Beranda Khazanah Bagian Keempat: Orang yang Hatinya Bergantung pada Masjid

Bagian Keempat: Orang yang Hatinya Bergantung pada Masjid

Serial Naungan Allah SWT di Akhirat:

Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ**

Apa kabar saudaraku? Semoga kita senantiasa dianugerahi kesehatan, kebahagiaan hidup, dan kemampuan untuk selalu hati bergantung pada masjid. Āmīn!

Rasulullah saw. pernah bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: اْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دعته امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah ketika tidak ada naungan, kecuali hanya naungan Allah, yaitu (1) imam yang adil; (2) pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah; (3) seorang yang hatinya senantiasa bergantung pada masjid; (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, yang mereka berkumpul karena Allah dan mereka pun berpisah juga karena Allah; (5) seorang yang diajak wanita untuk berbuat yang tidak baik karena wanita tersebut memiliki kedudukan dan kecantikan, tetapi ia mampu mengucapkan, “Sungguh aku takut kepada Allah”; (6) seseorang yang bersedekah dan dia sembunyikan sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya; (7) seseorang yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian sehingga kedua matanya meneteskan air mata.” (HR Bukhari No. 1423 dan Muslim No. 1031)

Masjid merupakan rumah Allah SWTyang diperuntukkan bagi hamba Allah yang beriman untuk mengadakan berbagai ibadah yang mendekatkan diri kepada-Nya. Sebagai tempat beribadah yang bernilai tinggi, seharusnya masjid, termasuk musala atau surau, menjadi tempat favorit bagi umat Islam. Umat Islam berkewajiban memakmurkannya karena menggambarkan wajah keimanan umat yang berada di sekitarnya. Betapa miris hati kita jika ada masjid yang indah, tetapi kosong dari jemaah, padahal di sekelilingnya adalah umat Islam.

Di dalam masjid umat Islam melakukan salat, iktikaf, zikir, duduk di majelis ilmu, dan mengikuti kegiatan yang nama Allah SWT disebut di dalamnya. Masjid layaknya pusat kegiatan umat yang menggambarkan kemakmurannya. Siapa yang akan memakmurkannya itu? Pasti jawabannya umat Islam sendiri. Allah SWT berfirman,

مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ. إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, tetap mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Maka, merekalah yang termasuk golongan orang-orang yang selalu mendapat petunjuk (dari Allah Ta’ala).” (QS At-Taubah: 18)

Berdasarkan firman Allah SWT itu, orang beriman berkewajiban untuk memakmurkan masjid dengan melaksanakan salat berjemaah di dalamnya. Bahkan, pada akhir ayat itu dijelaskan bahwa orang mendirikan salat di masjid dan aktivitas lain yang bernilai ibadah dat tercatat sebagai orang yang telah mendapat hidayah dari Allah SWT. Sebaliknya, dapat dipahami bahwa orang yang enggan datang ke masjid merupakan orang yang lemah imannya dan jauh dari hidayah Allah SWT. Orang-orang yang seperti itu hanya memikirkan kehidupan duniawi yang akan mendatangkan kekerdilan batin dan kegelisahan hidup.

Rasulullah saw. sebelum membacakan ayat surah At-Taubah: 18 itu menjelaskan bahwa orang yang rajin ke masjid merupakan orang yang secara lahir dapat disaksikan sebagai orang beriman dengan sabdanya,

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسَاجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالإِيمَانِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى (إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ) الآيَةَ

“Apabila kalian melihat seseorang biasa ke masjid, saksikanlah bahwa ia beriman. Allah Ta’ala berfirman, Orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir.” (HR Ibnu Majah, Tirmidzi dari Abu Sa’id Al-Khudri).

Betapa hebatnya magnet masjid bagi orang beriman yang hatinya sudah terpanggil untuk mendatangi masjid, apalagi pada saat manusia masih tidur ketika azan Subuh dikumandangkan dan banyak yang malas memenuhi panggilan azan. Bahkan, Rasululah saw. menjelaskan betapa Allah Mahasayang kepada orang yang seperti itu dengan melangkahkan kakinya ke masjid sehingga setiap langkahnya itu akan diberi pahala dan dicatat sebagai kebaikan dan penghapus keburukan. Rasulullah saw. bersabda,
كُلُّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الصَّلاَةِ يُكْتَبُ لَهُ بِهَا حَسَنَةٌ وَيُمْحَى عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةٌ

“Setiap langkah menuju tempat salat akan dicatat sebagai kebaikan dan akan menghapus kejelekan.” (HR Ahmad, II: 283)

Orang yang berangkat ke masjid dalam keadaan berwudu yang sempurna, Allah SWT akan menggugurkan dosa-dosanya.

من توضأ للصلاة، فأسبغ الوضوء، ثم مشى إلى الصلاة المكتوبة، فصلاها مع الناس –أي: مع الجماعة في المسجد-؛ غفر الله له ذنوبه

“Siapa yang berwudu untuk salat, lalu menyempurnakan wudunya, kemudian berjalan menuju salat fardu, lalu salat bersama manusia, yakni bersama jamaah di masjid, niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya.” (HR Muslim)

Nikmatnya kita berada di dalam masjid sehingga batin kita menjadi tenang. Batapa tidak? Bukankah kita sedang berada di rumah Allah Yang Mahaagung dan Pemberi rahmat? Rahmat dan ketenangan itu akan diberikan kepada orang yang mau berkunjung ke rumahnya sebagai tamu Allah SWT, apalagi diikuti dengan membaca atau mempelajari Al-Qur’an. Sebagai tamu yang nama-Nya disebut di dalamnya, Allah SWT pasti melimpahkan sakinah batiniah ke dalam hati setiap orang datang menemui-Nya. Allah SWT pun bangga terhadapnya, bahkan membanggakan kepada makhluk-Nya yang ada di langit. Makin lama berada di rumah-Nya makin senang pula pemiliknya. Rasulullah saw. bersabda,

وما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده

”Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah (Al-Qur’an) dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali akan turun ketenteraman kepada mereka, rahmat akan menyelimuti mereka, para malaikat menaungi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat di sisi-Nya.” (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Selanjutnya, Rasululah saw. menyebutkan bahwa orang yang gemar mendatangi masjid diberikan cahaya dalam kegelapan menuju hari Kiamat dengan sabdanya, “Gembirakan orang-orang yang berjalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna di hari Kiamat.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Mulia sekali nilai orang yang gemar datang ke masjid untuk melaksanakan kewajiban agamanya. Orang yang seperti itu merasa memperoleh banyak kemuliaan di sisi Allah SWT. Namun, pada kondisi COVId-19 banyak orang yang tidak mau datang ke masjid dengan alasan takut terdampak pandemi. Masjid menjadi lengang, jemaah lebih banyak berdiam di rumah. Memang betul bahwa mukmin harus menghindari diri dari bahaya pandemi. Namun, pada hakikatnya ada kondisi yang tidak nyaman jika mukmin berlama-lama di rumah dan tidak datang ke masjid. Padahal, Allah SWT memberikan banyak jaminan dan pahala bagi orang yang menjadikan rumah Allah SWT sebagai tempat melakukan salat berjemaah, beriktikaf seraya berzikir di dalamnya, membaca firman-Nya, menggali ilmu dari kitab suci-Nya, dan bersilaturahmi dengan sesama jemaah.

Selama protokol kesehatan dipatuhi, datang ke masjid tidak manjadi masalah. Bahkan, hal itu akan menambah ketenangan batin dan terapi jiwa melalui lantunan firman Allah SWT dan zikir di rumah-Nya. Oleh karena itu, orang hang hatinya selalu rindu, lalu mendatangi rumah Allah SWT akan diberikan naungan di Padang Mahsyar ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Wallahu a’lam biṣ-ṣawāb.

(Tunggu lanjutannya besok)

‎والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Tangerang, 3 September 2020