Menjadi Orang yang Bermanfaat


Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

Assalamualikum wr. wb.

Apa kabar saudaraku? Semoga kita senantiasa dianugerahi oleh Allah SWT kemantapan iman, ketakwaan, dan kesehatan dalam menjalani kehidupan yang bermanfaat. Amin!

Rasulullah saw. bersabda,

وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR Ahmad, Thabrani, dan Daruqutni)

Di dalam kehidupan sosial ada bermacam tipe orang. Ada orang tidak mau tahu dengan orang lain. Ada orang memilih-milih teman. Ada orang yang berbuat untuk orang lain jika ada maunya. Ada pula orang yang memberikan perhatian penuh kepada orang di sekitarnya.

Orang yang tidak mau tahu dengan masyarakat di sekitarnya biasanya berlaku di perkotaan, seperti di perumahan mewah. Kehidupan nafsi-nafsi terlalu kental di lingkungan seperti itu. Malah, sudah tinggal bertahun-tahun di lingkungan itu, dia tidak kenal dengan tetangga di sebelah rumahnya. Dia berangkat pagi dan pulang malam. Kalaupun pulang sore, dia langsung “berkurung diri” di “istana”nya.
Rasulullah saw. mengecam sikap yang demikian,
“Siapa yang pada pagi harinya hasrat dunianya lebih besar tidak ada apa-apanya di sisi Allah, siapa yang tidak takut kepada Allah tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan siapa yang tidak ada perhatian dengan urusan kaum muslimin semuanya bukan golongan mereka.” (HR Al-Hakim dan Baihaqi)

Di dalam masyarakat ada juga orang yang memilih-milih teman, termasuk tetangganya. Bisa jadi hal itu karena pengaruh status sosialnya. Karena kehidupannya yang berkecukupan, bahkan berlebih, orang seperti itu cenderung bergaul dengan orang setaraf dengannya. Orang-orang status sosialnya lebih rendah darinya tidak masuk hitungannya dalam pergaulan. Kesulitan yang dihadapi oleh tetangganya tidak digubrisnya. Orang seperti juga tidak akan digubris pula oleh Allah SWT. Sebaliknya, orang yang memahami keadaan orang lain, bahkan dengan orang yang susah, akan ditolong oleh Allah SWT.

Rasulullah saw. bersabda,

وَ اللهُ فىِ عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْهِ

“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” [HR Muslim No. 2699; Tirmidzi No. 1930, 1425, 2945; Abu Dawud No. 4946, Ibnu Majah No.: 225; Ahmad: II/ No. 252, 296, 500, 514)

Sebagian lagi ada orang yang mau memberikan perhatian kepada orang lain jika ada maksud tertentu. Orang yang seperti itu termasuk orang beramal karena pamrih. Pamrih itu bisa jadi ingin disanjung, ingin dipandang dermawan, ingin dianggap tokoh yang peduli, ingin diterima atau didukung pencalonannya sebagai kepala daerah atau wakil rakyat. Berbagai bantuan diberikan demi tercapai keinginannya. Tidak jarang pula jika keinginannya tidak terwujud atau dia tidak terpilih, bantuannya itu diminta kembali. Hal itu terjadi dan tidak jarang pula orang itu kehilangan keseimbangan berpikir sehingga pikirannya terganggu. Itulah amal yang sia-sia yang justru perbuatannya itu kembali kepadanya. Allah SWT menyebutnya sebagai amal yang ria dengan firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُبْطِلُوا۟ صَدَقَٰتِكُم بِٱلْمَنِّ وَٱلْأَذَىٰ كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٌ فَتَرَكَهُۥ صَلْدًا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَىْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ

“Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Maka, perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadikan dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS Al-Baqarah: 264)

Sikap seperti itu tidak akan bermakna bagi kehidupannya karena apa yang diberikannya kepada orang lain tidak bernilai sama sekali di mata Allah SWT. Allah mengibaratkan seperti tanah yang ada di atas batu, lalu ditimpa hujan lebat. Tanah itu akan hilang tidak berbekas dibersihkan hujan. Begitulah perumpamaan orang yang beramal karena tidak ikhlas yang ingin mencari keuntungan pribadi.

لَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَآ أَتَوا۟ وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُوا۟ بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا۟ فَلَا تَحْسَبَنَّهُم بِمَفَازَةٍ مِّنَ ٱلْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan dan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa dan bagi mereka siksa yang pedih.” (Ali Imran: 188)

Ada pula orang yang memberikan perhatian penuh dan peduli kepada orang di sekelilingnya. Orang seperti itu adalah orang yang terpanggil untuk berbuat dan beramal untuk kepentingan orang lain. Biasanya karakter seperti itu tumbuh dari lingkungan dan pembinaan keagamaan yang baik dan kehidupan yang prihatin. Bagi dia apakah dalam keadaan berpunya atau tidak sama saja. Jika dia memiliki kemampuan yang cukup dan berlebih, perbuatan baiknya kepada orang lain tetap dilakukan tanpa diingatkan. Apa yang dapat diberikan dilakukannya. Kalau dia memiliki harta, dia berikan sebagian hartanya itu untuk kemaslahatan orang yang memerlukan atau umat. Pada saat tidak memiliki apa-apa, dia memberikan apa yang dapat diberikan. Apakah pikiran, ilmu, atau tenaga. Itulah pada hakikat hamba yang menjadi hamba yang terbaik bagi orang lain.

Untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, seseoran harus mulai terhadap lingkungan terdekatnya: kepada orang tua, saudara, keponakan (keluarga dekat), lalu keluarga jauh, dan siapa pun yang memerlukannya.

لَّيْسَ ٱلْبِرَّ أَن تُوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلْكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّۦنَ وَءَاتَى ٱلْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينَ وَٱبْنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِى ٱلرِّقَابِ

“Bukanlah suatu kebajikan itu menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya….” (QS Al-Baqarah: 177)

Ada prioritas dalam berbuat baik yang dimulai dari keluarga terdekat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta, sampai hamba sahaya (untuk dimerdekakan). Walaupun begitu, prioritas itu pun harus dikuti dengan situasi dan kondisi yang terjadi. Jangan sampai ada peminta-minta datang kepada kita, dia tidak dilayani dan tidak diberi sedekah karena ada pikiran bahwa kita harus menyantuni keluarga dekat kita dulu. Hal itu tidak boleh terjadi. Yang baik itu adalah yang dekat diperhatikan dan jauh pun tidak ditinggalkan. Harus diingat bahwa perbuatan baik itu akan dinilai oleh Allah SWT jika didasarkan atas iman (kepada Allah SWT, hari Akhir, para malaikat, kitab-kitab, para nabi). Tanpa iman semua amal baik itu tidak bernilai di sisi Allah SWT, sesuai dengan ayat tersebut.

Siapa yang paling utama diberikan perhatian? Ayah-bunda adalah orang yang paling dekat dengan kita. Sudahkah kita memberikan perhatian yang cukup kepada mereka? Jangan sampai terjadi bahwa kehidupan kita berkecukupan sementara orang tua terlunta-lunta? Saudaraku ada yang di rantau sementara orang tua di kampung jangan sampai lupa kepada mereka. Apakah mereka hari ini makan atau tidak sementara saudaraku makan enak? Ada yang mengeluh kepada saya bahwa anaknya “tidak tahu diuntung”. Berita tidak, bertanya tidak, dan tidak mau tahu dengan kondisi orang tuanya. Bahkan, ada yang sudah berpuluh tahun berpisah karena pergi merantau? Subhanallah, bukankan pada masa tuanya kita ingin orang tua kita bahagia? Kalau dapat hidup bersama kita? Ingatkah kita pada masa kecil? Ibunda menyusui, meninabobokkan, mengasuh, menyuapi kita. Bahkan, kita membasahi pakaiannya dengan buang air ketika dia sedang makan? Kalau saudaraku sekarang sudah menjadi orang tua, terasakah sulit dan repotnya membesarkan anak? Banyak orang yang mengorbankan pekerjaannya untuk mengasuh dan membesarkan anaknya. Dapat dibayangkan jika anak yang sedang kita sayang dan kita rawat nantinya melupakan jasa kita selaku orang tua? Cukupkan keperluannya, senangkan hatinya, bekorbanlah untuk mereka sebagaimana mereka terlalu banyak bekorban untuk kita. Ada pepatah, “Sayang orang tua sepanjang jalan, sayang anak sepanjang pengalan (galah). Allah SWT berfirman,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah, melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”! Janganlah engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (Al-Isra: 23-24).

Ucapan itu kita sampaikan di saat berdoa. Jika salah satu atau keduanya telah tiada, kita bacakan pula doa itu. Bentuk bakti kita terhadap mereka yang sudah meninggal, antara lain, mendoakan mereka.

Kerabat lain juga jangan sampai luput dari perhatian dan kebajikan kita. Perhatikan kondisi mereka apakah mereka memerlukan bantuan kita? Kalaupun tidak memerlukannya, mereka perlu diberikan perhatian, baik pemikiran, pengawasan, pembinaan pendidikannya (mungkin juga biaya bagi yang masih dalam pendidikan sebagai wujud pengikat silaturahmi dan tanggung jawab). Seseorang yang sudah keluarga pada hakikatnya memiliki dua keluarga besar, baik keluarganya maupun keluarga istrinya. Keadilan memberikan perhatian kepada kedua keluarga itu penting. Jika suami memberi bantuan pendidikan kepada keponakannya (umum berlaku di Minangkabau: anak dipangku keponakan dibimbing), dia juga dituntut untuk memperhatikan keluarga istrinya yang tidak mampu dengan apa pun yang dapat diberikan. Itulah hakikatnya menjadi orang yang terbaik terhadap orang lain.

Saudaraku, menjadi pribadi yang bermanfaat adalah salah satu karakter yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Muslim diperintahkan menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Apa yang kita berikan kepada orang lain itu keuntungannya akan kembali kepada diri sendiri. Nabi saw. bersabda,

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ, ةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Siapa yang memudahkan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan dunia, Allah akan memudahkan kesulitannya pada hari Kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan niscaya akan Allah memudahkan baginya di dunia dan akhirat.” (HR Muslim).

Manfaat yang diberikan kepada orang lain bukan saja materi. Bisa juga ilmu, keterampilan, keahlian, dan sikap baik. Orang yang memerlukan materi dapat kita bantu dengan sebagian harta kita kepada mereka. Orang yang memerlukan bimbingan keilmuan karena kita memiliki ilmu yang memadai, baik ilmu keduniaan yang diperlukan dalam berbagai bidang kehidupan maupun ilmu keagamaan, kita berikan untuk membantu mereka dalam menjalani kehidupan. Jika kita memiliki keterampilan dan keahlian jangan pelit untuk berbagi. Jika kita memiliki sikap baik dalam hidup silakan berikan nilai-nilai luhur sebagai kemanfaatan bagi orang lain dalam kehidupannya di masyarakat. Amin!

Wallahul-muwatiq ila aqwamit-tariq.

Wassalamualaikum wr. wb.

Ciledug, 6 Juni 2020

—++—-+——–

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899