Beranda Khazanah Bakti Anak terhadap Orang Tua yang sudah Meninggal

Bakti Anak terhadap Orang Tua yang sudah Meninggal


Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Apa kabar saudaraku? Semoga Allah senantiasa mengaruniai kita kesehatan, kebahagiaan hidup, dan keikhlasan kita untuk berbakti kepada orang tua kita yang sudah meninggal. Amin!

Abu Usaid pernah menceritakan sebuah hadis berikut,

بَيْنَمَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ بَقِيَ عَلَيَّ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ بَعْدَ مَوْتِهِمَا أَبَرُّهُمَا بِهِ؟ قَالَ: ” نَعَمْ خِصَالٌ أَرْبَعَةٌ: الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا، وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا رَحِمَ لَكَ إِلَّا مِنْ قِبَلِهِمَا، فَهُوَ الَّذِي بَقِيَ عَلَيْكَ مِنْ بِرِّهِمَا بَعْدَ مَوْتِهِمَا

“Suatu ketika saya sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw. Tiba-tiba ada seorang laki-laki dari sahabat Anhar datang. Ia bertanya kepada Rasul, ‘Ya Rasul, apakah saya bisa berbuat baik kepada kedua orang tua saya yang sudah meninggal?’ Rasul menjawab, ‘Ya, ada empat hal, yaitu (1) mendoakan mereka, (2) memohonkan ampunan untuk keduanya, (3) menunaikan janji mereka dan memuliakan teman mereka, dan (4) menjalin silaturahim dengan orang-orang yang tidak akan menjadi saudaramu, kecuali melalui perantara ayah-ibumu. Itulah kebaikan yang harus kamu lakukan setelah mereka meninggal.” (HR Ahmad No. 16059)

Di dalam hadis yang yang lain dari Aisyah, ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw.,

إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ تَصَدَّقْ عَنْهَا

“Sesungguhnya ibuku wafat secara mendadak. Aku kira dia punya wasiat untuk sedekah, lalu apakah ada pahala baginya jika aku bersedekah untuknya? Beliau menjawab, ‘Ya’. Sedekahlah untuknya.” (HR Bukhari No. 2609, 1322, Muslim No. 1004, Malik No. 1451)

Di antara kita mungkin sudah berbakti kepada orang tua yang masih hidup. Bakti kita itu dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari tutur kata kita yang santun kepada mereka, rasa hormat kita kepada mereka, sering berkomunikasi dengan mereka jika mereka jauh dari tempat tinggal kita, sering mengunjungi mereka, menghibur mereka dengan memberikan hadiah yang mereka sukai, mencukupkan kepderluan hidup mereka, dan merawat mereka pada usia tuanya. Bahkan, rasanya kita sudah berbuat maksimal untuk membahagiakan mereka selama hidupnya.
Walaupun begitu, ada pula di antara kita yang belum maksimal berbakti kepada mereka. Karena sibuk, kita jarang berkomunikasi dengan mereka, kadang-kadang orang tua kita mengharapkan kedatangan kita, tetapi kita tidak dapat mengabulkannya, keperluan mereka kadang-kadang terabaikan, permintaan mereka ada yang belum kita penuhi, dan ada berbagai hal yang belum kita lakukan sebagai bentuk bakti kita kepada mereka.

Sekarang mereka sudah tiada. Mereka sudah bersemayam di pusaranya. Bisa jadi sudah sekian lama, bahkan sudah berpuluh tahun mereka berpisah dengan kita. Masihkah kita berbuat sesuatu untuk mereka sebagai aliran pahala bagi mereka agar dapat menjadi penyejuk di alam barzakh (kubur)? Mungkinkah kita sudah tidak pernah lagi mengingatnya karena sudah dipisah oleh alam yang berbeda? Apakah kita sudah lupa dengan orang tua kita karena memang sudah tidak lagi berjumpa dengannya? Bisa jadi kita juga sudah melupakan mereka di alam sana sehingga kita hanya berpikir untuk hari ini dan mungkin mempersiapkan diri kita untuk mengikuti mereka?

Bakti kepada orang tua tidak berakhir begitu mereka kembali ke alam baka. Masih ada bentuk bakti kita kepada ayahbunda yang sudah meninggalkan kita di dunia ini. Bakti kita masih mereka tunggu setiap saat dengan penuh harap walaupun jasadnya sudah menyatu dengan tanah.

Sebagai orang beriman, kita yakin bahwa roh orang tua kita masih menunggu kiriman dan transfer pahala dari kita kepada mereka. Kehidupan mereka di alam barzakh bergantung juga dari pasokan amal untuk mereka. Ada orang yang berpendapat bahwa kalau anak Adam meninggal, putus segala amalnya. Memang ada dalilnya. Dalil yang digunakan adalah hadis Rasulullah,

َدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَووَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ إذَا مَاتَ الإنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ

“Jika anak Adam meninggal, amalnya terputus, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim)

Hadis itu berlaku pada orang yang sudah meninggal dan memang tidak akan mungkin lagi beramal karena sudah meninggal. Namun, tiga hal yang dapat menyelamatnya, yaitu sedekah jariah dan ilmu yang bermanfaat yang dia lakukan selama hidupnya. Selain itu, anak saleh yang mendoakannya setelah dia meninggal.

Bakti kita kepada orang tua masih berlanjut walapun mereka sudah tiada. Berdasarkan hadis Rasulullah saw. yang telah dikemukakan, bakti anak kepada orang tuanya yang sudah meninggal meliputi hal-hal berikut.

Pertama, mendoakan orang tua.

Doa anak untuk orang tuanya jangan sampai terlupakan. Doa itu merupakan penawar mereka di dalam kuburnya. Mereka pada dasarnya sedang menantikan doa anak-anaknya yang dapat meringankan kesulitanya, apalagi deritanya di alam barzakh.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis, “Mayat dalam kuburnya seperti orang tenggelam yang sedang meminta pertolongan. Dia menanti-nanti doa ayah, ibu, anak, dan kawan yang tepercaya. Apabila doa itu sampai kepadanya, itu lebih ia sukai daripada dunia berikut segala isinya. Sesungguhnya Allah menyampaikan doa penghuni dunia untuk ahli kubur sebesar gunung. Adapun hadiah orang-orang yang hidup kepada orang-orang mati ialah memohon istigfar kepada Allah untuk mereka dan bersedekah atas nama mereka.” (HR Ad-Dailami)

Artinya, doa siapa pun sangat diharapkan oleh mayat, apalagi dari anak-anaknya. Yang jelas doa orang tua, anak, dan teman-teman akan berguna bagi mayat di kubur. Oleh karena itu, anak yang saleh akan dapat meringan mayat orang tuanya di kubur.

Kedua, memohonkan ampunan untuk keduanya

Permohonan ampunan (istigfar) yang dilakukan anak akan meringan orang tuanya yang sudah meninggal. Seperti pada hadis Rasulullah saw. riwayat Dailami di atas, istigfar itu merupakan hadiah orang yang hidup kepada orang-orang yang meninggal.

Anak yang saleh akan selalu melakukan doa istigfar untuk ayahbundanya. Jangan diangap bakti anak sudah selesai, tetapi masih terus sihingga dalam setiap berdoa, jangan lupa kita menyisipkan doa istigfar untuk mereka berdua. Sehabis salat, apalagi pada malam hari sesudah selesai salat Tahjud, doa yang diucapkan lazimnya adalah

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْلِىْ ذُنُوْبِىْ وَلِوَالِدَىَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِىْ صَغِيْرًا.

(Allāhummagfirlī żunūbī waliwālidayya warhamhumā kamā rabbayānī shagira)

“Wahai Tuhanku, ampunilah dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku (ibu dan bapakku) dan sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil.”

Ketiga, melunasi semua hutang keduanya.

Wujud bakti yang lain dari anak kepada orang tua yang sudah meninggal adalah melunasi semua utang mereka. Pada saat orang tua masih hidup bisa jadi mereka tidak memberitahukan utang kepada anaknya. Namun, setelah mereka meninggal, anak berkewajiban melunasi utang mereka. Itulah bentuk bakti anak kepada mereka. Membayar urtang menjadi tanggung jawab anak karena utang harus dibayar. Jika anak membiarkan utang mereka tidak dibayar, orang tua akan menanggung beban berat yang dalam perhitungan (hisab) di Padang Mahsyar akan menyebabkan orang tua akan ditagih. Rasulullah saw. yang berbunyi, “Rasulullah saw. bersabda, Roh seorang yang beriman tergantung dengan utangnya sampai dilunasi utangnya”. (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah)

Jika kita ingin roh orang tua kita yang sudah meninggal tenang dan berada di tempat yang seharusnya, anak harus melunasi utang-utang orang tuanya. Amat disayangkan sekali jika orang tuanya banyak utang, baik utang yang resmi maupun utang kepada negara akibat korupsi, rohnya tidak akan tenang dan posisinya pun tidak jelas. Jika anak tidak mampu membayarnya, kita serahkan kepada Allah SWT. Kewajibannya anak hanya medoakan rohnya agar diterima dan dimintakan ampunan kepada Allah SWT. Syukur jika pihak yang mengutanginya dapat mengikhlaskan utang orang tuanya.

Keempat, membayarkan nazar, kafarat, wasiat, dan janji yang belum terpenuhi.

Nazar orang tua adalah janjinya jika hajat atau niatnya dalam suatu hal telah terwujud. Misalnya, jika bisnisnya berhasil, dia akan bersedekah di sepuluh masjid. Ternyata nazarnya terkabul sehinga bisnisnya mulus dengan keuntungan yang besar. Namun, orang tua meninggal sebelum nazarnmya ditunaikannya.

Begitu pula kafarat yang merupakan kewajiban karena ada pelanggaran terhadap sesuatu yang dilarang. Kafarat dapat dipadankan sebagai denda pelanggaran atau penebus kesalahan. Misalnya, orang yang berpuasa pada bulan Ramadan melakukan hubungan badan dengan istrinya. Dia harus membayar kafarat memerdekakan budak, berpuasa berturut-turut, atau memberi makan enam puluh orang miskin. Ternyata sebelum dibayarkan kafarat, orang tuanya meninggal. Karena itu, anak berkewajiban untuk membayar kafarat orang tuannya, yakni memberi makan enam puluh orang miskin.

Wasiat diberikan orang tua sebelum meninggal dan dilaksanakan setelah orang tua meninggal. Wasiat wajib ditunaikan dengan mengeluarkan harta warisan yang tidak lebih dari epertiganya sebelum dibagi atau ada yang belum diketahui setelah harta dibagi. Lalu, anak melaksananakan wasiat itu.

Demikian pula janji yang belum terlaksana, misalnya, melaksanakan haji atau janji untuk mebantu penyelesaiaan pembangunan masjid. Janji adalah utang yang harus dipenuhi. Karena itu, anak berkewajiban menunaikannya dengan secepatnya sebagai bentuk bakti anak terhadap orang tuanya.

Untuk itu, ada baiknya diperhatikan hadis Rasulullah saw.,
Seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi saw. dan bertanya, “Sesungguhnya ibuku bernazar untuk haji, tetapi belum terlaksana sampai ia meninggal. Apakah saya melakukan haji untuknya?” Rasul menjawab, “Ya, bagaimana pendapatmu kalau ibumu mempunyai utang? Apakah kamu membayarnya? Bayarlah utang Allah karena utang Allah lebih berhak untuk dibayar.” (HR Bukhari dari Ibnu Abbas)

Intinya, kafarat (denda), nazar, wasiat, dan janji harus dibayarkan karena hal itu merupakan bentuk bakti anak kepada orang tua yang sudah meninggal.

Kelima, menjaga silaturahmi serta menghormati keluarga dan teman-teman orang tua yang sudah meninggal.

Hubungan kekeluargaan sepeninggal orang tua harus dilanjutkan oleh anak. Jangan sampai hubungan kekeluargaan berakhir setelah orang meninggal. Keluarga bapak atau ibu adalah keluarga besar kita. Dari pihak bapak atau ibu, seperti paman, bibi, dan sepupu tetap menjadi keluarga kita. Menjalin silaturahmi dengan keluarga besar itu menjadi kewajiban setiap muslim, apalagi dengan keluarga bapak atau ibu.
Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Bentuk kebaktian kepada orang tua yang paling tinggi adalah menyambung hubungan dengan orang yang dicintai bapaknya setelah ayahnya meninggal.” (HR Muslim No. 2552)

Silaturahmi penting juga dipererat dengan teman-teman sejawat bapak dan keluarganya. Hubungan yang sudah dijalin oleh bapak kita tetap dilanjutkan karena akan memperbanyak saudara kita. Makin banyak saudara yang telah dirintis oleh orang tua kita makin menambah keberkahan hidup kita. Rasulullah memerintahkan kita untuk melanjutkan silaturahmi dengan teman-teman- dan keluarga bapak kita, “Sesungguhnya kebajikan yg utama ialah apabila seseorang melanjutkan hubungan (silaturahim) dengan keluarga sahabat baik ayahnya.” [HR. Muslim No. 4630]

Keenam, bersedekah untuk orang tua.

Bersedekah merupakan salah satu amal saleh sebagai wujud bakti anak kepada orang tuanya yang sudah meninggal. Sedekah itu dapat dilakukan kapan saja dan tidak harus menunggu 7 hari, 40 hari, 100 hari, atau 1000 hari. Jika kita bersedekah harus menungggu waktu-waktu itu, tentu akan menghalangi sedekah kita jika kita lakukan pada setiap waktu. Jika kita merutinkan sedekah setiap hari, ikutkan sedekah untuk orang tua kita apakah seribu atau dua ribu rupiah. Nilainya bergantung pada kemampuan kita. Namun, jika sedekah itu kita lakukan setiap hari sebanyak dua ribu rupiah, misalnya, itu lebih bernilai daripada kita bersedekah seratus ribu dalam waktu seminggu atau dua minggu. Beramal itu dinilai keutamaannya apabila kita melakukannya secara rutin (tetap) walaupun sedikit.

Rasululah bersabda tentang sedekah sebagai bakti anak terhadap orang tunya yang seduah meninggal, “Sesungguhnya Ibu dari Saad bin Ubadah r.a. meninggal dunia, sedangkan Sa’ad pada saat itu tidak berada di sampingnya. Kemudian, Saad mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu tidak berasa di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?” Nabi saw. menjawab, ‘Ya, bermanfaat.” Kemudian, Saad mengatakan kepada beliau, “Kalau begitu, aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknya”. (HR Bukhari)

Bersedekah untuk orang tua pasti akan mendatangkan manfaat begi mereka di alam kubur. Sedekah yang diberikan akan menambah kesejukan bagi mereka dalam proses penantian hari perhitungan di akhirat nanti.

Wallahu a’lam bis-sawab

‎والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tangerang, 10 Juli 2020