Beranda Artikel Teologi Al-Ashr : Spirit Muhammadiyah Menuju Islam Berkemajuan

Teologi Al-Ashr : Spirit Muhammadiyah Menuju Islam Berkemajuan

Oleh: Muhammad SalehKader PK IMM Hajjah Nuriyah Shabran Cabang SukoharjoMahasiswa Universitas Muhammadiyah SurakartaPimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Sumbawa

Muhammadiyah dan KH. Ahmad Dahlan adalah sosok mata uang yang tak terpisahkan.keduanya saling melengkapi yang terus bergerak dalam ruang waktu yang sama. Maka apabila kita melihat dari sekian buku yang diterbitkan oleh orang orang Muhammadiyah tentang KH.Ahmad Dahlan tidak pernah lepas dari kita membahas Muhammadiyah,atau dengan kata lain belum ada sampai saat ini ada satu buku atau karya orang Muhammmadiyah yang menceritakan secara utuh mengenai pemikiran KH.Ahmad Dahlan. Apabila ada yang menceritakan gambaran tentang sosok kiayi yang intelektual dan spritualnya tidak diragukan lagi ( KH.Ahmad Dahlan ), itu hanyalah interpretasi dari para murid dan orang orang yang pernah menjalin hubungan dekat dengan beliau. Hanya sedikit dari tulisan beliau yang kita ketahui bahkan dihitung memakai jari,karena sosok KH.Ahmad Dahlan yang seringkali disebut sebagai Man Of Action atau lebih berpikir untuk aksi daripada menulis. Hal ini tentu senada dengan gagasan Muhammad Iqbal,bahwa KH.Ahmad Dahlan lebih menganggap islam sebagai gerakan amal daripada islam sebagai islam gagasan.

Muhammadiyah sebagai gerakan islam modernis lahir dari sosok kiai modernis dan reformis,yang bernama kecil Muhammad Darwis,kiai pembawa teologi islam berkemajuan dan bersifat pembaharuan. Gerakan islam yang berawal dari daerah lokal kampung kauman Yogyakarta merupakan organisasi islam pertama yang berdiri jauh dari sebelum pra kemerdekaan,yaitu pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330/18 November 1912 M. Misi dari organisasi yang dibangun oleh KH.Ahmad Dahlan ini ialah mendobrak tradisi dan pola piker yang sempit dan jumud. Ia ingin islam yang murni tetapi juga islam yang elegan dan maju. Baginya islam adalah jalan peningkatan kualitas hidup berkemajuan. Muhammadiyah sebagai gerakan islam modern,saat ini dihadapkan modernitas baru ( modernitas baru ). Sosiolog Jerman, Ulrich Beck dalam bukunya Risk Society: Towards a New Modernity, menyatakan bahwa manusia modern memasuki babak baru dalam modernitas lanjut (Late Modernity). Formasi sosial terbentuk mengalami tranformasi menuju formasi sosial masyarakat risiko. Kesadaran risiko kemudian mewarnai seluruh aspek interaksi sosial termasuk interaksi politik,ekonomi, budaya dan agama.

Peradaban

Hakikat dari peradaban adalah manusia itu sendiri. Menurut Samuel P Hutington,sejarah manusia adalah sejarah peradaban itu sendiri. Tak mungkin berbicara tentang sejarah perkembangan kemanusiaan yang membentang di seluruh peradaban, dari sumeria Kuno dan Mesir hingga peradaban Klasik, dari Meso-Amerika hingga peradaban Kristen, dalam peradaban-peradaban islam dan pengejewantahan-pengewantahan suksesif peradaban Cina dan Hindu sampai melalui terma-terma yang lain. Terdapat hakikat,identitas, dan dinamika masing-masing dalam melihat peradaban. Pertama, pemikiran peradaban ala pemikir Prancis abad XVIII, yang memiliki logika terbalik dengan konsep “barbasisme”. Masyarakat yang berperadaban berbeda dengan masyarakat primitif. Masyarakat hidup menetap dan terpelajar. “ Berperadaban adalah baik, tidak berperadaban adalah buruk “. Konsep peradaban adalah menjadi “tolak ukur” sebagai acuan dalam memberikan penilaian terhadap pelbagai dinamika kehidupan masyarakat pada saat itu. Kedua, Menurut Ibnu Khaldun dalam Menggambarkan konsep peradaban beliau menggunakan kata “umran”.

Pengagum Ibn Khaldun dan penerjemah al-muqaddimah li kitab-‘ibrar ke dalam bahasa inggris,Frans Rosenthal menerjemahkan ‘umran sebagai urbanization dan civilization. Oleh sebab itu, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kata dan konsep peradaban lahir di eropa pada abad ke 19 Masehi. Konsep khas Ibn Khaldun adalah bahwa kekuatan suatu kerajaan tergantung pada semangat ‘ashabiyyah di kalangan para pemimpin dan rakyat. Sifat ashabiyyah ini adalah sifat alami untuk semua makhluk bermasyarakat. Agama merupakan salah satu faktor yang akan menentukan keberhasilan dan kesinambungan sesuatu pemerintah dan juga umat. Ziauddin Sardar juga mempertegas “konsep ‘umran”-nya Ibn Khaldun yang termanifestasikan dalam visi “Negara Madinah”.

Menurut Sardar,pertama, Negara Madinah dibangun atas nilai nilai jelas yang membentuk sistem nilai islam yang abadi.kedua,terdapat dinamika yang sangat kuat yang memberikan garis pedoman dan prinsip-prinsip untuk semua aktivitas manusia dan kerangka teoritis dan parameter peradaban islam. Al-qur’an dan Sunnah merupakan kerangka pedoman mutlak dari peradaban Muslim. Ditegaskan oleh Sardar, bahwa ‘umran adalah konsep peradaban yang digunakan oleh Ibn Khaldun untuk menggambarkan suatu peradaban yang dinamis dan berkemajuan,selalu berkembang dan operasional. Sardar menyatakan “ Kesempurnaan spiritual, tanpa dibarengi dengan pelaksanaan norma-norma islam dalam bidang sosial-budaya-, sosial-ekonomi dan sosial-politik, hanya akan melahirkan suatu peradaban yang pincang, seperti karya seni yang tidak selesai”.

Empat Pilar Membangun Peradaban Islam

Inspirasi Al-Ashr

Selama ini, teologi Al-Ma’un lebih dikenal di dalam Muhammadiyah ,tetapi sedikit yang mengetahui bahwasannya teologi Al-Ashr juga sangat diamalkan oleh sosok pribadi KH.Ahmad Dahlan. Padahal banyak kisah dan etos utama dalam proses desiminasi spirit Al-Ashr yang dilakukan kiai Dahlan. Sebut saja misalnya “ pengajian Wal –Ashri “ dan sekolah kader Wal- Ashri. Sehingga tidak salah bahwa julukan Kiai Wal-Ashri memang cocok disematkan kepadanya. Melalui tulisan ini ,penulis ingin meneguhkan Al-Ashr sebagai pilar dasar peradaban Muhammadiyah. Bahwa bukan hanya teologi Al-Ma’un yang kiai Dahlan wariskan kepada Muhammadiyah. Kalau dilihat dari lamanya kiai Dahlan dalam mengajarkan surah Al-Ma’un dan surah Al-Ashr,kiai Dahlan lebih lama mengajarkan surah Al-Ashr yang mana beliau mengajarkan selama tujuh sampai delapan bulan dibandingkan dengan surah Al-Ma’un yang diajarkan tiga bulan saja. Ini menunjukkan betapa surah Al-Ashr menunjukkan banyak memliki nilai keberagaman dalam proses pembangunan peradaban dan kualitas hidup masyarakat.

Pelajaran Al-Ashr Kia Dahlan menjadi ideologi peradaban bagi Muhammadiyah. Etos Surah Al-Ashr dapat ditautkan dengan konsep peradaban islam. Di dalam kandungan surah ini terdapat sumpah islam berkemajuan. Al-Ashr bermakna modern yang mengandung semangat berkemajuan dan berpikiran yang serba melampaui zaman. Gerakan islam Muhammadiyah dinyatakan sebagai gerakan modern karena wataknya yang modern (Ashr),yakni bersifat kekinian atau dengan kata lain sesuai dengan perkembangan zaman. Karena itu dalam konteks peradaban makna wal al-‘ashr inna al-insana lafi Khusr ialah demi masa depan kehidupan,sesungguhnya peradaban umat manusia dalam aneka ragam kehancuran. Hal ini dapat dilihat dari pikiran Kiai Dahlan yang sebenarnya sangat takut dan antisipastif terhadap resiko-resiko kehidupan. Ia pernah menuliskan peringatan untuk dirinya sendiri,” Hai Dahlan! Sungguh bahaya yang menyusahkan itu terlalu besar demikian pula perkara-perkara yang mengejutkan di depanmu, dan pasti kau akan menemui kenyataan demikian itu, mungkin akan selamat tetapi engkau juga mungkin tewas menemui bahaya.”

Surah Al-Ashr memiliki kandungan sangat padat, mencakup kehidupan sejarah peradaban umat manusia. Transformasi teologi Al-Ashr dapat membawa manusia kea rah kehidupan akhirat yang baik dan kehidupan dunia yang berkemajuan dan berperadaban tinggi. Hal ini senada dengan pernyataan Imam Syafi’I yang menyatakan bahwa andai kata Allah tidak menurunkan ayat atau surah dari Al-qur’an, maka cukuplah dengan Wa al-ashr. Betapa surah ini meliputi peradaban dan gerak langkah manusia. Samuel P.Hutington mengatakan,hakikat dari peradaban adalah sejarah manusia,dan sejarah manusia adalah sejarah peradaban itu sendiri. Dalam Surah Al-Ashr,ayat ayatnya menggunakan bentuk jamak dalam meningkatkan kualitas hidup individu maupun masyarakat,yaitu kata kata al insan,amanu,amilu, dan tawashu, maka kualitas hidup lebih bersifat kolektif ( Al-Muj’tama’).

Kehidupan kolektif biasanya disebut dengan ummah. Dalam Muhammadiyah populer istilah Khairu Ummah (umat terbaik atau masyarakat utama). Masyarakat utama dalam bentuk dalam bentuk kebudayaan atau peradaban yang maju, dan kemajuan perpekstif teologi Al-Ashr ini berlawanan dengan konsep khusr (kerugian,kehancuran,primitif,tertinggal, dan berkemunduran).

Untuk menghindari diri dari kehancuran,ketertinggalan dan untuk mencapai linkungan peradaban yang maju,maka teologi Al-Ashr memberikan empat pilar untuk merajut peradaban. 1). Paradigma Tauhid, 2). Penguasaan dan Pengembangan Iptek,3). Amal usaha: Kerja Kerja Peradaban, 4). Penguatan MEA (Moral,Etika,Akhlak). Dengan semangat teologi Al-Ashr akan membawa Muhammadiyah menuju masyarakat islam yang Berkemajuan sesuai tujuan Muhammadiyah itu sendiri, dan tak bisa dipungkiri halangan atau hambatan Muhammadiyah di abad kedua ini tentu akan lebih sulit dari yang sebelumnya.sehingga semangat teologi Al-Ma’un dan Al-Ashr harus betul betul dijalankan oleh segenap warga Muhammadiyah. Wallahu A’lam Bissawab