Sampah Jadi Masalah di Jogja, Mahasiswa KKN UAD Yogyakarta Lakukan Ini

Sampah merupakan salah satu permasalahan yang serius untuk dicari solusinya bagi setiap daerah. “Saat ini TPST Piyungan sedang ditutup, sehingga perlu ada solusi terkait sampah yang dapat dilakukan di tingkat rumah tangga” Tutur Jangkung Aji Pangestu selaku mahasiswa KKN UAD 111 di Tegal Sempu. Berangkat dari permasalahan terkait pengelolaan sampah, membuat mahasiswa KKN UAD di Tegal Sempu mengadakan sosialiasi pengelolaan sampah yang dikaitkan juga dengan kejadian stunting.

Edukasi dan pelatihan yang dilakukan pada tanggal 13 Agustus 2023 mengangkat judul “Bebas Sampah dan Stunting dengan Pengelolaan Sampah yang Bijak dari Rumah Tangga di Dusun Tegal Sempu”. Kegiatan tersebut dibuka dengan sambutan oleh Dukuh Tegal Sempu, Wartimin dilanjutkan dengan edukasi dan pelatihan. Edukasi pemaparan hubungan stunting dan pengelolaan sampah dilakukan oleh Nur Syarianingsih Syam, M.Kes yang juga merupakan dosen pembimbing lapangan. Pelatihan pengelolaan sampah dilakukan oleh Sri Budiarti, S.P selaku perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul. “Pengelolaan sampah dengan ember tumpuk ini nantinya dapat menghasilkan maggot yang dapat digunakan untuk pakan ternak dan lindi yang dapat digunakan sebagai pupuk cair”.

Pelatihan yang sedianya menggunakan ember tumpuk dimodifikasi dan diganti dengan menggunakan wadah es krim bekas. Sosialisasi ember tumpuk dengan memanfaatkan maggot dirasa sangat relevan dengan julukan desa Caturharjo sebagai Peringkat 1 Pengolahan Sampah Terbaik se-Bantul, tutur Jangkung Pangestu Aji yang juga merupakan mahasiswa KKN UAD di Tegal Sempu bersama delapan rekan lainnya Muhammad Rayhan Fuadi, Albert Siraj Rozal Ginola, Afiifah Indah Putri, Fathiyya Zuba Hafizha, Nabila Fitriana Putri, Aulia Rahmawati, Nova Firrizqi Hariyanti, dan Novita Anggraeni Lestari.

Dalam melancarkan program tersebut, mahasiswa mempersiapkan berbagai persiapan seperti wadah bekas es krim yang sudah yang diberi lubang pada salah satu alasnya, sayuran serta buah-buahan busuk dan larva BSF (Black Soldier Fly). Sayuran dan buah-buahan yang telah membusuk kemudian dibagikan kepada peserta yang hadir untuk dimasukkan dalam ember bersamaan dengan larva BSF yang akan berfungsi untuk menguraikan sampah organik.

Kemudian dialkukan proses penumooukan dengan sisa sisa bahan makanan begitu seterusnya sampai menghasilkan air yang nantinya dapat digunakan sebagai pupuk tanaman. Kegiatan edukasi dan pelatihan ini dihadiri oleh perwakilan rukun tetangga dan karang taruna padukuhan. Di samping dapat membantu untuk mengurai sampah organik, maggot dapat memberikan nilai ekonomis bagi warga. Maggot dapat dimanfaatkan sebagai bahan ternak dan pupuk, nantinya juga dapat diperjualbelikan. “Kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan pengetahuan dan pengalaman kami untuk membuat pupuk cair, jaga-jaga jika harga pupuk semakin melonjak”, tutup salah peserta kegiatan.