Meraih Rida Allah SWT melalui Rida Orang Tua

Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Apa kabar saudaraku? Semoga kitaa senantiasa dikarunia Allah kesehatan, diberikan kebahagiaan hidup, dan menjadi orang meraih rida Allah SWT melalui rida kepada orang tua. Amin!

Rasulullah saw. bersabda,

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ

“Rida Tuhan Allah SWT terletak pada rida orang tua dan marah Tuhan Allah SWT terletak pula pada marah orang tua.” (HR Bukhari No. 2, Ibnu Hibban No. 2026, Tirmidzi No. 1899, Hakim IV/151-152)

Di dalam hidup ini orang beriman memerlukan keridaan dari Allah SWT. Apa pun yang kita lakukan, baik ibadah maupun amal saleh yang lain tidak lain yang kita cari adalah rida Allah SWT. Apa artinya kita hidup, tetapi kehidupan kita tidak diridai Allah SWT,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

“Di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridaan Allah dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS Al-Baqarah: 207)

Demi mencari rida Allah SWT, apa pun kita lakukan. Ayat tersebut diturunkan ketika ada sahabat yang disiksa oleh orang musyrik Mekah, yaitu Shuhaib. Akhirmya, ia berhijrah ke Medinah untuk meninggalkan kezaliman dan kampung syirik. Ia tinggalkan harta bendanya demi mencari rida Allah SWT dan pergi ke kampungnya yang baru, Medinah. Dia mengutamakan kecintaan kepada Allah SWT untuk meraih rida-Nya.

Jika di dalam hidup ini Allah SWT telah rida kepada kita, niscaya hidup kita bermakna di mata-Nya. Kenikmatan hidup akan diberi Allah SWT, derajat akan ditinggikan-Nya, apa yang diminta akan dikabulkan. Rida Allah SWT itu merupakan anugerah kebaikan-Nya kepada hamba yang terpilih melalui usaha yang maksimal dalam pengabdian yang tinggi dan perjuangan yang hebat dengan kesediaan melepas segala yang dicintai manakala Allah SWT memintanya.

Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mencapai rida Allah berupa kesediakan kita melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Itu yang disebut dengan ketaatan kepada Allah SWT. Salah satu perintah Allah SWT adalah berbuat baik terhadap orang tua (¬_birulwalidain¬) atau sering juga disebut dengan ihsan kepada orang tua.

Keridaan Allah SWT akan diperoleh dengan berbuat baik dan bersikap mulia kepada orang tua. Allah SWT akan senang kepada orang yang menghargai, memuliakan, dan berbuat baik kepada ayah bunda. Bagaimana Allah SWT meridai seorang anak yang memberikan segala-galanya kepada bundanya. Rasulullah menggambarkan seseorang yang kebaikannya kepada ibunya diridai Allah SWT, bahkan penduduk langit pun rida pula kepadanya.

Ada seorang pemuda yang tinggal di Yaman mengalami penyakit sopak (belang putih). Namanya Uwais al-Qarni. Walaupun berpenyakitan, dia merupakan pemuda yang saleh dan sangat berbakti kepada ibunya. Ibunya itu sudah tua dan lumpuh sehingga Uwais sangat iba kepadanya. Ia merewat ibunya dengan baik dan memuhi segala permintaannya.

Suatu hari ibunya berkata kepada Uwais berupa permintaan. Permintaan itu memang berat dan sulit dilakukan. “Anakku, mungkin usia Ibu tak lama lagi. Bisa jadi Ibu sebentar lagi akan berpisah denganmu. Usahakanlah agar Ibu dapat menunaikan haji,” pinta sang Ibu.

Uwais tercenung mendengarkan permintaan ibunya. Mekah itu bukanlah jarak yang dekat. Perjalanan ke sanaa akan memakan waktun lama. Jalan yang akan ditempuh adalah padang pasir tandus. Kondisi ekonominya pun tidak memungkinkan. Mereka adalah orang miskin dan tidak memiliki harta dan kendaraan?

Uwais kembali merenung dan terus berpikir mencari jalan keluar untuk memenuhi keinginan ibunya. Dia membeli seekor anak sapi. Mungkin kita bertanya, apakah mungkin dia berangkat menunggangi anak sapi? Atau mungkin nanti menjadi besar sehingga dapat ditungganyangi ibunya. Tidak mungkin anak sapi akan bertahan di terik matahari dan panasnya padang pasir. Dia pergi ke puncak bukit. Di sana dibuatnya kandang anak sapi itu. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak sapi itu naik turun bukit.

Orang yang melihat perbuatan anehnya itu bertanya-tanya, “Apakah Uwais sudah gila?” Namun, dia tetap saja melakukan perbuatan aneh itu. Makin hari anak sapi itu makin besar dan memerlukan tenaga ekstra untuk menggendongnya. Walaupun begitu, Uwais tetap saja menggendong sapi yang mulai berat karena makin berumur.

Setelah 8 bulan berlalu, musim haji pun tiba. Berat sapi Uwais telah mencapai 100 kilogram. Begitu juga otot Uwais makin kuat. Ia menjadi bertenaga untuk mengangkat barang. Akhirnya, orang-orang yang menertawakan, bahkan mengatakan dia gila, menjadi paham maksud Uwais menggendong sapi setiap hari? Ternyata ia sedang melakukan latihan untuk menggendong ibunya.

Menjelang datangnya musim haji, Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekah! Keinginannya adalah untuk menyenangkan hati ibunya. Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya itu. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit karena ingin memenuhi keinginan ibunya.

Pada musim haji Uwais berjalan dengan gagah menggendong ibunya tawaf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa. “Ya Allah, ampuni semua dosa Ibu,” kata Uwais.

“Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan.

Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa Ibu, Ibu akan masuk surga. Cukuplah rida dari Ibu yang akan membawaku ke surga.” Itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta terhadap ibunya.

Ibunya berkata lagi, “Ibu inginkan supaya engkau berdoa agar Allah hilangkan sopakmu ini.”

Uwais al-Qarni berkata,“Saya keberatan untuk berdoa karena ini sudah Allah yang menjadikannya. Kalau tidak rida dengan ketentuan Allah, bagaimana saya bisa bersyukur dengan Allah Taala.”

Ibunya menambahkan, “Kalau ingin masuk ke surga, mesti taat kepada perintah Ibu. Ibu perintahkan engkau berdoa!”

Akhirnya, tidak ada pilihan bagi Uwais, kecuali mengangkat tangan dan berdoa seperti yang diminta oleh ibunya supaya Allah menyembuhkan sopak yang diidapnya itu.

Allah SWT langsung mengabulkan doanya dan penyakitnya sembuh seketika. Putih sopak di seluruh badannya hilang, kecuali tinggal sebesar uang logam di telapak tangannya. Sopak itu menjadi tanda permanen bagi Uwais Al-Qarni karena permintaannya bahwa sopak ini adalah satu anugerah.

Di pihak lain Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat Rasulullah, ingin mengenali Uwais. Mereka sengaja mencarinya di sekitar Ka’bah karena Rasulullah berpesan, “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kalian berdua, pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman dan dia dibesarkan di Yaman.” Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. yang lain pernah disabdakan tentang Uwais, “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya. Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istigfarnya. Dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Dalam pencarian di Masjidilharam, Umar dan Ali tidak menemukan Uwais al-Qarni.
Waktu berjalan terus. Tidak lama kemudian, ibunya meninggal dunia. Uwais telah menunaikan semua permintaan ibunya. Setelah itu, Uwais telah menjadi orang yang paling tinggi martabatnya di sisi Allah. Dia pun agak leluasa bepergian karena ibunya sudah meninggal.

Suatu ketika pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Uwais ikut bersama rombongan dagang dari Yaman. Sekembalinya dari Syam, rombongan singgah di Medinah. Pada saat itu Umar bertanya kepada rombongan apakah Uwais ikut rombongan. Di antara mereka menjawab, “Ada. Dia sedang menjaga unta-unta kami di pinggir kota.”

Umar dan Ali berangkat mencari Uwais. Setiba di kemah, mereka mengucapkan salam. Ternyata Uwais sedang salat. Setelah selesai salat, Uwais menjawab salam Umar dan Ali.

Umar bertanya, “Siapakah nama Anda?
“Abdullah,” jawab Uwais.

Sambil tersenyum, Umar menjawab,“Kami pun juga Abdullah, hamba Allah?” Siapa namumu yang sebenarmya?”

“Nama saya Uwais al-Qarni, “jawabnya.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memohon agar Uwais membacakan doa dan istigfar untuk mereka.

Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “Sayalah yang harus meminta doa pada kalian”.

Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata, “Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istigfar dari Anda, seperti dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya.”

Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa, dan membacakan istigfar.

Setelah itu, Khalifah Umar berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitulmal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Mereka pun bersalaman karena berpamitan. Umar melihat tanda putih di telapak tangannya. Apa yang dikatakan Rasulullah benar sekali.

Ketika Uwais al-Qarni wafat, banyak orang yang menyelenggarakan jenazahnya. Mulai dari memandikan, mengafani, dan sampai mengantarkan jenazahnya ke kuburannya banyak sekali orang yang ikut menyelenggarakannya. Bahkan, mengali kubur dan memasukkan jenazah ke dalam kubur banyak orang terlihat. Mereka adalah orang yang asing di daerahnya. Siapakah orang-orang yang ikut serta dalam penyelenggaraan jenazah Uwais al-Qarni? Mereka itu adalah penduduk langit yang terdiri daripada para malaikat yang turun melepas kepergiannya.

Berita wafatnya Uwais al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa sebenarnya Uwais al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al Qarni karena permintaan Uwais sendiri kepada Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib agar merahasiakannya. Barulah pada hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi bahwa Uwais al-Qarni adalah penghuni langit.

Begitulah Uwais merupakan sosok yang sangat berbakti kepada orang tua dan itu sesuai dengan sabda Rasulullah ketika beliau ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR Ibnu Majah). Karena itu, jika inngin memperoleh rida Allah, cari dulu rida orang tua. Dengan mendapatkan rida orang tua, keridaan Alah SWT telah menyertai kita. Dua keridaan itulah yang mengantarkan kita ke surga nanti.

Saudaraku, sudah berapa lama kita hidup di dunia ini? Berapa lama pula kita bersama ayah dan bunda kita sejak bayi sampai kita tidak lagi bergantung pada pemberian dan fasilitas yang mereka berikan? Apakah yang sudah kita berikan kepada mereka pada saat kita sudah merasa tidak perlu bantuan meteri mereka? Gembirakah hati mereka atas keberhasilan kita menapak hari ini dan masa den depan kita di dunia? Mungkin dia bersedih karena anak yang selama ini mereka sayangi dan mereka harapkan kebersamaannya dengan mereka di hari tuanya ternyata jauh dari mereka?

Saudaraku, sudah seberapa pengorbanan kita kepada mereka untuk menghibur hati mereka, mengabulkan permintaan mereka, melaksanakan janji mereka? Mana yang lebih besar kemampuan kita terhadap penunaian keinginan orang tua kita jika dibandingkan dengan Juraij yang tidak punya apa-apa, tetapi dia mampu mengantarkan ibunya ke Tanah Suci? Adakah permintaan ayah bunda kita yang belum kita tunaikan yangb merupakan hasrat besar dalam hidupnya? Bisakah kita mengengendong ibu kita ke Tanah Suci sebagaimana yang dilakukan Juraij terhadap ibunya? Jangankan ke Tanah Suci, sudah ikhlaskah kita memapah ibu kita atau menggendongnya ke kamar mandi karena keuzurannya? Tuluskan kita terhadap ayah bunda kita pada saat mereka meminta kita datang berkunjung kepadanya walapun harus mengeluarkan biaya untuk sampai kepadanya? Seringkah mereka tersenyum mendengarkan kita menyapa mereka melalui alay komunikasi kita atau justru dia makin sedih karena kelancangan kita kepada mereka?

Saudaraku, kebahagian orang tua adalah kegembiraan mereka manakala kita datang mengunjungnya, bersimpuh di depannya, mencukupkan kepeluan mereka, berkata manis di hadapan mereka, membuat dia tersenyum dalam kedukaannya. Kegembiraan kita adalah manakala mereka rida kepada kita, hatinya senang dengan tutur kata kita, perasaannya lega dengan perlakukan kita, dan wajah ceria menyambut kehadiran kita.

Wallahu a’lam bis-sawab

‎والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tangerang, 7 Juli 2020