Berbakti kepada Orang Tua

Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Apa kabar saudaraku? Semoga kitaa senantiasa dikarunia Allah kesehatan, diberikan kebahagiaan hidup, dan menjadi orang yang berbakti kepada orang tua. Amin!

Allah SWT berfirman,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah, melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah engkau membentak keduanya, ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik, rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” [Al-Isra: 23-24]

Berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban anak terhadap mereka. Penyebutan kewajiban itu selalu digandeng oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an dengan kewajiban untuk menauhidkan Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain. Hal itu menunjukkan betapa pentingnya berbuat baik kepada orang tua kita. Ayat tersebut merupakan salah satu ayat dari ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan seorang hamba untuk berbuat baik (ihsan) kepada ibu bapak.

Mengapa kita harus berbuat baik kepada orang tua kita? Setiap diri kita pasti sudah memiliki jawaban bahwa mereka sudah berjasa kepada kita. Memang tidak ada yang membantah jasa orang tua kepada kita. Hal itu makin terasa jika kita sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Betapa besarnya kasih sayang kita kepada anak? Begitulah yang dirasakan orang tua kita pada saat kita masih kecil, bahkan pada saat masih di dalam kandungan ibu.

Baik ibu maupun bapak sangat menyayangni kita pada masa kecil. Ibu telah berjasa mengandung, merawat, dan mendidik kita sehingga menjadi anak terkasih. Sementara itu, bapak sudah menyiapkan segala kebutuhan kita, baik selama di dalam kandungan ibu sampai menjadi mandiri dalam berkeluarga. Kebaikan mereka tidak akan dapat dinilai dengan materi.

Jika dibandingkan perbuatan baik kita antara ibu dan bapak, tampak Rasulullah memberikan perbandingan 3 : 1 kali. Hal itu dapat dipahami karena kesulitan dan penderitaan yang dialami oleh ibu jauh lebih berat daripada bapak. Ibu mengandung kita di dalam perutnya selama sembilan bulan yang merupakan beban yang sangat berat. Ibu merasakan mual dan muntah-muntah waktu mengidam. Ketika mengandung, ke mana pun pergi ibu merasakan sulitnya membawa beban berat itu dan tendangan janin yang dikandungnya. Ibu tidak pernah menyesal dengan kehamilannya, bahkan dengan senang hati ibu mengusap-usap perutnya dengan penuh senyuman dan berharap cepat menyaksikan bayinya. Kerena itu, Rasulullah menjelaskan di dalam hadisnya tentang perbuatan baik kepada orang tua.

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ
“Seseorang datang kepada Rasulullah saw. dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi saw. menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian, siapa lagi?’ Nabi saw. menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian, siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian, siapa lagi,’ Nabi saw. menjawab, ‘Kemudian, ayahmu.’” (HR Bukhari No. 5971 dan Muslim No. 2548 dari Abu Hurairah)
Perbuatan baik kepada orang tua berdasar hadis itu memang lebih berat kepada ibu. Hal itu dapat dipahami karena ibu memiliki beban alami yang tidak dilakukan oleh bapak. Ibu mengandung janinnya, sedangkan bapak mencukupi kebutuhan ibu dan memberikan kegembiraan kepadanya. Walaupun begitu, tanggung jawab materi oleh bapak terhadap keluarga lebih besar daripada ibu. Allah SWT berfirman tentang keadaan ibu ketika mengandung,
وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ
“Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu! Hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS Luqman: 14)

Berbuat baik kepada orang tua merupakan salah satu dari bentuk ihsan yang menjadi bagian dari tiga kerangka dasar Islam, yakni iman (akidah), Islam (ibadah) dan ihsan (akhlak). Karena itu, ihsan yang dilakukan anak terhadap orang itu merupakan pelaksanaan bagian kerangka dasar agama Islam. Di samping itu, kewajiban itu menjadi bukti peranan orang yang penting dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, Allah SWT mewajibkan berbakti kepada orang tua berurutan dengan pengabdian kita kepada Allah SWT.

Ada beberapa norma ihsan yang disebutkan Allah dalam ayat di awal, yakni memelihara orang tua jika sudah berusia lanjut, tidak boleh berkata _ah_kepada keduanya, tidak boleh membentak keduanya, harus mengucapkan perkataan yang baik kepada keduanya, merendahkan dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan berdoa untuk keduanya.

Memelihara orang tua jika sudah berusia lanjut merupakan kewajiban anak. Usia manusia akan selalu beranjak makin berumur. Dari kecil, ke remaja, dewasa, setengah baya, dan tua. Pada waktu kita masih kecil orang tua kita masih kuat, muda, dan cantik/gagah. Kita pun merasa senang kepada mereka. Kebanggaan kita kepada mereka tidak tanggung-tanggung. Apalagi, semua keinginan kita dipenuhi oleh orang tua. Namun, pada masa tuanya badan mereka sudah lemah, kulit sudah keriput, rambunya sudah beruban, giginya sudah rontok, penglihatannya sudah kabur, pendengarannya sudah berkurang, makannya sudah tidak enak, kecantikannya sudah pudar, ingatannya sudah melemah, bahkan ada yang sudah pikun, seperti yang digambarkan oleh Allah SWT,

وَاللهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفَّاكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْ لَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئًا إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

“Allah menciptakan kalian, kemudian mewafatkan kalian. Di antara kalian ada yang dikembalikan pada umur yang paling lemah (pikun) agar dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (QS Al-Nahl: 70)

Orang tua yang sudah renta atau pikun hanya menikmati sisa-sisa umurnya di dunia. Mereka berada di waktu sore ketika matahari akan terbenam. Tidak banyak lagi yang bisa mereka lakukan. Kalau sudah pikun, mereka kembali seperti anak kecil. Kalaupun keduanya masih ada dan ingatannya masih berfungsi, mereka masih bisa bercanda dan sama-sama mengingat keindahan masa mudanya. Gelak candanya masih terdengar di antara mereka berdua. Bagimana kalau salah satu di antaranya harus berpisah dari dunia fana ini? Kesendirian mereka akan membuatnya lebih banyak bersedih dan mengingat kebahagiaan mereka berdua ketika bersama.

Masa tua ayahbunda mewajibkan kita harus memberi perawatan kepada mereka. Mereka adalah sisa-sisa masa lalunya yang cantik/gagah, dulu disenangi anak-anak karena mereka bergantung kepada keduanya, dihormati keberadaannya, didengar kata-katanya, diminta belas kasihan dan pelindungannya. Dulu mereka memberikan segala-galanya kepada anak-anaknya. Ibu den bapak membesarkan anak-anaknya dengan susah payah. Bapak membanting tulang mencari rezeki untuk anak-anaknya. Dari mulut mereka keluar doa dan harapan agar anak-anaknya menjadi anak-anak saleh dan salehah, dapat berguna, dapat menyenangkan orang tua, menjadi sarjana, bekerja di kantor, bisa punya harta, dan sebagainya. Itulah keinginan orang tua agar anaknya bahagia dan sejahetera.

Pada saat mereka sudah tua, semuanya tinggal kenangan. Betulkah anak-anak mereka menjadi anak-anak saleh dan salehah? Jawabannya ada pada kita. Berhasilkah anak-anak mereka dapat membalas guna (jasa), kita yang dapat menjawabnya. Sudahkah mereka menjadi sarjana? Banyak yang berhasil meraih gelar akademik dan pangkat yang tinggi. Sudahkah anak-anak mereka menmperoleh pekerjaan di kantor? Ada yang sudah dan ada pula berprofesi lain. Sudahkah anak-anaknya memiliki harta yang cukup dan kesehteraan hidupnya? Mereka sudah mempunyai bermacam-macam fasilitas hidup dan kekayaan. Mestinya pada masa tuanya, ayahbunda kita akan menikmati apa yang diharapkannya.

Apakah ada di antara kita yang memiliki orang tua berusia renta? Di mana mereka pada hari tuanya? Apakah mereka masih tinggal di pondok reot yang waktu hujan kebocoran dan lantainya dari tanah? Sementara itu, kita tinggal di rumah gedung yang lengkap dengan penyejuk udara dan fasilitas lainnya? Apakah mereka tinggal berdua atau sendiri di rumahnya sambil bertongkat menghela kakinya yang sudah sulit digerakkan? Sementara itu, kita dengan gagah dan kuat naik turun kendaraan miliki pribadi kita? Apakah mereka memasak beras berkutu atau melukut yang dipisah tetangga dari berasnya dan makan hanya dengan garam seadanya? Sementara itu, kita makan enak dengan beras kelas satu dengan berbagai masakan enak yang menimbulkan selera makan? Apakah mereka buang air di tempat tidurnya dan aroma ruang tidurnya tidak sedap? Sementara itu, kita mandi dan buang air di kamar mandi dengan aroma parfum kelas wahid? Apakah mereka sakit dengan batuk yang bersahut-sahutan di antara mereka berdua atau hanya mereka rasakan sendiri tanpa ada orang yang peduli kepadanya? Sementara itu, kita sehat dan bugar dengan berbagai obat dan vitamin demi menjadi kesehatan kita? Mungkinkah mereka di panti jompo bersama orang yang dianggap tidak berguna lagi oleh anak-anaknya? Sementara itu, kita berkumpul dengan istri/suami dan anak-anak penuh ceria?

Ada di antara kita yang pergi merantau meninggalkan kampung halaman dan orang tua kita. Pernah kita berkomunikasi dengan mereka sehingga mereka mendapat kegembiraan dari berita yang kita sampai kepada mereka? Apakah kita masih menyapa mereka, “Apa kabar Mama, apa kabar Papa? Mama dan Papa sehat? Mama-Papa sudah makan atau belum?” Ataukah kita lupa kepada mereka sementara mereka menunggu-nunggu sapaan manis dari kita? Berapa seringkah kita mengirimkan uang kepada mereka untuk biaya hidup? Ingatkah kita bahwa kita berhasil “menjadi orang” berkat perjuangan dan kerja keras mereka? Apa yang sudah kita berikan kepada mereka sebagai wujud terima kasih kita kepada mama dan papa? Bahagiakah mereka di hari tuanya atau penuh dengan duka?

Bagaimanakah adab anak terhadap orang tuanya? Bolehkah kita berkata ah, moh, cis kepada mereka? Sopankah anak cemberut kepada ayahbundanya, apalagi membentaknya? Ucapan apa yang pantas keluar dari mulut kita? Bagaimana sikap kita berhadapan dengan mereka, apalagi pada usia senjanya?

Kata-kata yang menyakitkan hati orang tua seharusnya tidak muncul dari lisan anaknya. “Kesal”, paling-paling itu alasan anak ketika orang tuanya meminta sesuatu kepadanya. “Habis rewel sih,” ungkapan yang menjadi alasan munculnya kata-kata –ah, moh, cis kepada orang tuanya. Kadang-kadang keluar bentakan manakala orang tua tidak mampu lagi menahan buang air sebelum sampai ke kamar mandi. “Orang tua busuk ini! Buang air sembarangan saja. Bau, tau?” Itu adalah kodratnya, sahabatku.

Pada waktu kita masih di gendongan bunda, tidak hanya sekali, bahkan setiap hari bunda kita kencingi sehingga pakaiannya basah. Ketika di pangkuannya, tidak terhitung jumlahnya kita buang air besar. Pernahkah bunda kita marah dan membentak kita? Pada tengah malam ketika semua orang sudah nyenyak dalam tidurnya, kita menangis karena mengompol dan minta susu, pernahkan bunda kita berpura-pura tidur sehingga tidak menggubris tangisan kita? Ingatkah kita main kuda-kudaan dengan bapak kita hingga kita menungganginya? Pernahkah bunda kita marah ketika kita merengek minta sesuatu? Ingatkah kita ketika akan berangkat sekolah bunda pagi-pagi sudah bangun menyiapkan makanan, bahkan mengantar kita ke sekolah? Adakah ayahbunda kita marah ketika kita minta belikan buku sekolah? Apa pun keinginan kita terhadap orang tua, mereka ikhlas mengabulkannya jika itu tepat menurut mereka.

Mereka sekarang mungkin belum tua atau sebentar lagi akan tua yang akan banyak tingkahnya yang mirip dengan tingkah kita pada waktu kecil dulu. Mereka sering memanggil kita untuk keperluan sesuatu. Mereka ada yang membawa gelas atau piring karena tangannya sudah gemetaran, gelas atau piring itu terjatuh ke lantai. Mungkin saja membasahi karpet atau mengenai baju kita. Bisa jadi dia lupa menaruh sesuatu yang kita memerlukannya. Mungkin saja dia minta makan, padahal dia baru beberapa saat selesai makan. Sabarkah kita terhadap apa yang dilakukan orang tua kita itu? Jengkelkah kita kepada mereka jika dia berulang-ulang memanggil kita? Marahkah kita ketika karpet atau baju kita basah karena tumpahan sesuatu yang terlepas dari tangannya? Sebandingkah ketulusan dan kesabaran kita jika dibandingkan dengan ketulusan dan kesabaran ayahbunda kita pada masa pengasuhannya? Jika ada ketulusan dan kesabaran kita terhadap orang tua lenyap karena “ulah” orang tua kita, pantaskah kita berbuat demikian? Apalagi suara kita meninggi merespons perbuatan mereka yang tidak sengaja. Sampai hatikah kita menghardik mereka di saat mereka membutuhkan kasih sayang kita? Allah mengingatkan kita,

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan.” (QS Al Isra: 24)

Jangan sampai terjadi orang tua kita berurai air mata karena perhatian yang kurang kepadanya, suara kita yang keras terhadap mereka, kasih sayang yang hilang dari diri kita. Di rumahnya nun yang jauh di dusun sana, dia merintih, “Anakku, sudah lama engkau meninggalkan aku. Sejak engkau merantau, kabar tidak ada berita pun tiada. Dulu aku mengais dan memacul tanah berangkat pagi dan pulang sudah sore. Telapak tanganku menebal memegang pacul setiap hari. Aku mencari rezeki untukmu, Nak. Aku ingin engkau bisa sekolah tinggi demi masa depanmu. Aku jual apa yang ada padaku demi engkau, Nak! Sekarang engkau pergi tanpa ingat kepada orang tuamu. Engkau sudah enak dengan anak istrimu sementara aku engkau lupakan? Ya, Rabb, berikan kesadaran kepada anakku agar dia datang kepadaku! Bahagiakanlah dia dengan anak istrinya!”

Di sudut kamar yang lain si ibu bersedih hati. “Anakku, dulu engkau aku timang-timang, aku nyanyikan lagu “Nina Bobok”, bobok anakku sayang! Aku ayun kamu agar kamu cepat tertidur! Aku kecup dahimu tanda sayangku kepadamu. Aku pandang wajahmu saat engkau mulai tertidur. Aku panjatkan doa agar kamu manjadi anak yang beguna. Namun, hari ini engkau jauhkan pehatianmu dariku. Engkau lebihkan sayangmu kepada istri/suamimu. Tapi, aku tidak iri terhadap sayangmu kepadanya. Aku hanya ingin agar engkau tidak membentakku. Di hari tuaku ini aku cuma berharap agar engkau tidak menyia-nyiakan hidupku. Umurku tidak terlalu lama di dunia ini jika dibandingkan dengan masa pengasuhanmu sampai kamu bisa menjadi orang, Nak! Aku tidak akan minta banyak darimu. Aku tidak minta ganti biaya hidupmu sampai kamu bisa mendapatkan uang. Terlalu besar jumlahnya jika kamu hitung-hitung. Itu tidak perlu bagiku. Kamu bahagia dengan anak keluargamu, tapi jangan engkau tinggalkan aku, itu sudah cukup bagiku.”

Rintihan orang tua selalu berujung dengan doa kebahagian untuk anaknya. Hidup mereka tenang dan sejahtera dalam keluarga. Itu sudah membahagiakan orang tua. Namun, kasih sayang anak terhadap mereka selalu mereka nantikan. Jangan sampai orang tua kita tidak rida terhadap perlakuan kita kepada orang tua. Rintihan seorang ibu dalam kesedihan, apalagi kemarahannya, akan dapat menggetarkan Arasy. Jika orang tua sudah tidak rida terhadap anaknya, Allah SWT pun tidak rida kepadanya. Rasululah mengingatkan dalam hadisnya,

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَ سَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
“Rida Allah bergantung pada rida orang tua dan murka Allah bergantung pada murka orang tua.” (HR Bukhari)

Berbuat baik mengandung pengertian bahwa orang tua kita harus dihormati, diberi perhatian kepadanya, dieratkan kasih sayang kita terhadapnya, dijaga hatinya, diberi nafkahnya, dan didoakan agar selalu diberikan rahmat kepada mereka berdua. Mereka sudah berjasa mendidik kita pada waktu kecil, apalagi mereka sudah tiada.

وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’” (QS Al Isra: 24).

Wabillahit-taufiq wal-hidayah.

‎والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tangerang, 5 Juli 2020