Orang yang Lisan dan Tindakannya Menyenangkan

Oleh Abdul Gafar Ruskhan

Apa kabar saudaraku? Semoga kita senantiasa dikaruniai kesehatan yang prima, kehidupan yang menyenangkan orang lain, dan bimbingan dari Allah SWT agar hidup kita diridai-Nya. Amin!

قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الإِسْلاَمِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ، وَيَدِهِ»

“Mereka bertanya, wahai Rasulullah, Islam apakah yang paling utama? Beliau bersabda, ‘Orang-orang Islam yang aman dari lisan dan tangannya.’” (HR Bukhari No. 11, Muslim No. 42, dari Abu Musa Al-Asy’ari)

Salah satu orang yang terbaik menurut Rasulullah adalah orang yang menjaga lisannya sehingga orang lain tidak terusik dan tersakiti karena perbuatan lidahnya. Menjaga lisan sangat penting karena manusia adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan manusia lain. Di mana pun manusia berada dan ke mana pun mereka pergi pasti akan berkomunikasi dengan orang lain. Dalam berinteraksi dan bekomunikasi itu seseorang harus pandai-pandai berbicara. Salah-salah berbicara dapat menimbulkan salah paham. Kesalahpahaman dapat mamantik peselisihan dan permusuhan. Manakala perselisihan dan peermusuhan terjadi, ketenangan dan kedamaian menjadi jauh, Padahal, dalam bertetangga, bermasyarakat, dan bernegara hat itu sangat penting.
Ada ungkapan “mulut kamu harimau kamu” yang berarti ‘keselamatan dan harga diri kita bergantung pada perkataan kita sendiri’. Ungkapan itu mengingatkan kita bahwa keselamatan diri dan harga diri kita terletak pada kemampuan kita utuk manjaga lisan. Sebaliknya, orang lain akan celaka jika kita tidak pandai menjaga lisan.

Dalam kehidupan bertetangga lisan sangat sensitif jika kita tidak pandai menjaganya. Sering terjadi salah paham atau perselisihan sesama tetangga karena kata-kata. Terlalu usil terhadap tetangga dampaknya permusuhan. Apalagi, ibu rumah tangga yang sering berkumpul dengan tetangga. Banyak hal yang dibicarakan kalau sudah berkumpul. Ujung-ujungnya membicarakan kejelekan prang lain yang akhirnya menimbulkan kebencian antara sesama.

Dalam bertetangga akan lebih bagus menahan diri untuk berbicara jika tidak mampu berkata-kata yang baik-baik. Menahan diri itu dilakukan dengan diam. Diam bukan berarti tidak mau berbicara sama sekali, tetapi memilih diam daripada banyak bicara yang dapat berbuat salah.

Di kantor pun sering terjadi kesalahpahaman akibat ucapan terhadap orang lain. Kadang-kadang ucapan itu tidak terlalu salah benar, tetapi disampaikan kepada orang lain tentang seseorang. Pendengar menyampaikan pula kepada yang dibicarakan. Penyampaian itu adakalanya dibumbui dengan yang dapat menimbulkan kejengkelan dari yang menerima pembicaraan itu. Si penerima tidak senang, lalu ditanyakan kepada sumber bicara sehingga terjadi kesalahpahaman, bahkan perselisishan. Itulah penyebab rusaknya persahabatan.

Karena pentingnya menjaga lisan dalam pergaulan, Rasulullah saw. menyuruh kita untuk tidak berbicara jika tidak mampu berbicara dengan baik.

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

“Siapa yang beriman kepada Allah serta hari Akhir, berkata-katalah yang baik atau diam.” (HR Bukhari-Muslim)

Memang ada orang yang asal ceplos-ceplosan dalam berbicara. Dia tidak memikirkan bahwa ucapannya itu dapat menyinggung perasaan orang lain. Dia tidak merasa bahwa dia telah melakukan perbuatan yang menghilangkan harga diri atau menghina orang lain. Karena itu, ada baiknya dipahami ungkapan orang Minangkabau untuk berbicara dengan siapa teman bicara kita, “Ado kato mandaki, kato manurun, kato mandata” (ada ucapan mendaki, ucapan menurun, dan ucapan mendatar).

Ucapan mendaki adalah tutur kata yang digunakan dengan orang yang lebih besar sehingga hati-hati dalam memilih diksi dan menggunakan kesantunan berbahasa. Ucapan menurun adalah tutur kata yang digunakan ketika kita berbicara dengan orang yang lebih muda. Ucapan mendatar adalah tutur kata yang digunakan dengan orang yang sebaya atau sama besar dengan kita. Setiap orang harus dapat memilih perkataan yang sesuai dengan teman bicara kita. Hal itu dimaksudkan agar tidak terjadi pandangan yang salah dari orang yang diajak bicara, orang yang terlibat, atau orang yang mendengarkan pembicaraan itu. Oleh karena, berbicara harus dipikirkan terlebih dahulu dan jangan sampai berbicara tanda dipikirkan. Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِى بِهَا فِي النَّارِأَبْعَدَمَا بَيْنَ الْمَسْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat” (HR Bukhari No. 6477 dan Muslim No. 2988 dari Abu Hurairah)

Bahkan, Rasulullah menggambarkan siksaan terhadap orang yang tidak pandai memelihara lisannya ketika beliau menasihati Muaz bin Jabal,

أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ ؟ فَقُلْتُ : بَلىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ . فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالِ : كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلَّمَ بِهِ ؟ فَقَالَ : ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ، وَهَلْ يَكُبَّ النَاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ –أَوْ قَالَ : عَلىَ مَنَاخِرِهِمْ – إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ .

“Maukah kamu aku beri tahukan penopang semua itu?” Mu’az menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.” Maka, Rasulullah memegang lisannya, lalu bersabda, “Jagalah ini.” Aku (Muaz) pun berkata, “Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa karena ucapan yang kita keluarkan?” Beliau menjawab, “Bagaimana kamu ini? Bukankah yang menyebabkan orang-orang terjungkil balik di atas wajahnya di neraka–atau Beliau bersabda–di atas hidungnya, melainkan karena ulah lisan mereka.” (HR Tirmidzi)

Di dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِى بِهَا فِي النَّارِأَبْعَدَمَا بَيْنَ الْمَسْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat” (HR Bukhari No. 6477 dan Muslim No. 2988 dari Abu Hurairah)

Pada hakikatnya ucapan yang baik akan menjadikan amal orang beriman menjadi baik, dosanya pun akan diampuni, dan mereka tergolong orang yang mendapat kemenangan. Berucap yang baik itu merupakan wujud ketakwaan seseorang mukmin. Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Allah pasti memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya sesungguhnya telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS Al-Ahzab: 70—71)

Ada banyak perbuatan yang ditimbulkan oleh perkataan yang tidak terkendali, antara lain, dusta, ejekan, bentakan, makian, tuduhan, pertengkaran, gunjingan, fitnah, dan adu domba. Semuanya menujukkan perilaku buruk yang dapat menimbulkan sakit hati orang lain dan permusuhan di antara mereka yang terlibat. Oleh karena itu, Allah dan Rasul-Nya salat mencela perbuatan itu.

Agar lisan dapat terjaga, ada beberapa hal yang dapat dilakukan.

  1. Meyakini bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui maksud dari setiap perkataan yang diucapkan oleh lisan kita
  2. Berpikirlah terlebih dahulu sebelum berbicara
  3. Menghayati dan merenungi bahaya penyakit-penyakit lisan
  4. Menghayati dan merenungi keutamaan dan pentingnya menjaga lisan
  5. Bergaul dengan orang yang pandai menjaga lisannya

Selanjutnya, orang yang terbaik adalah orang yang mampu memberikan kenyamanan kepada orang lain melalui tangan atau kewenangannya. Sebaliknya, ada juga orang yang suka mengganggu ketenteraman orang lain. Orang yang terakhir ini memiliki karakter yang tidak senang melihat orang lain tenang, damai, dan rukun.

Untuk menggambar karakter orang yang suka menimbulkan kegaduhan atau membuat masalah di lingkungan, ada baiknya kita pinjam ungkapan orang Minangkabau. Di dalam masyarakat Minangkabau ada ungkapan adat yang membagi model pendatang (sebut saja sumando/semenda) yang akan menjadi bagian anggota keluarga dan masyarakat baru. Mereka ada yang disebut (1) urang sumando lapiak buruak (semenda lapik/tikar buruk), (2) urang sumando langau ijau (semenda lalat hijau), (3) urang sumando kacang miang (semenda kacang miang/gatal), dan (4) urang sumando niniak mamak (semenda ninik mamak).

Urang sumando lapiak buruak mengambarkan karakter seorang semenda yang sifatnya seperti lapik buruk. Hal itu menggambarkan seorang yang pemalas, berat tangan, dan tidak mau disuruh sehingga membuat masalah.

Urang sumando langau ijau mengungkapkan karakter pendatang yang membuat masalah di dalam keluarga dan lingkungan. Orang seperti itu dibandingkan dengan lalat hijau yang suka mengganggu kenyamanan keluarga dan lingkungan.

Urang sumando kacang miang lebih parah lagi daripada langau ijau. Kacang miang adalah kacang polong yang seputar buah, daun, dan gagangnya menempel miang yang membuat gatal kulit kalau tersenggol. Karakter seperti itu akan membuat keluarga dan lingkungan menjadi terganggu dan meresahkan semua orang.

Urang sumando niniak mamak merupakan pendatang yang mampu menyesuaikan diri, memberi perhatian kepada keluarga dan lingkungan, mengayomi semua orang, dan banyak memberikan kontribusi terhadap keluarga dan lingkungan. Mereka ibarat ninik mamak (orang-orang tua terpandang di keluarga dan lingkungan) yang selalu memberikan pandangan, nasihat, perhatian, dan bimbingan kepada anggota keluarga dan lingkungan. Inilah model semenda yang diinginkan.

Orang yang terbaik karena tindak tanduk dan perilakunya termasuk kelompok yang terakhir, yakni semenda ninik mamak. Itulah model seseorang yang mendapat julukan orang yang terbaik yang keberadaannya di suatu lingkungan dapat menyejukkan, memberikan ketenteraman, dan mempersatukan. Kehadirannya disenangi oleh lingkungannya, baik di rumah tangga, lingkungan masyarakat, di kantor, dan di mana pun dia bertempat kerja dan bertempat tinggal. Di dalam hadis disebut orang yang selamat orang lain dari lisan dan tangannya.

Jika ada orang di lingkungan kita seperti itu, ada beberapa sikap yang dapat kita lakukan untuk menghadapi pribadi penggangu ketenangan orang banyak itu, yang antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Menyadarkan diri kita untuk kembali kepada Sang Pencipta. Kesadaran itu penting agar kita sadar bahwa Allah SWT selalu mengawasi manusia yang suatu ketika akan menghadap-Nya.
  2. Menuntut kita untuk bersabar. Kesabaran penting dalam memahami kenyataan perilaku orang sehingga menambah keyakinan akan setiap kebaikan itu pasti ada tantangannya. Kesabaran juga dimiliki dalam meyakinkan orang yang bermasalah di lingkungan kita.
  3. Mengajari kita untuk bercermin dan koreksi diri sendiri. Apa yang terjadi di lingkungan kita penting dipastikan sebagai masalah yang timbul di lingkungan kita.
  4. Ada baiknya menyadari kekeliruan kalau memang diri ini telah melakukan kesalahan.
  5. Mendorong kita untuk memahami orang lain. Kita mencoba untuk mengerti apa yang dilakukan oleh orang lain dan apa yang diinginkannya.
  6. Meningkatkan kemampuan kita untuk menyesuaikan diri
  7. Menjadikan kita lebih waspada lagi.
  8. Membentuk ketegaran hati kita.

Orang yang terbaik muncul dari lingkungan kita. Bisa jadi kita sendiri karena dalam pergaulan hidup, kita selalu menjaga lisan dari berbicara yang tidak baik. Lisan yang terjaga akan membawa ketenteraman di tengah masyarakat. Di samping itu, lisan yang terpelihara akan mengantarkan kita ke surga. Sebaliknya, lisan yang tidak terjaga dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan kegaduhan di dalam masyarakat dan menggiring pelakunya ke neraka.

Perilaku dan tindakan yang menyenangkan di tengah masyarakat dapat menjadikan pelakunya menjadi orang yang terbaik. Keberadaannya sangat dibutuhkan oleh lingkungannya. Perkataannya didengar, pendapatnya diikuti, dan sikapnya menyenangkan. Itulah sosok yang didamba di dalam masyarakat. Sebaliknya, pribadi yang memnimbulkan masalah, memunculkan kegaduhan, dan mebuat keretakan di kalangan masyarakat termasuk sejelek-jelek manusia. Keberadaannya tidak dinginkan masyarakat, sikapnya dibenci banyak orang, dan tindakannya meresahkan lingkungan. Itulah manusia yang perlu disadarkan keberadaannya sebagai hamba Allah yang seharusnya berbuat sesuatu yang terbaik untuk orang banyak.

Wallahul-muwafiq ila aqwamut-tariq

Wassalamualaikum wr. wb.

Ciledug, 9 Juni 2020

—++—-+——–

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899