Menurut Al-Ghazali, Jantung Sebagai Sarana Makrifatullah (Bagian XXXI)

Oleh: Wahyudi sarju Abdurrahim, Lc. M.M

Matan:
اَمَّا بَعْدُ فَاِنَّ الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ (1 (مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ كلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ (2 (وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا (3 (وَهَا نَحْنُ نَشْرَعُ فِى بَيَانِ اُصُولِ العَقَائِدِ الصَّحِيْحَةِ.
Kemudian dari pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu, yakni mereka yang terjamin keselamatannya (1), mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah (2). Mereka berpendapat bahwa memperdalam pengetahuan tentang ‘alam untuk mendapat pengertian tentang Allah, adalah wajib menurut ajaran Agama (3). Dan demikianlah maka kita hendak mulai menerangkan pokok-pokok kepercayaan yang benar.

Syarah:
Kata kunci: لِمَعْرِفَةِ االلهِ (makrifat, pengertian, pengetahuan tentang Allah):
Sebelumnya kami sampaikan bahwa al-qalb, seperti yang digunakan nas al-Quran maknanya adalah jantung dan bukan hati. Di lembaran-lembaran selanjutnya, kami tetap akan konsisten menggunakan kata jantung, karena secara pemaknaan lebih sesuai. Jantung bukan saja terkait dengan organ tubuh, namun juga sumber kehidupan.
Imam Ghazali, melihat jantung dari dua sisi. Pertama jantung sebagai salah satu organ tubuh. Jika dilihat dari sisi saja, maka jantung tidak mempunyai keistimewaan. Menurutnya jantung dimiliki oleh manusia dan binatang. Bahkan bangkai pun, meski ia sudah tidak bernyawa namun organ jantung masih tetap ada. Maka jantung sebagai organ tubuh, bukanlah sesuatu yang menjadi wicana ayat al-Quran maupun sunnah nabi.
Kedua, jantung sebagai tempat jiwa manusia. Menurut Ghazali, bahwa jantung di sini, maksudnya adalah jiwa manusia yang sifatnya sangat halus. Jiwa manusia ini yang menggerakkan seluruh tubuh manusia. Jiwa manusia ibarat seperti raja yang akan memerintahkan seluruh anggota tubuh. Jiwa manusia, sebagai tempat pembeda antara manusia dengan binatang. Jiwa manusia yang bertanggung jawab atas amal perbuatannya sehingga kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat.
Menurut Ghazali, jantung sebagai jiwa, tetap terikat dengan jantung sebagai orang tubuh. Jiwa manusia itu, terletak di jantung. Ilmu manusia, pun terletak di jiwa yang terkait erat dengan jantung itu. Jiwa manusia seperti ini, yang mempunyai kesiapan untuk makrifatullah.
Terkait dengan makrifatullah ini, Ghazali juga membagi jiwa menjadi beberapa bagian, yaitu jiwa yang tenang. Maksudnya adalah jiwa yang selalu mengikuti perintah Allah sehingga ia dekat dengan Allah. Jiwa seperti ini, kelak akan kembali dan mendekat kepada Allah. Inilah yang dimaksudkan firman Allah berikut ini:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي

Artinya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)
Ada pulan jiwa yang sesunggunya ia bisa taat kepada Allah. Namun ia tidak bisa konsisten dan istiqamah. Terkadang karena satu dan lain hal, ia lalai. Meski demiekian, ia menyadari akan kelalaiannya dan segera kembali kepada jalan Allah. Ia selalu mengumpat dirinya tatkala keluar dari jalur yang menjadi kehendak Allah. Ia menyesal dan bertaubat. Inilah yag disebut dengan jiwa lawwamah seperti dalam firman Allah berikut ini:
Ketiga adalah jiwa yang selalu mengikuti bujuk rayu setan dan kehendak nafsu syahwatnya. Ia tergoda, dan pada ahirnya terperosok ke jurang kenistaan. Ia tidak menyesal, dan terus tenggelam di kubang kemaksiatan. Jiwa seperti ini, disebut dengan amir bissu seperti dalam firman Allah berikut ini:
Jadi, jiwa manusia, mempunyai posisi sangat sentral. Sejauh mana jiwa mengenal Allah, mengenal dirinya dan posisinya di alam raya, serta sejauh mana ia dapat mengikuti bisikan jiwanya, sejauh itu pula posisi dia di dunia dan akhirat. Jika ia tunduk mutlak dengan kehendak Allah, maka jiwanya akan tentang. Jantung menjadi sarana untuk makrifatullah. Jika sebaliknya, ia akan terperosok ke dalam api neraka.
Menurut Ghazali, keberadaan jiwa yang berada di jantung dengan kehidupan manusia, sesungguhnya seperti keberadaan lampu dengan cahaya. Jika Anda menaruh lampu di pojok ruangan, maka cahaya akan memancar memenuhi seluruh ruangan. Demikian juga dengan jiwa manusia, yang letaknya dalam jantung. Ia akan memancarkan kehidupan di seluruh tubuh manusia.
Terkait pernyataan ghazali, bisa kita simak dari paparan beliau dalam kitab ihya sebagai berikut:
Amma ba’du.
Keutamaan dan kehormatan manusia dibandingkan dengan semua makhluk adalah karena kemampuan manusia untuk makrifat Allah, yaitu dengan melihat keindahan dan kesempurnaan alam raya. Di akhirat dengan melihat gemerlapnya barang-barang yang ada di sana.
Kesiapan manusia untuk makrifat Allah. dilakukan dengan jantungnya, bukan dengan anggota badan lainnya. Jantung menjadi sarana mengetahui Allah. Iia yang dapat mendekatkan diri manusia kepada Allah. Jantung yang dapat berupaya dan berusaha untuk berjalan menuju Allah. Jantung pula yang akan membuka tabir rahasia Allah. Anggota badan lainnya sekadar sebagai pengikut dan alat saja yang siap diperintah oleh jantung.
Kalimat pertama adalah kata jantung. Kata ini biasanya mempunyai dua makna, yaitu jantung yang merupakan segumpal daging dan berbentuk tertentu, di mana letakkanya berada di sebelah kiri dada. Jadi ia sekadar segumpal daging.
Jantung seperti ini juga dimilii oleh hewan. Bahkan jantung tersebut juga dimiliki oleh bangkai. Jika kita menyebutkan jantung dalam buku ini, maksud kami bukan jantung sebagai salah satu organ tubuh. Karena ia sekadar gumpalan daging yang tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara jantung yang saya maksud, berasal dari dunia metafisik dan fisik.
Kedua, jantung maknanya sebagai sesuatu yang halus, bersifat rabbani dan ruhani, yang menempel di organ tubuh yang bernama jantung. Jantung yang halus inilah yang merupakan keistimewaan dari manusia. Jantung tersebut yang dapat merasa dan mengetahui sesuatu pada diri manusia. Ia yang menjadi tujuan wicana, yang karenanya manusia bisa mendapatkan an, celaan dan punya tuntutan untuk melaksanakan sesuatu. Ia mempunyai hubungan erat dengan jantung sebagai organ tubuh.
Kedua, ruh. Ini juga terkait erat dengan bahasan kita. Dia punya dua makna, salah satunya adalah bahwa ruh merupakan sesuatu yang sangat halus yang dapat menggerakkan organ jantung. Dengan gerakannya itu, maka dapat mengalirkan darah kesluruh badan. Degan itu, manusia mempunyai kehidupan, indera, pengelihatan, pendengaran, pembau, dan lainnya. Ia seperti cahaya yang memancar dari lampu rumah. Cahaya itu memancar ke seluruh ruangan. Kehidupan sesungguhnya seperti cahaya yang didapat dari lampu yang ditaruh di pojok dinding rumah. Pergerakan ruh dalam tubuh, seperti pergerakan sinar lampu yang dapat menerangi semua ruangan, cukup dengan menggerakkan lampu itu. Jika ada dokter menyatakan kata ruh (nyawa), maksudnya ruh yang seperti ini.
Ketiga, nafs. Nafs juga mempunyai banyak makna. Terkadang ia bermakna sesuatu amrah dan syahwat yang ada dalam diri manusia. Istilah ini yang sering digunakan sebagai konotasi nafs. Biasanya banyak yang menggunakan kata nafs untuk sesuatu yang tidak baik, seperti ungakap berikut, “Anda harus melawan nafsu Anda”. Ini juga yang dimaksudkan dalam hadis berikut ini:
عدوك نفسك التي بين جنبيك
Artinya : “Musuhmu yang paling besar adalah nafsumu sendiri yang berada di antara kedua sisimu.
Nafs juga punya makna lain yaitu sesuatu yang sangat lembut yang menjadi sumber kehidupan manusia. Ia adalah jiwa manusia. Hanya saja, ia mempunyai berbagai macam sifat tergantung pada kondisi. Jika sifatnya tenang dan jiwa tadi dapat mengalahkan nafsu syahwat, maka ia disebut dengan nafs muthmainnah. Firman Allah:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي (30)
Artinya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)
Nafu syahwat sendiri dalam al-Quran tidak mendapatkan panggilan Allah karena ia mendapat murka Allah dan ia masuk dalam kelompok setan. Jika jiwa tadi belum tenang, namun jika ia berbuat salah ia selalu menyesal dan menyalahkan dirinya ketika ia kurang beribadah kepada Allah. Ia disebut dengan nafsu lawwamah.
ولا أقسم بالنفس اللوامة
Artinya: Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). (QS. Al-Qiyamah: 2)
Jika jiwa itu selalu mengikuti langkah syahwat dan jalans etan, maka ia disebut dengan nafs al-amarah bissu’. Firman Allah ketika berbicara dengan nabi Yusuf:
وما أبرئ نفسي إن النفس لأمارة بالسوء
Artinya: Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan. (QS. Yusuf: 53)
Keempat, akal. Ia juga mempunyai banyak makna, seperti yang telah kami sampaikan di bab ilmu. Ilmu kadang maksudnya adalah ilmu atas hakekat sesuatu. Ini artinya, ia merupakan sifat ilmu dan tempatnya berada di jantung. Terkadang maksudnya adalah suatu sarana untuk mengetahui ilmu. Tempatnya juga dalam jantung, namun jantung sebagai benda yang sangat halus.


—++—-+——–

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899