Beranda Khazanah Bagian Pertama: Menghargai Perjuang Kemerdekaan

Bagian Pertama: Menghargai Perjuang Kemerdekaan

Serial Kemerdekaan:
Bagian Pertama: Menghargai Perjuang Kemerdekaan (120)

Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Apa kabar saudaraku? Semoga kita senantiasa dianugerahi kesehatan, kebahagiaan hidup, dan mampu menghargai perjuangan pendiri bangsa ini. Āmīn!

Allah SWT berfirman,

الۤرٰ ۗ كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ەۙ بِاِذْنِ رَبِّهِمْ اِلٰى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِۙ

Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji.

Pada akhir tahun 1441 Hijriah ini bangsa Indonesia akan memperingati Hari Kemerdekaan Ke-75 RI. Upaya merebut kemerdekan itu suatu perjalanan panjang yang dilalui oleh bangsa Indonesia yang direbut melalui perjuangan yang gigih dan pengorbanan yang tidak sedikit. Puncaknya adalah tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Setiap manusia sudah merupakan kodratnya ingin memiliki kebebasan dan kemerdekaan diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa. Setiap orang ingin dapat berbuat berdasarkan kehendak dengan suatu kondisi yang lepas dan bebas. Pada dasarnya jika seseorang lahir ke dunia, dia akan lepas dan bebas untuk menangis, meronta, dan bergerak. Tangis bayi ketika lahir sangat dinantikan. Jika ada bayi yang tidak menangis, itu pertanda ada sesuatu yang di luar kodrat bayi. Bahkan, tangisannya itu menjadi-jadi seolah-olah dia lepas dalam kungkungan selama sembilan bulan di dalam perut ibunya. Jika di dalam perut ibunya, janin bergerak terbatas dalam ruang yang juga terbatas, pada saat dilahirkan bayi merasa bergerak selepas-lepasnya sehinga makin terbuka ruang geraknya makin diinginkan oleh bayi yang masih berbuat secara naluri.

Kebebasan manusia itu menjadi hal yang penting di dalam menentukan jalan hidupnya. Bahkan, Allah SWT menurunkan Al-Qur’an menjadi pembebas manusia dari kegelapan kepada kondisi yang terang. Terang benderangnya kehidupan yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw. sebagai penyampai firman-firman Allah SWT kepada umat manusia. Ayat di awal itu menyatakan kehadiran Kitab Al-Qur’an dan kedatangan Rasulullah saw. sebagai pembebas manusia dari kegelapan menuju terang benderang. Kemerdekaan bangsa adalah sesuatu yang terang dalam kehidupan manusia.

Kemerdekaan itu merupakan pilihan. Allah SWT memberi kebebasan kepada manusia apakah akan memilih jalan yang “kanan” atau jalan yang “kiri”, memilih terkungkung atas bebas di bumi ini? Segala perbuatan yang dilakukan oleh orang yang memiliki akal sehat jelas dilakukan atas dasar pilihannya. Bahkan, jika menginginkan jalan menuju Allah atau tidak pun diserahkan kepada manusia. Firman Allah SWT,

فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِ مَآبًا

“Maka, siapa menghendaki, dia mengambil jalan menuju Rabb-Nya.” [QS An-Naba/78 : 39]

Allah SWT juga memberikan pilihan kepada manusia untuk menginginkan dunia atau ada yang menginginkan kehidupan akhirat. Itu terpulang kepada manusia.

مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ

“Sebagian dari kamu ada orang yang menghendaki dunia dan sebagian dari kamu ada orang yang menghendaki akhirat” (QS Ali-Imran: 152)

Namun, jika ada yang memilih akhirat dan dia menuju jalan ke sana, Allah SWT akan memberikan imbalan kepadanya sehingga amalnya itu disenangi (disyukuri) oleh Allah SWT l. Hal itu dijelaskan di dalam firman-Nya,

وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

“Siapa menghendaki akhirat dan menempuh jalan kepadanya dan dia beriman, semua perbuatannya disyukuri (diterima).” (Al-Isra: 19)

Penentuan nasib di dalam kehidupan di dunia ini terpulang kepada manusianya. Apakah kehidupan itu lebih baik atau kehidupan yang stagnan tanpa ada perubahan? Walaupun begitu, manusia cenderung untuk memperbaiki kehidupannya agar lebih baik. Pilihan ke arah yang terbaik itu dilakukan manusia melalui usaha keras dan perjuangan yang tidak mengenal lelah.

Dalam mengubah kehidupan bersama di dalam suatu masyarakat yang lebih besar, sebut saja sebagai bangsa, keinginan itu melekat pada kemauan bersama pula yang diwujudkannya dalam bentuk perjuangan. Manusia yang hidup di Indonesia yang merupakan gabungan dari suku-suku bangsa di Nusantara ini memiliki keinginan bersama untuk mewujudkan suatu bangsa, yakni bangsa Indonesia. Etnis yang sudah tergabung dalam bangsa Indoneia menginginkan suatu wadah pemerintahan dalam suatu negera, yaitu negara Indonesia. Cita-cita yang sudah lama terselubung itu dilakukan melalui perjuangan untuk merebut kemerdekaan Indonesia dari penguasa pencaplok tanah air Indonesia ini, yakni Belanda dan Jepang.

Perjuangan merebut kemerdekaan itu tidak mudah, tetapi dilakukan melalui perjuangan yang meminta pengorbanan jiwa, raga, harta, dan martabat bangsa. Betapa banyak jiwa yang gugur dengan bermodalkan bambu runcing, tetapi didukung oleh semangat yang membara. Para pejuang tidak takut sedikit pun kepada penjajah yang menggunakan senjata api yang modern pada saat itu. Semangat mereka tidak pernah surut. Perjuangan mereka tidak pernah berhenti.

Andil para ulama yang menggerakkan umat untuk menentang dan melawan penjajah tidak dapat dinafikan. Para ulama itu menjadi penggerak dan pejuang yang langsung memimpin umat untuk mebebaskan Indonesia dari cengkeraman Belanda dan Jepang. Siapa yang tidak mengenal perjuang seperti Umar Johan Pahlawan di Aceh, Tuangku Imam Bonjol di Minang kabau, dan Pangeran Diponegoro di Jawa. Belum lagi K.H. Hasyim Asyari pendiri NU, K.H. Ahmand Dahlan pendiri Muhammadiyah, dan sederet ulama yang telah menorehkan tinta emas dalam perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia.

Penjajah sudah diusir dari Tanah Indonesia dan Kemerdekaan Indonesia telah berhasil dikumandangkan pada 17 Agustus 1945. Bangsa Indonesia sudah dapat menikmati kebebasan dan kemerdekaan yang ditorehkan oleh para pejuang bangsa. Saat ini sudah 75 tahun bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan. Tanpa jasa para penjuang bangsa kita tidak dapat menikmati kemerdekaan itu hari ini. Kita adalah orang-orang yang sudah menikmati perjuangan dan pengorbanan para syuhada bangsa. Ibarat padi yang ditanam orang-orang tua kita, kita tahunya adalah beras yang tinggal dimasak. Kita tidak ikut meneroka ladang atau sawah, kita tidak turut memacul lahan keras dan semak belukar. Kita tidak berperan dalam menanam dan menyiangi benih di huma dan sawah. Paling-paling kita tinggal memetik, malah ada yang tinggal memasak beras. Hasil keringat dan jerih payah mereka kita nikmati saat ini.

Mungkinkah kita bisa membalik jarum jam agar kita dapat berjuang seperti mereka? Mungkin kita surut ke masa perjuangan dan pembebasan bangsa Indonesia dari penjajah dulu? Itu sesuatu yang mustahil. Kita yang menikmati kemerdekaan itu harus “angkat topi” kepada para pendahulu dan pejuang bangsa atas peran mereka menyuguhkan kemerdekaan ke hadapan kita.

Bagaimana cara kita “angkat topi” kepada para pahlawan kusuma bangsa? Tidak lain yang dapat kita berikan adalah berterima kasih kepada mereka dan bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat kemerdekaan itu. Tentu doa kita kirimkan kepada mereka yang sudah mendahui kita agar Allah SWT menerima segala perjuangan dan pengorbanan mereka.

Terima kasih kita nyatakan dengan kebanggaan atas jerih payah mereka. Jangan sampai hati mereka disakiti melalui ahli waris mereka dan orang-orang dekatnya. Ungkapan kebencian kepada mereka dan tidak adanya penghargaan kepada mereka merupakan wujud tidak pandainya kita berterima kasih kepada mereka. Penghinaan terhadap para pelanjut mereka yang seprofesi dengan mereka, yakni para ulama, adalah bentuk penistaan terhadap para pejuang bangsa dan pengkhianatan terhadap perjuangan mereka.

Syukur kepada Allah SWT merupakan kewajiban bangsa Indonesia yang beragama dan bertakwa kepada-Nya. Peran Allah SWT untuk mewujudkan kemerdekaan ini jelas dan tidak dapat dimungkiri oleh siapa pun. Tanpa kekuatan dan daya juang yang Allah berikan kepada para pendahulu kita tidak akan terwujud kemerdekaan ini. Semua mengakui, kecuali orang-orang yang ingin memudarkan peran Allah dalam kemerdekaan dengan mennghilangkan Ketuhanan Yang Maha Esa dari Pancasila, ke Trisila, bahkan ke Ekasila. Pengakuan itu tertuang di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 bahwa “Atas berkat dan rahmat Allah Yang Mahakuasa dan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Masihkah ada orang yang “datang belakangan” ingin mengubah kristalisasi perjuangan bangsa Indonesia yang dinyatakan pada Proklamasi Kemerdekaan? Orang-orang seperti itu adalah orang yang kufur nikmat Allah SWT. Ingat firman Allah SWT,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

“(Ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim: 7)

Mudah-mudahan kita mampu mensyukuri nikmat kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya dan menjauhkan diri dari pengingkaran terhadap nikmat yang sangat berarti bagi kehidupan bangsa dan rakyat Indonesia. Wallahu a’lam biṣ-ṣawāb.

(Bersambung besok)

‎والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tangerang, 15 Agustus 2020