Selagi Hidup Ingat Mati

Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

Assalamualikum wr. wb.

Apa kabar saudaraku? Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan kesehatan kepada kita, meridai semua amal ibadah kita, dan memberikan pelindungan kepada kita dalam menjalani kehidupan di dunia untuk persiapan di akhirat kelak. Amin!

Allah SWT berfirman,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Allahlah yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Al-Mulk: 2)
Hidup di dunia tidak selamanya, tetapi ada batasnya. Kadarnya pun telah ditentukan oleh Allah SWT. Yang abadi hanya Allah SWT sebagai Pencipta alam semesta. Walaupun begitu, manusia menginginkan agar bisa hidup lebih lama. Pertanyaannya adalah apa yang akan dilakukan manusia di dunia?
Ada beberapa pendapat yang yang muncul tentang kehidupan di dunia dan akhirat. Ada yang mengatakan bahwa manusia ada di dunia ini karena proses alam dan terjadi begitu saja tanpa maksud dan tujuan tertentu. Ada yang mengatakan bahwa manusia hidup di dunia sekadar hidup saja dan setelah mati selesai semua masalah sehingga manusia tidak akan pernah hidup lagi di akhirat kelak. Ada pula yang mengatakan bahwa dunia ini sebagai proses reinkarnasi menuju kehidupan yang lebih baik. Ada juga yang mengatakan hidup di dunia untuk sementara dalam perjalanan menuju kehidupan yang abadi di akhirat kelak. Banyak lagi pendapat yang merupakan dugaan yang dikemukakan manusia.
Kelompok pertama adalah orang yang meyakini bahwa kehidupan di dunia ini sebagai proses alam sebagaimana terjadi pada makhluk yang lain: tumbuh, besar, tua, dan mati (berakhir). Lihatlah pohon dan binatang tumbuh/lahir, tumbuh disirami hujan atau makan makanan, besar, dan tua sebagai suatu kehidupan, akhirnya mati sebagai akhir kehidupan. Selanjutnya, makhluk itu menjadi tanah sebagai sesuatu yang alami dan berakhirnya itu menunjukkan perjalanan kehidupan selesai. Mereka tidak percaya hari akhir sebagai hari pembalasan di dunia. Pandangan itu dianut oleh kalangan ateis dan komunis karena Tuhan itu tidak ada dan hari akhir itu yang hanya khayalan belaka. Akibatnya, kehidupan yang mereka cari adalah materi yang, menurut mereka, dapat memberikan kebahagiaan di dunia. Allah menyebutkan sikap manusia yang seperti itu
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ ۚ وَمَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ
“Mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja. Kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa.” Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS Al-Jatsiah: 24).
Mereka yang mengatakan manusia hidup di dunia sekadar hidup saja dan setelah mati habis sudah semua masalah dan manusia tidak akan pernah hidup lagi di akhirat kelak. Karena tidak yakin akan kehidupan sesudah mati, mereka hidup hanya untuk kebutuhan perut (materi) dan pemuasan syahwat mereka. Mereka tidak memiliki aturan ilahiah yang akan meuntun kehidupan yang sempurna. Mereka itulah yang menjadi penghuni neraka.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS Al-A’raf: 179)
Mereka yang mengatakan bahwa kehidupan dunia ini hanya sebagai proses reinkarnasi untuk menuju kehidupan yang lebih baik (nirwana). Sumber dasar filsafat Barat adalah budaya Yunani dan Romawi. Pada kedua budaya tersebut, reinkarnasi diterima sebagai kepercayaan. Di antara filsuf Yunani kuno, Plato yang hidup pada abad ke 5–4 SM, percaya bahwa jiwa tidak pernah mati, dan mengalami reinkarnasi berkali-kali. Reinkarnasi itu pasti berakhir. Menurut agama Hindu, reinkarnasi berakhir apabila manusia mengalami moksa. Menurut agama Buddha kelahiran kembali tak akan terjadi lagi apabila roda samsara telah berhenti. Sang jiwa selanjutnya ke alam nirwana.
Mereka yang mengatakan hidup dunia untuk sementara dalam perjalanan menuju kehidupan yang abadi di akhirat kelak. Itulah keyakinan orang yang beriman. Mereka meyakini bahwa kehidupan di dunia ini akan berakhir engan kematian dan kehidupan yang abadi adalah akhirat. Karena itu, mereka mengisi kehidupan yang sementara itu dengan yang lebih baik. Mereka berusaha keras untuk mepersiapan kehidupan abadi itu.
Rasulullah menggambarkan bahwa kehidupan di dunia hanya tidak lama bagaikan orang yang berteduh di bawah pohon atau orang asing. Begitu beristirahat dia akan melanjutkan perjalanan lagi dan orang asing pasti akan kembali ke kapungnya. Itulah kampung akhirat.
Rasulullah bersabda, “Aku dan dunia ibarat orang dalam perjalanan menunggang kendaraan, lalu berteduh di bawah pohon untuk beristirahat dan setelah itu meninggalkannya. (HR. Ibnu Majah)
Dalan hadis yang lain, Rasulullah saw. bersabda,
كن في الدنيا كأنك غريب، أو عابر سبيل

“Jadilah kamu hidup di dunia seperti orang asing atau pengembara,” (HR Bukhari)
Orang yang beriman menginginkan kehidupan yang sejahtera di dunia dan bahagia di akhirat seberti doa mereka,
وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. )ٍَ ِ QS Al-Baqarah: 201)

Walaupun begitu, dalam kenyataannya orang muslim dapat juga dikelompokkan kepada mereka yang yakin akan kehidupan akhirat, tetapi mereka terlena sehingga kecintaan terhadap dunia berlebihan. Ada pula mereka yang yakin kehidupan di akhirat, tetapi mereka lalai dalam melaksanakan kewajibannya. Bukan hanya itu, ada juga melanggar perintah Allah SWT dan mengerjakan larangan-Nya. Yang terakhir mereka yang dapat menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat.
Kelompok pertama adalah mereka yang kecintaan terhadap dunia sangat menonjol (hubbudduniya). Itulah mereka yang hanya identitas sebagai muslim, tetapi pada hakikatnya jauh dari Allah dan Rasul-Nya. Mereka lebih mencintai kesenangan dunia daripada mencintai Allah dan Rasul-Nya.
قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ

“Katakanlah, ‘Jjika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS At Taubah: 24)
Orang yang lebih mencintai kesenangan dunia daripada Allah SWT, Rasul-Nya, dan berjuang di jalan Allah SWT digolongkan ke dalam orang-orang fasik. Jika demikian, hidayah Allah makin jauh dari mereka. Kuputusan yang akan Allah SWT jatuhkan itu akan berakibat pada kehidupan di dunia, apalagi di akhirat menjadi orang yang merugi. Tempat tinggal mereka adalah neraka.
وَأَمَّا الَّذِينَ فَسَقُوا فَمَأْوَاهُمُ النَّارُ كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا وَقِيلَ لَهُمْ ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ

“Adapun orang-orang yang fasik tempat mereka adalah Jahanam. Setiap kali hendak keluar darinya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka, ‘Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya.’” (QS As-Sajadah: 20)

Orang yang bermaksiat kepada Allah digambarkan oleh Rasulullah dari Tsauban dengan hadisnya, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari Kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun, Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban bertanya, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka, sedangkan kami tidak mengetahuinya.” Rasulullah saw. bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi, mereka adalah kaum yang jika bersepian, mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR Ibnu Majah No. 4245)
Sementara itu, orang yang beriman menjaga keseimbangan amal dunia dan akhirat. Amal dunianya dilakukan karena ikhlas kepada Allah dan beramal saleh dengan senantiasa menjaga ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Mereka adalah orang yang akan mendapat tempat di sisi Allah Allah berfirman,
وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. )ٍَ ِ QS Al-Baqarah: 201)
Kehidupan mereka di dunia diisi dengan beribadah kepada Allah SWT dan beramal saleh sehingga Allah SWT akan menjamin sebaik-baik kehidupan, baik di dunia mapun di akhirat. Jaminan Allah SWT adalah sebagai berikut.
Pertama, mereka mendapatkan ampunan dan pahala yang besar. ”Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh bahwa untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS al-Maidah : 9).
Kedua, mereka memperoleh kehidupan yang layak. “Siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl: 97).

Ketiga, mereka diberi tambahan petunjuk. “Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya.” (QS Maryam : 76)

Keempat, dosa-dosanya dihapuskan. “Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (QS al-Ankabut : 7)

Kelima, hidupnya dimuliakan. “Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS al-Isra’: 70).

Keenam, mereka dijauhkan dari kerugian dan atau kegagalan dalam menjalani kehidupan. ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh.” (QS Al-Ashr: 1-3).
Akhirnya, kehidupan ini harus dijadikan sebagai tempat untuk mempersiapkan diri untuk hari akhirat. Untuk sampai ke sana manusia akan melalui kematian. Oleh karena itu, sudahkah kita siap itu menghadapi kematian? Sudahkan kita persiapkan diri kita agar kita tidak menyesal nanti di akhirat? Bak kata kata pepatah, “Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna.” Makala Alah memanggil kita, tidak ada ketakutan untuk menghadapi kematian yang sudah pasti itu. Bila dia datang, tidak akan dapat ditangguhkan atau dipercepat walaupun hanya sesaat.

Wallahu a’lam bissawab.

Wassalamualaikum wr. wb.

Ciledug, 5 Juni 2020

—++—-+——–

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899