Mungkinkah Orang Tua Durhaka kepada Anaknya

Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Apa kabar saudaraku? Semoga kita senantiasa dikarunia Allah kesehatan, diberikan kebahagiaan hidup, dan menjadi orang tua yang dicintai anak-anak kita. Amin!

Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS At-Tahrim:
Mungkinkah orang tua durhaka kepada anaknya? Judul ini agak mengagetkan orang tua. Biasanya orang tua diposisikan pada orang yang selalu benar sehingga anak-anaknya harus patuh kepadanya. Memang anak wajib patuh terhadap orang tua dan berdosa besar jika anak mendurhakai mereka.

Bagaimana caranya agar anak-anak dapat menghormati, mengahargai, berbakti, dan menaatinya? Prosesnya begitu panjang. Anak tidak mungkin memiliki nilai-nilai dan kepribadian yang luhur jika tidak dididik dan diajari oleh orang tua. Anak yang hanya berkembang sendiri tanpa ikut campur orang tuanya akan memiliki kepribadian keras, kasar, dan tidak peduli terhadap orang tua. Karena itu, orang tua harus memiliki perhatian yang cukup terhadap pembentukan karakter mulia.

Pertanyaan yang muncul, apakah kedurhakaan anak itu murni karena kesalahan anak? Belum tentu? Bisa jadi anak berbuat kasar kepada orang tuanya karena orang tua pun kasar terhadap anaknya. Bisa jadi anak bandel terhadap orang tuanya karena kebandelan orang tuanya. Mungkin saja anak berkata kasar dan jorok karena dia selalu mendengar orang tuanya berkata kasar dan berkata jorok di depan mereka. Jangan salahkan anak yang lancang kepada orang tuanya bisa jadi juga karena kelacangan kita terhadap ayahbunda. Mudah-mudahan tidak demikian. Ada pepatah yang mengatakan, “Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga.” Artinya, jangan-jangan anak-anak tidak peduli kepada orang tuanya karena mengikuti orang tuanya yang juga tidak acuh kepada ayah bundanya.

Paling tidak orang tua bertanggung jawab terhadap pembinaan mental dan perilaku anak. Mereka harus melakukan hal-hal berikut.

Pertama, pendidikan agama. Pendidikan agama pada dasarnya akan membimbing anak-anak meningkatkan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT. Pendidikan agama selain membina iman dan ketakwaan anak juga menanamkan perilaku mulia. Anak-anak yang dididik sejak kecil memahami agamanya akan tumbuh menjadi anak yang saleh, melaksanakan ajaran agama, hormat kepada orang tua, dan menghargai orang lain.

Pada umur tujuh tahun anak sudah bisa melaksanakan kewajiban salat sebagai latihan yang berkelanjutan. Mereka yang sudah dilatih salat, begitu azan berkumandang, sudah buru-buru ingin salat berjemaah dengan bapak atau kakeknya. Bisa jadi umurnya baru empat, lima, enam, atau tujuh tahun. Ada ungkapan orang Minang, “Kecil teranja-anja sudah besar terubah tiada”. Artinya, jika pada masa kecil sudah dibiasakan melakukan sesuatu, pada saat anak besar tidak akan berubah apa yang dilakukannya. Di situlah pentingnya pembiasaan sesuatu pada masa kecil sehingga pada waktu anak besar, mereka sudah disiplin melakukan kewajibannya.

Rasullah saw. bersabda,

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا، وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Suruhlah anak-anakmu melakukan salat di waktu dia berumur tujuh tahun, pukullah mereka kalau sudah berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur di antara mereka (maksudnya antara anak laki-laki dan perempuan).” (HR Abu Daud)

Dalam hadis itu jelas bahwa anak pada usia tujuh tahun sudah disuruh melaksanakan salat. Jika sampai berusia sepuluh tahun belum salat, anak dapat dipukul. Pukulan itu maksudnya pukulan mendidik, bukan pukulan yang menyakitkan. Jangan sampai pula dipahami dengan adanya pemukulan anak pada usia sepuluh tahun untuk melakukan salat dianggap sebagai kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sehingga akan berhubungan dengan masalah hukum. Pukulan itu mengingatkan kita bahwa orang tua harus mencari cara agar pada usia sepuluh tahun anak sudah terdorong untuk salat. Berikan sangsi kepada anak jika anak meninggalkan salat. Selain itu, anak laki-laki dan anak perempun sudah harus dipisah tempat tidurnya agar mereka yang sedang tumbuh itu memahami perbedaan masing-masing. Hal itu juga dimaksudkan agar anak-anak yang berbeda jenis kelamin itu dapat menjaga kekhususan mereka.

Persoalannya adalah jika orang tua tidak peduli dengan pendidikan agama anak. Banyak orang tua yang mampu mendatangkan guru matematika, bahasa Inggris, piano ke rumah dengan biaya les yang lumayan. Namun, jarang orang tua mendatangkan guru agama ke rumah. Kalaupun ada, uang lelah yang diberikan kepada guru agama tidak sebanding dengan uang yang diberikan kepada guru les matematiaka, bahasa Inggris, dan piano. Jika orang tua tidak memberikan les tambahan di rumah atau memberikan pendidikan tambahan di lembaga pendidikan Islam, anak akan tumbuh menjadi anak yang jauh dari nilai-nilai islami. Jangan salahkan jika anak nantinya menjadi asing dengan agamanya sendiri dan tidak peduli dengan orang tuanya.

Dengan memberikan pendidikan agama kepada anak-anak, orang tua dapat melaksanakan tanggung jawab agar keluarga mereka, khususnya anak mereka, terpelihara dari kehancuran moral. Betapa hebatnya serbuan dari berbagai segi datang menyerang anak-anak dan remaja yang berakibat kepada kerusakan moral. Di kamar tidur mereka dapat mengakses berbagai foto, gambar, video melalui youtube dan situs-situs porno. Jika anak tidak dibentengi dengan pendidikan agama yang memadai dan kurangnya pengawasan orang tua, mereka bisa terseret ke arah perilaku yang menyimpang. Allah SWT mengingatkan orang tua di dalam surah At-Tahrim ayat 6 yang sudah disebutkan agar orang tua menjaga keluarganya dari api neraka. Artinya, anak-anak dijaga dari hal-hal yang dapat membawa kerusakan dan kehancuran rumah tangga dan moral mereka.

Kedua, keteladanan orang tua. Di dalam pendidikan keteladanan itu memegang peranan penting. Orang tua seharusnya menjadi model bagi anak. Apa yang diajarkan kepada anak atau diberikan kepadanya seharusnya dilakukan terlebih dahulu oleh orang tuanya sehingga anak dapat mencontohnya. Jika anak dilarang merokok sementara bapaknya perokok, larangan itu akan sia-sia. Jika anak disuruh oleh orang tua pergi salat ke masjid sementara orang tuanya asyik di rumah dengan bermain HP, dapat dipastikan bahwa anaknya akan sungkan ke masjid. Anak dilarang tidak bermain HP jika sedang makan sementara bapak dan ibunya sibuk di HP masing-masing, pasti anak akan melakukan hal yang sama. Karena itu, orang tua seharusnya memberi contoh setiap apa yang katakan atau disampaikan kepada anak. Orang tua harus melakukan dahulu, lalu anak disuruh melakukan hal yang dilakukan juga oleh orang tua.

Anak dilarang ibu untuk tidak berkata keras kepada ayahbundanya sementara ucapan ibu keras dan sering ucapan serapah yang keluar dari mulutnya. Salah sedikit anak langsung dijewer, dicubit, dan dibentak. Anak bila dikerasi sementara orang tuanya memang keras dalam berbicara dan bersikap jangan diharap anak akan menjadi yang sopan dan lembut. Bisa jadi di pikiran anak akan tertanam sikap keras dan tidak mau mengalah. Bahkan, dia akan tumbuh menjadi orang yang berlaku keras dan kasar terhadap teman-temannya.

Jika ada pepatah yang mengatakan, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, hal itu memberi peringatan kepada orang tua sebagai guru pertama anak bahwa kita harus berhati-hati dalam setiap langkah dan gerak kita. Jika orang tua melakukan kesalahan, anak akan mudah menyerap perbuatan orang tua itu.

Keluarga yang damai harus menjadi teladan bagi anak-anak kita. Dari kerukunan ibu dan bapak, anak-anak akan tumbuh pula dengan perrilaku yang damai dan saling menghargai orang lain. Namun, jika di rumah tangga itu anak selalu menyaksikan keributan antara orang tuanya, anak akan terbentuk menjadi anak yang keras dan suka pula pemarah. Bahkan, jika dia menyaksikan bapak melakukan kekerasan terhadap ibunya, tidak jarang anak akan benci kepada bapaknya. Malah bisa dia dendam kepada bapaknya karena telah berbuat kekerasan kepada ibunya. Oleh karena itu, ibu dan bapak perlu menjaga keharmonisan rumah tangga.

Di dalam rumah tangga pasti ada saja masalah di antara suami istri. Masalah itu harus dicarikan penyelesaiannya. Jika ada masalah antara suami istri, mereka harus menyelesaikannya dengan kapala dingin dan masing-masing berbicara baik-baik. Kalau ada persoalan demikian, anak jangan sampai mendengarkan atau menyaksikannya. Cobalah persoalan itu diselesaikan di dalam kamar tidur sambil tiduran sehingga anak tidak mengetahui bahwa orang tuanya sedang ada masalah dan sedang “berkonfrontasi”. Namun, masing-masng perlu saling mengerti dan tidak boleh menang sendiri. Dengarkan keluhan masing-masing dari siapa pun, kalau perlu suami, minta maaf akan kesalahannya walaupun itu bukan kesalahannya sendiri. Suami harus sabar dan mengalah. Lebih baik mengalah untuk harmonis selanjutnya. Dengan begitu, “panas” di dalam kamar lambat laun akan sejuk. Suasana sejuk itu dibawa keluar dari kamar dan berkumpul dengan anak-anak. Anak-anak tidak mengetahui apa yang terjadi di antara kedua orang tuanya. Antara suami-istri seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Ketiga, lingkungan yang mendukung. Lingkungan sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan perilaku anak. Orang tua berkewajiban untuk mencari tempat tinggal dan lingkungan anak yang baik. Perbedaan lingkungan itu dapat dirasakan dalam kehidupan beragama di perdesaan dan perkotaan. Lingkungan perkotaan itu lebih maju dan kehidupan keberagamaan pun menjadi longgar. Namun, lingkungan perdesaan yang masih menjunjung nilai-nilai adat yang ketat dan keberagamaan yang kuat akan menghasilkan anak-anak yang sangat menghargai sopan santun dan ketaatan terhadap ajaran agamanya.

Lingkungan sekolah sebagai tempat menimba ilmu pengetahuan anak pun juga harus dipelajari betul oleh orang tua. Jika orang tua ingin mencari pendidikan di sekolah nonmuslim, pikir dahulu bahwa keberagamaan anak kita yang muslim akan longgar. Orang tua memang dapat memilih sekolah yang akan membetuk kecerdasan mereka dengan disiplin yang tinggi, tetapi jangan diabaikan pembentukan mental spritualnya. Lingkungan sekolah diupayakan lingkungan yang islami dan terjauh dari perilaku anak-anak yang keras, brutal, dan merasa super. Lingkungan sekolah yang steril dari narkoba penting dicermati dan diperhitungkan oleh orang tua.

Rasulullah saw. membandingkan orang yang berada di lingkungan yang baik ibarat penjual parfum, sedangkan orang yang tinggal dan bergaul dengan orang yang tidak baik dan buruk perilakunya ibarat pandai besi.
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sementara itu, pandai besi bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari No. 5534 dan Muslim No. 2628)

Berdasarkan hadis itu, ternyata teman yang baik dan buruk itu berbeda dan akan memberi pengaruh terhadap perilaku anak. Teman yang baik diibaratkan kita berteman dengan penjual minyak wangi. Walaupun tidak membeli minyak wangi, paling tidak kita mendapatkan wanginya. Sebaliknya, justru kita akan mendapatkan kerusakan jika bara pandai besi itu melenting kepada kita sehingga akan mengeni kulit atau pakaian kita. Itulah teman yang buruk.

Saudaraku, mungkin anak kita tidak berbakti kepada kita, bisa jadi dia jauh dari kasih sayang kita, kita selama ini tidak peduli kepada mereka. Jangan buru-buru kita menyalahkan mereka. Mari kita introspeksi diri. Jangan-jangan kita kurang menanamkan nilai-nilai perilaku mulia kepada mereka. Apakah kita justru tidak memperhatikan pendidikan agama dan moral mereka. Barangkali kita terlalu mengejar keduniaan dengan kemampuan pengetahuan anak dan mengabaikan kemampuan nilai spriritualnya.

Saudaraku, apakah kita sudah membina anak kita menjadi orang yang menyeimbangkan kehidupan duniawi dan ukhrawinya sehingga dia bukan saja berpikir untuk materi di dunia, melainkan juga mencari kepentingan akhiratnya? Apakah mereka kita biarkan atau justru kita dorong agar mereka mengutamakan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat?

Saudaraku, apakah mereka sudah diberi teladan yang baik sehingga sikap dan perilaku kita akan menuntun mereka ke perilaku yang mulia pula? Atau justru kita memperlihatkan sikap keras dan kasar kita di hadapan mereka dan sering cekcok di rumah tangga sehingga anak-anak menonton perang mulut atau sumpah serapah yang kita lontarkan?

Saudaraku, anak-anak ingin berlaku lembut dan sopan kepada kita, tetapi mungkinkah kita membiarkan atau mengabaikan orang tua kita sendiri yang akhirnya anak-anak pun tidak peduli kepada kita?

Banyak pertanyaan yang mungkin diajukan, tetapi intinya jika kita ingin dihargai, hargai pula mereka, hargai orang-orang yang berjasa kepada kita, tunjukkan bahwa kita ingin mendapat penghargaan dari anak-anak kita dan kita pun wajib memberikan penghargaan kepada ibu bapak kita. Amin!

Wallāhu a’lam biṣ-ṣawāb.

‎والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tangerang, 12 Juli 2020

++++++

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899