Manusia yang Berumur Panjang dan Beramal Baik

Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

Assalamualaikum wr. wb.

Apa kabar saudaraku? Semoga kita selalu diberikan kesehatan lahir dan batin oleh Allah SWT sehingga dapat melaksanakan ibadah dan amal saleh pada masa hidup, apalagi pada masa tua. Amin!

Nabi Muhammad saw. bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ، وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya dan sejelek-jelek manusia adalah orang yang panjang umurnya dan jelek amalannya.” (HR Ahmad dan Tirmidzi No. 2330)

Mengapa orang yang panjang umur itu tergolong yang terbaik menurut Rasulullah? Tidak semua orang panjang umurnya dapat menjalani kehidupan dengan mulus. Bukankah kita banyak menyaksikan orang yang sudah tua justru menimbulkan masalah dalam keluarganya. Masalah itu bisa jadi karena ketuaan yang menyebabkan badan sudah uzur, kulit sudah kendur, gigi sudah banyak yang gugur, mata menjadi kabur, pendengaran sudah tak terukur, ingatan sudah ngawur, apa yang dilakukan tidak bisa diatur, yang pasti sudah makin dekat ke kubur.

Ketuaan merupakan suatu proses hidup yang dilalui manusia. Pada masa tua ada tiga kondisi yang terjadi pada manusia: (1) kondisi pikun, (2) kondisi sakit-sakitan, dan (3) kondisi bugar dalam ketuaan.

Kondisi pikun atau demensia (senile dementia) adalah kondisi yang dialami oleh manusia pada masa tuanya karena terjadi penurunan fungsi kognitif dan daya ingat otak. Kepikunan itu disebabkan adanya penurunan fungsi otak yang meliputi penurunan daya pikir, penurunan daya ingat, penurunan kemampuan gerak tubuh, gangguan mental, gangguan perilaku, dan gangguan suasana hati (mood). Orang yang seperti itu kembali ke keaadannya semula pada saat kecil sehingga amalnya sudah tidak ada lagi yang dapat dilakukan. Hal itu dijelaskan oleh Allah SWT dala firman-Nya,

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفَّىٰكُمْ ۚ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرْذَلِ ٱلْعُمُرِ لِكَىْ لَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْـًٔا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu. Di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun) supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (QS An-Nahl: 70)

Pada ayat yang lain, Allah berfirman,

وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ ۖ أَفَلَا يَعْقِلُونَ

“Siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadiannya. Maka, apakah mereka tidak memikirkannya?” (Yasin/36:68)

Pada masa tua ada juga yang sudah terjadi penurunan yang berarti dalam bentuk sakit-sakitan. Baik fisik maupun psikis terlihat ada penurunan. Kemampuan kognitifnya agak bagus dan tingkat kesadarannya pun masih lumayan. Hanya saja secara fisik terjadi penurunan sehingga kondisi tubuhnya lemah. Orang seperti itu memiliki keterbatasan untuk beramal saleh yang optimal kerena amal saleh sangat ditentukan juga oleh kondisi fisik yang baik.

Sakit-sakitan merupakan kondisi yang umumnya terjadi pada masa tua itu. Ibarat mobil yang sudah lama dipakai, banyak onderdil yang sudah aus dan adalakalanya macet. Hal serupa terjadi pada tubuh manusia. Itulah sunatullah yang selalu berputar dalam kehidupan. Tinggal orang tua harus menyadari perubahan itu dan menerimanya dengan usaha, sabar, dan tawakal kepada Allah SWT. Usaha dilakukan untuk mengobati yang terasa sakit. Itu harus dilakukan karena sunah Rasulullah saw. bahwa “setiap penyakit ada obatnya”. Karena ada obatnya, orang yang merasa sakit tetap berobat untuk kesembuhan. Sabar menjadi sikap mental agar tidak terlalu dipikirkan dan diterima dengan tabah. Tawakal merupakan pengakuan kita bahwa yang terjadi pada diri sudah menjadi ketentuan Allah SWT dan ikhlas menerimanya.

Dalam konteks amal, orang tua dalam kondisi ini masih dapat beramal sesuai dengan kemampuan. Jika amal itu menuntut perbuatan fisik, seperti salat berdiri dan puasa untuk beberapa jam, kemampuan fisik sangat dituntut. Jika tidak kuat salat berdiri, salat dapat dilakukan dalam keadaan duduk; kalaupun tidak sanggup berdiri, berbaring pun dapat dilakukan. Yang penting kewajiban salat jangan sampai diabaikan. Jika tidak sanggup berpuasa, jangan dipaksakan walaupun keyakinan dan keimanan kuat untuk berpuasa yang berakibat buruk terhadap ketahanan fisik. Allah SWT berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

“Allah tidak membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.’ (QS Al-Baqarah: 286)

Orang tua yang dalam kondisi itu harus ditumbuhkan kemauan untuk beramal dengan sebaik dan sebanyak mungkin. Selama ada yang masih bisa dilakukan, lakukan! Penyakit yang kita rasakan diterima dengan kesabaran. Boleh jadi Allah SWT mengangkat dosa dan kesalahan kita dengan penyakit yang kita rasakan. Rasulullah saw. bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, kecuali Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari No. 5660 dan Muslim No. 2571)

Dalam hadis yang lain, disebutkan

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً

“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya.” (HR Muslim No. 2572)

Kondisi yang ketiga adalah orang yang diberi umur panjang, baik fisik maupun psikisnya masih kuat. Orang yang seperti ini adalah orang-orang pilihan. Secara kesehatan bisa jadi dia menjaga makanan empat sehat lima sempurna. Di samping itu, olahraganya cukup. Hal itu tidak menjamin keadaan seperti itu. Barapa banyak juga olahragawan yang kondisinya tidak seperti yang diharapkan. Selain menjaga kondisi fisik, yang paling penting menjaga kondisi hati. Hati yang bersih dan suci akan melahirkan fisik yang kuat dan sehat. Hati adalah sentral yang akan memberi sinyal, bahkan rasa sakit ke seluruh tubuh. Rasulullah menjelaskan dalam hadisnya,

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, seluruh tubuh juga baik. Jika segumpal daging itu rusak, seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR Muslim No. 1599 dari Nu`man bin Basir)

Barangkali ada baiknya berbagi pengalaman tentang kehidupan Ayahanda H. Ruskhan. Beliau dikaruniai Allah SWT umur panjang sampai 100 tahun, meningal tahun 2010. Sampai akhir hayatnya daya kognitif (daya pikir)nya masih bagus. Jika pulang ke kampung, saya selalu tidur bersama beliau. Beliau bertanya keadaan semua keluarga saya. Beliau banyak juga bercerita tentang masa lalu, termasuk hal-hal yang terkait dengan keadaan beliau dan saya ketika berjualan di Kota Bukittingi. Semua terungkap dengan jelas dan ucapan yang tulus. Belum lagi nasihat yang beliau sampaikan kepada saya bagaimana di dalam hidup ini.
Saya bertanya kepada beliau tentang rahasia umur beliau yang panjang dan kondisi fisik pun masih baik. Kadang-kadang beliau salat duduk di kursi. Itu sangat lazim terjadi bagi orang tua. Menurut beliau, yang paling penting bagaimana kita dapat menjaga hati. Jauhkan penyakit hati yang akan merongrong hati dan berpengaruh ke tubuh. Yang penting lagi, kata beliau, jaga silaturahmi dengan keluarga dan orang lain. Hal yang terakhir ini sangat berkesan bagi saya, baik langsung saya lihat maupun tidak langsung melalui cerita keluarga. Kebiasaan beliau mengucapkan salam dan bersalaman dengan orang yang beliau jumpai. Bahkan, waktu muda dan baru menikah dengan Ibunda, beliau dikenal dengan Tuanku Mudo (gelar adat) dengan tambahan julukan “Salam-Salam’ (karena kebiasaan beliau bersalaman). Itu yang sangat berkesan dalam hidup saya. Tidak salah sabda Rasulullah bahwa silaturahmi itu memperpanjang umur,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ ”

“Siapa yang senang diluaskan rezekinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR Bukhari No. 2067)

Terkait dengan hati, menurut Ibnu Qayim al-Jauzi, obat yang paling mujarab dalam menghadapi penyakit hati dan penyembuhannya adalah sebagai berikut.

  1. Menjaga kekuatan mental dengan ilmu yang bermafaat dan bentuk ketaatan kepada Allah SWT karena keduanya menjadi nutrisi bagi manusia.
  2. Menghindari hal-hal yang memperparah penyakit dengan menjauhkan diri dari maksiat dan dosa.
  3. Gemar membaca Al-Qur’an dan tadabur (merenungkannya) karena Al-Qur’an dapat memberikan ketenangan lahir dan batin manusia.
  4. Rajin mengosongkan perut dengan berpuasa.
  5. Mendirikan salat malam (tahajud) karena bisa membantu menemukan solusi tentang penyakit hati yang dimiliki dan minta dengan bersungguh-sungguh kepada Allah SWT agar akan diberi kelapangan dada.
  6. Merendahkan diri di hadapan Allah SWT (dengan doa dan zikir)
  7. Bermajelis (bergaul) dengan orang-orang saleh atau mengikuti kajian-kajian keislaman.

Mungkin ada yang bertanya, apakah mungkin umur seseorang dipanjangkan Allah? Bukankah umum itu sudah merupakan takdir Allah? Berdasarkan hadis itu bisa terjadi jika Allah SWT berkehendak.

Ada tiga pandangan tentang umur yang dipanjangkan itu: (1) benar-benar ditambah umurnya, (2) ditambah keberkahannya, dan (3) masih selalu dikenang dan diperoleh manfaatnya sepanjang masa.

Umur dapat dipanjangkan oleh Allah SWT seperti peristiwa seorang pemuda yang akan menikah besok pagi pada masa Nabi Ibrahim. Ketika itu Malaikat Pencabut nyawa datang kepada Nabi Ibrahim yang di sebelahnya ada seorang pemuda. Ibrahim bercerita kepada malaikat bahwa pemuda itu akan menikah besok. Malaikat berkata, bagaimana mungkin dia bisa menikah, padahal besok saya akan mencabut nyawanya. Malaikat berlalu. Nabi Ibrahim tidak sampai hati untuk menyampaikan berita kematian itu kepada pemuda itu.
Besoknya pemuda itu melangsungkan perkawinannya. Sehari, seminggu, sebulan, setahun ternyata pemuda itu masih hidup. Lalu, Nabi Ibrahim bertanya kepada Malaikat Izrail dalam suatu kesempatan, apakah Malaikat berhohong karena kenyataannya pemuda itu masih hidup? Ternyata bukan berbohong, tetapi pada saat Malaikat akan mencabut nyawanya, Allah SWT menahan Malaikat untuk tidak mencabut nyawa pemuda itu karena pada malam sebelum pernikahan dia telah menyedekahkan separuh hartanya. Itulah yang membuat umurnya panjang sampai 70 tahun.

Kedua, keberkahannya yang ditambah oleh Allah SWT seolah-olah dia merasa umurnya itu bertambah karena keberkahan hidupnya. Keberkahan itu muncul karena hidupnya diisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Sepanjang hayatnya dia selalu melakukan amal saleh dan ibadahnya kuat. Itulah hidup yang bermanfaat dan berkah.

Ketiga, hidupnya di dunia sesuai dengan takdirnya, apakah 40 tahun, 50 tahun, atau 60 tahun. Namun, sepeninggalnya orang masih mengenang jasa-jasanya, karyanya, , wakafnya, dan tausiahnya. Imam Syafii dan imam fikih, hadis, tafsir, tasauf yang lain masih disebut namanya, diambil fatwa dan nasihatnya, dibaca karyanya, dan sebagainya. Nama Buya Hamka masih disebut dan diingat orang sampai sekarang, apalagi karyanya banyak dibaca. Begitulah cara Allah memanjangkan umur seseorang.

Akhirnya, jadilah kita sebagai orang yang umurnya panjang dan amalnya meningkat yang tergolong orang yang terbaik. Kita berdoa agar pada usia tua masih dapat berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi diri kita dan orang lain. Apa pun kebaikan yang kita lakukan akan bernilai ibadah di sisi Allah jika kita niatkan karena Allah SWT. Kita diberikan kesehatan yang mendekatkan kita untuk taat kepada Allah dan tidak lain yang kita harapkan selain rida-Nya. Kita berdoa agar terhindar dari kepikunan dan menjadi manusia yang paling jelek karena pada hari tua amalnya pun jelek. Nuzubillah!

Wallahu a’lam bissawab.

Wassalamualaikum wr.wb.
Ciledug, 8 Juni 2020

—++—-+——–

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899