Orang yang Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an


Oleh Abdul Gafar Ruskhan

Assalamualaikum wr. wb.

Apa kabar sudaraku? Semoga Allah senantiasa menganugerahkann kesehatan lahir dan batin, menjadi orang yang mencintai Al-Qur’an dengan membaca, memahami, menadburi, mengajarkan, dan mengamalkannya. Amin!

Rasulullah saw, bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baiknya kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari No. 5027, dari Utsman)
Allah SWT menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Bagi umat Islam Al-Qur’an merupakan pedoman hidup yang mengarahkan kehidupannya ke jalan yang diinginkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, umat Islam harus menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian hidupnya yang dengannya hidup mereka tertuntun ke jalan yang benar atau jalan yang lurus, jalan yang diridai Allah SWT sesuai dengn firman Allah SWT,

إنَّ هذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْراً كَبِيراً

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (QS Isra: 9)

Agar Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk, umat Islam harus akrab dengannya. Kewajibannya adalah membaca dan memahaminya sehingga dapat mengamalkannya di dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk dapat memahaminya, ada langkah-langkah yang harus dilalui. Mulai dengan mengenal Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam, mempelajari bacaannya, membacanya, memahami artinya, menadaburinya, mengajarkannya, dan mengamalkan kandungannya. Proses itu seharusnya dilakukan oleh umat Islam yang cerdas agar kitab suci yang bahasanya adalah bahasa Arab dapat menjadi panduan hidup.

Mengakrabkan Al-Qur’an sebagai panduan hidup harus diperkenalkan kepada anak-anak sedini mungkin. Hal itu dilakukan oleh orang tua kepada anak-anak sehingga mereka mencintai Al-Qur’an. Setelah itu, mereka diperkenalkan dengan tulisan Arab dan bacaannya sehingga dari awal mereka sudah mulai belajar mebaca Al-Qur’an. Tugas orang tua memang difokuskan untuk itu agar anak-anak tumbuh menjadi generasi yang mencintai Al-Qur’an.

Ironis di tengah masyarakat Islam yang orang tuanya tidak memedulikan anaknya untuk belajar Al-Qur’an (mengaji). Orang tua lebih memberikan prioritas, misalnya, untuk belajar bahasa Inggris, matematika, komputer, dan berenang, Untuk itu, anak-anak mereka diberi pelajaran tambahan berupa les mata pelajaran itu. Bahkan, guru pun didatangkan ke rumah untuk mengajarkan pelajaran itu. Itu boleh-boleh saja dan tidak salah. Hanya orientasi orang tua harus diluruskan. Jangan menganggap pelajaran umum terlalu penting sementara pelajaran agama dan belajar Al-Qur’an malah diabaikan.

Mengajarkan membaca Al-Qur’an pada hakikatnya menanamkan nilai-nilai keislaman kepada anak-anak sejak dini atau prasekolah agar mereka memiliki bekal dalam kehidupannya nanti. Dalam kehidupan yang serba modern dan teknologi informasi yang begitu canggih, orang tua sebetulnya menyiapkan generasi mendatang sebagai generasi yang islami, tidak canggung menghadapi tantangan zaman, dan siap mengatasi dekadensi moral yang hebat. Oleh karena itu, orang tua wajib mementingkan pendidikan agama yang pada tahap awal mengajarkan Al-Qur’an, baik langsung diajarkan oleh orang tua atau melalui guru atau pendidikan keagamaan.
Jika anak tidak diarahkan untuk mendalami agama Islam dengan mengawalinya dengan mengajarkan Al-Qur’an, akan dikhawatirkan muncul generasi yang abai terhadap perintah Allah SWT dan mengikuti keinginan hawa nafsunya. Hal itu diingatkan Allah SWT dengan firman-Nya,

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Maka, datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya. Mereka kelak akan menemui kesesatan” (QS Maryam:59)

Mengajarkan anak untuk mebaca Al-Qur’an sejak dini pada dasarnya akan membantu anak untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Diharapkan mereka mampu penghapalkan ayat-ayat Al-Qur’an, terutama surah-surah pendek. Kunci keberhasilan mengajarkan anak untuk menghafal Al-Qur’an dapat dilakukan melalui:
a. Suasana senang dan membahagiakan akan membantu anak untuk mengingat hapalannya dalam waktu yang lama sehingga akan berinteraksi dengan Al-Qur’an karena tertanam rasa cinta dan keterkaitan terhadap Al-Qur’an.
b. Mengajarkan anak untuk fokus dan perhatian pada pendidiknya melalui hapalan Al-Qur’an.
c. Memberikan penjelasan kepada anak-anak atas nilai-nilai yang terkandung dalam bacaan yang dihafalkannya sehingga memori mereka akan bekerja lebih eksis.
d. Menciptakan motivasi agar anak mempunyai semangat dalam menghapalkan Al-Qur’an.
e. Mengenalkan hal-hal yang sulit dalam belajar sehingga tidak akan membuat anak susah dalam menghapalkanya.
f. Membantu anak untuk menghapal mata pelajaran lain karena sudah terlatih melalui hapalan Al-Qur’an.

Kita berharap anak-anak sebagai generasi pelanjut akan menjadi muslim yang tangguh yang ditunjukkan dengan kemampuan membaca dan menghapal Al-Qur’an. Walaupun begitu, kemampuan anak tentu tidak sama. Yang penting orang tuanya sudah mementingkan pendidikan agamanya sehingga tangung jawab sebagai orang tua tidak terabaikan. Kemudian, orang tua telah menyiapkan generasi surgawi dan mendapatkan pahala yang luar biasa.

Belajar Al-Qur’an bukan hanya tanggung jawab anak-anak, melainkan orang dewasa yang belum berkesempatan mengenyam pelajaran membaca Al-Qur’an. Umur tidak menjadi penghalang untuk mempelajari baca Al-Qur’an. Walaupun ucapan terbata-bata, kemauan cukup untuk belajar dan melakukannya dengan membaca Al-Qur’an dengan cara baca atau tajwid yang yang belum menguasai, jangan sampai menimbulkan patah semangat. Rasulullah mengapresiasi mereka yang membaca Al-Qur’an belum lancar dan akan mendapat pahala atas bacaannya itu dengan sabdanya,

“Orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan dia mahir melakukannya kelak mendapat tempat di dalam surga bersama-sama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sementara itu, orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi dia tidak mahir, membacanya tertegun-tegun, dan tampak agak berat lidahnya (belum lancar) akan mendapat dua pahala.” (HR Bukhari-Muslim)

Saat ini sudah banyak anak-anak penghafal Al-Qur’an (hafiz) pada tingkat sekolah menengah yang melanjutkan ke berbagai perguruan tinggi. Diharapkan akan tumbuh generasi yang menguasai berbagai bidang ilmu dengan hapalan Al-Qur’an dan pemahaman kandungan Al-Qur’an yang memadai. Yakinlah generasi itu akan menjadi generasi tangguh yang mengisi berbagai lini kehidupan. Mereka akan menjadi pelopor dalam menegakkan yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.

Belajar Al-Qur’an tidak berhenti sampai tahap bisa mampu membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi harus berlanjut dengan memahami, menadaburi, mengajarkan, dan mengamalkan Al-Qur’an.

Selanjutnya, manusia yang terbaik adalah orang yang mengajarkan Al-Qur’an. Siapa pun yang mengajarkan Al-Qur’an, baik kepada keluarga maupun kepada orang lain, mendapat penghargaan dari Rasulullah saw. sebagai manusia terbaik. Mereka akan disanding dengan para orang saleh di surga. Itulah makna hadis Rasulullah tentang orang yang terbaik “dan orang yang mengajarkannya (Al-Qur’an).

Mengapa orang yang mengajarkan Al-Qur’an mendapat tempat di mata Nabi saw. jika dibandingkan dengan ilmuan, pengajar di perguruan tinggi, dan para peneliti? Yang pasti Al-Qur’an adalah kalam Ilahi. Karena kemuliaan sebagai kalam Ilahi, pengajar Al-Qur’an secara terus-menerus mengajarkan dan membentuk manusia yang dibekali dengan kalam Allah SWT. Betapa mulianya ‘guru mengaji” yang telah mencetak insan-insan ahli baca Al-Qur’an. Dapat dibayangkan jika muridnya mengajarkan pula Al-Qur’an kepada orang lain, di situlah nilai lebihnya bahwa dia akan mendapat limpahan pahala yang diberikan murid dari muridnya. Dia akan menjadi amal jariah, yang selalu mengalir selama pembacaan Al-Qur’an masih berlanjut secara turun-temurun.

Rasulullah saw bersabda,
“Siapa disibukkan dengan mengkaji Al-Qur’an dan menyebut nama-Ku sehingga tidak sempat meminta kepada-Ku, Aku berikan kepadanya sebaik-baik pemberian yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta. Keutamaan kalam Allah atas perkataan lainnya adalah seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya.” (Riwayat Tirmidzi)

Orang yang mengajarkan Al-Qur’an lebih banyak mebacanya karena harus mengulang-ulang bacaan kepada anak didiknya. Tidak dapat diperkirakan berapa keutaman dan pahala bacaan Al-Qur’an yang didapatkannya dari setiap anak didiknya yang diajarkannya. Manfaat yang diperoleh, baik membaca maupun yang mengajarannya adalah seperti berikut.

Pertama, orang yang membaca Al-Qur’an akan mendapatkan syafaat (pertolongan) pada hari Kiamat. Rasulullah saw bersabda, ”Bacalah al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari Kiamat nanti memberi syafaat bagi orang yang membacanya.” (HR Muslim).

Kedua, menjadi orang yang terbaik, sesuai dengan sabda Rasulullah saw., ”Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan yang mengajarkannya.” (HR Bukhari).

Ketiga, orang yang pandai membaca Al-Qur’an, apalagi pengajarnya, akan disediakan tempat yang paling istimewa di surga bersama para malaikat yang suci, sedangkan orang yang membaca terbata-bata (belum pandai akan diberi dua pahala. Rasulullah saw.bersabda, ”Orang yang pandai membaca Al-Qur’an akan ditempatkan bersama kelompok para Malaikat yang mulia dan terpuji. Adapun orang yang terbata-bata dan sulit membacanya akan mendapat dua pahala.” (H.R Bukhari & Muslim).

Keempat, kejayaan suatu umat Islam itu terlihat dari membaca Al -Qur’an dan mengamalkannya. Sebaliknya, musibah yang menimpa umat ini disebabkan sikap acuh tak acuh kepada Al -Qur’an dan meninggalkannya. Rasulullah saw. bersabda, ”Sesungguhnya Allah SWT meninggikan (derajat) umat manusia ini dengan Al-Qur’an dan membinasakannya pula dengan Al-Qur’an.” (HR Muslim).

Kelima, orang yang membaca dan mendengar Al-Qur’an akan mendapatkan sakinah, rahmah, doa malaikat, dan pujian dari Allah. Nabi saw bersabda,

”Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah (Al-Qur’an) dan mempelajarinya, melainkan ketenangan jiwa bagi mereka, mereka diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.” (H.R Muslim).

Ditambah lagi dengan firman Allah SWT,

“ Ingatlah, hanya dengan zikir (mengingat) Allah hati menjadi tenang.” (Q.S Ar-Ra’d: 28).

Keenam, mendapat pahala yang berlipat ganda. Rasulullah Saw bersabda,
“Siapa yang membaca satu huruf Kitabullah mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tapi alif itu satu huruf.” (HR Tirmidzi)

Akhirnya, jika Anda ingin menjadi orang yang terbaik di mata Allah SWT dan Rasul-Nya, ada dua cara yang dapat dilakukan. Jika ada yang belum mampu membaca Al-Qur’an, silakan pelajari Al-Qur’an dan upayakan agar mampu membacanya dengan baik dan sesuai dengan tajwidnya, lalu lazimkan membacanya. Jika Anda sudah mampu membaca Al-Qur’an, perdalam kandungannya, renungkan Al-Qur’an, ajarkan ilmu Al-Qur’an itu kepada orang lain, dan amalkan apa yang dituntunkan Al-Qur’an di dalam menjalani kehidupan ini. Amin!

¬Wallahu a’lam bissawab¬

Wassalamualikum wr. wb.

Ciledug, 7 Juni 2020

—++—-+——–

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899