 2017 yang lalu, salah satu artis dangdut papan atas yang dikenal karena goyang gergajinya yang hampir setiap saat selalu menghiasi layar televisi Indonesia, mengikuti jejak langkah sahabatnya yang lebih dahulu menjadi duta. Kali ini, sang pemilik goyang gergaji dijadikan sebagai duta karena kedapatan menerobos jalur busway. Pada kasus yang lain, di tahun 2019, ada salah satu mantan Ketua Umum Partai yang terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi di Jawa Timur karena kasus jual beli jabatan disalah satu KEMENAG.

Beberapa tahun kemudian, setelah ia menghirup udara segar, dirinya ingin dijadikan sebagai duta korupsi oleh partai yang perna ia pimpin dengan alasan nantinya yang bersangkutan bisa memberikan edukasi (baca Kompas). Pada tahun 2023, media online memberitakan bahwa akan muncul duta yang baru. Kali ini yang akan dijadikan sebagai duta adalah salah satu artis senior yang telah banyak membintangi film-film di Indonesia. Menurut berita, artis tersebut dijadikan sebagai duta anti judi online karena terindikasi mempromosikan judi online.

Jadi Duta Dadakan
Semua warga negara Indonesia memiliki hak yang sama untuk menjadi duta. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), duta diartikan sebagai “orang yang ditunjuk untuk mempromosikan sesuatu”. Biasanya, menjadi duta harus memiliki kemampuan pada bidang tertentu. Misalkan, ketika seseorang ingin menjadi duta literasi, maka ia harus memiliki hobi membaca atau paling tidak paham dengan literasi. Sebab, ia akan menjadi icon sekaligus magnet bagi yang lainnya untuk bisa meningkatkan aktivitas membaca.
Contoh yang lain adalah duta budaya yaitu sosok yang diharapkan memahami dan mempertahankan budaya warisan para leluhur di tengah kencangnya arus budaya asing yang telah masuk ke Indonesia.

Pada intinya, menjadi seorang duta berarti ia dinilai memiliki kemampuan dalam bidang tersebut, seperti dicontohkan di atas. Namun, pada kenyataannya, justru sangat jauh berbeda dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Sebagaimana yang telah terjadi sebelum-sebelumnya, mendapatkan duta setelah mereka melakukan beberapa pelanggaran, seperti menghina simbol negara menjadi duta Pancasila, menjadi duta karena menerobos jalur busway, tertangkap KPK dan terbukti bersalah melakukan korupsi, malah ingin dijadikan sebagai duta anti korupsi, dan terindikasi mempromosikan judi online, justru diwacanakan jadi duta anti judi online oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Duta yang Buta
Menjadi duta di Indonesia terbilang sangat mudah. Cukup melakukan pelanggaran, atua hal-hal aneh yang bertentangan, maka anda punya potensi untuk dijadikan sebagai duta, tapi sayang seribu sayang, itu hanya berlaku bagi mereka yang wajahnya sering kali menghiasi layar televisi dengan aksi-aksinya yang tidak senonoh, kurang bermoral, tidak mendidik, dan sangat jauh dari akar budaya Indonesia. Oleh sebab itu, mereka tidak pantas dijadikan sebagai duta, karena bertentangan dengan sila kedua Pancasila yaitu “kemanusiaan yang adil dan beradab”.

Seharusnya, ketika ingin menjadikan seseorang sebagai duta apapun itu, harus lebih selektif, bukan sebaliknya, malah justru mencederai kata “duta” itu sendiri dan menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Pemerintah harus arif dan bijaksana dalam setiap kebijakan, termasuk menjadikan seseorang sebagai duta. Masih banyak sekali masalah-masalah besar yang perlu mendapatkan perhatian serius oleh pemerintah.

Namun, jika serius ingin menjadikan artis sebagai duta, maka perlu diperhatikan dengan baik, jangan sampai salah sasaran. Masih banyak sekali artis-artis papan atas dengan jam terbang yang cukup tinggi dan memiliki banyak penggemar, serta menjaga warisan budaya Indonesia yang bisa dijadikan sebagai duta. Demikian halnya dengan politisi, masih banyak yang memiliki integritas, antara perkataan dan perbuatan selalu sejalan, dan tidak banyak obral janji, mereka bisa dipertimbangkan untuk menjadi duta.

Bagaimana mungkin menjadi duta, sedangkan wajahnya kerapkali muncul dalam pemberitaan di banyak media karena kontroversinya. Lalu, apa yang harus diambil dari si duta tersebut? justru lebih baik memilih buta.

Penulis: Jailani Tong, M.Pd.
(Dosen STAI Kupang)