Bertaubat kepada Allah SWT


Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

Assalamulaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Apa kabar saudaraku? Semoga kita selalu mendapatkan kemudahan dalam segala urusan, diberi kesehatan lahir dan batin, selalu menjadi hamba yang beristigfar atas segala dosa, dan bertaubat atas banyak dan besarnya dosa yang pernah kita lakukan Amin!

Allah SWT berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bertaubatlah kalian semua wahai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (QS An-Nur: 31)

Setelah beristigfar, mukmin dituntut agar banyak bertaubat kepada Allah SWT. Bertaubat berarti kembali kepada Allah SWT setelah melakukan perbuatan maksiat, menyadari kesalahan itu, dan kembali berbuat ketaatan kepada-Nya. Karena itu, bertaubat merupakan perbuatan mukmin yang disenangi Allah SWT. Allah SWT berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (Q.S. Al Baqarah:222).

Taubat dapat dibagi mandi dua macam, yakni taubat mutlak dan taubat terikat (muqayyad). Taubat mutlak adalah taubat yang mancakup semua dosa yang dilakukan seorang mukmin, sedangkan taubat terikat adalah taubat terhadap suatu perbuatan dosa. Misalnya, seseorang bertaubat dari perbuatan serong atau minum khamar yang dilakukannya.

Istigfar dan taubat tidak dapat dipisahkan. Lazimnya istigfar diikuti dengan taubat. Apalagi jika bertaubat, seseorang pasti beristigfar karena akan meminta pengampunan kepada Allah SWT dari perbuatan dosa sehingga dia kembali menuju ketaatan kepada-Nya. Bahkan, brristigfar dan bertaubat merupakan perbuatan yang dilazimkan oleh Rasulullah saw. dan beliau sendiri melakukannya setiap hari tidak kurang 70 kali.

Orang yang melakukan dosa besar akan terampuni dosanya jika bertaubat kepada Allah SWT. Misalnya, musyrik, peminum khamar, pelaku zina, pesumpah palsu. Pelakunya tidak cukup hanya beristigfar, tetapi harus bertaubat dari perbuatannya itu.

Berbeda dengan beristigfar yang dapat dilakukan kapan saja, bertaubat mensyaratkan pelakunya untuk memenuhi beberapa hal, yakni (1) beragama Islam, (2) berlaku ikhlas, (3) mengakui dosa yang dilakukan, (4) menyesali perbuatan dosa dan bertekad untuk tidak melakukannya, (5) meninggalkan dosa itu, dan (6) menyelesaikan urusan terkait dengan utang dan janji.

Bertaubat merupakan akhlak hamba kepada Tuhannya. Orang yang sudah berbuat maksiat kepada Allah SWT bukan dibenci dan dilaknat Allah SWT, tetapi dibukakan pintu kasih sayang-Nya. Itulah beda hamba dengan Allah SWT. Jika sesorang bersalah kepada orang lain, belum tentu permintaan maafnya diterima dengan baik. Bisa jadi dia dicibirkan, dimaki, dilaknat, atau dimusuhi. Allah SWT memiliki nama-nama terbaik yang tidak pendendam, yakni Ar-Rahmaan (Yang Maha Pengasih), Ar-Rahiim (Yang Maha Penyayang), Al-Gafuur (Yang Maha Pengampun), Al-Gaffaar (Yang Maha Penerima ampunan), Al-‘Afuwu (Yang Maha Pemaaf), dan At-Tawwaab (Yang Maha Penerima Taubat). Allah SWT menyifati diri-Nya di dalam Al-Qur’an bahwa Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang hampir mendekati 100 kali. Allah SWT berjanji mengaruniakan nikmat taubat kepada hamba-hamba-Nya di dalam sekian banyak ayat yang mulia. Allah SWT berfirman,

وَاللّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَن تَمِيلُواْ مَيْلاً عَظِيما

“Allah menginginkan untuk menerima taubat kalian, sedangkan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya ingin agar kalian menyimpang dengan sejauh-jauhnya.” (QS An-Nisaa: 27)

Allah SWT juga berfirman,

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيم

“Seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian (niscaya kalian akan menghadapi berbagai kesulitan). Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Mahabijaksana.” (QS An-Nuur: 10)

Jika ada hamba yang datang kepada-Nya untuk bertaubat, Allah dengan senang hati menerimanya. Allah SWT berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bertaubatlah kalian semua, wahai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (QS An-Nur: 31)

Setiap orang memiliki kesalahan yang berbeda-beda. Ada yang kecil, sedang, dan besar. Orang yang berdosa besar jangan pesimistis, berputus asa, atau berprasangka buruk kepada Allah SWT bahwa Allah tidak akan mengampuni dosanya? Jangan kita menganggap diri kita ini tidak berguna di mata Allah karena dosa yang kita lakukan terlalu besar! Jangan kita beranggapan bahwa kita hina di depan Allah sehingga kita malu atau pesimistis akan diterima dengan baik karena dosa kita terlalu banyak untuk diungkapkan di hadapan Allah SWT? Allah SWT pasti menerima taubat orang ingin bertaubat. Seberapa besarkah dosa yang kita lakukan? Apakah melebihi dosa seseorang dari Bani Israel yang telah membunuh 99 orang, bahkan 100 orang?

Ada kisah di kalangan Bani Isrel tentang seorang yang dirinya bergelimang dosa. Dia telah membunuh 99 orang. Dengan pedang terhunus yang berlumuran darah, tangan yang dipenuhi darah, pakaiannya pun bergelimang darah ia ingin bertaubat. Di depan orang banyak ia ingin ditunjukkan cara bertaubat. Ada yang menyarankannya arar dia pergi kepada seorang rahib (ahli ibadah). Dia datang ke rumah ahli ibadah yang hanya memiliki ketaatan kepada Allah SWT yang tidak ditunjang dengan ilmu agama yang cukup. Dengan pedang, tangan, dan pakaian berdarah si pembunuh itu bertanya kepada rahib itu, “Wahai rahib ahli ibadah, aku telah membunuh 99 orang. Apakah masih ada jalan bagiku untuk bertaubat?”

Rahib jahil itu menjawab dengan spontan, “Tiada taubat bagimu!”

Pembunuh itu berkata, “Mahasuci Allah, apakah engkau menutup pintu yang selalu dibuka oleh Allah? Apakah engkau memutuskan tali yang telah dijulurkan oleh Allah? Apakah engkau mencegah hujan yang telah diturunkan oleh Allah? Apakah engkau menutup jalan masuk yang telah dibuat oleh Allah? Padahal, hanya Allah yang menciptakan, Allah yang telah menetapkan, Allah yang memberikan ampunan, Allah yang menghisab, dan Allah yang berbisik kepada seorang hamba pada hari yang tiada bermanfaat lagi harta benda dan anak-anak, kecuali orang yang menghadap kepada Allah dengan hati yang bersih. Lalu, Allah menyuruhnya mengakui dosa-dosanya, kemudian Allah mengampuninya jika Dia menghendakinya.”

Sambil membentak, si pembunuh itu berkata, “Apakah urusanmu, hai rahib, sehingga engkau ikut campur dalam urusan antara para hamba dan Tuhannya? Apakah engkau memang seorang yang ahli untuk memberi fatwa dalam masalah ini? Bukan, engkau bukanlah seorang yang ahli dalam bidang ini. Hal ini hanya bisa ditangani oleh para ulama yang mengamalkan ilmunya lagi mengetahui tujuan syariat-Nya.”

Si penjahat ini lemas seolah-olah putus asa memandang kehidupan ini. Dunia terasa gelap baginya. Keinginan dan tekadnya untuk bertaubat melemah. Pandangannya tertuju kepada rahib itu dengan wajah bengis. Ia pun menebaskan pedangnya ke arah rahib itu dan membunuhnya sehingga genaplah ia membunuh 100 orang manusia.

Apa yang dilakukan oleh rahib yang memutus bahwa si pembunuh itu tidak layak bertaubat adalah kekeliruan besar. Allah SWT mencela sikapnya dengan firman-Nya,

وَ رَہۡبَانِیَّۃَۨ ابۡتَدَعُوۡہَا مَا کَتَبۡنٰہَا عَلَیۡہِمۡ اِلَّا ابۡتِغَآءَ رِضۡوَانِ اللّٰہِ فَمَا رَعَوۡہَا حَقَّ رِعَایَتِہَا ۚ فَاٰتَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡہُمۡ اَجۡرَہُمۡ ۚ وَ کَثِیۡرٌمِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ

“Mereka mengada-adakan rahbaniah. Padahal, Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridaan Allah. Lalu, mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka, Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.” (QS Al-Hadid: 27)

Si pembunuh itu keluar menemui orang banyak untuk menanyakan kembali keinginannya bertaubat dan kembali ke jalan Tuhannya serta menghadap kepada-Nya.

Ia bertanya kepada mereka, “Masih adakah jalan untuk bertaubat bagiku?”

Mereka menjawab, “Kami akan menunjukkanmu kepada Fulan bin Fulan, seorang ulama ahli tentang hukum Tuhan, bukan seorang rahib.” Tampaknya orang banyak pun mengetahui perbedaan antara rahib dan ulama yang ahli hukum Allah. Benar firman Allah SWT tentang pentingnya orang alim daripada ahli ibadah yang tak berilmu,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

“Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS Az-Zumar: 9)

Si pembunuh itu pergi menemui orang alim itu yang saat itu berada di majelisnya sedang mengajari generasi muda dan mendidik umat. Ia disambut oleh orang alim itu dengan tersenyum. Bahkan, orang alim itu lanngsung memeluknnya sambil bertanya, “Apakah keperluanmu datang kemari?”

Si pembunuh itu menjawab, “Aku telah membunuh 100 orang yang terpelihara darahnya. Maka, masih adakah jalan taubat bagiku?”

Orang alim itu balik bertanya, “Lalu, siapakah yang menghalang-halangi antara kamu dengan taubat dan siapakah yang mencegahmu dari melakukan taubat? Pintu Allah terbuka lebar bagimu. Maka, bergembiralah dengan ampunan, bergembiralah dengan perkenan dari-Nya, dan bergembiralah dengan taubat yang mulus.”

Ia berkata, “Aku mau bertaubat dan memohon ampun kepada Allah.”

Orang alim berkata, “Aku memohon kepada Allah semoga Dia menerima taubatmu.”
Selanjutnya, orang alim itu berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau tinggal di kampung yang jahat karena sebagian kampung dan sebagian kota itu adakalanya memberikan pengaruh untuk berbuat kedurhakaan dan kejahatan bagi para penghuninya. Siapa yang lemah imannya di tempat seperti itu akan mudah berbuat durhaka, akan terasa ringanlah baginya semua dosa, dan menggampangkannya untuk melakukan tindakan menentang Tuhannya. Akhirnya, ia terjerumus ke dalam kegelapan lembah dan jurang kesesatan. Akan tetapi, apabila suatu masyarakat yang di dalamnya menegakkan amar makruf dan nahi mungkar, akan tertutuplah semua pintu kejahatan bagi para hamba. Oleh karena itu, keluarlah kamu dari kampung yang jahat itu menuju ke kampung yang baik. Gantikanlah tempat tinggalmu yang lalu dengan kampung yang baik dan bergaullah kamu dengan para pemuda yang saleh yang akan menolong dan membantumu untuk bertaubat.”

Si pembunuh itu pun meninggal kampungnya dan pergi dengan langkah yang cepat dan hati yang gembira ke kampung lain dengan pengharapan taubatnya diterima. Ketika berada di tengah perjalanan, ia jatuh sakit dan sekaratul maut datang menjemputnya. Ia pun meninggal sambil mengucapkan “La ilaha illallah”. Allah SWT berfirman,

وَ جَآءَتۡ سَكۡرَةُ الۡمَوۡتِ بِالۡحَـقِّ‌ؕ ذٰلِكَ مَا كُنۡتَ مِنۡهُ تَحِيۡدُ

“Datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.” (QS Qaf: 19)

Selama hidupnya si pembunuh itu belum pernah salat, belum pernah puasa, belum pernah bersedekah, belum pernah berzakat, dan belum pernah mengerjakan kebaikan sama sekali, tetapi dia kembali kepada Allah SWT dengan bertaubat, menyesal, berharap, dan takut kepada-Nya.

Setelah orang itu meninggal, datanglah Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab untuk mengambil dan menerima nyawanya dari Malaikat Maut. Mereka terlibat perselisihan yang sengit dalam memperebutkannya.

Malaikat Rahmat berkata, “Sesungguhnya dia datang untuk bertaubat dan menghadap kepada Allah menuju kehidupan yang taat, kembali kepada Allah, dan dilahirkan kembali melalui taubatnya itu. Oleh karena itu, dia adalah bagian kami.”

Malaikat Azab berkata, “Sesungguhnya dia belum pernah melakukan suatu kebaikan pun. Dia tidak pernah bersujud, tidak pernah melakukan salat, tidak pernah berzakat, dan tidak pernah bersedakah. Dengan alasan apakah dia berhak mendapatkan rahmat? Bahkan, dia termasuk bagian kami.”

Allah SWT mengirimkan malaikat lain dari langit untuk melerai persengketaan mereka. Selanjutnya, malaikat yang baru diutus itu pun datang kepada dua malaikat yang sedang bertengkar. Malaikat itu kepada mereka, ”Tahanlah oleh kalian. Sesungguhnya jalan keluarnya menurutku ialah hendaklah kalian sama-sama mengukur jarak antara lelaki ini dan tanah yang ia tinggalkan, yaitu kampung yang jahat dan jarak antara dia dan kampung yang ditujunya, yaitu kampung yang baik.”

Ketika mereka sedang mengukurnya bersama-sama, Allah SWT memerintahkan kepada kampung yang jahat untuk menjauh dan kepada kampung yang baik untuk mendekat. Menurut riwayat lain, sesungguhnya lelaki pembunuh 100 orang itu menonjolkan dadanya ke arah kampung yang baik. Akhirnya, mereka menjumpai mayat lelaki jahat ini lebih dekat kepada penduduk kampung yang baik dan mereka memutuskan bahwa lelaki itu adalah bagian untuk Malaikat Rahmat. Malaikat Rahmat pun mengambilnya untuk dimasukkan ke dalam surga.

Subhanallah, ternyata manakala seorang hamba yang telah berlumuran dosa, lalu dia datang kepada Allah SWT untuk bertaubat, Allah SWT menerimanya dengan senang hati. Lihatlah diri kita masing-masing, apakah dosa kita itu sebesar dosa pembunuh 100 orang itu? Dosa yang kita lakukan bisa jadi belum sebanyak yang dilakukan si pembunuh itu. Selagi nyawa belum di kerongkongan, pintu taubat masih terbuka kepada siapa pun pendosa yang datang kepada Allah. Rasulullah saw. bersabda,
إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ.

“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama (ruh) belum sampai di tenggorokan” (HR Tirmidzi dari Ibnu Umar r.a.)

Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari orang yang bertaubat, yakni (1) menjadi sebab untuk meraih kecintaan Allah SWT, (2) menjadi sebab keberuntungan, (3) menjadi sebab diterimanya amal hamba dan turunnya ampunan atas kesalahannya, (4) merupakan sebab masuk surga dan keselamatan dari siksa neraka, (5) menjadi sebab mendapatkan ampunan dan rahmat, (6) menjadi sebab berbagai kejelekan diganti dengan berbagai kebaikan, (8) menjadi sebab untuk menggapai keimanan dan pahala yang besar, (9) merupakan sebab turunnya barakah dari atas langit serta bertambahnya kekuatan, (10) menjadi sebab malaikat mendoakan orang-orang yang bertaubat, (11) menjadi sebab hati bersinar, (12) menjadi bagian ketaatan kepada kehendak Allah SWT, dan (13) Allah bergembira dengan taubat itu.

Istigfar dan taubat merupakan penyelesaian yang terbaik untuk membebaskan orang Islam dari dosa-dosa yang dilakukannya. Berapa pun banyak dosa yang dilakukannya pintu keampunan selalu terbuka. Allah SWT memberikan kesempatan kepada hamba yang sadar akan kesalahan dan kekeliruannya selama ini untuk kembali ke jalan Allah SWT dan beralih kepada ketaatan kepada-Nya. Taubat nasuha (taubat yang hakiki dan murni) menjadi perilaku hamba yang terbaik kepada Allah SWT dan Allah SWT memerintahkannya untuk bertaubat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha.” (QS At-Tahrim: 8)

Kita pasti berharap agar kehidupan ini berakhir dengan husnulkhatimah. Kesempatan untuk mengakui kesalahan dan dosa di hadapan masih ada dan terbuka. Bersimpuhlah di hadapan Allah SWT pada sepertiga malam, lakukan salat taubat walaupun dua rakaat, beristigfar kepada-Nya, akui segala dosa dan kesalahan, bayangkan dosa yang kita lakukaan, tekadkan hati tidak akan melakukannya lagi, dan berjanji untuk senantiasa taat kepada Allah SWT.
“Ya Allah, hamba-Mu datang kepada-Mu membawa setumpuk dosa. Terlalu banyak perintah-Mu yang aku tinggalkan, tak terhitung laarangan-Mu yang aku lakukan, padahal Engkau menyaksikan hamba berbuat maksiat kepada-Mu. Malu aku dengan begitu besarnya dosaku. Tapi, aku yakin bahwa keampunan dari-Mu begitu besar jika dibandingkan dengan segunung dosaku. Ya Rabb, aku mohon kepada-Mu, ampuni dosaku, terimalah taubatku, dan masukkan aku ke dalam golongan yang Engkau ridai, golongan orang-orang saleh yang selalu dekat kepada-Mu. Jadikan aku orang yang Engkau maafkan kesalahanku, Engkau hapus segala dosaku, dan Engkau mantapkan imankua. Kabulkan doa hamba yang tidak sanggup merasakan beratnya siksa neraka-Mu” Amin ya Rabbal Alamin!

Wahuwat-Tawwabur-Rahim.

Wassalamulaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tangerang, 26 Juni 2020

++++++

Telah dibuka Pendaftaran Pondok Pesantren Modern Almuflihun Putra.

Formulir pendaftaran sebagai berikut:
https://bit.ly/3d9LaR0

Kontak: 0813-9278-8570

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899