Waspada Ada Operasi Intelejen Di Muhammadiyah Dalam Muktamar 48

    Di setiap ormas pasti ada operasi intelejen jika mau Muktamar atau semisal dengan itu agar tidak mengakomodir para pengurus Muhammadiyah yang kritis pada pemerintah. Operasi intelejennya diantara lain mulai mengumpulkan beberapa peserta di beberapa propinsi yg akan ikut Muktamar kemudian di brifing oleh pengurus pusat yg jadi kacung penguasa agar para peserta jangan memilih pengurus yg lama yg kritis pada rezim penguasa yg suka menangkap Ulama.

    Para pengurus di lingkaran PP didugi diincar itu saat ini yakni diantara lain Ayahanda Anwar Abbas, Ayahanda Busro Muqoddas, Ayahanda KH. Muhyidin Junaidi dan Ayahanda Dahlan Rais (adik dari Amin Rais). Untung di Muhammadiyah pakai sistem kolektif kolegial, jadi kelompok yang akan intervensi di Muhammadiyah sulit untuk bermain. Sebagaimana mereka suka bermain dalam pemilihan ketum dan pengurus ormas lain. Para penghamba penguasa itu hanya bisa seperti diatas itu. Main di setiap propinsi berkolaborasi dengan pengurus yg bisa dijadikan alat penguasa untuk menyingkirkan mereka² yang tidak disukai rezim saat ini berkuasa.

    Yah kalau para kader Muhammadiyah jika tidak sayang pada Muhammadiyah maka akan ikut aja apa yg dimauin rezim. Bagi mereka slogan hidup-hidupkan Muhammadiyah jangan cari hidup di Muhammadiyah tidak berlaku lagi, yang ada banyak cari jabatan di Muhammadiyah agar bisa numpang hidup di Muhammadiyah. Kalau itu yg terjadi maka kedepan Muhammadiyah akan jadi fosil hanya enak jadi bahan cerita pernah ada ormas yg sangat kaya dengan AUM (Amal Usaha Muhammadiyah) yang bejibun tetapi diurus oleh orang yang tidak amanah.

    Kita tulis ini karena kita kader sejak dari rahim ibu kita yg dulu dari NA sampai ‘Aisyiyah. Jadi kita tidak mau Muhammadiyah jadi bancakan orang-orang yang tamak dan rakus numpang hidup di Muhammadiyah. Kita bukan ormas anti pemerintah. Pemerintah itu wajib dibantu agar tidak salah jalan dalam membawa bahtera NKRI. Salah satu cara membantu itu dengan menghidupkan budaya kritis. Supaya kelihatan di Muhammadiyah kita punya otak karena suka berdebat dengan argumen bukan dengan sentimen.

    Mari kita tunjukkan kepada pencinta rezim yang sekarang aktif, bahwa kita tidak bisa dibeli dan diatur dengan cara memilih suara terbanyak pada orang-orang tidak disukai rezim. Selamat bermuktamar. Jangan sampai kita kehilangan jati diri kita sebagai warga persyerikatan. Nasrum Minallah wa Fathun Qoriib.

    Wallahu A’lam …

    Ditulis oleh: MOH. NAUFAL DUNGGIO
    (Ustadz Kampung dan Ketua LDK PWM DKI)