Dialog Dua Hati


Irwan Amien, Lc.

iba-tiba mataku terasa hangat, sembab. Melihat tulisan rasib pada akhir namaku. Aku rasib. Berarti punah sudah harapanku untuk memasang cincin tunangan di jari manis Rana tahun ini. Padahal sekitar dua hari yang lalu, aku baru menenangkan hatinya. Tahun ini aku kan pulang ke tanah air, membawa orang tuaku menemui orang tuanya membicarakan masa depan kami berdua, bagaimana baiknya.
Duh! syarat “wajib” najih ke tingkat empat dulu baru boleh pulang, dan membawa Rana kemari, membuatku seperti bulan-bulanan saja. Tepatnya, setelah melihat empat lingkaran dosen melingkar pada empat materi kuliahku. Awalnya aku tak begitu percaya kalau itu adalah namaku. Namun, nomor urutnya persis dengan nomor yang ada di kartu identitas mahasiswaku. Mau tidak mau, aku harus menelan pil pahit itu. Rasanya ingin pingsan di tengah-tengah kegirangan mahasiswa Sudan, Nigeria,

Zimbabwe, Senegal dan mahasiswa kulit hitam lainnya. Tanganku bergetar, ingin merobek lembaran yang ada namaku.
“Hey! Lembaran itu tak bersalah. Salahkan dirimu, tanya hatimu bagaimana niatmu! Tanya bibirmu. Sesering itukah basah dengan mengingat-Nya! Bodoh! Kelak kamu akan ditanya. Kemana saja waktumu engkau biarkan telantar.”

Aku berbalik. “Eh, sudah sepi. Sialan!” gerutuku, sambil kembali memandangi daftar itu.
“Makanya belajar…! Belajar… belajar…”
“A … ku sudah belajar …, aku sudah berusaha …, aku sudah berdoa, bermunajat kepada-Mu Tuhan … hik …hik …, a … ku…” tangisku memecah keheningan.
“Eh, malah nangis. Dasar cengeng! Siapa suruh main bola saat-saat ujian! Siapa suruh main game! Makanya kalau jadi aktifis ya … aktif dong! Aktifnya, jangan cuman ngantar Leyla, Linda atau Melly pulang! Ha … Ha … Ha …!” gelak tawanya mengaburkan tangisku.
“Makanya…” suara itu samar terdengar lagi.
“… waktu ujian, seharusnya belajar. Ini, malah ribut. Kamu juga kan yang terus meneror para perempuan yang buka cadar. Kenapa kau terus meneror mereka, hah! Kenapa?!” bentaknya.

“Ah, sok tahu kamu. Sok pahlawan!” mendengar kata ‘cadar’ aku menjadi tegar.
“Siapa yang resah dengan mereka. Mau pakai cadar kek! Mau lepas kek! No problem! Itu hak mereka. Alaah… Terlalu naif, hal sekecil itu aku ributkan.”
“Kamu tidak mau mengaku, hah! Ci … ng … ” terdengar bunyi gesekan besi. Seketika itu sekujur tubuhku gemetar, menggigil ketakutan.
”Hey, bocah! Sampai hitungan ketiga. Jika kamu belum mengaku juga, pedang ini akan menebas lehermu. Sa…tu…” hitungan dimulai.
“Du…a…” Hingga.

“Ti…ga…”

“Jressh! “

Aku terbangun, spontan mengelus batang leherku. “Alhamdulillah masih ada.” gumamku. Pandangan aku alihkan pada jam beker yang tergolek molek di atas meja belajarku. Telah menunjukkan pukul 02: 30 WK..



Malam semakin larut. Sunyi. Alhamdulillah, Dia masih memberiku kesempatan untuk bersimpuh di hadapan-Nya. Sesaat mengarungi ayat-ayat-Nya, Reza adikku paling bungsu dan baru setahun di Mesir, masuk menghampiriku dengan membawa mendung di wajahnya. Ia duduk di sampingku. Isakan tangisnya yang tertahan, membuat nafasnya tersengal-sengal. Perlahan aku menatapnya iba. Lalu kudekap ia.

“Apa yang sebenarnya terjadi, De’?” tanyaku, sambil membelainya lembut. Air matanya tumpah seketika, tak sanggup membendungnya. Aku memeluknya erat, ku biarkan jubah, sajadah, al Qur’anku basah dengan deraian air matanya.

“De’, bisakah kakak mendengar sekelumit cerita yang menimpamu?” bisikku pelan.

“Tidakkah Adek tahu, mendung di wajah adek adalah gerimis di hati kakak, di hati ayah, bunda dan di hati keluarga?” kataku.

“Ka’ … ! A … dek, Ra … si … b … Hu … hu … hu!”
“Adek, gak mo keluar-keluar lagi. Adek gak mo aktif lagi. Adek malu. Adek, mo di sini saja. ” suaranya mulai serak.

“Emang berapa Maddah, sayang?” tanyaku lagi.
“Tiga maddah Ka’ … hu … hu … hu!” Reza terus saja menangis. Aku berdiri mengambil segelas air putih.

“Udah dong sayang, udah dong nangisnya! Tangismu hanya akan memperdalam luka di hatimu.” Ujarku, lalu menyodorkan air padanya.
“Minum dulu, biar hatimu sejuk. Reza gak boleh cengeng. Harus tabah.” Sambil minum, Reza sesekali menyeka air matanya yang mulai reda.

“Kegagalan hari ini, semestinya Reza anggap itu bagian dari anugerah Tuhan. Sudah seharusnya Reza merasa bangga, sebab semasa hidupnya sudah merasakan dua rona kehidupan; sukses dan gagal.”

“Adek kenal kan kak Wawan, yang meraih predikat mumtaz pada yudisium magisternya kemarin? Beliau kan, rasib juga waktu di tingkat tiga dulu. Tapi apa beliau lantas putus asa? Tidak, adikku! Selama setahun masa penantian, beliau rutin menyetor hafalan al Qur’annya, beliau mengasah keintelektualannya melalui forum-forum kajian, secuil pun beliau tak merasa minder, apalagi putus asa. Jangan sedih lagi dek yah! ” ujarku meyakinkan sembari mengusap kepalanya. Reza terdiam, barangkali hatinya masih trenyuh.

“Dek, tak jarang kita dapatkan ada yang menderita kemelaratan di usia senjanya. Sebab di usia paginya dulu, ia tidak pernah menyentuh kehidupan orang-orang melarat. Maka, sudah seyogyanya adek tidak membiarkan semangatnya terdangkalkan oleh predikat rasib tahun ini. Dan ingat, jangan menunda hingga esok lusa! Jadi, mulai besok Reza ikut kakak ya menemui Syeikh Abdullah, guru tahfidz mesjid Azhar itu. Sekaligus mengikuti pengajian Syeikh Syaltut, Syeikh Hassan, dan pengajian lainnya.”

“Kak…besok?!” tanyanya dengan mata membelalak.
“Ya, emang kenapa de’?”

“Kak kalo bisa, besok adek mo istirahat dulu.” rajuknya manja.

“Loh, Adek gak boleh kayak gitu. Adek tidak boleh manja. Dek, adek tidak ingin terperosok dua kali dalam lubang yang sama kan?” ujarku pelan.

“Coba! apa kata Chairil dalam puisinya?” tanyaku kemudian.

“Sekali berarti setelah itu mati ” jawab Reza mulai ceria.

“Cerdas!” lanjutku. Pujianku tak meleset. Pendar di wajahnya perlahan memancarkan Rona kulit aslinya. Kuning langsat. Bukan langsat bonyok loh!

“Baiknya Reza berwudhu dulu sana, azan sebentar lagi. Jangan sedih lagi yah! Lagi pula sedihmu juga, tak menjamin kau bakal dinaikkan. Baca tuh buku kakak, La Tahzan! Reza bakal menemukan hal yang baru. Reza pasti bisa menyikapi kegagalan ini. Ok!” Aku menepuk pundaknya lalu bangkit ke dapur membawa gelas bekas minumnya.
“Kak…!” panggilnya, sebelum masuk kamar mandi.

“Ya…”

“Reza, la…par kak!” teriaknya dari dalam.
“Mau makan apa dek manis? Tukasku membatin..
“Wah, ayam masih ada. Tomat, bawang merah-putih masih banyak. Kentang, wortel apalagi. Wah, kebetulan daun serehnya masih segar. Masakan mahasiswa aja dek ya, Tomyam.” Senyum tipis mengambang di bibirku, lalu memasukkan ‘Tang” rasa mangga kesukaanku ke freezer. Reza baru keluar, ketika azan shubuh memecah keheningan malam. Dari balik cermin, aku lihat pendar di wajahnya telah berlabuh kembali.



Kamarku, pukul 02.00 (seminggu berlalunya hari sedih Reza)

Aku lelah, setelah seharian penuh berada di luar. Pagi, aku mengikuti upacara 17 Agustus di halaman Wisma Duta, sebagai wujud nasionalisme yang telah lama terpatri. Dari sore sampai larut malam, menyaksikan apresiasi seni karya anak bangsa buah refleksi dari 60 tahun Indonesia merdeka di auditorium Shalah Kamil.
Tapi toh, bagaimana pun juga. Malam ini, tetap aku harus lembur. Rubrik sastra yang ditugaskan oleh pihak media tempat aku kerja belum rampung. Aku bingung memilih sebuah ending yang tepat. Sementara jam 12.00 siang tadi adalah deadline terakhir, naskah wajib dikumpul. Beruntung redakturnya orang Sunda, jadi hatinya lembut, selembut kapas. Bayangkan! Ia masih memberiku kesempatan dua kali dalam enam jam. “Agar endingnya tidak terkesan dipaksakan.” tulisnya melalui SMS. “baiklah!” balasku segera.

Belum lama jari-jari manisku menari lincah di atas keyboard komputer tuaku. Reza masuk menghampiriku. Ia menceritakan, kalau Syeikh Abdullah menaruh harapan besar padanya, begitupun dengan Syeikh Syaltut, dan Syeikh Hassan pakar ilmu Nahwu itu, apalagi setelah mereka tahu kalau Reza tahun ini rasib. Alhamdulillah saat ini hafalannya sudah sampai pada lembaran terakhir surah an-Nisa’ .

“Rez, kakak menyuruhmu menyetor hafalan, mengikuti pengajian, sama sekali tak ada hati untuk menyiksamu. Maksud kakak, jangan sampai gara-gara ini, kesehatan adek terganggu. Karena pulang terlalu larut.” Imbuhku, menatapnya tak bergeming.

“Tidak kok kak, baru kali ini. Itupun karena kawan Reza, kebetulan ngajak Reza ke masjid al Salam, ada walimahan katanya, dan emang betul ada walimah. Oh yah, kak…” sejenak ia berhenti. Sekedar meminum Nescafe hangat yang belum lama aku buat. Lalu melanjutkan ceritanya.

“Undangan mempelai perempuan membludak, melebihi jumlah undangan mempelai pria. Katanya sih, mempelai perempuan adalah perempuan kenamaan di ranah masisir . Trus, ada juga yang bilang, kalau perempuan itu “mancaran” alias “mantan cadaran”. Konon, begitu ada yang lamar dan diterima, cadarnya dilepas. Puih! Emang mainan apa!!!” Sepintas kulihat wajahnya muram. Seolah ada kegusaran yang membuncah di sana.

“Ah, adekku. Ternyata tak ayal lagi, kau juga seperti mereka yang terus mengorek fenomena ini. De’k, sesungguhnya, kalau kau ingin tahu, fenomena ‘lepas cadar’ bukan masalah. Orang yang terus mengobok-oboknya berarti mereka belum mengenal “skala konsep prioritas”. Semestinya yang harus dibincangkan sekarang adalah solusi bagi “mahasiswi” kita yang berpakaian, namun masih setengah hati. Meminjam istilah Cak Nun, bukan dengan hati selesai. Aku pikir, cepat atau lambat dalam waktu dekat, proposalku seharusnya diterima pihak KBRI. Agar dapat membuka layanan gratis khusus busana yang “layak” pakai, bagi mereka yang “harus” mengenankannya.”

“Wah…kayaknya serius amat. Emang nulis apaan kak?” tegur Reza perlahan bangkit hendak keluar. Sesaat aku berhenti menulis.

“Jam berapa Rez?”

“Jam tigaan ka’.” Jawabnya sambil melirik jam rolex di tangan kirinya.

“Tahajjud yuk dek! Sebentar lagi azan.” Pintaku kemudian, setelah mendapatkan ending yang tepat untuk sebuah cerita. Insya Allah, besok sudah sampai di meja redaktur.

Glossary :

  • rasib : gagal
    -najih : lulus
    -mumtaz : istimewa
    -trenyuh : tersentuh
    -walimahan : pesta pernikahan
    -masisir : mahasiswa Indonesia di Mesir

