Dilema Bakti kepada Orang Tua atau Suami

Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Apa kabar saudaraku? Semoga Allah SWT senantiasa mengaruniai kita kesehatan, kebahagiaan hidup dalam berkeluarga, dan menjadi suami dan istri yang saleh/salehah. Amin!

Nabi Muhammad saw. bersabda dalam hadisnya,

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ، وَإِذَا أَمَرْتَهَا أَطَاعَتْكَ، وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفِظَتْكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِكَ

“Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita yang salehah. Apabila engkau memandangnya, ia menyenangkanmu. Apabila engkau perintah, ia menaatimu. Apabila engkau bepergian meninggalkannya, ia menjaga dirinya (untukmu) dan menjaga hartamu.” (HR Ahmad No. 2/168 dan Muslim No. 3628)

Hidup berkeluarga merupakan dambaan orang dewasa. Berkeluarga dilakukan melalui perkawinan. Bagi muslim dan muslimah perkawinan itu adalah sunah Rasulullah saw. Orang yang sudah menikah berarti sudah melaksanakan sebagian sunah Rasulullah. Oleh karena itu, orang tua berusaha agar anak-anaknya memiliki pasangan hidup di dalam ikatan keluarga.

Bagi orang tua, anak selama belum menikah masih merupakan tanggung jawab mereka. Pada saat terjadi pernikahan, seorang anak perempuan diserahkan tanggung jawabnya kepada calon suami dalam suatu akad nikah.

Di dalam akad nikah terjadi ijab kabul antara wali nikah perempuan (bapaknya) dan laki-laki yang menjadi suaminya. Ijab adalah ucapan penyarahan anak yang disampaikan oleh wali atau bapak perempuan kepada calon suami anaknya menjadi istrinya yang sah. Calon suami menerima ijab dari bapak anak perempuan dengan ucapan penerimaan nikah (kabul). Pada saat itu bapak menyerahkan tanggung jawabnya kepada suami anaknya. Sejak itu pula anak perempuannya sudah menjadi tanggung jawab suaminya. Bapak dan ibunya sudah tidak lagi memiliki tanggung jawab, baik pengasuhan, finansial, dan yang lainnya, kecuali tanggung jawab tertentu yang tidak mengikat.

Jika keluarga baru sudah terbentuk, suami berposisi menjadi kepala rumah tangga. Hal itu berarti suami menjadi pemimpin yang akan mengendalikan kehidupan rumah tangga kecil yang pada akhirnya atas izin Allah SWT akan bertambah dengan anak-anak mereka. Tentu tidak dapat dikesampingkan bahwa mereka masing-masing memiliki bapak dan ibu mertua, saudara sepupu, dan keluarga yang lain.

Biasanya keluarga baru tidak banyak masalah. Mereka masih senang dengan keluarga besar, baik dengan bapak dan ibu mertua, saudara-saudara sepupu, dan keluarga yang lain. Menantu sangat diperhatikan oleh mertua. Itu pun terpulang pada adat masing-masing. Di dalam adat Minangkabau yang merupakan adat yang unik jika dibandingkan dengan adat yang lain, baik di Indonesia maupun di dunia, menantu akan ikut bersama orang tua perempuan. Menantu akan menjadi bagian dari keluarga besar ibu yang bersifat matriarkhat dan akan mendapat perhatian khusus dari ibu dan bapak mertua. Bahkan, nama menantu saja tidak boleh dipanggil, tetapi yang dipanggil adalah gelar adat yang diberikan pada saat pernikahan. Keunikan itu akan berbeda dengan adat di dalam masyarakat yang lain yang sifatnya patriarkhat (mengikuti keluarga bapak).

Apa pun adat yang digunakan dan berlaku pada kelurga baru, baik patriarkhat maupun matriarkhat, menantu menjadi bagian penting dan mendapat perhatian khusus oleh bapak dan ibu mertua.

Hal yang penting dipahami oleh pasangan suami istri bahwa bapak dan ibu mertua adalah sama dengan bapak dan ibu kita sendiri. Begitu seorang perempuan dinikahi, ibu dan bapaknya otomatis menjadi ibu dan bapak kita. Jangan sampai terpikir oleh pasangan suami istri bahwa ibu dan bapak mertua adalah orang lain. Itu adalah pikiran yang keliru. Ini penting bahwa masing-masing memiliki tanggung jawab terhadap ibu mertuanya. Jadi, tanggung jawab itu tidak hanya kepada ibu dan bapak kandung, tetapi juga kepada ibu dan bapak mertua.

Di dalam kehiduapan berumah tangga ketika keluarga baru menjadi bagian dari keluarga besar, ada keinginan keluarga baru untuk hidup mandiri yang terpisah dari ibu dan bapaknya. Hal itu harus disikapi dengan bijak oleh orang tua bahwa suami dari putri kita merupakan pemimpinnya. Karena adanya keinginan mereka untuk tinggal di rumah barunya, baik kontrakan maupun rumah sendiri, orang tua tidak berhak melarangnya atau mencegahnya. Orang tua harus paham bahwa ketika anak permpuan kita sudah nikah, kendali anak sudah beralih kepada suaminya. Suaminya adalah kepala rumah tangganya.

Sering terjadi kesalahpahaman, bahkan perselisihan, antara orang dan anak yang sudah berkeluarga. Orang tua merasa sedih atau merasa ditinggal oleh anaknya ketika ada keinginan anak menjadi keluarga yang mandiri. Ada juga orang tua yang bersekeras agar anaknya tidak boleh pindah. Orang tua harus menyadari bahwa keinginannya itu adalah yang lebih baik bagi mereka. Orang tua hanya memberi saran, nasihat, atau pengarahan kepada mereka dalam hidup berkeluarga kalau sudah berumah sendiri.

Allah Taala berfirman,
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Hal ini karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS An-Nisa: 34)
Banyak kasus keributan antara rumah tangga karena peran orang tua yang dominan dalam keluarga anaknya. Orang tua masih merasa sebagai ibu dan bapak yang bertanggung jawab terhadap anaknya yang sudah bersuami. Orang tua harus mengurangi, bahkan menjauhkan sifat egoistisnya sehingga selalu mengatur dan ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya. Tidak jarang sikap itu menimbulkan cekcok antara anaknya dan suaminya. Bahkan, antara anak-menantu dengan ibu atau mertuanya. Hal itu sangat memprihatinkan kita karena mereka ingan kebebasan di tempat yang barunya. Oleh karena itu, berilah mereka kebebasan dalam mengatur rumah tangganya.

Berkumpul bersama orang tua dan keluarga yang lain bagus jika masing-masing mampu menempatkan diri sesuai dengan kedudukannya. Namun, menantu kita, apalagi yang baru berumah tanmgga, ingin merasa bebas dengan istrinya jika mereka berada di tempat barunya. Di rumah bersama mertuanya, menantu akan malu jika bercelana pendek atau bercelana kolor keluar dari kamar mandi karena tidak enak dilihat mertua. Namun, di rumahnya sendiri mantu bebas berpakaian atau melakukan apa saja dengan istrinya. Hal itu harus disikapi oleh orang tua dengan bijak agar hubungan orang tua dengan anak dan menantunya tetap baik.

Setiap orang tua ingin barsama anak dan cucunya—jika sudah punya cucu—di rumah orang tua. Kegembiraan bersama cucu itu rasanya sulit dibayangkan. Bahkan, ada yang mangatakan sayang kapada cucu melebihi sayang kepada anak sendiri. Hal itu benar dan dirasakan oleh kakek dan neneknya. Namun, kita harus pandai-pandai mengiikuti arus menantu kita. Keluarga anak yang bijak akan mencari tempat tinggal yang berdekatan dengan kakek dan nenek anak-anaknya. Kemungkinan bertemu antara cucu dan kakek-nenek makin sering sehingga anak-anak bisa bersama kakek-neneknya jika anak menantu bekerja. Walaupun begitu, istri harus mengikuti suami untuk diajak pindah rumah. Rasulullah saw. bersabda,

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّمَا هُنَّ عِنْدَكُمْ عَوَانٌ

“Berwasiat kebaikanlah kalian kepada para wanita/istri karena mereka itu hanyalah tawanan di sisi kalian.”( HR. At-Tirmidzi no. 1163 dan Ibnu Majah no. 1851)

Hadis itu merupakan kiasan bahwa istri itu bagaikan tawanan. Tawanan akan mengikuti apa yang diinginkan tuannya. Karena itu, istri wajib patuh kepada suaminya. Jika ada pilihan antara keinginan suami pindah rumah dan keinginan orang tua tidak pindah, istri wajib mengikuti suaminya untuk pindah rumah. Orang tua atau mertua harus berlapang hati mengizinkan anak dan menntunya untuk pindah dari rumahnya. Jika itu yang terbaik bagi mereka dan akan menambah keharmonisan rumah tangga mereka, kita sebagai orang tua mendukung keinginan mereka itu.

Hubungan antara orang tua dan anak menatu harus dijaga dengan baik. Kata-kata mertua pun harus dijaga, temasuk dengan anak sendiri. Orang tua hanya melihat dan mengawasi, bukan mengatur dan memerintah. Ada yang ingin disampaikan, sampaikan dengan kata “sebaiknya”, bukan “harus begini dan harus begitu”. Anak mantu kita sudah dewasa, jangan diajari. Mereka sudah harus mengambil keputusan, bukan disuruh dan diperintah. Jika hal itu yang dilakukan orang tua, mereka akan terjebak pada senang dan tidak senang. Anak dan mantu mungkin tidak menerimanya, orang pun merasa berhak mengatakan begini dan begitu. Itulah kekeliruan orang tua dalam membina hubungan baik dengan anak dan menantunya.

(Bersambung besok)