Karakteristik Ilmu Pengetahuan Dalam Islam (Bagian XXXVI)

Oleh: Wahyudi Sarju Abdurrahm , Lc. M.M

اَمَّا بَعْدُ فَاِنَّ الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ (1 (مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ كلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ (2 (وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا (3 (وَهَا نَحْنُ نَشْرَعُ فِى بَيَانِ اُصُولِ العَقَائِدِ الصَّحِيْحَةِ.


Kemudian dari pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu, yakni mereka yang terjamin keselamatannya (1), mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah (2). Mereka berpendapat bahwa memperdalam pengetahuan tentang ‘alam untuk mendapat pengertian tentang Allah, adalah wajib menurut ajaran Agama (3). Dan demikianlah maka kita hendak mulai menerangkan pokok-pokok kepercayaan yang benar.

Syarah HPT:

Kata Kunci: Kata Kunci: لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا (Untuk mendapat pengertian tentang Allah, adalah wajib menurut ajaran Agama).

Studi mengenai tabiat ilmu pengetahuan dalam Islam  mempunyai cakupan yang cukup luas. Terdapat perbedaan pandangan terkait tabiat ilmu pengetahuan dalam pandangan filsuf Barat dengan paraulama Islam. Umumnya para filsuf Barat memandang pengetahuan secara independen dan lepas dari Tuhan. Ilmu menjadi obyek pengetahuan dan bertujuan sekadar untuk ilmu. Sementara Islam  memandang bahwa ilmu pengetahuan manusia merupakan anugerah dan pemberian dari Allah saw. Ilmu bukan untuk ilmu, namun untuk kemaslahatan manusia di muka bumi. Ilmu digunakan untuk kesejahteraan masyarakat. Ilmu tidak menambah orang menjadi sekuler, justru semakin sadar mengenai kekerdilan dirinya di hadapan Allah Sang Maha Mengetahui.

Firman Allah:

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً

Artinya: “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS. Al Isra: 85)

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ  . الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal () (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran Ayat 190-191).

قَالُوا۟ سُبْحَٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ

Artinya: Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Baqarah: 32)

Dari sini bisa ditarik beberapa kesimpulan bahwa ilmu pengetahuan dalam Islam mempunyai beberapa karakteristik sebagai berikut:

1.         Pengakuan mutlak bahwa ilmu pengetahuan, sesungguhnya adalah milik Allah. Manusia hanya diberi sedikit pengetahuan dari Allah guna kemaslahatan dan peran manusia sebagai khalifatullah di muka bumi.

2. Ilmu bukan sekadar untuk ilmu. Namun ilmu sebagai sarana penunjang kehidupan manusia untuk membangun peradaban di muka bumi. Ilmu tidak boleh disalahgunakan sehingga menghancurkan dan menimbulkan kesengsaraan bagi umat manusia.

3. Islam mengakui adanya ilmu yang bersifat fisik yang dapat dikaji secara faktual dan dapat diteliti secara empiris. Pengetahuan seperti ini sifatnya rasional dan dapat dibuktikan secara ilmiah.

Para ilmuan Islam bukan sekadar berwacana dan melakukan pemikirana atau perenungan,namun melakukan kajian secara mepiris. Para saintis muslim seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Ibnu Haitsam dan lainsebagainya, mereka mempunyai laboratorium sendiri guna melakukan pembuktian keilmuan.

Di masa kejayaan Islam, banyak terdapat teropong bintang di berbagai wilayah Islam guna melakukan penelitian tentang perbintangan. Di berbagai rumah sakit, banyak dijumpai labolatorium guna penelitian terhadap berbagai penyakit dan obat yang dapat digunakan. Kedokteran, fisika, kimia, astronomi dan berbagai ilmu lainnya dapat berkembang pesat. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat mendukung perkembangan ilmu pengetahuan, serta mendorong penelitian ilmiah. Islam percaya dengan wujud materi sebagai bagian dari ayat-ayat Allah yang harus diteliti. Para saintis muslim percaya bahwa alam raya sesungguhnya ditundukkan demi kemaslahatan umat manusia.

Banyak sekali kita jumpai dalam al-Quran yang menerangkan mengenai alam materi, sebagaimana firman Allah berikut ini:


هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ.

Artinya: “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang mengetahui.” (QS.Yunus: 5).

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Artinya: “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri; maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzâriyât: 20-21).

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

Artinya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan; dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan?” (QS. Al-Ghasyiyah: 17-20).

وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ أَفَأَمِنُوا أَنْ تَأْتِيَهُمْ غَاشِيَةٌ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ أَوْ تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Artinya: “Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya? (Yusuf: 105-107)

 أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Artinya:  “Apa kalian mengira bahwa sessungguhnya Kami menciptakan kalian sia-sia dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami lagi.” (QS. Al-Mukminun: 115).

  • Islam juga mempercayai alam metafisik (al-ghaibiyat). Dikatakan metafisik karena ia tidak dapat dijangkau oleh indera manusia yang hanya bisa mengetahu terhadap hal-hal yang sifatnya fisik. Metafisik tak Nampak, namun ia benar adanya.

Pengetahuan metafisik hanya dapat diketahui melalui kitab suci al-Quran dan sunnah nabi Muhammad saw. Di antara pengetahuan metafisik adalah keberadaan Tuhan Semesta Alam, malaikat, jin, alam kubur,  shirath, surga, neraka, dan lain sebagainya.

Keyakina umat Islam tersebut, tentu berbeda dengan para filsuf kalangan materialistic yang hanya sekadar percaya dengan alam fisik. Islam tidak percaya dengan pandangan filsuf yang mengatakan bahwa alam dating secara kebetulan, Tuhan telah mati, manusia berasal dari kera, energy sifatnya kekal dan lain sebagainya. Semua dating dari Allah, dan kelak akan kembali kepada Allah.

  • Alam raya yang sifatnya fisik, sesungguhnya sebagai sarana manusia untuk mengenal dan mempercayai Tuhan Yang Maha Esa yang sifatnya non fisik. Alam raya, merupakan bagian dari tanda-tana kebesaran Allah, atau ayat kauniyah. Seluruh ayat-ayat kauniya tadi, tadi bagi umat Islam selalu terkait dengan kuasa Allah. Ini artinya bahwa alam raya mempunyai keterkaitan erat dengan Allah. Alam raya tidak muncul begitu saja dan tidak mempunyai kekuatan sendiri. Semua yang terjadi di dunia ini, atas kuasa Allah semata.