Beristigfar kepada Allah SWT

Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

Assalamualikum warahmatullah wabarakatuh.

Apa kabar saudaraku? Semoga kita senantiasa dianugerahi kesehatan dan kasih sayang oleh Allah SWT sehingga kita mempu memperoleh rida dan ampunan-Nya. Amin!

Allah SWT berfirman,

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

“Dan minta ampunlah kalian kepada Rabb kalian dan bertaubatlah! Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai kepada waktu yang sudah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada hamba-Nya yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat.”(QS Hud: 3)

Istigfar berarti memohon ampun kepada Allah SWT. Istigfar merupakan akhlak manusia kepada Allah SWT. Mengapa manusia diperintah untuk beristigfar? Seberapa pentingkah manusia untuk beristigfar?

Manusia adalah makhluk Allah SWT yang lemah dan mudah tergoda oleh kehidupan duniawi. Apalagi manusia memiliki musuh bebeyutan yang tidak tampak, yakni setan. Makhluk Allah itu sudah bersumpah akan mengoda dan mengganggu anak cucu Adam sampai hari Kiamat. Setan membisikkan melalui hawa nafsu manusia untuk melakukan perbuatan yang menjauhkannya dari Allah SWT dan senang melakukan kemaksiatan.

Pada saat Allah menciptakan Adam, Allah SWT memerintahkan malaikat agar sujud sebagai penghormatan kepada Adam. Malaikat sebagai hamba Allah SWT yang setia dan patuh mengikuti perintah-Nya. Namun, iblis karena merasa kejadiannya lebih mulia daripada Adam tidak mau sujud kepada Adam. Hal itu dinukilkan Allah SWT dalam firman-Nya,

وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ

“(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka, sujudlah mereka, kecuali iblis. Ia enggan dan takabur serta termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS Al-Baqarah: 34)

Di dalam ayat yang lain, Allah SWT berfirman,

وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ كَانَ مِنَ ٱلۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِۦٓۗ أَفَتَتَّخِذُونَهُۥ وَذُرِّيَّتَهُۥٓ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِي وَهُمۡ لَكُمۡ عَدُوُّۢۚ بِئۡسَ لِلظَّٰلِمِينَ بَدَلٗا

“(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka, sujudlah mereka, kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin sehingga ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedangkan mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (QS Al-Kahfi: 50)

Alasan iblis tidak mau sujud kepada Adam hanya karena gengsi dan bangga atas kemuliannya. Iblis dijadikan dari api, sedangkan Adam diciptakan dari tanah. Hal itu dikemukakan di dalam firman Allah SWT,

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسۡجُدَ إِذۡ أَمَرۡتُكَۖ قَالَ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ

“Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) pada waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, ‘Saya lebih baik daripadanya. Engkau menjadikanku dari api, sedangkan dia Engkau jadikan dari tanah.” (QS Al-Araf: 12)

Keangkuhan iblis itu menjadikan dia terusir dari surga. Namun, hal itu pula yang menyebabkan dia dendam kepada Adam dan anak cucunya sehingga sampai kapan pun manusia akan selalu menjadi target iblis untuk ditarik menjadi pesukannya yang akan menjauhkannya dari Allah SWT. “Kekesalannya” pun ditujukannya kepada Allah SWT dengan ucapannya,

ولآتينهم من بين أيديهم ومن خلفهم وعن أيمانهم وعن شمائلهم ولا تجد أكثرهم شاكرين

“Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian, saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).’” (QS Al-A’raf: 16—17)

Berdasarkan ayat itu, manusia akan selalu diganggu oleh iblis dari arah mana pun, baik dari muka dan belakang maupun dari kanan dan kiri. Artinya, tidak ada ruang yang aman dari godaan setan. Namun, ada yang menyejukkan hati bahwa orang yang ikhlas beribadah kepada Allah SWT akan terhindar dari tipu daya setan. Hal itu dijelaskan dalam firman Allah SWT tentang janji iblis,

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ﴿٨٢﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ ﴿٨٣﴾ قَالَ فَالْحَقُّ وَالْحَقَّ أَقُولُ ﴿٨٤﴾ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكَ وَمِمَّنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ أَجْمَعِينَ

“Iblis menjawab, ‘Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali para hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.’ Allâh berfirman, “Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan kebenaran itulah yang Ku-katakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahanam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka semuanya.’” [Ash-Shaad:82-85]

Karena kita sebagai manusia yang selalu digelincirkan iman dan ketaatan kita kepada Allah SWT oleh iblis atau setan, pasti banyak kesalahan, kelalaikan, dan kedurhakaan kepada Allah SWT. Kesalahan, kelalaikan, dan kedurhakaan itu menuntut kita untuk menyadarinya. Kesadaran untuk meminta ampun atas semuanya merupakan istigfar kita kepada Allah SWT.

Kita bisa merenungkan betapa banyak nikmat Allah yang luput dari syukur kita? Berapa banyak perintah Allah SWT yang kita lalaikan? Berapa banyak larangan Allah yang kita tabrak? Mana yang lebih banyak waktu kita gunakan untuk dunia atau ibadah kapada Allah SWT? Sudahkah kita mengerjakan kewajiban agama dengan sempurna?

Manakah yang kita pilih panggilan azan atau masih sibuk dengan aktivitas kita di mana pun kita bekerja? Apakah kita mendahulukan perkerjaan kita, padahal waktu istirahat sudah tiba bersamaan dengan suara azan dikumandangkan? Manakah kita dahulukan panggilan Allah untuk salat atau kita larut menonton pertunjukan, konser, bioskop, atau pertandingan? Tergerakkah hati untuk menrespons imbauan pangurus masjid, musala, atau langgar berinfak untuk perbaikan sarana ibadah jemaah? Sudahkah kita menyisihkan sebagian uang kita untuk santunan fakir miskin dan anak yatim?

Ternyata setelah kita pejamkan mata, kita renungkan apa yang telah kita perbuat untuk merespons perintah Allah SWT terlalu banyak kelalaian kita, masih jauh ketaatan kepada Allah SWT, masih sering kita mementingkan kehidupan dunia daripada panggilan Allah SWT. Belum lagi keinginan kita yang tidak dapat terkendali untuk berbuat sia-sia dan tidak ada manfaatnya untuk diri kita dan orang lain. Bahkan, perbuatan yang kita lakukan sering mengikuti tuntunan musuh abadi kita, setan laknatullah. Lisan kita masih saja belum dapat direm untuk berkata bohong dan tidak bermanfaat. Mata kita masih saja senang melihat atau menyaksikan hal-hal yang tidak pantas dilihat. Telinga kita masih saja mendengarkan gosip dan obrolan yang tidak berguna. Jarang kita mendengarkan kalimat taiyibah dan lantunan firman Allah SWT. Tangan kita masih belum dapat ditahan untuk memegang atau melakukan aktivitas tangan yang tidak dihalalkan. Kaki kita masih saja belum mampu kita tahan untuk melangkah ke tempat-tempat yang tidak diridai Allah SWT.

Harta yang kita miliki masih saja kita yakini sebagai milik pribadi semua. Padahal, di dalam harta itu ada hak orang lain yang kita simpan dan tidak kita serahkan kepadanya. Nisab harta sudah cukup dan waktunya pun sudah sampai setahun, tetapi kita masih enggan untuk mengeluarkan zakatnya, sungkan untuk menyedekahkannya, dan berat untuk menginfakkannya. Padahal, harta itu kita peroleh dari kasih sayang dan kebaikan Pemberi rezeki, Allah SWT.

Kadang-kadang ada warisan yang seharusnya dibagi kepada ahli waris masih saja kita tahan, bahkan kita miliki dan “makan” sendiri? Padahal, hak anak yatim ada di dalamnya walaupun kita masih menganggap ibu atau bapak dari anak-anak setelah ditinggal suami atau istri? Hak anak-anak peninggalan ayah/ibunya masih saja dikuasai ibu/bapak sehingga ada anak yang terlunta-lunta karena jatah warisannya masih dikuasai ibu atau bapak? Padahal, ibu hanya mendapatkan warisan seperdelapan dari penginggalan suami dan bapak mendapat seperenam karena ada anak-anaknya?

Belum lagi makanan kita masih saja bercampur dengan yang haram atau subhat sehingga akan menghilangkan atau menjauhkan kita dari ketaatan kepada Allah SWT? Pakaian yang kita gunakan masih saja belum jelas sumber pembeliannya atau belum memenuhi standar pakaian islami yang dapat menutup aurat, baik yang laki-laki masih sering menggunakan celana pendek di atas lutut maupun perempuan yang masih mengumbar aurat? Rumah kita yang belum memperlihatkan wajah rumah islami yang terbebas dari patung dan gambar yang memperlihat aurat yang buka-bukan?

Ya Rabbi, terlalu banyak dosa yang kami lakukan kepada Engkau, baik secara sadar maupun tidak sadar! Malu rasanya kami di hadapan-Mu atas dosa yang menyelimuti sekujur tubuh ini. Terlalu sombong kami terhadap nikmat-Mu yang begitu banyak kapada kami sehingga kami kurang pandai bersyukur kepada-Mu! Kami memang lalai terhadap seruan-Mu, abai terhadap perintah-Mu, sering melanggar larangan-Mu! Tuhan, dosa kami tidak dapat kami bayangkan besarnya, tetapi kami yakin bahwa ampunan-Mu jauh lebih besar dari dosa-dosa kami yang mampu meluluhkannya. Engkau Maha Pengampun. Karena itu, ampuni dosa-dosa kami, ya Allah Yang Maha Pemaaf!

Kita beristigfar kepada Allah SWT sangat wajar karena selaku manusia yang tidak luput dari salah dan dosa. Rasulullah saw. saja beristifar kepada Allah SWT setiap harinya minimal tujuh puluh kali. Hal itu dijelaskan beliau di dalam hadisnya,

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah, aku sungguh beristigfar kepada Allah dan bertaubat pada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR Bukhari No. 6307)

Dalam hadis yang lain, bahkan Rasulullah SAW. beristigfar dalam sehari seratus kali,

إنه ليغان على قلبي ، وإني لأستغفر الله في اليوم مائة مرة.

“Sesungguhnya hatiku tidak pernah lalai dari zikir kepada Allah. Sesungguhnya Aku beristigfar seratus kali dalam sehari.” (HR Muslim)

Kita bisa bertanya kepada diri kita, siapa diri kita ini? Rasulullah saw. saja yang sudah dijamin oleh Allah SWT terpelihara dari dosa (maksum) dan sudah dipastikan masuk surga, bahkan yang akan memberi syafaat (pertolongan) nanti di Padang Mahsyar masih saja beristigfar dan bertaubat kepada Allah SWT lebih dari 70 kali dalam sehari. Kita yang tahu tentang diri kita. Berapa kali kita beristigfar, apalagi bertaubat, kepada Allah SWT dalam sehari? Apakah kita laksanakan wirid istigfar setelah salat wajib ataupun sunat setiap harinya? Jangan-jangan kita selepas salam ke kanan dan ke kiri tangan diusap ke muka, lalu angkat kaki dengan buru-buru dan kabur dari tempat salat kita. Masihkah kita betah bertahan di sajadah kita untuk beristigfar, bezikir, dan berdoa atau terasa pengal duduk dan panas pinggul kita sehingga langsung “tancap gas” meninggalkan sajadah kita?

Apakah Allah SWT sudah menjamin keampunan dan surga kepada kita? Jauh panggang dari api. Nasib kita belum tahu apakah termasuk kelompok kanan yang akan menuju surga atau kelompok kiri yang menuju neraka. Karena itu, istigfar merupakan sarana untuk beroleh keampunan Allah SWT. Allah SWT akan membukakan kesempatan kepada orang yang mau menjadi kelompok kanan dengan beristigfar kepada-Nya berdasarkan hadis Rasulullah saw.,

… يَاعِبَادِيْ إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ، فَاسْتَغْفِرُوْنِيْ أَغْفِرْلَكُمْ…

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian selalu berbuat kesalahan (dosa) pada waktu malam dan siang hari dan Aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Maka, mohonlah ampunan kepada-Ku niscaya Aku mengampuni kalian.” ”HR Muslim).

Seberapa besarkan dosa kita? Sebesar apa pun dosa kita selama tidak syirik kepada Allah SWT pasti akan diampuni. Jangan berputus asa karena Allah SWT tidak pernah ingkar janji. Kepastian itu disampaikan oleh Allah SWT dalam firman-Nya,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS Az-Zumar: 53)

Carilah waktu yang tepat untuk beristigfar khusus pada saat manusia masih lelap dari tidurnya.
Bacalah kalimat istigfar, antara lain,

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْه

Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Mahaagung, tiada Tuhan selain Dia yang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat pada-Nya.”

Waktu yang paling nyaman dan tenang adalah penghujung malam, seperti firman Allah SWT,

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allâh). (QS Az-Zâriyât:18)

Banyak manfaat yang akan didapat bagi mukmin jika beristigfar kepada Allah SWT, antara lain, (1) mendapat kebaikan di dunia, (2) membawa berkah dengan turunnya hujan. (3) menyebabkan terkabulnya doa, (4) melimpahnya rezeki, (5) mencegah dari hukuman atau azab, (6) melapangkan kesempitan dan menghilangkan kesusahan, dan (7) menyebabkan kebahagiaan di akhirat.

Sudah selayaknya mukmin untuk memperbanyak istigfar kepada Allah SWT terhadap dosa yang pernah dilakukan. Seberapa pun dosa yang kita lakukan manakala kita sudah mengakui kesalahan dan dosa itu di depan Allah SWT yakinlah bahwa Allah SWT akan mengampuninya. Jika itu berupa dosa besar istigfar harus diikuti dengan taubat kepada-Nya. Dengan demikian, kita akan mendapat keampuannya-Nya dan akan diselamatkan kehidupan kita, baik di dunia maupun di akhirat. Amin!

Wallahu Gafurur-Rahim.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tangerang, 24 Juni 2020