Anwar Abbas: Bubarkan BPIP, Lomba Tak Kontekstual Saat Covid

Wakil Ketua MUI yang juga Ketua PP Muhammadiyah asal Sumatera Barat Anwar Abbas menyarankan agar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dibubarkan. Dia menilai Lembaga pimpinan Megawati Soekarnoputri itu tidak memiliki kepekaan sosial di tengah pandemi Covid-19.
Pernyataan Anwar ini menanggapi lomba penulisan bertema ‘Hormat Bendera Menurut Hukum Islam’ dan ‘Menyanyikan Lagu Kebangsaan Menurut Hukum Islam’ yang diadakan BPIP.

“Kesimpulan saya BPIP seharusnya dibubarkan saja. Bukannya apa, lombanya enggak kontekstual. Orang secara lagi Covid malah masalah hukum bendera,” kata Anwar kepada CNNIndonesia.com, Jumat (13/8).

Anwar mengatakan banyak tema yang relevan dan kontekstual untuk mengadakan lomba dalam rangka perayaan Hari Santri. Ia lantas memberi gambaran situasi saat ini.

Dia mengatakan setiap hari melihat ibu-ibu berbelanja. Namun, saat ini setiap ada tukang sayur lewat, ibu-ibu itu tidak lagi keluar rumah lantaran tak punya uang.

“Sekarang banyak kemiskinan ini. Semestinya kan dia hadir, tampil tuh BPIP. Pancasilaisnya mana? Ya, membantu lah. Menggerakkan anak-anak peduli kepada masalah Covid,” ucapnya.

“Kenapa enggak lomba; Bagaimana peran santri dalam menghadapi Covid, bisa kan, ya? Peran santri dalam menghadapi masalah ekonomi, gitu kan?” kata ahli ekonomi Islam itu.

Selain itu, Anwar juga menilai lomba BPIP hanya akan memancing perpecahan dan kecurigaan antarkelompok. Ia menyebut tema itu berpotensi membuat orang mecurigai nilai kebangsaan para santri.

“Nanti ujung-ujungnya kalau ada tulisan hukumnya haram nantinya malah menjadikan alat untuk menggebuk santri, kan?” katanya.

“Padahal bendera itu kan sudah kita kibarkan sebelum kita merdeka,” tambahnya.

Terpisah, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Marsudi Syuhud menganggap biasa lomba penulisan artikel yang diadakan BPIP. Ia menyebut tema yang diangkat disesuaikan dengan Hari Santri dan menjelang 17 Agustus.

Selain itu, ia juga menyebut lomba itu tidak ada tendensi terhadap paham atau kelompok tertentu.

“Menurut saya biasa biasa saja itu kan memperingati Hari Santri. Karena kata santri itu biasanya kan Islam. Ya, biar santri itu terlatih menulis,” ucapnya.