Pelaku Kebaikan

Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

Assalamualaikum wr. wb.

Apa kabar saudaraku? Semoga kita senantiasa dianugerahi kesehatan yang prima sehingga kita dapat melaksanakan ibadah kepada Allah SWT dan menjadi orang yang senantiasa melakukan yang terbaik untuk orang banyak. Amin!

Rasulullah saw. bersabda,

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ ». قَالَ فَسَكَتُوا فَقَالَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا. قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ

“Maukah kalian aku beri tahukan sebaik-baik dan seburuk-buruk orang dari kalian?” Mereka terdiam dan Nabi bertanya seperti itu tiga kali. Lalu, ada seorang yang berkata, “Baik, kami mau, wahai Rasulullah! Beri tahukanlah kepada kami sebaik-baik dan buruk-buruk kami!” Beliau bersabda, ‘Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya, sedangkan keburukannya terjaga.’” (HR Tirmidzi dan disahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ No. 2603 dari Abu Hurairah)

Baik dan buruk ada dua sifat yang ada dalam kehidupan. Baik merupakan nilai yang disepakati dalam kehidupan sebagai ukuran suatu perbuatan. Orang yang melakukan kebaikan berarti dia telah memberikan nilai yang berarti bagi orang lain. Sebaliknya, buruk atau keburukan suatu sikap dan perilaku yang tidak memberikan nilai terhadap orang lain, bahkan mendatang kemudaratan bagi mereka. Oleh karena itu, baik kebaikan maupun keburukan akan menentukan seorang dalam bertindak dan berbuat.

Setiap orang dituntut untuk berbuat yang terbaik bagi dirinya dan orang lain. Sesuatu yang terbaik itu adalah kebaikan yang diberikan kepada orang lain di dalam kehidupan, baik berkeluarga, bermasyarakat, maupun bernegara. Dalam kehidupan berkeluarga berarti setiap unsur keluarga dapat memberikan sesuatu yang bermakna untuk kebaikan bersama. Di dalam bermasyarakat pun seseorang harus memiliki sikap mau menampilkan yang terbaik untuk kepentingan bermasyarakat. Bahkan, dalam skala yang luas dalam kehidupan bernegara pun ada kebaikan yang disumbangkan kepada negara.

Di dalam bermasyarakat seorang muslim harus memiliki peran dalam memajukan masyarakat dan lingkungannya. Dia harus menjadi orang yang terbaik di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Itulah makna hadis di awal bahwa mukmin harus menjadi orang yang sangat dinanti kebaikannya.

Di dalam kehidupan bermasyarakat seorang muslim memang harus dapat menjadi pelaku dalam kebaikan. Untuk menjadi pelaku kebaikan itu, ada orang yang kebaikannya merupakan panggilan hati, ada juga yang berbuat jika ada dorongan orang lain, ada pula yang sama sekali tidak mau tampil atau tidak peduli dengan apa pun yang dilakukan orang lain untuk kebaikan bersama.

Orang yang sudah menjadi panggilan hatinya untuk selalu berbuat yang terbaik bagi orang banyak jumlahnya sedikit sekali. Orang yang seperti itu tidak memandang kesibukan dirinya dan tidak memperhatikan apakah ada atau tidak orang yang memintanya untuk berbuat sesuatu bagi masyarakat atau lingkungannya. Panggilan hati merupakan karakter bawaan dan lingkungan keluarga yang terbentuk dari pemahaman yang kuat terhadap kehidupan bermasyarakat. Orang yang menghayati bagaimana hidup bersosial akan memahami betul akan sumbangsihnya bagi orang banyak. Islam sangat mendorong orang untuk memberikan yang terbaik kepada orang lain dalam bentuk amal nyata yang bermanfaat.

الْمُؤْمِنُ يَأْلَفُ وَيُؤْلَفُ، وَلَا خَيْرَ فِيمَنْ لَا يَأْلَفُ، وَلَا يُؤْلَفُ، وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاس
ِ
“Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR Thabrani dan Daruquthni)

Bahkan, dalam hadis yang lain, Rasulullah menjelaskan bahwa orang memberikan suatu kebaikan yang bermanfaat bagi orang lain termasuk orang yang dicintai Allah SWT, sesuai dengan sabda beliau,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى الله أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى الله سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ

“Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan ke dalam diri seorang muslim.” (HR Thabrani)

Di dalam bermasyarakat, jika ada orang yang terpanggil melakukan kebaikan yang bermanfaat bagi anggota masyarakat, seperti membangun gedung pertemuan, masjid, dan musala merupakan amal yang sangat dicintai Allah SWT. Panggilan itu muncul dari keinginannya untuk berbuat yang terbaik bagi orang banyak. Itu sikap yang menonjol di dalam dirinya.

Nabi Muhammad saw. sejak kecil termasuk orang yang bergaul dengan lingkungan dan memberikan yang terbaik bagi masyarakatnya walaupun kondisi masyarakat pada waktu itu jauh dari nilai-nilai akhlak yang luhur. Pada masa muda, Nabi Muhammad saw. (pada saat itu berumur 35 tahun) sudah mampu memberikan penyelesaian yang terbaik kepada pemimpin kabilah di Mekah untuk menaruh hajar aswad di tempatnya semula di Kakbah. Hajar aswad dilepas dari tempatnya karena ada pemugaran Kakbah sehingga perlu dikembalikan ke tempat semula. Setiap suku ingin menaruh sendiri hajar aswad itu ke posisi awalnya. Hampir saja terjadi pertumpahan darah di antara kabilah karena masing-masing ingin manaruhnya.

Ada kesepakatan yang diusulkan oleh salah seorang pemimpin kabilah, Abu Umayyah bin Mughirah, agar yang pertama masuk Kakbah akan menaruh hajar aswad itu. Ternyata Nabi Muhammad pada esok pagi masuk pertama sekali ke dalam Kakbah. Rasulullah saw. mendapat kesempatan meletakkan kembali hajar aswad itu. Dengan kecerdasan dan kebijaksanaannya, Nabi Muhammad membentangkan serbannya dan hajar aswad diletakkan di atas serbannya. Lalu, semua pemimpin kabilah dimintanya untuk memegang dan mengangkat hajar aswad sehingga batu hitam itu dapat diletakkan di tempatnya di sudut Kakbah. Semua pemimpin kabilah ikut bersama-sama mengangkat hajar aswad, lalu Rasulullah sendiri yang memindahkan dari serbannya ke tempat semula.

Orang yang sangat peduli dengan kemajuan masyarakat dan lingkungan pada dasarnya bukanlah tuntutan orang banyak agar dia berbuat sesuatu untuk kepentingan mereka. Namun, dia berbuat atas pangilan dirinya tanpa ada orang memintanya. Yang ingin dicarinya bukanlah terima kasih dari orang , melainkan berbuat ikhlas karena Allah SWT. Apa pun perbuatan baiknya yang dilakukannya tidak lain yang dicarinya adalah rida Allah SWT. Manakala rida Allah SWT telah didapatkan, dia pasti dicintai Allah SWT sesuai dengan firman-Nya,
وَ اَحۡسِنُوۡا ۚ اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُحۡسِنِیۡنَ

“Dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (QS Al-Baqarah: 195)

Dalam berbuat baik untuk orang banyak, keikhlasan itu penting. Selain niatnya mencari rida Allah SWT, perbuatan baik itu harus dilupakan dan tidak perlu diingat lagi. Perbuatan baik akan dapat menghilangkan keikhlasan dan akan muncul kesombongan jika masih diingat. Ada orang yang “menghilang” dalam masyarakat setelah ada pendapat atau amal baiknya tidak digubris atau dikritik orang? Bisa jadi dia patah arang di dalam masyarakat sehingga dia tidak pernah lagi melakukan kebaikan untuk orang banyak. Hal itu kembali kepada niat. Jika niat dia berbuat baik itu ingin dihargai orang atau ingin dipuji perbuatan baiknya itu, amalnya hanya sekadar perbuatan yang tidak bernilai di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, muslim yang ikhlas yakin bahwa amal baiknya itu bukan manusia yang harus menilainya. Sekecil apa pun amal baik yang kita lakukan pasti dinilai oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman,
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ

“Siapa yang berbuat kebaikan (sebesar biji zarah), niscaya dia akan melihat (balasan)nya dan siapa yang berbuat kejahatan (sebesar biji zarah), niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS Az-Zalzalah: 7-8)

Ada kelompok orang yang berbuat baik itu jika ada dorongan dan dukungan dari masyarakat. Padahal, dia tidak mau melakukannya karena tidak ada kemauannya. Setelah didorong dan dipuji bahwa Anda bisa, dia melakukannya juga dengan setengah hati. Orang yang seperti itu berbuat bukan karena keinginannya, melainkan karena “dipaksa” untuk melakukannya. Walaupun dia melakukannya, hasilnya tidak maksimal. Tipe orang seperti ada di dalam masyarakat dan organisasi sosial. Perbuatan baiknya itu tidak didasarkan atas keikhlasan berbuat. Jika dia ikhlas, kebaikannya itu pada hakikatnya akan kembali kepada dirinya sendiri. Allah SWT berfirman,

اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟

Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri (QS Al-Isra: 7)

Ada lagi orang yang tidak mau tahu dengan masyarakat. Dia ada sebagai anggota masyarakat, tetapi dia tidak ada dalam kegiatan yang sifatnya untuk orang banyak. Orang seperti ini menganggap bahwa aktif atau berperan di dalam masyakat tidak menguntungkannya. Apalagi dia sadar bahwa apa pun kegiatan kemasyarakatan yang diamatinya pasti akan mengeluarkan uang. Pikiran itulah yang menyebabkan dia tidak mau tahu dengan kehidupan lingkungannya. Dikatakan dia tidak mampu, di tempat kerjanya dia menjadi atasan dan memimpin orang banyak. Namun, di masyarakat dan lingkungannya karena tidak menguntungan dia menganggap perbuatan sia-sia. Rasulullah saw. mencela orang yang seperti itu dengan sabda beliau,

من أصبح و الدنيا أكبر همه فليس من الله في شيء و من لم يتق الله فليس من الله في شيء و من لم يهتم للمسلمين عامة فليس منهم

“Siapa yang pada pagi harinya hasrat dunianya lebih besar tidak ada apa-apanya di sisi Allah, siapa yang tidak takut kepada Allah tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan siapa yang tidak ada perhatian dengan urusan kaum muslimin semuanya bukan golongan mereka.” (HR Hakim dalam Al-Mustadrak No. 7889 dan Imam As-Suyuthi dalam Al- Jami’ Al-Kabir No. 4003)

Agar menjadi pelaku kebaikan, ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh seorang muslim, yakni kemauan (panggilan hati), berbuat, menjadikan kebaikan sebagai bagian kehidupan (gaya hidup), menjadkan kebaikan diri untuk orang lain, dan meraih manfaat untuk diri sebagai bekal kehidupan nanti.

Akhirnya, mari kita menjadi pelaku kebaikan di dalam masyarakat dan lingkungan kita. Kebaikan yang kita berikan dengan ikhlas kepada orang banyak atau siapa pun akan memberi manfaat bagi diri kita dan orang lain. Kemanfaatan yang kita berikan kepada orang lain hanya mengharap rida Allah SWT. Jika rida-Nya telah kita peroleh, Allah SWT akan cinta kepada kita. Bukankankah kita hidup di dunia ini mencari keridaan Allah SWT dan apa pun yang kita lakukan dalam rangka ibadah kepada-Nya? Namun, kita juga berusaha agar keburukan kita dapat dihindarkan agar tidak menghapuskan kebaikan yang kita lakukan di tengah-tengah umat. Amin!

Wallahu a’lam bissawab.

Wassalamualaikum wr. wb.

Ciledug, 15 Juni 2020