Beranda Khazanah Durhaka kepada Orang Tua

Durhaka kepada Orang Tua

Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Apa kabar saudaraku? Semoga kita senantiasa dikarunia Allah kesehatan, diberikan kebahagiaan hidup, dan menjadi orang yang berbakti kepada orang tua. Amin!

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْكَبَائِرُ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ قَالَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ ثُمَّ عُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ الْيَمِينُ الْغَمُوسُ قُلْتُ وَمَا الْيَمِينُ الْغَمُوسُ قَالَ الَّذِي يَقْتَطِعُ مَالَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ هُوَ فِيهَا كَاذِبٌ

Seorang Arab Badui datang kepada Nabi saw., lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah dosa-dosa besar itu?” Beliau menjawab, “Isyrak (menyekutukan sesuatu) dengan Allah.” Ia bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Kemudian, durhaka kepada dua orang tua.” Ia bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Sumpah yang menjerumuskan.” Aku bertanya, “Apa sumpah yang menjerumuskan itu?” Beliau menjawab, “Sumpah dusta yang menjadikan dia mengambil harta seorang muslim.” (HR Bukhari No. 6255 dari Abdullah bin Amr)

Anak wajib berbuat baik kepada orang tuanya. Kewajiban itu merupakan hal yang semestinya karena orang tua sudah memberikan sesuatu yang terbaik untuk anaknya. Ibu mengandung selama sembilan bulan, menyusui, mengasuh anak sampai mereka dewasa. Begitu pula bapak telah menyiapkan segala keperluan keluarga, termasuk keperluan anak, dan mendidik mereka bersama ibu. Jasa mereka tidak dapat kita kalkulasi sehingga kita berkewajiban berbuat baik kepada mereka.

Di dalam perjalanannya anak mulai tumbuh dan dewasa, lalu berkeluarga. Baik dalam pengasuhan maupun setelah anak berkeluarga ada hubungan yang tidak harmonis antara anak dan orang tuanya. Hubungan itu berakibat pada kedurhakaan anak terhadap orang tua.

Adakah anak yang durhaka kepada orang tuanya? Jawabnya akan kembali kepada kita masing-masing. Apakah kita pernah atau justru sering durhaka kepada orang tua. Kita yang dapat menjawabnya.

Rasulullah saw. di dalam hadis itu ditanya oleh orang Arab Badui tentang dosa besar. Rasulullah saw. menjawab bahwa isyrak (syirik) merupakan dosa besar dan diikuti dengan durhaka kepada orang tua. Jika di dalam Al-Qur’an banyak ayat tentang berbuat baik kepada orang tua dan selalu digandeng dengan kewajiban tidak menyekutukan Allah dengan siapa dan apa pun, dosa besar pun juga bergandengan syirik kepada Allah SWT dan durhaka kepada orang tua. Oleh karena itu, durhaka kepada orang tua merupakan dosa besar setelah melakukan syirik kepada Allah SWT.

Kedurhakaan yang dilakukan oleh anak terhadap orang tua itu pada hakikatnya adalah segala yang dapat menjadikan orang tua tersakiti, baik dengan kata, sikap, atau perbuatan. Oleh karena itu, durhaka kepada orang tua, antara lain, hal-hal berikut.

Pertama, berkata ah, cis, moh.

Perkataan itu biasa keluar dari mulut seorang anak sebagai respons terhadap permintaan atau perintah orang tua. Selain itu, ungkapan itu dapat juga memperlihatkan ungkapan kekesalan terhadap orang tua. Masih ingatkah kita firman Allah SWT dalam surah Isra ayat 23, “Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut (pikun) dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah, janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Kedua, berkata kasar terhadap orang tua.

Kata-kata dapat menyejukkan dan dapat pula menjengkelkan. Kata-kata pun dapat memperlihatkan ketinggian pribadi dan kemuliaan hati seseorang. Karena itu, kata kasar yang keluar dari mulut seseorang menunjukkan seseorang kurang beradab, apalagi terlontar kepada orang tua. Ucapan kasar merupakan bentuk kedurhakaan anak kepada orang tuanya yang tidak pantas keluar dari seorang anak yang berbakti. Bukankan Allah SWT mengingatkan. “…janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS Isra: 23)

Ketiga, bermuka masam, cemberut, dan sinis.

Ekspresi wajah bermuka masam, cemberut, dan sinis merupakan reaksi terhadap hati yang tidak tulus. Ketidaktulusan itu disebabkan oleh ketidaksenagan terhadap apa yang dikatakan, diperintahkan, atau yang diinginkan orang tua. Anak harus menyadari bahwa orang tua, apalagi sudah berusia lanjut, sangat sensitif dan adakalanya banyak keinginannya dan bermacam-macam permintaannya. Reaksi anak dalam bentuk ekspresi yang tidak menyenangkan dapat membuat hati orang tua sedih, bahkan meneteskan air mata. Kesedihan dan tetesan air mata orang tua itu menjadikan anak tergolong anak durhaka.

Keempat, mencela atau memaki orang tua.

Orang tua harus kita hormati dan muliakan. Penghormataan kepada orang tua ditunjukkan dengan kata-kata yang manis yang dapat menimbulkan kesenangan dan kegembiraan mereka. Celaan, makian, umpatan, dan apa pun yang keluar dari mulut kita yang sifatnya menghina adalah bentuk kedurhakaan anak. Jangankan kita langsung mencela atau memaki orang tua, mencela atau mencaci orang tua orang lain yang harus dihormati termasuk mencela dan memaki orang tua kita sendiri. Rasulullah bersabda,

ﺇﻥ ﻣﻦ ﺃﻛﺒﺮ اﻟﻜﺒﺎﺋﺮ ﺃﻥ ﻳﻠﻌﻦ اﻟﺮﺟﻞ ﻭاﻟﺪﻳﻪ» ﻗﻴﻞ: ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، ﻭﻛﻴﻒ ﻳﻠﻌﻦ اﻟﺮﺟﻞ ﻭاﻟﺪﻳﻪ؟ ﻗﺎﻝ: ﻳﺴﺐ اﻟﺮﺟﻞ ﺃﺑﺎ اﻟﺮﺟﻞ، ﻓﻴﺴﺐ ﺃﺑﺎﻩ، ﻭﻳﺴﺐ ﺃﻣﻪ
“Sesungguhnya salah satu dosa besar ialah mencela kedua orang tuanya. Rasullullah ditanya, “Bagaimana mungkin seseorang berani mencela orang tuanya?’ Kemudian, Nabi menjawab, ‘Apabila seseorang mencela orang tua dari orang lain, baik bapak maupun ibunya.” (HR Bukhari dari Abdullah bin Amr)

Kelima, malu menyebut orang tua.

Adakah anak merasa malu menyebut orang tua? Anak yang menyadari asal-usulnya akan bangga dengan orang tuanya. Jika ada anak yang merasa turun harga dirinya, hilang kehormatan dirinya, jatuh gengsinya, itulah anak yang lupa diri dan menganggap dirinya jatuh dari langit. Kedurhakaan anak terlihat dari tidak menghargai keberadaan orang tuannya. Jika dia sudah kaya raya, berpangkat tinggi, mempunyai jabatan terhormat, mestinya dia bangga terlahir dari orang desa dan orang tua yang tidak mengenyam pendidikan sehingga dia bisa mencapai kesuksesan hidupnya. Mestinya dia harus menunjukkan bahwa orang desa dan dari keluarga yang memprihatnkan bisa menjadi orang yang terpandang. Namun, ada yang merasa malu, apalagi dikunjungi oleh orang tuanya di tempat yang terhormat menurut anak, sehingga keberadaan orang tuanya menjatuhkan nama dan kehormatan dirinya. Itulah anak durhaka.

Keenam, memerintah orang tua.

Bolehkah anak memerintah orang tua? Memerintah berarti menyuruh orang tua untuk kepuasan anak. Itu suatu sikap lancang anak terhadap orang tua. Seharusnya, orang tua yang memerintah anak. Posisi anak pasti berada di bawah orang tua. Namun, sikap itu menyebabkan orang tua merasa diperbudak anak. Hati-hati saudaraku, jika ibu disuruh menjaga anak, memasakkan makanan anak, mengantarkan cucunya ke sekolah dapat menjadi perbuatan kedurhakaan. Namun, jika si ibu atau bapak merasa senang mengasuh cucunya, itu suatu kebahagiaan. Pandai-pandailah memosisikan orang tua kita sebagai orang tua yang penuh kasih sayang terhadap cucunya atau sebagai “pembantu” kita untuk menjaga, mengasuh, dan mengantarkan anak-anak ke sekolah? Jika yang terakhir dilakukan, kita termasuk anak durhaka.

Ketujuh, menyusahkan orang tua.

Anak-anak adalah kebahagiaan orang tua. Pada saat pengasuhan dan pendidikan anak, orang tua bekerja keras dan mencukupkan segala kebutuhan anak. Perjuangan dan pengorbanan orang tua harus dihargai oleh anak. Jangan sampai orang tua menjadi susah karena tingkah laku anak-anaknya. Anak-anak yang sudah berkeluarga harusnya dapat membahagiakan orang tuanya. Namun, tidak jarang pula anak-anak yang merongrong orang tuanya sehingga orang tuanya menjadi susah. Jika orang tua tidak ikhlas, perbuatan itu termasuk kedurhakaan anak kepada orang tua.

Kedelapan, mengutamakan istri daripada orang tua.
Istri dan anak-anak adalah kebahagian dan kesenangan hidup. Setiap orang tua pasti mengharapkan dan mendoakan agar anak-anaknya bahagia dalam berkeluarga. Artinya, dalam kebahagiaan keluarga anaknya orang tuanya memiliki andil, baik langsung maupun tidak langsung, kepada mereka. Doa orang tua pasti didengar oleh Allah SWT. Namun, istri dan anak-anaknya jangan sampai menjadi penghalang anak untuk berbakti dan bertanggung jawab terhadap orang tuanya. Istri yang salehah adalah istri yang selalu mengingatkan suaminya agar jangan lupa kepada orang tuanya. Sebaliknya, suami yang baik adalah suami yang juga memiliki perhatian dan peduli terhadap mertuanya. Itulah makna kebahagiaan berumah tangga. Masing-masing mengingatkan dan terbuka kepada orang tua dan mertua. Jika tidak, kedurhakaan anak akan menjadi kehancuran rumah tangga karena hilangnya keberkahan yang bersumber dari bakti kepada orang tua dan mertua.

Kesembilan, menyia-nyiakan orang tua pada usia tuanya.

Kebahagiaan orang tua adalah bahwa dia dapat menjalani masa tuanya dengan tenang, tidak memikirkan makan hari ini dan bagaimana besoknya, dapat melihat cucu yang sudah berhasil, dapat beribadah dangan nyaman. Mampukah anak memberikan yang terbaik untuk orang tuanya di usia senjanya sehingga keperluan orang tua itu tercukupi semua? Anak yang berbakti kapada orang tuanya adalah anak yang dapat memenuhi kecukupan orang tua itu. Namun, anak yang abai terhadap orang tua, lupa atau melupakan kewajibannya terhadap orang tua, dan menyia-nyiakkan hidup orang tua sehingga susah di hari tuanya merupakan kedurhakaan anak yang akan menerima balasannya.

Kesepuluh, menganiaya orang tua.

Seorang anak bisa jadi melakukan penaniayaan terhadap orang tuanya, bahkan pembunuhan. Kasus anak yang menganiaya ibunya terjadi di Rawa Kepa, Grogol Petamburan, Jakarta Barat pada tangal 8 Februari 2020 yang lalu. Karena tidak diberi restu oleh ibunya untuk menikah dengan kekasihnya, seorang pemuda tega melukai bagian kepala, lambung, dan tangan ibu kandungnya dengan gunting hingga membuat kondisi ibunya kritis. Bahkan, gara-gara tidak diberi uang yang diminta Rp100.000,00, seorang anak di Bantul (26/5/2018) membakar rumah ibunya dan memukul ibunya dengan bata merah sehingga kepala ibunya luka parah. Malah, ada anak yang sampai hati membunuh bapaknya karena dilarang bapaknya bertengkar dengan temannya. Peristiwa itu terjadi di Jalan Kapuk Sawah RT 10/12, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat pada 29 Januari 2019 lalu. Anak tidak menerima teguran bapaknya, lalu mengambil cilurit dan menebas leher bapaknya hingga bapaknya tewas. Itulah gambaran anak durhaka dan berhak untuknya neraka.

Durhaka kepada orang tua akan mendapat ganjaran yang berat oleh Allah SWT.

  1. Dipercepat azab oleh Allah SWT di dunia

Rasulullah saw. bersabda,

بَابَانِ مُعَجَّلاَنِ عُقُو بَتُهُمَا فِى الدُّنْيَا الْبَغْىُ وَ الْعُقُوقُ

“Dua perbuatan dosa yang Allah cepatkan azabnya (siksanya) di dunia, yaitu berbuat zalim dan durhaka kepada orang tua,” (HR Hakim 4/177 dari Anas bin Malik)

Rasulullah saw. bersabda pada hadis yang lain,
كُلُّ الذُّنُوبِ يُؤَخِّرُ اللهُ مِنْهَا ما شاء الي يوم القيامة اِلَّا عُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ لِيَجْعَلَ له العذابُ واِنَّ اللهَ لَيَزِيْدُ في عُمْرِ الْعَبْدِ اِذَا كان بَارًّا لِوَالِدَيْهِ لِيَزِيْدَهُ بِرًّا وَخيرًا وَمِنْ بِرِّهِما أن يُنْفِقَ عليهِما اِذا احْتَاجَا.)
“Semua dosa itu azabnya ditunda oleh Allah SWT sampai hari Kiamat, kecuali orang yang durhaka kepada orang tuanya. Sesungguhnya Allah akan mempercepat azab kepadanya. Allah akan menambah umur seorang hamba jika ia berbuat baik kepada ibu bapaknya, bahkan Allah akan menambah kebaikan kepada siapa saja yang berbuat baik kepada ibu bapaknya serta memberi nafkah kepada mereka jika diperlukan.” (HR Ibnu Majah)

  1. Tidak dilihat Allah SWT dengan penuh rahmat

Rasulullah bersabda, “Ada tiga orang yang tidak akan dipandang oleh Allah pada hari Kiamat, yaitu pendurhaka kepada kedua orang tuanya, pecandu khamar, dan pengungkit pemberian (al-mannan)” (HR Nasa’I, Hakim, Bazar)

  1. Dibenci Allah SWT

Rasulullah saw. bersabda,

رِضَى اللهُ فى رِضَى الوَالِدَيْنِ و سَخَطُ الله فى سَخَطُ الوَالِدَيْنِ

“Keridaan Allah itu terletak pada keridaan orang tua dan kemurkaan Allah itu terletak pada kemurkaan orang tua.” (HR. Tirmidzi dari Abdullah bin Amr)

  1. Diharamkan surga

Rasulullah saw. bersabda,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَاقٌ وَلاَ مُدْمِنُ خَمْرٍ وَلاَ مُكَذِّبٌ باْلقَدَر

“Tidak masuk surga anak yang durhaka, peminum khamar (minuman keras), dan orang yang mendustakan qadar.” [HR Ahmad 6/441)

  1. Tidak mendapat syafaat dari Rasulullah saw.

Rasulullah saw. bersabda,

ثَلَاثَةٌ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُمْ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا؛ عَاقْ وَمَنَّانٌ وَمُكَذِّبٌ بِالْقَدَرِ

“Ada tiga golongan yang Allah tidak akan menerima tebusan maupun syafaat bagi mereka: anak yang durhaka, pengungkit pemberian, dan yang pendusta takdir.” (HR Thabrani No. 7564 dan Baihaqi No. 370 dari Abu Umamah)

Saudaraku, perjuangan dan pengorbanan orang tua kepada kita begitu besar. Mereka tidak pernah merasa letih dan bosan mengasuh, merawat, mendidik, dan membesarkan kita. Jangan kita lukai hati mereka karena kepiluan hati mereka menyebabkan kita hina di mata Allah. Allah akan menyegerakan siksanya kepada orang yang durhaka kepada ayahbunda.

Saudaraku, hidup kita tidak hanya di dunia. Kalau kita menyakiti hati kedua orang tua, berlaku kasar kepada mereka, memandang mereka dengan hina, apalagi menyakiti fisik mereka, jangankan masuk surga, mencium baunya saja tidak akan bisa. Dengan menyakiti lahir atau batin mereka, keridaannya akan hilang. Jika mereka tidak rida, Alllah pun tidak rida kepada kita. Manakala Allah tidak rida dan murka kepada kita, kebahagiaan dunia dan akhirat tidak akan kita dapat. Apakah kita tidak yakin akan pembalasan Allah yang mahadahsyat yang di dalamnya manakala kulit sudah hancur, akan muncul lagi kulit baru untuk merasakan siksa Allah dan siksa itu akan kekal bagi mereka yang durhaka kepada ayahbundanya.

Saudaraku, selagi orang tua masih ada, raihlah rida dan keikhlasannya agar kita dapat meraih kunci surga yang dijanjikan Allah kepada hamba yang memberikan kegembiraan kepada orang tuanya. Jika orang tua kita sudah tiada, kirimlah doa dan perbanyak amal saleh yang dapat mengalir kepada mereka. Amin!

Wabillahit-taufiq wal-hidayah.

‎والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tangerang, 10 Juli 2020