Muhammadiyah Dipercaya Warga NU Kota Pasuruan Untuk Garap Tanahnya

Persyarikatan Muhammadiyah kembali mendapat kepercayaan dan amanah dari warga masyarakat. Kali ini warga Kota Pasuruan, Jawa Timur, mewakafkan tempat ibadah (masjid) dan sejumlah amal usaha lainnya kepada Muhammadiyah.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., menjelaskan pihaknya menerima wakaf berupa tersebut bukan dari warga Muhammadiyah. Tapi dari warga Kota Pasuruan yang justru anggota Nahdhatul Ulama (NU). Melalui akun Instagramnya, Abdul Mu’ti menulis, bahwa Sabtu (6/5/2023) kemarin, merupakan hari yang penuh berkah di Kota Pasuruan. “Latar belakang foto adalah Masjid Al Kautsar, yang diwakafkan oleh keluarga H. Imam Sadeli kepada Muhammadiyah,” tulis Abdul Mu’ti.

“Kami juga menerima wakaf tanah seluas 27.311 m2 dari keluarga H Abdul Rauf, warga NU yang mempercayakan wakaf tanahnya kepada Muhammadiyah,” tulis Mu’ti melalui akun instagram dengan nama Abe_Mukti.

Akun Instagram milik Sekum PP Muhammadiyah ini, juga menjelaskan, bahkwa pihaknya:
1. Penerimaan wakaf tanah seluas 7000m2 beserta bangunan Masjid, TK, dan SM Al-Kautsar, dari keluarga Bapak H. Imam Sadeli.
2. Pengukuhan PDM dan PDA Kota Pasuruan, bersama Walikota Drs. KH. Saifullah Yusuf (yang juga Sekjen BPNU).
3. Penerimaan wakaf tanah seluas 27.311m2 dari keluarga H. Abdul Rauf.
4. Peresmian Masjid Nyai Walidah, di Komplek SPEAM PDM Kota Pasuruan. H. Abdul Rauf adalah warga NU yang mempercayakan wakafnya kepada Muhammadiyah.

Terkait dengan unggahan Sekum PP Muhammadiyah, sejumlah netizen ikut berkomentar pada akun instagram tersebut. Akun @rosi_hans menyatakan: “Subhanallah..berkah selalu untuk yang wakaf juga penerimanya.“

“Matur nuwun Prof. atas kehadirannya,” tulis @cakopik_tamanrizki. Sementara, akun @ummawizma melanjutkan: “Fastabiqul Khoirot.. maa syaa Allah.” Akun @budiyonokudus menyatakan: “Muhammadiyah unggul berkemajuan. Semoga Amanat.”

Sementara, akun @yogiarfan melanjutkan: “Terima kasih, Pak. Sayangnya saya tidak berkesempatan untuk bisa melihat Bapak secara langsung untuk yang kedua kalinya.”

“Luar biasa. Semoga masyarakat terus percaya Muhammadiyah dan sebaliknya, Muhammadiyah menjaga amanah dari masyarakat,” tulis akun @nabanmudrik. “Semoga berkah. Bagi yang mewakafkan dan juga yang mengelolanya,” harapan dari @drjackpradono.

Sementara, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ahmad Dahlan Rais mendorong Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) agar lebih giat dan aktif untuk menyemarakkan masjid-masjid milik Muhammadiyah. Apalagi dalam rangka menegaskan bahwa identitas Muhammadiyah sebagai gerakan kader yang militan dan sekaligus sebagai gerakan dakwah yang tentu merupakan gerakan massa.

Miris jika melihat gaya hidup para pejabat pemerintahan yang suka dengan pamer kemewahan, kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki. Seakan negara ini sudah menjadi hak milik pribadi dalam sektor jabatan yang dipegang, sehingga tidak lagi punya rasa malu atau bersalah dengan seluruh rakyat Indonesia khsusnya rakyat kecil ke bawah.

Hal ini, kata Dahlan Rais, bukanlah contoh teladan yang harus diikuti, apalagi bagi seluruh warga Muhammadiyah yang berpandangan pada ajaran syariat Islam. Diberikan amanah besar itu, agar dijaga dengan tanggung jawab serta kemampuan skill profesional untuk mewujudkan cita-cita kesejahteraan dan bukan justru malah ditilep, dimakan, dihembat dan dikorupsi.

Pamer kekayaannya pun memberikan kesan turunan pada keluarga, sehingga suami, istri, anak, dan lainnya, ikut berbangga dengan harta yang dimiliki dari jalan yang tidak halal. Ini menjadi contoh buruk dalam memilih atau mengembangkan sumber daya manusia di lingkungan pejabat pemerintahan dari semua hirarki atau turunan struktur nya. Bukan bermaksud untuk menampakkan kesombongan ataupun riya kepada siapapun terhadap keikhlasan persyarikatan Muhammadiyah.

Amal usaha Muhammadiyah yang sampai saat ini terjaga dengan baik dan bahkan akan terus bertambah lagi berkembang damai proses pembangunan – pembangunan. Tentu dengan Amal Usaha Muhammadiyah itu merupakan bukti konkret sebagai bentuk kontribusi membangun Indonesia berkemajuan dan berkelanjutan.

Jika saja negara memberikan porsi amanah bagi Muhammadiyah, untuk menjadikan langsung warganya yang kompeten menjadi pegawai atau pejabat pemerintahan, tentu akan dijaga dengan sebaik-baiknya selama ia memang berpegang teguh pada Muhammadiyah dengan ajaran Islam yang benar.

Maka Indonesia akan jauh lebih baik terhindar dari segala bentuk praktik yang merugikan negara apalagi sampai menilep anggaran kas negara. “ Ini menjadi perhatian bahkan juga menjadi tugas penting untuk segara membenahi dengan cara merevitalisasi instansi negara yang kerap kali merugikan bangsa Indonesia,” tegasnya. Amal Usaha Muhammadiyah saja, kata Dahlan Rais, terjaga dengan baik dan Insya Allah terhindar dari segala sindikat, korupsi, glamor, pencucian uang dan lain sebagainya.

Sebagai warga persyarikatan Muhammadiyah yang patuh dan taat terhadap ideologi, matan kepribadian, khittah, himpunan putusan tarjih dan sebagainya menjadi pedoman dan panduan hidup. Tentu Al Qur’an dan As Sunnah adalah pedoman utama yang harus dan wajib dipegang oleh kaum muslimin.

Amal Usaha Muhammadiyah itu memang beragam proses dinamikanya, ada yang masih tahap membangun, ada yang sudah tahap mengembangkan, ada yang tahap membesarkan dan ada pula yang sudah pada tahap melebarkan sayapnya atau memperluas sehingga memperbanyak amal usaha Muhammadiyah. (Red)