Menghidupkan Sunah Rasulullah saw.

Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Apa kabar saudaraku? Semoga kita senantiasa dianugerahi kesehatan yang prima oleh Allah SWY, dimantapkan keimanan kita, dijadikan kita sebagai umat Nabi Muhammad saw. yang setia kepadanya dan mampu menghidupkan sunah-sunahnya. Amin!

Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Siapa yang menghidupkan satu sunah dari sunah-sunahku, kemudian diamalkan oleh manusia, akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun.“ (HR Ibnu Majah No. 209 dari Amr bin ‘Auf bin Zaid al-Muzani)

Rasulullah sw. tidak mewariskan apa pun kepada umatnya selain Al-Qur’an dan sunahnya. Al-Qur’an merupakan wahyu Allah SWT diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk umat manusia sebagai petunjuk atau pedoman hidupnya. Siapa yang mengimani dan menjadikannya sebagai petunjuk hidupnya yakinlah bahwa mereka tidak akan tersesat dalam menapaki kehidupan. Selain itu, sunah Rasulullah saw. menjadi pendamping dan penjelas Al-Qur’an karena sunah itu bersumber dari penerima wahyu Allah SWT. Semua perkataan, perbuatan, dan pengakuan Rasulullah adalah sunahnya.

Sunah Rasululah saw. tidak akan bertelingkah dengan Al-Qur’an dan tidak berdiri sendiri. Para ulama dan umat muslim telah sepakat bahwa kedudukan sunah dalam Islam adalah sebagai hukum kedua setelah Al-Qur’an. Allah SWT berfirman,

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (Al-Hasyr 59:7)

Sunah adalah panduan yang berasal dari Rasulullah saw. Allah SWT memerintahkan kita untuk menerima apa-apa yang diberikan dan dicontohkan oleh Rasulullah saw. serta meninggalkan apa-apa yang dilarangnya. Kita wajib mengimani bahwa Nabi saw. adalah utusan Allah SWT yang memiliki kepribadian yang agung dan mengagumkan. Oleh karna itu, Allah SWT menjadikan Rasulullah saw. sebagai suri teladan bagi seluruh umat manusia.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah saw. itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS Al-Ahzab: 21)

Sunah seiring sejalan dengan Kitabullah karena fungsinya (1) memperkuat hukum Al-Qur’an (bayan at-taqrir), (2) memperjelas isi Al-Qur’an (bayan at-tafsir) , (3) menetapkan hukum yang tidak dimuat dalam Al-Quran (bayan at-tasyri’), dan (4) menasakhkan hukum di dalam Al-Qur’an (bayan an-nasakh).

Pertama, memperkuat hukum Al-Qur’an (bayan at-taqrir). Sunah Rasulullah saw. berfungsi memperkuat hukum Al-Qur’an yang sudah dicantumkan di dalamnya. Dengan memperkuat hukum Al-Qur’an, umat Islam akan memahami hukum itu dengan baik dan gamblang sehingga makin mantap hukum Al-Qur’an yang akan dilaksanakannya. Misalnya, perintah melaksanakan salat, puasa, dan zakat serta larangan melakukan riba, mencuri, dan membunuh. Baik hukum perintah yang harus dilaksanakan maupun larangan yang harus ditinggalkan diperkuat dengan berbagai sunah Rasulullah saw. Ada hadis Rasulullah tentang diterima atau tidaknya salat seseorang sebagaimana sabda Rasulullah,

    لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوءَ لَهُ وَلاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِ

“Tidak ada salat bagi orang yang tidak berwudu dan tidak ada wudu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah Ta’ala atasnya.” (HR Abu Dawud dari Abu Hurairah r.a.).

Hadis tersebut memperkuat hukum salat pada surat Al-Maidah ayat 6 yang berbunyi,

يَااَيُّهَاالَّذِ يْنَ اَمَنُوْااِذَاقُمْتُمْ اِلَى الصّلَوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَأَيْدِ يَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, basuhlah muka dan tanganmu sampai dengan siku, sapulah kepalamu, dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS Al-Maidah: 6)

Kedua, memperjelas isi Al-Qur’an (bayan at-tafsir). Fungsi sunah untuk memperjelas isi Al-Qur’an banyak ditemukan di dalam sunah Rasullah saw. Ada hukum yang sifatnya umum di dalam Al-Qur’an dan memerlukan penjelasan lebih terperinci. Misalnya, kewajiban melaksanakan salat terdapat di dalam Al-Qur’an, tertapi bagaimana tata caranya tidak dijelaskan. Penjelasannya memerlukan sunah Rasulullah saw. Di dalam Al-Qur’an hanya ada perintah salat dalam berbagai ayat. Kapan waktu, tata cara, dan bacaan dijelaskan oleh Rasulullah saw. Begitu pula zakat yang kewajibannya terdapat di dalam Al-Qur’an, tetapi penjelasan lebih terperinci jenis, syarat, dan rukunnya dijelaskan oleh Rasulullah saw. melalui hadisnnya.

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْ نِي أُ صَلِّيْ

“Salatlah sebagaimana engkau melihat aku salat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadis itu menerangkan tata cara menjalankan salat, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Al-Baqarah:43,

وَأَقِيْمُوْاالصَّلَوةَ وَأَتُواالزَّكَوةَ وَارْكَعُوْامَعَ الرَّاكِعِيْنَ

“Dirikanlah salat, tunaikan zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk’” (QS Al-Baqarah:43)

Selain itu, penjelasan Rasulullah saw. tentang hukum pencurian yang disebutkan di dalam hadis,

أَتَى بِسَا رِقِ فَقَطَعَ يَدَهُ مِنْ مِفْصَلِ الْكَفِّ

“Rasulullah saw. didatangi seseorang yang membawa pencuri. Maka, beliau memotong tangan pencuri tersebut dari pergelangan tangan.”

Hadis tersebut menafsirkan surat Al-Maidah ayat 38,

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوْااَيْدِ يَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِنَ اللهِ

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.” (QS.Al-Maidah:38)

Dalam Al-Quran, Allah SWT memerintahkan hukuman potong tangan bagi seorang pencuri. Ayat itu masih bersifat umum, kemudian Nabi SAW memberikan batasan bahwa yang dipotong adalah pergelangan tangan.

Ketiga, menetapkan hukum yang tidak dimuat dalam Al-Quran (bayan at-tasyri’). Sunah juga berfungsi untuk menetapkan hukum yang tidak dimuat dalam Al-Quran secara eksplisit, Misalnya, perihal zakat fitrah sebagaimana sabda Rasulullah saw.,

اِنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَا ةَ الفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ صَا عًا مِنْ تَمَرٍاَوْ صَا عًامِنْ شَعِيْرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ اَوْعَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ

“Rasulullah telah mewajibkan zakat fitrah kepada umat Islam pada bulan Ramadan satu sha’ kurma atau gandum untuk setiap orang, baik merdeka maupun hamba, laki-laki atau perempuan” (HR. Muslim).

Kewajiban itu belum ada di dalam Al-Qur’an. Kewajiban berfitrah pada bulan Ramadan sampai waktu salah Idulfitri dijelaskan oleh Nabi saw. dalam sunahnya.

Keempat, menghapus hukum yang terdapat di dalam Al-Qur’an (bayan an-nasakh). Fungsi sunah untuk menghapus hukum yang terdapat di dalam Al-Qur’an muncul karena ada permasalahan baru yang memerlukan kepastian hukum. Misalnya, di dalam Al-Qur’an terdadapat wasiat kepada ahli waris, tetapi Rasulullah menyebutkan di dalam sabdanya,

إن الله أعطى كل ذي حق حقه، ولا وصية لوارث .

“Sesungguhnya Allah telah memberi hak kepada setiap nyang mempunyai haknya. Tidak ada wasiat bagi ahli waris.” (HR Tirmidzi)

Hadits ini menasakh hukum wasiat yang terdapat di dalam surah QS.Al-Baqarah ayat 180,
كُتِبَ عَلَيْكُمْ اِذَاحَضَرَ اَحَدَ كُمْ المَوْتُ اِنْ تَرَكَ خَيْرَالوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَ يْنِ وَاْلأَ قْرَبِيْنَ بِالْمَعْرُوْفِ حَقًّا عَلَى المُتَّقِيْنَ

“Diwajibkan atas kamu, apabila seseorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabat secara makruf. (Ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Baqarah:180)

Bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk menghidupkan sunah Rasulullah saw.? Dapat saja dilakukan dengan memenuhi seruan Rasulullah. Hal itu diisyaratkan dalam firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Wahai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan/kebaikan) hidup bagimu” (QS Al-Anfal:24).

Kita sebagai umat Rasulullah saw. memahami petunjuk beliau mengamalkan sunah Rasulullah karena beliau telah memberikan jalan yang lurus kepada kita. Jalan lurus yang dituntunkan kepada kita akan membawa keselamatan kita di dunia dan di akhirat.

Apa yang disunahkan Rasulullah saw. tidak saja kita amalkan sendiri, tetapi juga disampaikan kepada orang lain sehingga mereka pun dapat megngamalkannya. Setiap sunah Rasulullah jika kita sampaikan kepada orang lain, lalu mereka mengamalkannya, kita akan medapat pahala seperti mereka yang mengamalkannya, seperti hadis yang dikemukakan di awal.

Orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah saw. akan mendapatkan dua keutamaan (pahala) sekaligus: (1) keutamaan mengamalkan sunah itu sendiri dan (2) keutamaan menghidupkannya di tengah-tengah manusia yang telah melupakannya.

Pada hakikatnya, orang mukmin yang benar adalah mereka yang setia memelihara sunah-sunah Rasul. Mereka termasuk golongan Rasulullah yang bersama-sama akan memasuki surga. Sebagaimana firman Allah,

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَٰٓئِكَ رَفِيقًا

“Siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itulah yang akan bersama-sama dengan orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, siddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Mereka itulah sebaik-baiknya teman.” (QS An-Nisa’: 69).

Banyak sunah Rasulullah saw. yang dapat diikuti dan larangannya yang harus djauhi. Di antaranya ada larangan Rasulullah saw. yang penting diperhatikan oleh kalangan muda, khususnya perempuan terkait dengan menyambung rambut dan menggunakan tato, baik tahi lalat maupun alis. Rasulullah saw. bersabda,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْوَاصِلَةَ وَالْمُوتَصِلَةَ، وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُوتَشِمَةَ

“Rasulullah saw. melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan wanita yang disambungkan rambutnya serta wanita yang menato (kulitnya) dan wanita yang meminta dibuatkan tato.” (HR Abu Dawud dari Abdullah bin Umar r.a.)

Sunah Rasulullah memberikan tuntunan dan panduan kepada umatnya dalam berbuat, berperilaku, dan bersikap sehingga segala apa yang dilakukan menggambarkan keluhuran perilaku muslim sejati. Oleh karena itu, Rasulullah saw. harus dijadikan sebagai model dalam berbuat, berperilaku, dan bersikap.

Bertindak dan berperilaku sebagaimana Rasulullah merupakan upaya meneladani beliau. Itulah hakikat menghidupkan sunah Rasulullah oleh umatnya di dalam kehidupannya, baik secara pribadi, keluarga, dan masyarakat.

Wabillahit-taufiq wal-hidayah.

والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tangerang, 2 Juli 2020