Seratus Tahun Penolong Kesengsaraan Oemoem Muhammadiyah

    Hari ini, seratus tahun yang lalu, tepatnya tanggal 15 Februari 1923, Muhammadiyah meresmikan pelayanan kesehatannya yang pertama di Jagang, Notoprajan Yogyakarta. Sebulan sebelumnya, tepatnya tanggal 13 Januari 1923, Muhammadiyah juga mendirikan rumah pelayanan bagi orang miskin dan terlantar. Peresmian rumah miskin tersebut dihadiri oleh tamu-tamu penting seperti utusan Yang Mulia Rijkasbestuurde R. T.
    Wirjokoesoemo, M. Ng. Dwijowewojo, dr. Offringa, dr. Abdulkadir dan beberapa
    tuan-tuan dari golongan Tiong Hoa serta wakil-wakil dari perhimpunan perhimpunan yang ada pada masa itu.

    Kedua kegiatan atau amal usaha ini berada di bawah bidang atau bagian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) Muhammadiyah yang saat itu dipimpin oleh HM Soedja’, salah satu murid kepercayaan KH Ahmad Dahlan. Kedua kegiatan ini sekaligus menjadi peninggalan terakhir jejak pembaharuan KH Ahmad Dahlan, karena tidak lama setelah itu, pada tanggal 23 Februari 1923 KH Ahmad Dahlan dipanggil menghadap Allah SWT.

    Barangkali KH Ahmad Dahlan dan HM Soedja’ tidak terpikirkan bahwa apa yang telah mereka rintis kala itu akan bisa bertahan hingga seratus tahun, bahkan berkembang lebih besar dan lebih luas. Tetapi jika kita lihat apa yang menjadi spirit gerakan itu, yaitu keinginan untuk menolong orang yang mengalami kesusahan, kesulitan, dan kesengsaraan sebagaimana perintah Allah SWT dalam QS Al-Maun (yang kemudian populer sebagai gerakan Al-Maun) adalah sebuah niat yang bernilai abadi dan takkan lekang oleh zaman.

    Gerakan ini pun bersifat universal sehingga menggugah berbagai pihak untuk ikut berpartisipasi dan membantu tanpa ada sekat agama, keyakinan, ideologi, kelas sosial, ataupun etnis dan bangsa. Maka wajar jika kemudian tokoh Budi Utomo dr Soetomo di Surabaya pun menyambut baik gerakan Muhammadiyah ini bahkan menjadi sponsor bagi berdirinya klinik kesehatan PKO Muhammadiyah berikutnya pada tanggal 14 September 1924 di Sidodadi, Surabaya. Peresmian klinik tersebut juga dihadiri oleh utusan Hoofd Bestuur Muhammadiyah dari Yogyakarta, Haji Soedja’ dan Ki Bagus Hadikusumo. “Besok pagi akan kita buka Poliklinik ini. Siapa juga, baik orang Eropa, baik orang Jawa (orang pribumi), baik China atau bangsa Arab, boleh kemari, akan ditolong dengan cuma-cuma, asalkan betul miskin,” demikian salah satu kalimat pidato dr. Soetomo.

    Saat ini, gerakan menolong kesengsaraan umum telah mengalami perubahan bentuk dan modus operandinya. Muhammadiyah telah mengembangkannya dalam gerakan yang lebih terstruktur dan lebih profesional, dengan tetap menjaga spirit utamanya, membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan. Bahkan gerakan ini juga telah menembus batas negara dan benua. Melalui Lazis Muhammadiyah (Lazismu), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), dan Muhammadiyah Aid juga terlibat dalam program-program kemanusiaan di berbagai negara. Baru-baru ini Muhammadiyah juga mengirimkan bantuan dan tim kesehatan untuk membantu rakyat Turkiye dan Suriah yang terkena musibah gempa.

    Kita berharap apa yang telah dirintis Muhammadiyah seratus tahun yang lalu melalui gerakan Penolong Kesengsaraan Oemoem akan tetap berjalan bahkan berkembang lebih baik. Tentu semua itu bergantung kepada para penerus Muhammadiyah kini yang harus tetap selalu menjaga spirit keikhlasan dalam berbuat dan kepedulian kepada sesama. Semoga.

    Ditulis oleh:
    Muhammad Izzul Muslimin