Beranda Khazanah Bagian Ketujuh: Pesan Sai (Sa’i) untuk Berjuang Tanpa Menyerah

Bagian Ketujuh: Pesan Sai (Sa’i) untuk Berjuang Tanpa Menyerah

Serial Haji:

Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Apa kabar saudaraku? Semoga kita senantiasa dianugerahi kesehatan, kebahagiaan hidup, dan mampu mengambil hikmah dari ritual haji yang diperintahkan Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Āmīn!

إِنَّ الصَّفاَ وَالمَرْوَةَ مِنْ شَعَآئِرِ اللهِ , فَمَنْ حَجَّ البَيْتَ أَوِاعْتَمَرَ فَلاَجُناَحَ عَلَيْهِ أَنْ يَّطَّوَّفَ بِهِماَ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللهَ شاَكِرٌ عَلِيْمٌ
“Sesungguhnya Safa dan Marwa sebagian dari syiar-syiar (tanda kebesaran) Allah. Maka, siapa yang beribadah haji ke Baitullah ataupun berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya dan siapa mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, sesungguhnya Allah Maha Menerima kebaikan dan Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 158)
Ibadah haji sarat dengan amaliah historis. Semua rangkaian ibadah haji itu mengandung folosofis yang dalam terhadap yang dilakukan oleh para nabi sajak Nabi Adam a.s, Nabi Ibrahim a.s., dan Nabi Muhammad saw., bahkan, dari keluarga para nabi, khususnya Nabi Ibrahim a.s. Amalan yang dilakukan oleh orang atau jemaah haji mengandung nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan manusia.

Salah satu rukun haji adalah sai antara Safa dan Marwa. Ibadah itu dilakukan setelah pelaksanaan tawaf dan berakhir dengan tahalul (memotong rambut). Orang yang bersai akan melakukan berjalan dan lari—lari kecil dari Safa ke Marwa sebanyak tujuh kali.

Secara etimologis, sai (sa’i) berarti ‘berjalan cepat, lari-lari kecil, bergegas, atau berusaha’. Secara terminologis, sai berarti ‘ibadah dalam rangkaian haji dengan berjalan, beralari, atau bergegas dari Bukit Safa ke Bukit Marwa sabanyak tujuh kali sebagai bentuk perjuangan yang diteladankan oleh Siti Hajar untuk mendapatkan air untuk Ismail dan dia sendiri’. Orang yang pernah berhaji atau berumrah akan merasakan sai di dalam ruangan berpenyejuk udara sehingga tidak merasakan lelah oleh panasnya alam sebagaimana yang dilakukan oleh Siti Hajar ribuan tahun yang lalu.

Begitu orang yang ingin melakukan sai ucapan yang dilafalkan ketika di Bukit Safa dan Marwa adalah ayat Al-Qur’an yang dinukilkan di awal. Itu menunjukkan bahwa kedua bukit memiliki nilai historis yang mendalam. Sertiap orang yang menginjaknnya dan orang yang berada di suatu titik pemberangkatan dan menuju titik yang lain harus mengingat keagungan Allah yang menjadikan tempat bertolak dan tempat tujuan kita sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Itulah makna dari “ Sesungguhnya Safa dan Marwa adalah sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

Sai memang merupakan rukun haji dan umrah. Namun, ibadah itu bukanlah tanpa makna bagi yang melakukannya, melainkan ibabah yang sarat dengan pesan kehidupan. Baik bagi yang bersai maupun manusia lain ada pesan yang dijadikan sebagai penyemangat dalam menjalani kehidupan agar beroleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Sai berawal dari perbuatan Siti Hajar yang ditinggal oleh Nabi Ibrahim di suatu lembah yang kersang berpasir dan berbukit-bukit tanpa penghuni dan tidak ada fasilitas hidup untuk dia dan anaknya Ismail. Ibrahim meninggalkan keluarganya untuk kembali ke Paletina. Semula mereka berada berkumpul dengan istri tua Nabi Ibrahim, Siti Sarah, di Hebron, Palestina. Walaupun Ibrahim menikahi Siti Hajar karena disuruh oleh Siti Sarah agar Ibrahim mendapatkan keturunan, kecemburuan Siti Sarah sebagai wanita muncul setelah Ismail lahir. Sarah menyuruh Ibrahim agar tidak tinggal di negeri yang sama dengan Siti Hajar.

Ibrahim mengembara ke bagian selatan yang pada akhirnya memilih tinggal di di lembah tandus berpasir dan berbukit. Itulah Bakkah (yang akhirnya bernama Makkah (Mekah). Namun, Allah memerintahkan Ibrahim kembali ke Palestina dan meninggalkan Siti Hajjar dan bayi Ismail di Mekah.

“Hendak ke manakah engkau, Ibrahim? Sampai hatikah engkau meninggalkan kami berdua di tempat yang sunyi dan tandus ini?”

Pertanyaan itu berulang kali, tetapi Nabi Ibrahim tidak menjawab sepatah kata pun.

Siti Hajar bertanya lagi, “Adakah ini memang perintah dari Allah?”

Barulah Nabi Ibrahim menjawab, “Ya.”

Mendengar jawaban suaminya dengan satu kata itu, Siti Hajar gembira dan hatinya pun menjadi tenteram. Ia yakin bahwa kehidupan yang sulit di tanah yang sunyi dan kersang itu pasti akan terjamin karena ada Allah SWT penolongnya. Keimanannya mengatakan bahwa sesulit apa pun hidup ini pasti akan ada kemudahan di balik itu. Inilah istri salehah yang menyadari bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakannya. Padahal, Ismail masih menyusu.

Ibrahim berangkat meninggal anak dan istrinya. Hari pun silih berganti. Siti Hajar menancapkan harapan kepada Yang Mahakuasa. Sementara itu, persediaan air sudah habis. Ismail menangis kehausan, sedangkan ibunya tidak memperoleh air sehingga air susunya pun tidak keluar. Sarah naik ke Bukit Safa, tidak jauh dari tempat bayinya berada. Dari kejauhan terlihat ada air yang menggnanag di arah bukit sekitar 450 meter dari Bukit Safa. Dia pun bergegas dengan berlari ke arah sana. Sesampai di Bukit Marwa, dia tidak menemukan air. Namun, dia pun melihat lagi ke Bukit Safa yang ternyata ada lagi genangan air. Ibunda Ismail itu berlari lagi ke Bukat Safa. Namun, air tidak ada. Dia pun melihat lagi ke arah Bukit Marwa dan di sana ada lagi air. Hal dilakukannya berkali-kali sampai tujuh kali (3,15 km). Ternyata yang dilihatnya itu adalah fatamorgana.

Siti Hajar tidak berputus asa dan bersabar, tetapi yakin bahwa Allah SWT tidak akan menyia-nyaikan usaha hambanya untuk memperoleh aiar. Dia pun kembali kepada anakya. Setibanya di tempat anaknya, Siti Hajar melihat dari tumit Ismail keluar resapan air dan makin lama makin mangumpul di bagian tumit anaknya. Dia kumpulkan air itu dengan tangannya sambil berucap, “Zamzam ya mubarrak ‘berkumpullah semoga berkah.’” Atas izin dan kuasa Allah SWT, air itu menjadi banyak dan mampu memberikan keperluannya di lembah itu. Itulah yang sekarang menjadi sumur Zamzam yang dapat diminum oleh jutaan, bahkan miliaran umat manusia, yang tidak pernah kering dan berkah sampai akhir zaman.

Perjuangan Siti Hawa untuk mendapatkan air sehingga dia berlari-lari dari Safa dan Marwa memberikan pesan kepada siapa pun yang melakukan sai dan manusia bahwa hidup ini penuh dengan perjuangan dan kerja keras. Untuk mendapatkan sesuatu yang akan inginkan tidak mungkin manusia itu barsantai dan menyerah kalah sebelum berjuang.

Hidup adalah perjuangan. Orang yang menginginkan hidup yang baik, sejahtera, bahagia diperlukan modal tekad dan keyakinan untuk menggapainya. Tekad dan keyakinan itu akan memberi motivasi bagi manusia untuk memberikan segala potensi yang ada agar keinginan itu terwujud. Namun, perlu dapahami bahwa untuk sampai pada keinginan dan cita-cita itu tidak mudah. Banyak tantangan yang dihadapi manusia untuk sampai kepada keinginan dan tujuan.
Perjuangan Siti Hajar begitu kerasnya. Tantangan berupa jarak yang cukup jauh tidak menjadi kendala. Begitu pula, panasnya matahari dari atas dan bawah di pasir dan terjalnya bukit dan lembah yang di sepanjang jalannya penuh dengan pasir dan batu cadas. Salah-salah melangkah dan berlari akan tersandung dari batu, bisa terperosok ke pasir, mudah mata kelilipan karena terpaan angin pasir, dan itu dilakukan sampai tujuh kali pulang pergi.

Berhentikan dia dari teriknya matahari? Istirahatkah dia di balik bukit? Menjeritkah dia di dalam larinya? Memaki suaminyakah dia karena ditinggal dalam kondisi alam yang tidak bersahabat? Berprasangka burukkah dia terhadap Allah yang membiarkan dia berlari sampai tujuh kali bolak-balik dan tidak memperoleh air? Jawabannya “tidak”. Dia tidak berputus ada. Dia tidak merasa menyesal mendapatkan suami yang sampai hati meninggalkan dia. Dia tidak terzalimi oleh suaminya dalam kesepian. Dia jalani kehidupan di tempat sepi tang penghuni itu. Bayangkan kalau itu terjadi pada diri kita masing-masing, terutama kaum Hawa. Apa yang akan terjadi?

Apa yang difirmankan Allah SWT betul-betul bersemayam di dalam diri Siti Hajar yang belum tentu ada di dalam diri Siti-Siti Hajiar yang lain. Dia kuatkan hatinya mengahadapi kondisi lembah yang panas, dia pun tidak bersedih, apa lagi berputus asa karena dia sadar bahwa ada Allah yang akan menolongnya.

وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah. dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang yang beriman.”

Allah SWT mencela orang yang dalam berjuang dalanm hidup ini, tetapi selalu mengeluh dan berdoa. Jika mereka tetimpa kesulitran atau musibah, mereka berputus asa dan hilang semua harapannya. Yang ada adalah penyesalan yang tidak ada gunanya. Allah berfirman,
لَا یَسۡـَٔمُ الۡاِنۡسَانُ مِنۡ دُعَآءِ الۡخَیۡرِ ۫ وَ اِنۡ مَّسَّہُ الشَّرُّ فَیَـُٔوۡسٌ قَنُوۡطٌ
“Manusia tidak jemu memohon kebaikan dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa dan putus harapan.” QS Fushilat: 49).
Tataplah masa depan yang cerah. Raihlah cita-citamu dengan kerja keras. Namun, jangan sampai onak dan duri yang ada di depan membuatmu berhanti dan tidak mau melanjutkan perjalanan. Manusia yang tangguh adalah orang yang mampu memiliki tekad “sekali langkah diayunkan pantang berbalik sebelum sampai ke tujuan.” Itu yang tergambar dari perjuangan Siti Hajar.
(Bersambung besok)
Wallahu a’lam biṣ-ṣawab

‎والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tangerang, 3 Juli 2020