Peran Muhammadiyah Dalam Sepak Bola, Embrio Terbentuknya Klub Lokal

SPID – Peran Muhammadiyah di Sepak Bola: Hizbul Wathan Embrio Klub Lokal, imilah PERAN dan kedekatan Muhammadiyah dengan sepak bola di Indonesia cukup besar. Melalui pembentukan klub Hizbul Wathan. Klub inilah yang bisa dibilang embrio munculnya Persis Solo hingga PSIM Jogja.

Sebagai organisasi Islam modern, para aktivis Muhammadiyah bisa menerima sepak bola. Yang notabene dibawa oleh bangsa penjajah ke Tanah Air. Tepatnya di masa penjajahan Hindia Belanda.

Di Jogjakarta, Ki Bagus Hadikusumo menginisiasi pembentukan Kaoeman Voetball Club. Kemudian bermetamorfosa jadi jadi persatuan sepak bola Hizbul Wathan (PSHW). Kemudian berkembang dari Jogja, ke berbagai kota. Tercatat, banyak klub Perserikatan yang anggota internalnya adalah PSHW. Bahkan, tokoh Muhammadiyah Abdul Hamid merupakan salah satu aktor pendiri PSSI.

“Termasuk Persis Solo. Sejak awal sejarahnya, memiliki klub anggota internal bernama PSHW,” terang pengamat kultur sepak bola lokal Fajar Junaedi yang juga dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (20/7).

x

Di Kota Solo, PSHW berdiri sejak 1929. Masih eksis hingga hari ini. Tercatat sebagai salah satu klub internal di bawah naungan Askot PSSI Surakarta. PSHW Solo pernah jadi juara kompetisi Persis musim 1939, baik di kelas I maupun kelas III. Disusul jawara kompetisi internal Persis musim 1953-1954.

“Perayaannya dilakukan dengan turnamen segitiga. Melibatkan PSHW Solo melawan PSIM Jogja dan PSIS Semarang,” imbuh Fajarjun (sapaan akrab Fajar Junaedi).

Muhammad Ilham Syifai pernah menulis artikel pada salah satu Koran terbitan Jogja tertanggal 7 Maret 1951. Judulnya “Simbiosis Persis Solo dengan Harakah Muhammadiyah”. Menyebutkan bahwa PSHW Solo pernah adakan tur ke Bali.

“Arsip-arsip berita ini, menunjukkan bahwa PSHW Solo adalah bagian penting dalam sejarah sepak bola di Kota Bengawan. Terutama bagi Persis Solo,” imbuh Fajarjun.

Bahkan saat ini, ada dua tim PSHW yang terjun di kompetisi pro. Yakni PSHW Sidoarjo, Jawa timur yang terjun di Liga 2. Serta PSHW UMY FC yang terjun di Liga 3 zona DI Jogjakarta.

“Klub pertama Muhammadiyah yang terjun di liga bentukan PSSI, adalah PSHW UMY. Dikelola UMY dan Universitas Ahmad Dahlan dengan mendirikan UAD FC. Keduanya bermain di Liga 3 zona DI Jogjakarta. Bahkan UAD FC di 2016 berhasil tembus final. Tapi kalah di tangan Gama,” paparnya.

Sukses UAD FC ini diharapkan menular ke PSHW Solo. “Saat ini PSHW Solo harus bangkit. Minimal bisa bermain di Liga 3 zona Jawa Tengah,” imbuh Fajarjun yang juga penulis buku Merayakan Sepakbola tersebut.

Model yang dikembangkan UMY dan UAD, bisa saja diterapkan di PSHW Solo. Misalnya, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ikut mengelola atau jadi sponsor. Mengingat UMS punya infrastruktur lengkap. Termasuk bank pemain yang bisa diambil dari mahasiswa.

“Kalau PSHW Solo dikelola lebih profesional, bisa menjadi wadah pembinaan pemain muda di eks Karesidenan Surakarta. Sekaligus bisa menjadi tulang punggung Persis Solo di masa depan. Karena publik bola di Solo ingin Persis berprestasi. Apalagi dengan talenta lokal. Sisi kebanggaannya akan beda,” kata Fajarjun. (Radarsolo/Sp)