Beranda Khazanah Rida terhadap Takdir Allah SWT

Rida terhadap Takdir Allah SWT

Oleh Drs. H. Abdul Gaffar Ruskhan, M.Hum.

Apa kabar saudaraku? Semoga kita senantiasa dianugerahi Allah SWT kesehatan yang prima dan terhindar dari musibah; kalaupun itu terjadi pada diri dan keluarga, kita terima dengan rida dan ikhlas karena itu merupakan takdir Allah SWT. Amin!

Rasulullah saw. bersabda,

أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ

“Sesungguhnya seandainya umat bersatu untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan memberi manfaat apa pun selain yang telah ditakdirkan Allah untukmu dan apabila mereka bersatu untuk membahayakanmu, mereka tidak akan membahayakanmu sama sekali, kecuali yang telah ditakdirkan Allah padamu.” (HR Tirmidzi)

Salah satu rukun iman adalah iman kepada qada dan qadar. Beriman kepada keduanya berarti memercayai dan meyakini sepenuh hati bahwa Allah SWT memiliki ketetapan, ketentuan, kehendak, dan keputusan atas semua makhluk-Nya. Untuk jelasnya, qada adalah ketetapan Allah SWT yang sifatnya azali (sebelum kelahiran makhluk). Sementara itu, qadar adalah ketentuan Allah SWT yang berlaku pada semua makhluk-Nya. Kedua istilah itu sering disebut dengan takdir.
Hadis di awal menjelaskan bahwa apa yang ingin dilakukan oleh siapa pun terhadap Rasulullah, baik itu manfaat maupun mudarat, tidak akan terjadi jika bukan karena takdir Allah SWT.

Ketetapan dan ketentuan Allah SWT berlaku bagi semua makhluk-Nya. Manusia pun selaku makhluk Allah SWT tidak boleh lari dari takdir-Nya. Itu harus diimani sehingga orang yang tidak percaya terhadap takdir berarti tidak sempurna imannya.

Beriman kepada takdir Allah SWT paling tidak ada empat prinsip yang penting diperhatikan oleh muslim, yakni mengimani ilmu Allah SWT yang azali dan abadi tentang segala sesuatu, mengimani bahwa Allah SWT telah mencatat takdir di Lauhul Mahfuz tentang segala sesuatu sampai hari Kiamat, mengimani bahwa kehendak Allah SWT meliputi segala sesuatu, dan mengimani penciptaan Allah SWT.

Pertama, kita mengimani ilmu Allah SWT yang azali dan abadi tentang segala sesuatu. Allah SWT mengetahui segala sesuatu, baik sebelum dan setelah segala sesuatu diciptakan, Apa pun yang ada pada segala ciptaan-Nya meliputi pengetahuan Allah SWT, baik yang kecil maupun yang besar, baik yang tersembunyi maupun yang tampak. Apa yang dilakukan oleh makhluk pasti tidak luput dari pengetahuaan Allah SWT.

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

“Pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib. Tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan. Tiada sehelai daun pun yang gugur, kecuali Dia mengetahuinya (pula) dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, kecuali tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS Al-An’am: 59)

Kedua, kita wajib mengimani bahwa Allah SWT sudah menulis segala sesuatu yang belum terjadi di Luah Mahfuz. Manusia yang dijadikan Allah SWT belakangan dari yang lain tidak ada satu pun yang luput dari pencatatan Allah SWT di alam azali. Apa yang akan terjadi pada makhluk, khususnya manusia, sudah tertulis sebelum maklhluk itu ada. Hari ini kita memiliki ketentuan tidak bisa lepas dari ketetapan Ilahi di alam azali.

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَافِي السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ {70}

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwa yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuz). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS Al-Hajj:70).

Bahkan di dalam sebuah hadis dikatana bahwa ketetapan Alah tantg tertulis di Lauh Mahfuz itu 50.000 tahun sebelum penciptaan sesuatu.

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“… Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR Muslim 2653)

Ketiga, kita mengimani bahwa kehendak Allah meliputi segala sesuatu. Tidak ada satu yang dapat menghalangi kehendak Allah SWT. Jika seseorang berada dalam bahaya, lalu Allah SWT bekendak agar orang itu selamat, tidak adalah yang dapat menghentikan kehendak Allah SWT. Karena itu, banyak kita menyaksikan atau mengetahui ada sesuatu yang tidak masuk akal terjadi pada suatu masyarakat atau perseorangan.

Keempat, kita mengimani bahwa Allah mahakuasa menjadikan segala sesuatu di alam alam ini. Kekuasaan Allah dalam menciptakan alam, baik yang besar maupun yang kecil, merupakan kekuasaan tunggal yang tidak ada yang pendamping-Nya. Allah SWT berfirman,

اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَىْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ {62} لَّهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِئَايَاتِ اللهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ {63}

“.Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi.”(QS. Az Zumar 62-63)

Sesuai dengan hadis Rasulullah, penciptaan manusia dengan segala tatapnya sudah ditentukan oleh Allah SWT. Bahkan, rezeki, ajal, amal perbuatan, dan sengsara atau bahagianya sudah tertulis sebagai ketetapan Allah SWT. Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُوْنُ فِيْ ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُوْنُ فِيْ ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيْدٌ فَوَالَّذِى لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا.

“Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari (berupa nutfah/sperma), kemudian menjadi alaqah (segumpal darah) selama waktu itu juga, kemudian menjadi mudgah (segumpal daging) selama waktu itu pula. Kemudian, Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya dan mencatat empat perkara yang telah ditentukan, yaitu rezeki, ajal, amal perbuatan, dan sengsara atau bahagianya. Maka, demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya, sesunggguhnya ada seseorang di antara kalian beramal dengan amalan penghuni surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga, kecuali sehasta saja. Namun, ketetapan (Allah) mendahuluinya sehingga ia beramal dengan amalan ahli neraka sehingga ia pun masuk neraka. Ada seseorang di antara kalian beramal dengan amalan ahli neraka sehingga tidak ada jarak antara dirinya dengan neraka kecuali sehasta saja. Namun, ketetapan (Allah) mendahuluinya sehingga ia beramal dengan amalan penghuni surga. Maka, ia pun masuk surga.” (H Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah ibnu Mas’ud)

Ketentuan yang terjadi pada manusia harus diterima dengan sikap rida. Keriadaan itu menunjukkan bahwa sebagai hamba Allah SWT, kita menerima takdir dengan senang hati dan sepenuh hati, tanpa ada keraguan di dalam hati. Karena itu, keridaan merupakan wujud rasa cinta kepada Allah SWT dengan menerima apa yang dikehendaki Allah SWT terhadap kita dan tidak menentang takdir Allah SWT.
Keridaan berarti juga keikhlasan diri menerima apa yang ditentukan kepada manusia. Bisa jadi kita tertimpa kecelakaan. Orang yang rida adalah orang yang menerima bahwa kecelakaan bukanlah kehendak dia, tetapi sudah merupakan ketentuan Allah SWT. Jika terbetik di dalam hati mengapa saya tadi tidak menghidar saja dari kecelakaan itu, sikap itu merupakan penyesalan yang bertentangan dengan sikap rida. Peristiwa itu harus dikembalikan kepada Allah SWT yang menghendakinya. Jika ada yang saling menyalahkan dalam peristiwa itu, sebetulnya tidak ada orang yang ingin mendapat kecelakaan. Kalau itu sudah terjadi, sikap batin kita tidak harus salah-menyalahkan, tetapi menerimanya dan ikhlas dan kembalikan bahwa kejadian itu sudah takdir terhadapnya.

Tejadinya kecelakaan selama ada kehati-hatian tentu di luar kemampuan kita. Orang yang tidak memahami dan tidak meyakini bahwa takdir itu ada dan terjadi kepada siapa saja pasti tidak akan mau menerima kesalahan orang lain penyebab kecelakaan. Namun, jika seseorang yang yakin bahwa apa yang terjadi itu sebagai takdir, tentu akan mengerti terhadap peristiwa itu. Kita harus ikhlas jika Allah SWT tidak menghendaki dan itu bukan takdir kita, hal itu tidak akan terjadi.

Ada pengalaman pribadi saya ketika mengendari mobil dengan kecepatan tinggi di tol. Di depan saya terjadi tabrakan beruntun empat mobil. Posisi mobil saya adalah yang kelima di belakang empat mobil itu. Kecelakaan terjadi di jalur cepat paling kanan. Pada saat terjadi kecelakaan itu saya secara spontan membelokkan setir ke jalur kiri (jalur kedua dari tiga jalur). Mungkin kita lazim mengatakan, untung di jalur kiri itu tidak ada mobil. Jika ada mobil di jalur itu, saya akan menabrak mobil itu. Namun, saya selamat tidak terjadi tabrakan beruntun.

Apakah kita mengatakan untung saya bisa membanting setir ke kiri? Seharusnya tidak demikian. Yang menyelamatkan kita adalah Allah SWT yang belum menghendaki terjadinya tarakan beruntun itu mengenai diri saya. Itulah yang disebut takdir bagi bagi saya diselamatkan dan empat mobil yang tabrakan. Tidak ada istilah “kebetulan” dalam peristiwa itu. Namun, pertolongan Allah SWT diberikan kepada saya dengan terhindarnya dari tabrakan.

Seorang mukmin harus menerima musibah dengan rida dan ikhlas. Jika terjadi musibah kepada orang beriman, pada dasarnya ada hikmah di balik peristiwa itu, yakni (1) penghapusan dosa orang yan menderita musibah, (2) mendapatkan kebahagiaan (pahala) tak terhingga di akhirat, (3) menjadi parameter kesabaran seorang hamba, (4) dapat memurnikan tauhid dan menautkan hati kepada Allah SWT, (5) memunculkan berbagai macam ibadah yang menyertainya, (6) dapat mengikis sikap sombong, ujub, dan besar kepala (penyakit hati), (7) memperkuat harapan kepada Allah, (8) dapat mengetahui betapa besarnya nikmat keselamatan dan kesehatan bagi penderita, dan (9) memiliki jiwa yang tenang.

Pada akhirnya, bersikap rida terhadap takdir Allah SWT merupakan akhlak mukmin terdadap Allah SWT. Keridaan berarti kita menerima takdir dengan ikhlas dan senang hati. Takdir sudah menjadi kepastian berlaku pada setiap makhluk, termasuk kita sebagai manusia. Takdir bukanlah sesuatu yang tiba-tiba, melainkan sesuatu yang sudah ditetapkan Allah jauh sebelum manusia diciptakan. Oleh karena itu, keridaan terhadap ketentuan Allah SWT menjadikan mukmin sdebagai hamba yang memiliki akhlah terbaik di sisi Allah SWT.

Wallahul muwafiq ila aqwamit-tariq.

Wassalamualaikum wr. wb.

Tangerang, 18 Juni 2020

++++++

Telah dibuka Pendaftaran Pondok Pesantren Modern Almuflihun Putra.

Formulir pendaftaran sebagai berikut:
https://bit.ly/3d9LaR0

Kontak: 0813-9278-8570

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899