Ikhlas Beribadah kepada Allah SWT

Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Apa kabar saudaraku? Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahi kita kesehatan yng prima sehingga kita dapat beribadah kepada-Nya dan beramal saleh dengan baik pula hanya menngharap rida-Nya. Amin!

Allah SWT berfirman,

لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ * قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya Demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).’” (QS Al-An‘am: 162–163)

Ayat surah Al-An‘am: 162–163 merupakan pernyataan sikap muslim bahwa Allah SWT kita imani ketunggalan-Nya yang tidak ada sekutu dengan yang lain. Selain itu, perintah Allah berupa kewajiban salat dilaksanakan serta hidup dan mati hanyalah untuk Allah SWT. Dengan kata lain, ibadah, hidup, dan mati kita diserahkan secara total kepada Allah SWT. Penyerahan kepada Allah SWT dilakukan dengan tulus hanya mengharapkan rida-Nya. Itulah hakikat ikhlas beribadah dan beramal.

Ibadah yang kita lakukan sangat ditentukan oleh keikhlasan kita beramal. Sebagaimana komintmen muslim di dalam ayat tersebut, kita melakukan salat tidak lain hanya karena Allah SWT. Bahkan, bukan hanya salat—tentu ibadah yang lain juga–, melainkan hidup yang kita jalani dan kematian yang ditunggu kedatangannya kita pasrahkan kepada Allah SWT. Semua kita terima dengan ikhlas dan tidak mengharapkan yang lain dan dari siapa pun, kecuali rida-Nya.

Keikhlasan merupakan prasyarat beramal yang tidak dapat diabaikan. Keikhlasan akan menentukan baik dan tidaknya amal seseorang, bernilai atau tidaknya ibadah seorang hamba di hadapan Allah SWT. Keikhlasan itu merupakan sikap batin yang hanya kita dan Allah yang mengetahuinya. Orang lain hanya dapat menyetahuinya dari gejala dan ciri-ciri seseorang yang berbuat suatu amal ibadah.

Dalam mengibadahi Allah SWT, sesorang dituntut untuk berlaku ikhlas. Bukankah kita beribadah kepada Allah SWT itu hanya semata-mata mengabdi kepada-Nya. Kita tidak mengikutkan yang lain dalam beribadah. Allah SWT memerintahkan kita untuk ikhlas, sebagimana firman-Nya,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal, mereka hanya diperintahkan menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar). (QS Al Bayyinah: 5)

Agama Islam mencakupi seluruh aspek kehidupan manusia, baik secara perseorangan, masyarakat, bahkan negara dan pemerintahan. Aspek kehidupan yang kita jalani tidak akan ada nilainya, salat yang kita lakukan setiap hari, puasa yang kita kerjakan, zakat yang kita bayarkan, umrah dan haji yang kita tunaikan, pergaualan di dalam keluarga dan masayarakat yang kita jalani, pekerjaan dan usaha yang kita tekuni untuk mendapatkan rezeki Allah SWT, dan sebagainya jika tidak dilakukan dengan ikhlas kepada-Nya. Padahal, apa pun yang kita kerjakan pasti kita harapkan bernilai di mata Allah. Tidak ada di antara kita yang menginginkan pekerjaan kita sia-sia dan tidak bermanfaat bagi diri kita. Untuk apa kita menghabiskan waktu dan tenaga untuk bekerja dan beramal sementara pekerjaan dan amal kita dianggap sia-sia oleh Allah SWT.

Jika kita bekerja di kantor atau tempat usaha, pasti kita menginginkan ada keuntungan yang kita peroleh. Di kantor kita mengharapkan gaji dan tunjangan pekerjaan (kinerja) agar kehidupan kita dan keluarga lebih baik dan sejahtera. Bahkan, kita mengharapkan lagi ada bonus dari pekerjaan kita itu. Untuk mendapatkan itu, mungkinkah kita bekerja asal-asalan, tidak serius, tidak sepenuh hati, dan tidak tulus? Jika ada orang yang bekerja seperti itu, dia hanya menghabiskan waktu dan melakukan rutinitas tanpa ada keinginan agar lebih baik. Rasanya, orang yang sadar bahwa kehidupannya itu akan sukses dari pekerjaan yang ditekuninya. Ketekunan tidak mungkin tanpa ada kesungguhan. Orang yang bersungguh-sungguh dengan perasaan hati yang tulus itulah yang disebut ikhlas bekerja. Yakinlah orang seperti itu akan lebih berhasil daripada orang yang hanya sekadar menunaikan pekerjaan dan tugas tidak sepenuh hati dan tidak ikhlas.

Dalam beragama pun seseorang dituntut untuk berbuat dengan ikhlas. Tanpa ada keikhlasan, perbuatan atau amal yang dilakukan akan menjadi sia-sia. Maukan kita banyak beramal, tetapi amal kita itu tidak berarti apa-apa? Amal yang kita lakukan dianggap sia-sia oleh Allah SWT. Memang kita tidak dapat melihat hasil amal kita itu apakah diterima Allah SWT atau diangap sia-sia saja? Itu perbedaannya kita bekerja di kantor atau di mana pun dengan beramal saleh. Perbedaannya terletak dari langsung terlihat atau tidaknya hasil pekerjaan kita itu. Jika di kantor atau tempat kerja sesorang dapat bekerja dengan baik dan mendapat penghargaan dari hasil kerjanya, mengapa beramal yang hasil dan ganjarannya akan kita terima pada saat kita sudah pensiun di dunia ini? Kita tidak dapat melihatnya, tetapi kita meyakini ada ganjarannya yang akan kita terima. Mari kita camkan bahwa beragama itu harus dilakukan dengan ikhlas sebagaimana firman Allah SWT,

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran. Maka, sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama hanya kepada-Nya. Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni (bersih dari syirik). Orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (mereka berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka, kecuali dengan harapan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar. (QS Az-Zumar: 2–3)

Karena ikhlas itu merupakan cara kerja hati, kita harus meluruskan niat dalam beragama, beribadah, dan beramal saleh. Soalnya, apa pun yang kita lakukan bergantung pada niat kita. Jika kita menginginkan kehidupan dunia yang baik, pasti niat kita harus kita luruskan. Begitu pula jika kita mengingikan kehidupan akkirat yang lebih baik, niat pun harus kita murnikan. Rasulullah saw. pernah bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيه

“Perbuatan itu hanya bergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, hijrahnya akan menuju kepada Allah dan Rasulullah-Nya dan siapa yang hijrahnya untuk mendapatkan keduniaan atau untuk seorang wanita yang akan dinikahinya, hijrahnya akan mendapatkan apa yang dia niatkan.” (HR Bukhari No. 54 dan Muslim No.1907 dari Umar bin Khattab)

Dalam bekerja dan beramal niat sangat memegang peranan penting. Pekerjaan dunia jika tidak diniatkan karena Allah SWT tidak ada njlainya di sisi Allah SWT. Namun, pekerjaan yang sifatnya duniawi akan bernilai ukhrawi jika diniatkan karena Allah SWT.
Konteks hadis tersebut memang berbicara tentang hijrah, tetapi semangat niat di dalamnya mencakup segala apa yang kita lakukan, baik yang terkait dengan kehidupan duniawi maupun ukhrawi. Jika sesuatu yang kita niatkan dalam hidup ini karena mencari rida Allah SWT dan mengikuti sunah Rasul-Nya, pekerjaan atau amal kita akan bernilai ibadah yang tentu bernilai di sisi Allah SWT. Namun, jika perbuatan atau amal kita hanya diniatkan untuk mencari kesenangan dunia, seperti ingin mendapatkan harta (rampasan dalam peperangan) atau wanita yang ingin dinikahi, nilainya tidak lebih dari perolehan harta dan wanita itu.

Ibnu Taimiyah menjelaskan pengertian hadis tentang hijrah itu secara teks hadis adalah bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Bepergian adalah ungkapan yang masih umum sehingga sangat bergantung pada niat pelakunya. Bisa jadi seseorang bepergian untuk hal yang wajib, seperti berhaji atau berjihad, dan bisa jadi bepergian untuk hal yang haram, seperti bepergian untuk merampok, bepergian untuk keluar dari jamaah kaum muslimin, kaburnya budak dari tuannya, dan perginya wanita yang dalam keadaan nusyuz (durhaka pada suami). (Majmu’ Al-Fatawa 18/253-254).

Karena niat itu penting, suatu amal tidak akan diterima sebagai suatu kebaikan. Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ العَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصاً وَ ابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

“Sesungguhnya Allah tidak menerima amal perbuatan, kecuali yang ikhlas dan dimaksudkan (dengan amal perbuatan itu) mencari wajah Allah. (HR Nasa-i, VI/25)

Agar kita menjadi orang ikhlas, ada beberapa hal yang dapat dilakukan hal-hal berikut.

Pertama, benarkan keyakinan kita bahwa pengabdian itu hanya ditujukan kepada Allah SWT. Tidak ada lain yang patut kita ibadahi selain Allah SWT. Jauhkan syirik yang akan merusak ibadah dan amal kita serta hadapkan hati kita hanya kepada Allah SWT. “Siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya hendaklah mengerjakan amal yang saleh dan janganlah mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS Al-Kahfi: 110)

Kedua, jauhkan perasaan bahwa setiap amal dan kebaikan kita ingin dihargai atau dipuji orang. Apabila di dalam hati kita muncul perasan demikian, istigfar kepada Allah dan tata kembali niat agar bernilai ikhlas. Keiskhlasan itu tidak menuntut pujian orang dalam beramal karena pujian orang lain yang kita harapkan itu justru akan menggugurkan niat ikhlas kita. Bulatkan hati bahwa yang akan membalas amal kita itu tidak lain hanya Allah SWT.

Ketiga, beramallah dengan sungguh-sungguh tanpa memilih-milih bentuk amal, baik amal yang wajib maupun yang sunah, baik besar maupun yang kecil, seperti memungut duri atau kulit pisang di jalan. Tidak lain di dalam hati kita hanya kebaikan dan kemanfaatan untuk diri kita dan orang lain dan mencari rida Allah SWT yang terjauh dari ria. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Orang yang ria memiliki beberapa ciri: malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Dia makin bergairah dalam beramal jika dipuji dan makin berkurang jika dicela.”

Keempat, timbulkan dalam hati agar senang dan bahagia melihat orang lain beroleh nikmat dan keberuntungan. Kegalauan dan kejengkelan yang muncul di dalam hati ketika saudara, teman, tetangga, mitra bisnis, bahkan orang yang memusuhi kita mendapatkan rezeki dan keberhasilan dalam suatu hal akan menghapus keikhlasan kita. Sebaliknya, perasaan senang dan hati bahagia melihat ada orang yang mendapat keuntungan atau keberhasilan itulah hati yang tulus. Hadis riwayat Ahmad penting dijadikan bekal dalam menumbuhkan syukur, baik yang kita miliki atau dimiliki dan dirasakan orang lain, “Siapa yang tidak bersyukur terhadap yang sedikit tidak pula akan bersyukur terhadap yang banyak dan siapa yang tidak bersyukur terhadap orang lain tidak pula bersyukur kepada Allah SWT.”

Kelima, jujurlah kepada diri kita dan akuilah bahwa kita masih banyak kekurangannya, baik beribadah, beramal, dan bermuamalah. Dengan adanya perasaan kurang itu, kita akan berusaha menambah amal dan kebaikan sehingga di sisi Allah kita termasuk orang berlomba-lomba mengapai rida Allah dan melakukan kebaikan, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 195, “… dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

Keenam, menerima setiap tugas dan posisi yang diberikan kepada kita tanpa berpikir yang paling baik dan menguntungkan bagi diri kita. Orang yang biasa diberi posisi sebagai pejabat manakala suatu ketika diberi posisi bukan pejabat harus menerimanya dengan senang hati. Penolakan tugas dan posisi yang tidak kita inginkan dan tidak menguntungkan, baik secara materi maupun nonmateri, merupakan sifat yang jauh dari ikhlas.

Ketujuh, tunjukkanlah cinta dan marah itu karena Allah. Cinta kita kepada sesuatu tidak lain yang kita harapkan adalah keridaan-Nya. Sebaliknya, jika kita tidak senang terhadap sesuatu, ketidaksenangan itu karena Allah SWT. Cinta dan marah harus ditempatkan pada posisi yang tepat dan sesuai dengan aturan Allah SWT. Senang terhadap sesuatu karena ada nilai duniawinya tentu jauh dari keikhlasan. Begitu pula kebencian yang didasarkan dorongan nafsu tentu jauh dari rida Ilahi. Hadis riwayat Thabrani dapat dijadikan rambu-rambunya, yakni “Ikatan iman yang paling kuat adalah loyalitas karena Allah dan antipati karena Allah serta cinta dan benci karena Allah.”

Kedelapan, usahakan kebaikan kita tidak diketahui orang lain. Kalaupun diketahui orang lain, jangan hal itu menimbulkan ria di dalam hati. Kalau perlu, pegang teguh metafora yang dikemukan Rasulullah saw. dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dalam bersedekah, yakni “Seseorang yang mengeluarkan sedekah, lalu disembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya.” Hal itu dilakukan untuk menjaga hati agar niat menjadi ikhlas.

Dalam melaksanakan ajaran Islam dan beribadah kepada Allah SWT, kita berupaya melakukan yang terbaik agar ibadah dan semua amal sebagai pelaksanaan ajaran Islam itu memiliki nilai yang terbaik pula disisi Allah SWT. Ibadah yang kita laksanakan dan amal saleh yang kita lakukan akan bernilai jika kita tujukan untuk mencari rida Allah SWT. Keridaan itu akan diperoleh dengan keikhlasan beribadal dan beramal. Oleh karena itu, ikhlas akan menentukan baik dan buruknya ibadah kita serta diterima atau tidaknya amal kita.

Wallahul-muawafiq ila aqwamith-thariq.

واَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tangerang, 26 Juni 2020