Dugaan Pemaksaan Jilbab di SMAN 1 Banguntapan, Ombudsman Temukan Fakta Penting Bukan Tentang Jilbab

Penemuan Ombudsman pada kasus dugaan pemaksaan berjilbab pada seorang siswi SMA Negeri 1 Banguntapan Bahwa memang benar ada kebijakan sekolah yang menghimbau siswi muslim untuk berjilbab.

Untuk kasus ini kemarin disebutkan si anak hari itu juga depresi ternyata temuan Ombudsman dari kejadian pemanggilan Guru BK tanggal 19 Juli kejadian dia mengurung di kamar mandi tanggal 26 Juli 2022, berarti ada selang waktu satu pekan yakni antara tanggal 19-26 Juli mestinya ada komunikasi antara siswi dengan orang tuanya perihal ketidaknyamanannya berjilban sehingga orang tua bisa langsung datang ke Sekolah untuk dikomunikasikan.

Dari seluruh siswi yang “dipaksa” berjilbab satu sekolah hanya ada satu kejadian ketidaknyamanan dan diduga menyebabkan siswi tersebut depresi. Depresi itu penyakit untuk menjadikan kasus ini legal karena akan ada proses hukum kepada pihak sekolah maka perlu dilakukan diagnosis secara profesional dari ahlinya yaitu dokter jiwa. Siapapun boleh beropini tetapi bila kasus sudah masuk ranah hukum maka harus ada pembuktian secara hukum pula.

Secara teori pengaruh pola asuh orang tua juga menjadi penyebab anak depresi. Penting untuk diketahui pula bagaimana pola asuh orang tuanya selama ini sehingga hanya diminta untuk berjilbab saja si anak sudah depresi, bisa jadi saat nanti si anak bertemu dengan kondisi yang tidak nyaman lagi buat anak maka dia akan depresi lagi. Sejatinya akar masalahnya bukan karena diminta berhijab melainkan ada kondisi ketidakmampuan si anak menerima dan mengatasi ketidaknyamanan yang muncul. Bila ini tidak diobati ke depan akan sulit bagi si anak berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas.

Di dalam surat orang tua siswa ke Ombudsman disebutkan oleh si ibu “pada Selasa, 26 Juli 2022, anak saya menelepon, tanpa suara, hanya terdengar tangisan. Setelahnya baru terbaca WhatsApp, ‘Mama ak mau pulang, ak ga mau dsni.’ Ibu mana yang tidak sedih baca pesan begitu?,” ungkap Herprastyanti. Herprastyanti kemudian mendapatkan informasi dari mantan suaminya bahwa putrinya itu sudah satu jam lebih berada di kamar mandi sekolah.

Pada surat tersebut jelas bahwa orang tua siswa telah berpisah, bisa jadi perpisahan orang tuanya sesungguhnya juga memberikan kontribusi pada perkembangan tumbuh kembang si anak ada masalah. Hal seperti ini harus digali oleh para ahlinya secara holistik.