Beranda Khazanah Bagian Keenam: Makna di Balik Tawaf

Bagian Keenam: Makna di Balik Tawaf

Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Apa kabar saudaraku? Semoga kita senantiasa dianugerahi kesehatan, kebahagiaan hidup, dan mampu mengambil hikmah dari ritual haji yang diperintahkan Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Āmīn!

Allah SWT berfirman,

ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka, hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka, dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS Al-Hajj: 29)

Ibadah haji merupaka ibadah yang diwajibkan kepada kaum muslimin yang memiliki kemampuan untuk berangkat. Orang yang telah melaksanakan haji akan dapat merasakan betapa agungnya Allah SWT yang menjadikan mereka sebagai tamu-tamu Allah yang mulia. Kemuliaan itu dimiliki jemaah haji dan umrah sebagai penghargaan Allah kepada mereka yang tulus dan pasrah kepada-Nya dalam penghambaannya yang paripurna. Walaupun pada panas terik melakukan prosesi ritual haji, tidak ada yang merasa lelah yang menimbulkan penyesalan, kecuali orang yang “memaksakan diri” beribadah haji. Rasanya, kegembiraan, keharuan, ketakjuban, dan kehinaan diri hamba bercampur di dalam hati para jemaah. Hamba itu kecil di depan Allah SWT Yang Mahabesar. Kumandangan talbiah merasuk ke dalam relung-relung jiwa hamba yang datang dengan pasrah kepada Rabb-nya untuk memohon rahmat, kasih sayang, dan keampunan dari Penguasa alam semesta.

Ibadah haji adalah ibadah fisik dan nonfisik, materi dan nonmateri, jasmani dan rohani yang memerlukan kekuatan jasmani dan ketangguhan rohani. Semua rangkaian ibadah haji dilakukan dengan penuh semangat, daya juang yang tinggi, dan pengorbanan yang tidak sedikit. Semuanya dilakukan dengan ikhlas dan sabar sehingga puncaknya akan Allah SWT berikan perdikat haji mabrur. Balasannya adalah dibebaskan dari dosa dan dipastikan surga sebagai tempat abadi di akhirat nanti.

Rasulullah saw. bersabda,

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Tidak ada balasan (yang pantas diberikan) bagi haji mabrur kecuali surga,” (HR Bukhari)

Salah satu prosesi ibadah haji yang menjadi rukunnya adalah tawaf. Tawaf berarti “perbuatan mengelilingi Kakbah”. Kegiatan tawaf dilakukan oleh para jemaah haji atau siapa pun yang berada di Masjidilharam pada waktu yang tidak dibatasi. Orang yang melaksanakan tawaf (mutawif sebagai makna asalnya, yang sekarang maknanya menjadi pemandu tawaf) melakukan gerakan berkeliling Kakbah mulai dari Rukun Hajar Aswad dan berakhir pada posisi semula sebanyak tujuh kali. Putaran tawaf itu berlawanan arah dengan putaran jarum jam, yakni dari kanan ke kiri. Putaran dalam tawaf sama dengan arah rotasi bumi dan planet lain. Arah putaran bumi itu menyebabkan terjadinya siang dan malam. Siangnya dilakukan untuk mencari penghidupan manusia dan malamnya untuk beristirahat. Itulah perputaran yang dilakukan di alam ini sebagai sunatullah.

Bahkan, planet di tata surya ini, termasuk matahari, berjalan pada rotasinya dengan berputar dari arah kanan ke kiri. Bahkan , galaksi Bimasakti pun berputar dari kanan ke kiri, bahkan elektron pun juga demikian.

Jika kita menilik ke dalam tubuh berdasarkan fakta ilmiah, darah memiliki sirkulasi dari jantung ke seluruh tubuh dari arah kanan ke kiri. Hal itu berarti bahwa apa pun di jagat raya ini melakukan tawaf kepada Penciptanya. Sambil bertawaf kepada-Nya, semuanya bertasbih kepada Allah dalam setiap gerak atau rotasi yang terjadi. Allah SWT menyatakan di dalam firman-Nya,

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah.Tidak ada suatu pun, kecuali bertasbih dengan memuji-Nya. Namun, kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. (QS Al-Isra: 44)

Kita manusia ada di bumi yang merupakan satu bagian dari miliaran galaksi yang ada di tata surya ini. Karena itu, manusia hanya seperti titik kecil yang tak terlihat dibandingakan dengan makhluk di angkasa raya ini sangat menakjubkan. Allah SWT berfirman,

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa.” (QS Az-Zariyat: 47)

Orang yang tawaf mengikuti irama dan gerak bumi seperti gerakan dari sumbu putaran. Kakbah merupakan sentral dan titik yang menghubungkan antara bumi dan langit. Gerakan perputaran itu menandakan bahwa kehidupan yang berpusat di bumi melakukan komunikasi rohani dengan Yang Maha Mengatur perputaran bumi dan kehidupan manusia. Siklus dari awal menuju akhir, lalu akan berhenti pada titik akhir sehingga manusia berjumpa dengan Allah. Perjumpaan itu ditandai dengan akhir kehidupan manusia.

Mengitari kehidupan akan berlanjut mengikuti irama perputaraan alam ini. Sunatullah sebagai siklus hidup dilalui oleh setiap manusia. Ada masa awal manusia di alam rahim. Manusia lahir ke dunia melalui proses panjang dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua, dan pada akhirnya berhenti pad suatu titik kehidupan alam dunia. Itulah makna di balik tawafnya bahwa manusia mengitari Kakbah yang berawal pada titik sudut (rukun) Hajar Aswad dan berakhir pula pada suatu titik pemberhentian.

Jika kita merunut awal kehidupan manusia, Adam dalam pencariannya terhadap sosok yang manjadi pasangannya di surga, yakni Hawa, mengalami putaran hidup yang sulit selama berpisah sejak mereka diturunkan ke bumi sampai bertemu lagi. Adam, menurut sumber sejarah, diturunkan di India (ada yang mengatakan di Sri Langka), sedangkan Hawa diturunkan di Arab, tepatnya Jedah (bermakna ‘nenek’). Ada yang mengatakan lama perpisahan mereka selama 40 tahun, ada yang mengatakan 50 tahun, bahkan selama 300 sampai dengan 500 tahun (mana yang benar Allah Yang Mahatahu). Yang pasti pencarian selama ini diawali dengan perintah haji kepadanya yang dituntun oleh malaikat menuju Kakbah yang sudah ada pada saat itu atas kekuasaan Allah SWT untuk melakukan tawaf.

Adam melakukan tawaf di Kakbah, sebuah bangunan yang didirikan oleh para malaikat jauh sebelum Adam diciptakan, bahkan sebelum penciptaan bumi dalam hamparan yang luas. Para malaikat sudah lama bertawaf di Kakbah sejak didirikan. Ketika berada di posisi Multazam, Adam diminta oleh malaikat untuk mengakui dosa-dosanya dan bertaubat. Di sana pula Adam meminta kepada Allah SWT, Ya Tuhanku, sesungguhnya setiap makhluk yang beramal saleh mendapat ganjaran. Apakah ada ganjaranku?”
Allah pun mewahyukan kepadanya, “Aku ampuni engkau atas segala dosamu.”
Adam pun berkata,”Apakah juga anak cucuku?”
Allah menjawab, “Siapa pun di antara keturunanmu yang datang ke tempat ini dengan mengakuai dosa-dosanya, bertaubat sebagaimana engkau bertaubat, dan memohon ampun, nisaca Aku ampuni.”

Adam adalah manusia pertama yang bertawaf di Kakbah berdasarkan bimbingan malaikat. Sebagai manusia yang diserahi amanat untuk memakmurkan bumi, Adam melakukan tawaf yang merupakan awal persiapan kehidupan bersama dengan istrinya yang akan dijumpai di Muzdalifah berdasarkan petunjuk dari malaikat yang mengawalnya. Adam disiapkan untuk melakukan perjuangan hidup masa depan mengikuti siklus yang tergambar dalam putaran tawaf yang dilakukannya.

Pada masa Nabi Ibrahim, pembangunan Kakbah dilanjutkannya bersama Ismail setelah terjadi kerusakan banjir Nabi Nuh. Setelah menyelesaikan pembangunan Kakbah, Ibrahim melakukan tawaf sebagai sunah yang dilakukan Adam dan para nabi sebelumnya.

: وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (١٢٧ (رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (١٢٨ (رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (١٢٩

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu, tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan Kitab dan hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana” (QS Al-Baqarah: 127-129).

Di dalam tawaf jemaah menghadapkan telapak tangannya ke arah Hajar Aswad bagi yang jauh darinya dan menciumnya bagi yang ada di dekatnya seraya berucap takbir.

عَنْ نَافِعٍ قَالَ: رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَسْتَلِمُ اْلحَجَرَ بِيَدِهِ ثُمَّ قَبَّلَ يَدَهُ وَ قَالَ: مَا تَرَكْتُهُ مُنْذُ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَفْعَلُهُ.

“Dari Nafi’ ia berkata, ‘Aku melihat Ibnu ‘Umar menjamah Hajar Aswad dengan tangannya. Kemudian, ia mencium tangannya, lalu ia berkata, ‘Aku tidak pernah meninggalkan (yang demikian itu) sejak aku melihat Rasulullah SAW melakukannya.” [HR Muslim)

Filosofi putaran tawaf mengajarkan kepada manusia bahwa hidupnya memiliki fase-fase yang harus dilalui. Dalam setiap fase ada perjuangan yang berat sehingga akan sampai pada fase berikutnya. Untuk melewati fase demi fase kehidupan, diperlukan daya juang yang tinggi, apalagi manusia diserahi amanat yang menjadi khalifah di atas bumi. Tugas pengelola bumi itu menuntut manusia tidak tinggal diam dan harus mengikuti gerak kehidupan agar sampai ke fase kehidupan yang akhir dengan selamat.

Ibadah tawaf mengajarkan kepada kita bahwa gerak hidup setiap manusia bukanlah sekadar untuk hidup itu sendiri, melainkan segala gerak hidup itu terjadi dan menuju kepada Allah SWT. Secara singkat, simbolisasi dari tawaf berdasarkan pemaknaan di atas adalah bahwa setiap manusia harus memiliki kesadaran yang kuat mengenai pemahaman yang benar dan lurus dari mana kehidupan ini berasal dan ke mana akan menuju, yaitu dari dan menuju Allah.

Ibadah tawaf penuh sebagai ibadah ritual yang ditunjukkan oleh Nabi Adam a.s. dan Nabi Ibrahim a.s. yang dilestarikan oleh Nabi Muhammad sebagai bagian dari rukun haji kepada umatnya. Dalam tawaf dikumandangkan tahlil, takbir, dan doa-doa yang mengandung pengakuan tauhid, pujian kepada Allah SWT, dan permohonan kepada-Nya agar diberi kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Dalam ritual haji, tawaf sebagai rukun haji dilakukan setelah melontar jamrah yang disebut tawaf ifadah. Di dalam tawaf keagungan Allah SWT sangat terasa dalam melantunkan tahlil, takbir, dan doa itu. Bahkan, yang lebih syahdu lagi pada saat melaksanakan tawaf wadak (tawaf perpisahan). Kerinduaan untuk kembali lagi begitu menyesak kalbu sampai meneteskan air mata agar Allah SWT memberi kesempatan lagi untuk datang ke Baitullah.

(Bersambung besok)

Wallāhu almuwafiq ilā aqwamiṭ-ṭarīq.

‎والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tangerang, 2 Agustus 2020