Berterima Kasih kepada Orang Tua

Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Apa kabar saudaraku? Semoga kitaa senantiasa dikarunia Allah kesehatan, diberikan kebahagiaan hidup, dan menjadi orang yang pandaI berterima kasih kepada orang tua. Amin!

Allah SWT berfirman,
أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Bersyukurlah kepadaku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS Luqman : 14)

Allah SWT memerintahkan manusia untuk berterima kasih kepada-Nya dan kepada orang tua. Terima kasih kita kepada Allah SWT dalam bentuk syukur karena Dia telah memberikan kehidupan dengan segala fasilitasnya secara gratis dan memberikan rezeki untuk kehidupan di dunia ini. Di samping itu, Allah SWT telah memberikan jalan hidup yang terbaik kepada kita melalui kekasih-Nya, Nabi Muhammad saw. berupa iman dan Islam sehingga kita menjadi hamba Allah SWT yang beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan siapa dan apa pun.

Kita bersyukur kepada Allah SWT terkait dengan syukur kepada orang tua adalah bahwa Allah SWT telah menciptakan ibu bapak kita sehingga melalui mereka berdua kita pun dilahirkan ke dunia. Tanpa penciptaan mereka oleh Allah SWT kita tidak akan dapat menjadi orang yang mengenal Tuhan dan tidak akan mengikuti sunah Rasulullah saw. Mereka adalah wasilah kehadiran kita di dunia ini.

Terima kasih kita selain Allah SWT adalah kepada orang tua kita. Banyak perintah Allah SWT untuk berbuat baik kepada kedua ibu bapak kita yang selalu bergandeng dengan kewajiban menyembah Allah SWT. Salah satu cara berbuat baik kepada orang tua adalah berterima kasih. Di dalam ayat yang lain, Allah SWT berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya pula dengan susah payah. Mengandungnya sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, “Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS Al-Ahqaf: 15)

Mengapa manusia harus berterima kasih kepada orang tua kita? Kita harus menyadari bahwa berterima kasih berarti kita mengakui apa yang telah diberikan orang tua kepada kita, lalu kita membalas jasa-jasa mereka dengan perbuatan baik yang dapat memberikan kebahagiaan kepada mereka. Terlalu banyak jasa mereka kepada kita. Allah SWT sudah menjelaskan kepada kita melalui firman-Nya dalam surah Al-Ahqaf ayat 15 itu.

Ada proses kelahiran kita ke dunia ini yang dijelaskan Allah SWT dengan beban berat yang dialami ibu kita. Berapa lama ibu mengandung kita? Lazimnya Ibu mengandung kita selama sembilan bulan. Waktu yang pasti di dalam Al-Qur’an tidak ada. Hanya seperti disebutkan di ayat tersebut jarak antara mengandung dan menyapih selama tiga puluh bulan atau dua setengah tahun. Waktu sembilan bulan itu merupakan waktu yang normal. Apakah ada yang lebih lama lagi dari sembilan bulan. Bisa jadi ada. Bahkan para ulama berbeda pendapat tentang kehamilan yang paling lama.

Imam Ahmad dan Imam Syafi’i berpendapat waktu terlama adalah empat tahun dan salah satu riwayat pendapat yang masyhur dari Imam Malik, sedangkan riwayat masyhur yang lain adalah lima tahun. Imam Abu Hanifah berpendapat dua tahun. Pendapat itu berdasarkan riwayat dari Ahmad, mazhabnya Ats-Tsasuri dan perkataan Aisyah r.a. Pendapat Abu Laits tiga tahun, pendapat Az-Zuhri enam tahun dan tujuh tahun, dan pendapat Muhammad bin Al-Hakim satu tahun tidak lebih, dan pendapat Dawud sembilan bulan.” (Baca: Adhwa’ul Bayan 2/227, Darul Fikr, Libanon, 1415 H)

Rasanya ibu mengandung selama sembilan bulan saja sudah begitu payah, apalagi jika bayi di dalam kandungan selama tujuh tahun. Bagaimana kuatnya gerakan janin di dalam kandungan yang dapat menyebabkan ibu kesakitan yang luar biasa. Manahan rasa sakit dan kepayahan mengandung selama sembilan saja merupakan waktu yang cukup lama, apalagi lebih dari itu.

Masa mengandung selama sembilan bulan mengalami beberapa fase seperti dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam hadisnya,

إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ،

“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dipadukan bentuk ciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari (dalam bentuk mani), lalu menjadi segumpal darah selama itu pula (selama 40 hari), lalu menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, lalu ditetapkan baginya empat hal: rezeki, ajal, perbuatan, serta kesengsaraannya dan kebahagiaannya.” (Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud r.a.)

Hadis itu dapat dibenarkan oleh ilmuan medis karena tidak terlalu berbeda dengan penemuan mereka. Pada kehamilan antara 8–10 pekan (sekitar 56–70 hari) mulai terbentuk pembuluh darah janin. Perkembangan jantung janin dapat diketahui dengan alat-alat modern, seperti alat perekam jantung bayi (elektrokardiografi/EKG untuk bayi) dan ultrasonografi (USG) apakah jantung bayi sudah berdenyut atau belum. Biasanya, denyut jantung bayi dapat diketahui dan dicatat pada pekan ke-12 (lebih kurang 84 hari). Namun, dengan alat sederhana, denyut jantung baru terdengar pada kehamilan 20 pekan (kira-kira 140 hari). Berdasarkan pembuktian, kira-kira pada kehamilan 10 pekan (kira-kira 70 hari) sudah mulai terbentuk sistem jantung dan pembuluh darah. Sejak umur kehamilan 8 pekan (kira-kira 56 hari) mulai terbentuk hidung, telinga, dan jari-jari dengan kepala membungkuk ke dada. Setelah 12 pekan (84 hari) telinga lebih jelas, tetapi mata masih melekat. Leher sudah mulai terbentuk, alat kelamin sudah terbentuk, tetapi belum begitu tampak. Setelah 16 pekan (112 hari, alat kelamin luar mulai terbentuk sehingga dapat dikenali dan kulit janin berwarna merah tipis sekali. Pada umumnya plasenta atau ari-ari sudah terbentuk lengkap pada 16 pekan. Pada kehamilan 24 pekan (168 hari), kelopak mata sudah terpisah. Hal itu ditandai dengan adanya alis dan bulu mata. Mahaluas ilmu Allah SWT dalam segala penciptaan-Nya.

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنسَانِ مِن طِينٍ ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِن سُلَالَةٍ مِّن مَّاءٍ مَّهِينٍ ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ

“(Dia) yang menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian, Dia menjadikan keturunannya (Adam) dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian, Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati. (Namun,) sedikit sekali kamu bersyukur.” QS As-Sajdah: 7-9]

Apa yang disampaikan Rasulullah saw. dan difirmankan oleh Allah SWT tersebut memang benar adanya. Manusia baru membuktikannya pada abad ini. Padahal kebenaran ayat-ayat Allah SWT sudah disampaikan belasan abad lalu.

Proses selanjutnya adalah masa kelahiran. Pada saat melahirkan, ibu berjuang menahan sakit. Tidak jarang si ibu harus meregang nyawa dalam persalinan anaknya. Saya sendiri mempunyai kakak perempuan yang pada kelahiran anaknya yang kedua menjadi syahid karena kehabisan darah saat persalinan. Rasulullah saw. bersabda,

الْقَتِيلُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ شَهِيدٌ وَالْمَطْعُونُ شَهِيدٌ وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

“Orang yang terbunuh di jalan Allah (fi sabilillah) adalah syahid; orang yang mati karena wabah adalah syahid; orang yang mati karena penyakit perut adalah syahid; dan wanita yang mati karena melahirkan adalah syahid.” (HR Ahmad, 2: 522)

Dalam persalinan yang normal ibu merasakan sendiri bagaimana sakitnya melahirkan itu. Namun, dalam persalinan dengan operasi sesar si ibu tidak merasakan apa-apa. Apakah itu sebabnya si ibu tidak begitu “menikmati” sakitnya melahirkan itu dan karena itu pula berkurang rasa syukurnya. Berbeda dengan si ibu yang merasakan sakitnya melahirkan, begitu dia mendengar bayinya menagis pertanda bayinya lahir dengan selamat, rasa sakitnya hilang seketika dan berganti dengan kegembiraan luar biasa.

Fase berikutnya adalah masa bayi menyusu kepada ibunya. Pada masa itu ibu dengan ikhlas menyusui bayinya siang dan malam. Pada malam hari ibu lebih sering bangun sehingga tidurnya pun berkurang. Belum lagi bayi mengompol di tengah malam yang celananya harus diganti. Belum selesai membersihkan ompolnya dan menganti pakaian bayi, bayi pun menangis karena harus menyusu. Bayangkan kalau bayi itu kembar, sebagaimana yang dialami oleh istri saya. Betapa beratnya perjuangan ibu untuk menjaga dan mengasuh bayinya. Ada dua kali keletihan yang dirasakan oleh ibu, tetapi si ibu bahagianya menimang-nimang bayinya. Bukanlah si ibu senyum sendiri dilihat orang, tetapi dia senyum kepada bayinya. Sebentar-sebentar si ibu mencolek dagu dan hidungnya sambil berkata “anak cantik/anak cakap.” Kecapaian berganti dengan kebahagiaan begitu si ibu sudah mengendong dan memeluk bayinya.

Masa pengasuhan bayi sampai disapih tidak kurang dari 21 bulan jika berdasarkan ayat surah Al-Ahqaf: 15 bahwa masa bayi di dalam kandungan sampai disapih selama tiga puluh bulan. Hal itu berarti masa itu dikurang dengan masa bayi di dalam kandungan sembilan bulan sehingga masa penyapihan dilakukan pada bulan ke-21 (ada juga pada ayat yang lain disebutkan selama dua tahun: baca QS Al-Baqarah: 233).

Masa kanak-kanak adalah masa-masa yang memerlukan perhatian orang tua untuk menanamkan sopan santun dan pendidikan keagamaan. Karena itu, orang tua yang paham terhadap pendidikan agama akan berperan dalam pengembangan kepribadian anak. Anak akan tumbuh menjadi anak yang mulai mengenal Tuhannya dan nilai-nilai kesopanan di dalam keluarga. Sebaliknya, orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan awal kepada anak dengan tidak menanamkan nilai-nilai keagamaan dan kesopanan, tentu anak akan tumbuh dengan sendirinya tanpa arahan dan bimbingan orang tua.

Pada masa pendidikan anak, orang tua dengan segala kemampuan yang mereka miliki menyekolahkan anak-anaknya dari TK sampai perguruan tinggi. Jika tidak ada biaya untuk memasukkan anaknya ke sekolah, apa pun dijadikan uang. Kalaupun perlu, barang simpanan dijual atau digadaikan. Sadarkah anak-anak bagaimana sulitnya orang tua kita membiayai sekolah kita? Malah ada orang tua yang mampu menyekolahkan anak ke luar negeri. Berapa biayanya? Bagi orang tua biaya yang dikeluarkan itu tidak disesali dan dihitung-hitung untuk diberitahukan kepada anak-anak. Mereka sebetulnya tidak tahu dan tidak pula diberi tahu. Tidak ada orang tua mencatat semua pengeluaran itu, lalu disapaikan kepada anak-anaknya agar disimpan dan nanti harus dikembalikan oleh anak-anak mereka pada saat sudah bekerja. Tidak ada orang tua yang berbuat demikian.

Coba renungkan pada saat orang tua sudah tua dan keuangannya sudah menipis, lalu minta bantuan kepada anak-anaknya. Bukannya membantu orang tua, tetapi justru omelan dan bentakan yang ada. Seberapa besarkah uang yang diminta orang kita jika dibandingkan dengan biaya yang sudah mereka keluarkan untuk kita? Pantaskah kita membiarkan mereka bersedih karena kita tidak mengabulkan keinginannya?

Berterima kasih kepada orang tua wajib dilakukan oleh anak kepada orang tua. Anak-anak dari kecil sudah dididik untuk berterima kasih kepada ayahbundanya. Pendidikan semasa kecil akan berkesan pada anak untuk mengahargai orang tuanya. Sebaliknya, pada masa kecil anak tidak dibiasakan mengucapkan terima kasih atas setiap yang diberikan kepadanya dan tidak menghargai setiap yang dibagikan, anak akan tumbuh menjadi anak yang cuek, anak yang menganggap remeh terhadap memberian orang lain, anak yang angkuh. Manakala semasa kecilnya anak tidak menghargai pemberian ayahbundanya, ketika besar dia akan acuh terhadap orang tuanya.

Adakah di antara anak-anak kita, mungkin juga kita, apabila orang tua datang atau berangkat dari rumah bersalaman dan mencium tangan mereka? Atau orang tua datang dia asyik dengan HP-nya? Orang tuanya berangkat atau pulang untuk/dari mencari rezeki anak-anak asyik di kamarnya seolah-olah orang tuanya datang hanya sekadar rutinitas yang tidak perlu dilepas atau disambut dengan hadirnya anak dan menjulurkan tangan untuk bersalam?

Pengalaman saya dengan anak-anak yang memang dari kecil diajar untuk berpamitan ketika berangkat dan menunggu ketika pulang walau pulangnya kemalaman.
Saya membiasakan setiap pulang dari kantor membawa makanan kecil sebagai sarana komunikasi dengan anak-anak. Begitu saya datang, anak kembar sudah menyambut saya. Yang satu mengambil tas dan yang satu lagi menyiapkan teh panas. Pertanyaan pertama mereka adalah “Papa bawa apa?” Hal itu masih tetap berlangsung sampai saat ini mereka punya anak, “Angku bawa apa ya?” Memang anak akan manja dengan bapaknya. Kita berharap mereka menghargai dan hormat kepada kita. Itulah yang diharapkan orang tua.

Setiap anak harus santun kepada orang tuanya. Baik yang masih sekolah, sudah bekerja, bahkan sampai ke usia tua sementara orang tuanya masih ada.
Saudaraku, kita lahir ke dunia ini bukanlah tiba-tiba. Pertemuan ayah dan bunda kita menjadi wasilah kehadiran kita di alam fana ini. Jasa mereka begitu besar kepada kita. Pengorbanan mereka luar biasa untuk kita. Setiap hari kita merepotkan bunda ketika kita masih bayi, kanak-kanak, remaja, dan menginjak dewasa. Ayah pun membanting tulang demi anak-anak dan keluarganya. Pagi Ayah sudah berangkat ke tempat kerjanya sebelum matahari terbit. Kadang-kadang anak masih tertidur. Pulang pun adakalanya malam, bahkan anak-anak sudah tertidur. Mereka mencari rezeki Allah tidak lain untuk kesejahteraan anak kelurganya.

Apa yang telah kita berikan kepada bunda dan ayah kita? Terima kasih apa yang telah kita wujudkan untuk mereka? Sepadankah terima kasih kita dengan pengorbanan mereka kepada kita? Belum, saudaraku. Bahkan, jauh dari kasih sayang yang mereka berikan kepada kita. Belum apa-apa pengorbanan kita jika dibandingkan dengan pengorbanan yang mereka berikan kepada kita?

Saudaraku, terutama yang sudah menjadi orang tua dari anak-anak kita. Selaku orang tua, pernahkah kita menjadi anak dari ayah bunda kita? Pasti, kita adalah anak dari mereka. Terasakah kasih sayang kita kepada anak-anak kita melebihi segala-galanya? Pengorbanan kita demi anak kelurga tidak lagi menghiraukan waktu dan kesehatan. Letih dan beratkah perjuangan yang kita lakukan untuk kepentingan anak-anak kita? Berputarkah otak kita untuk menyiapkan kebutuhan anak di saat kita tidak punya apa-apa? Relakah kita jika anak kita tidak berkesempatan mengikuti pendidikan seperti teman-temannya bersekolah dan kuliah? Sampai hatikah kita membiarkan anak-anak kita yang gizinya kurang, kesehatannya terganggu, dan pakaiannya tidak layak? Pasti kita tidak rela. Apa pun yang halal kita lakukan demi anak-anak yang kita cintai.

Hal yang kita rasakan sama dengan yang dirasakan oleh orang tua kita dulu. Mungkin keadaannya jauh berbeda. Masa-masa sulit secara ekonomi dulu jauh lebih parah daripada sekarang. Berarti orang tua kita lebih menderia daripada kita hari ini. Karena itu, apa yang dapat kita lakukan kepada orang tua kita sebagai bentuk terima kasih kepada mereka? Kita harus bersikap bijak membagi kasih kita antara anak keluarga dan orang tua. Jangan sampai terjadi seperti pepatah, “Kacang lupa di kulitnya”.

Wabil-walidaini ihsana.

‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tangerang, 6 Juli 2020

++++++

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899