Beranda Khazanah Islam Menjunjung Tinggi Semangat Toleransi

Islam Menjunjung Tinggi Semangat Toleransi

Dr. Mustofa Murod
Dosen pada fakultas Dakwah – Universitas Al-Azhar Kairo.

Menurut anda, apa definisi dari terminologi al-tasamuh (toleransi) itu?

Al-tasamuh secara etimologis adalah derivasi dari kata samaha yang berarti membolehkan atau mentolerir. Kata samaha digunakan dalam perkataan, perbuatan dan mu’amalah. Dalam perkataan, toleransi berarti penggunaan lafadz yang baik, sedangkan dalam perbuatan biasa berarti kasih sayang, kehalusan, dan kelembutan. Adapun dalam mu’amalah, toleransi berarti memaksimalkan sesuatu yang sedikit tanpa diiringi sifat dzalim. Seperti pembeli pada penjual yang boleh menawar barangnya beberapa dinar atau dirham. Adapun secara terminologis, samaha berarti mu’amalah yang baik dan memaafkan kesalahan orang lain.
Kita telah melihat Allah telah mengajarkan kita lafadz al-tasamuh ini dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim; bahwasannya Nabi Muhammad Saw. bercerita tentang seorang laki-laki yang hidup pada masa sebelumnya. Laki-laki itu tidak menemukan satu perbuatanpun yang bisa memasukkannya ke surga. Allah berfirman, “Wahai, hamba-Ku, apa engkau memiliki amal yang bisa memasukkan engkau ke surga?” dia menjawab, “Tidak ada.” Allah mengulangi pertanyaan tersebut, “Apakah engkau mempunyai amal yang bisa memasukkan engkau ke surga dan menjauhkan engkau dari api neraka?” Dia menjawab, “Tidak.” Hamba itu melihat bahwasannya dia tidak mempunyai satu amalpun yang membuatnya bisa merasakan indahnya surga. Maka Allah berfirman, ”Lihatlah hamba-Ku.” Hamba itu berkata, “Wahai Tuhanku, aku dulu mengatakan pada sekelompok pemuda. Apabila datang kepada kalian seorang yang menyusahkan maka ingatkanlah.” Dalam riwayat yang lain dikatakan, “Maka maafkanlah.” Allah kemudian berfirman, “Aku lebih berhak dari pada engkau dalam urusan ini, aku telah mentolrirmu (memberikan toleransi).” Disinilah tercermin rasa saling mentolerir dan memaafkan tersebut.

Selanjutnya, toleransi seperti apa yang telah digariskan oleh Islam dalam setiap demensi kehidupannya?

Istilah toleransi digunakan ketika kita berinteraksi dengan orang lain. Agama Islam mengajarkan agar kita berhubungan dengan manusia, bisa menerima tabiat orang lain dan tidak menolak seorangpun. Hal ini telah sejak awal dituntut oleh agama Islam. Dalam al-Qur’an Allah berfirman, dalam surat al-Mumtahanah, “Allah tidak melarang kamu dari orang-orang yang tidak memusihi kamu dalam agama kamu dan orang-orang yang tidak mengusir kamu dari tempat tinggal kamu agar kamu berbuat baik dan berlaku adil, sesungguhnya Allah itu menyukai orang-orang yang adil.”
Kita juga melihat contoh dari sikap Rasulullah Saw. yang tetap berinteraksi dengan orang-orang Yahudi. Sekedar contoh ketika Nabi wafat, baju besinya masih digadaikan kepada seorang Yahudi. Selama Rasulullah berhubungan dengan mereka, terjadi hubungan timbal balik antara Rasulullah dengan orang-orang Yahudi tersebut. Rasulullah pernah berhutang pada seorang Yahudi bernama Zaid bin Sa’na. Di situlah terjadi sebuah interaksi sosial antara Rasulullah dengan mereka, padahal mereka beberapa kali mencoba melakukan usaha pembunuhan terhadap Nabi. Dalam masalah pernikahan pun, Allah tetap membolehkan seorang muslim laki-laki menikahi wanita ahli kitab (Nasrani atau Yahudi). Allah berfirman dalam surah al-Maidah, “Dan wanita-wanita muslimah serta wanita-wanita ahli kitab sebelum kamu sekalian.”
Allah membolehkan seorang muslim untuk menikahi ahli kitab yang tetap dalam akidahnya. Ketika seorang laki-laki jatuh cinta kepada wanita yang tidak seagama dengannya, maka Allah tetap memperbolehkan bagi laki-laki tersebut untuk menikahinya dan tidak menyuruhnya untuk meminta agar wanita itu mengganti keyakinannya. Tidak akan dicelahubungan suami istri tersebut sekalipun hubungan itu langgeng sampai ahir hayat keduanya. Ini adalah salah satu prototype dari sebuah toleransi. Selain itu, toleransi juga ada pada keadilan antara seluruh umat manusia, baik itu antara muslim dengan muslin yang lain maupun antara muslim dengan non-muslim. Tidak ada perbedaan antara muslim dan non-muslim dalam hak-hak mereka, yaitu pemberian hak kepada orang yang berhak memperolehnya. Allah berfirman, “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidil Haram mendorongmu berbuat aniaya terhadap mereka.” (Al-Maidah: 02).
Agama Islam telah melarang kita berlaku aniaya dan memusuhi kaum kuffar karena sebab kekafiran mereka. Sebagaimana firman Allah Swt., “Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menegakan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil, dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (Al-Maidah:8)
Dalam surat al-Nisa Allah telah menceritakan kepada kita sebuah kejadian seorang munafik yang mencuri benda dari seorang muslim kemudian meletakkannya di pintu rumah orang Yahudi dengan maksud agar tuduhan itu terarah ke orang Yahudi tersebut. Benda yang dicuri orang itu adalah gandum. Kemudian secara otomatis orang-orang langsung menyangka bahwa pelaku pencurian adalah orang Yahudi. Kemudian al-Qur’an turun menjelaskan perkara yang sebenarnya terjadi bahwa sebenarnya orang Yahudi itu tidak bersalah. Allah berfirman, “Memohon ampunlah kepada Allah karena sesungguhnya Allah itu Maha Penganpun lagi Maha Penyayang. Dan janganlah kamu mendebat orang-orang yang mengkhianati diri mereka sendiri, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang selalu berkhianat dan selalu bergelimang dosa. Mereka bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan Allah Maha meliputi terhadap apa yang mereka kerjakan. Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) pada hari kiamat? Atau siapakah yang jadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah).” (QS. Al-Nisa: 106-109)

Apakah kita bisa menemukan praktek toleransi yang diterapkan pada masa Rasulullah dan Khulafaurrasyidin?

Ya tentu banyak. Sebagaimana salah satunya tadi telah saya sebutkan diatas. Nabi berinteraksi dan mengadakan hubungan bisnis dengan mereka. Begitu juga pasca wafatnya Rasulullah, toleransi tetap terjamin tanpa adanya pengurangan sedikitpun. Orang-orang Yahudi tetap mendatangi umat Islam untuk membayarkan diyah. Pada periode Rasulullah disebutkan, bahwa beliau pernah mengundang orang-orang Nasrani Najran ke Masjid Nabawi untuk diberikan pemahaman tentang apa itu Islam serta mengajak mereka berdiskusi. Allah berfirman, “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian mari kita berdoa kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta.” (QS. Ali Imran: 61). Sampai kepada firman Allah, “Hai Ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak ada sesembahan kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak pula sebagian kita menjadikan atas sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah. Apabila mereka berpaling maka katakanlah bahwasannya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (QS. Ali Imran: 64).
Sedangkan pada masa khulafaurrasyidin penerapan konsep toleransi akan banyak kita temukan. Dikisahkan bahwa Amirul Mukminin Umar bin Khattab pernah berjalan disuatu tempat, kemudian dia melihat seorang Yahudi tua sedang mengemis meminta uang. Umar kemudian mengajak kakek itu ke Baitul Mal. Umar berkata ke pegawai di Baitul Mal, “Berikan bekal harta kepada orang ini.” Kemudian orang tua Yahudi mengambil sejumlah harta dari Baitul Mal milik kaum muslimin. Inilah salah satu bentuk toleransi yang pernah terjadi di masa khulafaurrasyidin.
Umat Nasrani dan Yahudi hidup sebagaimana umat Islam hidup. Sedangkan dalam meghadapi kelompok yang berbeda sekte, mereka (Yahudi-Nasrani) saling membunuh dan saling memusuhi. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa peperangan yang terjadi antara dua sekte kristen yaitu Katolik dan Ortodoks telah berulang kali terjadi. Dalam sejarah kita pernah melihat kepahlawanan Amru bin Ash ketika melakukan ekspansi Islam ke kota Mesir. Ia mengirim utusan untuk mengajak orang-orang Nasrani yang terusir dari Mesir untuk pulang kembali ke negara asal mereka. Kalaulah bukan karena sikap patriot Amru bin Ash, maka sudah barang tentu agama Nasrani sekte Ortodoks tidak bisa kita rasakan keberadaannya sekarang ini karena pengusiran yang dilakukan sekte katolik terhadap mereka. Maka kita bisa melihat bahwa sejarah Islam selalu cenderung untuk mengajarkan umatnya untuk menerapkan konsep toleran.

Apakah agama Samawi lainnya seperti Yahudi dan Nasrani juga terdapat doktrin toleransi?

Pada dasarnya toleransi ada pada setiap agama.namun hal itu menjadi hilang begitu saja ketika distorsi (tahrif) kitab suci yang dilakukan manusia. Pada perjanjian lama, Allah pernah memerintahkan Nabi Ya’qub As. agar membunuh seluruh umat manusia kecuali bangsa Yahudi. Dalam kitab suci agama Nasrani; Injil, disebutkan bahwa Nabi Isa As. mangatakan, “Aku datang ketengah-tengah umat manusia bukan untuk memberitahukan kebenaran, tetapi untuk menancapkan pedang. Aku datang untuk menimbulkan perpecahan antara seorang dengan ayahnya, saudaranya dan dengan istrinya.” Dalam ayat lain disebutkan bahwa Isa mengatakan, “Sayangilah musuh-musuh kamu, berlaku baiklah terhadap orang-orang yang membenci kamu dan do’akan orang-orang yang berlaku aniaya terhadap kamu.” Bagaimana bisa dalam satu kitab suci ditemukan nash (teks) yang saling bertentangan? Ada ayat yang menyuruh untuk berkonfrontasi dengan pedang, sedangkan ayat lain menyeru agar berlaku baik sekalipun terhadap musuh.
Dalam Islam tidak akan ditemukan satu ayatpun yang menyerukan untuk saling bermusuhan. Islam mengajarkan pemeluknya untuk bisa memahami dan mengakomodasi orang lain dalam sebuah batasan toleransi. Dalam Islam tidak boleh melakukan permusuhan kecuali terhadap orang yang lebih dahulu memusuhi. Adapun peperangan dalam Islam dimaksudkan sebagai benteng pertahanan dan perlawanan musuh, bukan sebagai alat untuk menguasai kelompok lain.

Dimanakah posisi Islam dari seruan sebagian kelompok untuk melakukan dialog antar agama? Dan dalam berdialog, apa etika yang harus kita jaga dan kita miliki?

Sebagaimana tadi saya sebutkan dalam konteks Nasrani Najran bahwa dialog antar agama bukanlah suatu yang dilarang. Dialog tersebut hendaklah diadakan dengan niatan dan tujuan untuk menemukan kebenaran sejati. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mendebat Ahli kitab kecuali dengan jalan yang baik, kecuali orang-orang yang didzalimi diantara mereka dan mereka mengatakan kami beriman terhadap apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada kamu.” (QS. Al-‘Ankabut: 29).
Berdasarkan ayat diatas, bisa dikatakan bahwa dialog adalah sesuatu yang boleh, bahkan pernah terjadi di masa Rasulullah. Hendaknya dialog ini dilaksanakan untuk mencari kebenaran sejati, bukan justru menghakimi agama lain. Dialog yang diajarkan Islam, adalah dialog yang dimaksudkan untuk menjelaskan kebenaran. Sedangkan apabila maksud dan tujuan dialog tersebut hanya sebatas debat kusir yang dilakukan atas landasan penindasan dan penghakiman atas agama lain serta pengaburan kebenaran sejati, maka model dialog seperti ini ditolak oleh Islam.

Seringkali kita mendengar istilah pluralisme, ittihad al-adyan atau taswiyah al-adyan. Apa maksud dari tema-tema tersebut? Adakah korelasi antara keduanya?

Sebelumnya tidak ada istilah kesatuan agama (trancendent unity of religions). Yang kita inginkan adalah kembali kepada Islam yang murni, yaitu beriman kepada Allah dan seluruh Rasul dan Nabi. Karena semua Nabi dan Rasul adalah muslim. Mulai dari Ibrahim As., Musa As., Sulaiman As., hingga Isa As.. Nabi Musa As. pernah berkata, “Berkata Musa, Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertakwalah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar berserah diri (muslimin).” (QS. Yunus: 84)
Sedangkan yang dimaksudkan membuat suatu agama baru, di mana siapa saja boleh masuk dan keluar sekehendak hatinya, maka ini sudah mengarah pada Atheisme. Dan ini salah satu bentuk dari gerakan Salibisme untuk memurtadkan orang Islam, agar umat Islam mencela dan memunculkan sikap skeptis pada agamanya sendiri.

Sebuah keniscayaan bahwa dalam setiap agama terdapat orang fanatik yang dapat merusak toleransi antar agama. Bagaimana persepsi anda dalam masalah ini?

Apabila kita membaca ulang sejarah masa Nabi dan Khulafaurrasyidin, kita tidak menemukan satu kelompok yang bersikap fanatik. Sikap fanatik baru muncul setelah periode Khulafaurrasyidin, yaitu ketika terjadi perpecahan politik antara umat Islam dalam masalah Khalifah. Sudah barang tentu selain aliran-aliran yang bermunculan ini masih banyak aliran lain. Aliran tersebut tidak bisa diterima atau dijadika acuan begitu saja. Disinilah perbedaan antara Islam dan pemikiran Islam. Islam adalah al-Qur’an dan Sunnah. Pemikiran Islam adalah hasil interpretasi insan muslim atas keduanya.
Sebagian orang kadang berlebihan dan antipati ketika berhadapan dengan pemikiran orang lain. Akan tetapi tindakan seperti ini tidak bisa digolongkan sebagai bagian dari ajaran Islam. Kita katakan kepada mereka, kembalilah pada al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Nabi bersabda, “Barang siapa tidak berhukum dengan kitabullah pasti akan terjadi ketimpangan diantara mereka.” Aliran dan perbedaan yang timbul dalam masalah akidah muncul ketika kita tidak menjadikan al-Qur’an dan Sunnah sebagai landasan teologis pada stiap amal perbuatan. Jikalau umat mau mengkaji serta mengamalkan isi al-Qur’an, niscaya tidak akan ada sekelompok orang yang bersikap fanatik. Kelompok-kelompok yang tumbuh muncul hampir di setiap penjuru dunia ini tidak mempu melakukan pembacaan terhadap al-Qur’an secara komprehensif. Oleh karena itu, kelompok yang bisa disebut sebagai jaringan teroris ini, sebenarnya bisa dikatakan baru muncul akhir-akhir ini, karena minimnya pengetahuan terhadap ajaran Islam yang murni dalam masalah akidah. Solusinya, kalau mau keluar dari krisis ini hendaklah kembali kepada akidah Islam yang murni yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah. Salah jika ada orientalis menganggap Islam sebagai agama fanatisme, terbelakang dan jumud. Kita lihat keberhasilan ulama fikih (hukum Islam). Mereka menyesuaikan fikih Islam dengan konteks zamannya. Bahkan Nasrani Qibti di sini (Mesir) menggunakan hukum warisan Islam.

Menurut anda, apakah sarana umat bisa memahami urgensi toleransi?

Sarana terpenting adalah peran para dai dan lembaga-lembaga keislaman untuk membimbing umat kearah yang lebih baik. Dalam sebuah hadits hasan yang diriwayatkan oleh al-Nasa’i dikatakan, “Jika ada seorang muslim membunuh orang lain sementara ia dalam jaminan keamanan, walaupun yang terbunuh adalah orang kafir, maka seorang muslim itu seperti membunuhku (Nabi).” Walaupun pada tataran praktis tidak pernah terjadi, namun ini sudah menjadi cerminan umat Islam untuk kembali kepada ajaran Islam.

Anda ketahui 90 persen bangsa Indonesia beragama Islam. Lalu muncul tragedi penyerangan sekelompok Nasrani kepada kaum muslimin, tanggapan anda?

Saya paham dengan kondisi umat Islam Indonesia. Maka langkah pertama yang harus kita lakukan adalah memberitahu orang-orang Nasrani agar mereka tidak memerangi orang muslim dan juga tidak unjuk kekuatan ketika merasa kuat. Dengan demikian, terorisme dan peperangan dapat dihindari. Terorisme yang muncul belakangan ini karena kolonialisme dan imperialisme terhadap Palestine, Afghanistan dan Irak. Bahkan sasaran utama dari berbagai macam tuduhan dan tindak anarkhisme adalah dunia Islam.
Saya menghimbau agar umat Islam kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah dan mengamalkan keduanya. Selain itu, umat Islam harus beretika yang baik. Karena sikap seperti itu yang menunjukkan keagungan Islam. Seperti anda tahu bagaimana Islam bisa masuk ke Indonesia. Dibawa oleh para pedagang muslim yang tentu dengan akhlak mulia.

—++—-+——–

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899