Beranda Kajian Berbakti Kepada Orang Tua

Berbakti Kepada Orang Tua

I. Pendahuluan

Dari beberapa ayat Al-Qur’an Allah Swt. sering menggandengkan antara perintah ketauhidan dan perintah birrul walidaini. Dari situ dapat ditarik kesimpulan akan pentingnya birrul walidaini. Bahkan Allah Swt. Menjadikan birrul walidaini sebagai salah satu sifat para nabi, sebagaimana firman Allah Swt.
وبروا بوالدتى ولم يجعلنى جبارا شقيّا (مريم:۳۲)

Artinya : “Dan berbaktilah kepada ibuku, dan dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”

Lalu kenapa Allah Swt. Mengutamakan birrul walidaini setelah perintah tauhid?. Karena orang tua adalah wasilah adanya anak. Merekalah yang telah menjaga, membesarkan dan mendidik kita sejak dalam kandungan sampai sekarang. Dari mereka kita mengetahui segala ssesuatu yang belum kita ketahui, dari merangkak, duduk, berdiri, berjalan sampai berlari. Ketika kita sakit, dengan sabar dan kasih sayang mereka merawat kita sampai sembuh.
Kalau kita lihat dari pengorbanan Ibu yang telah mengandung selama kurang lebih Sembilan bulan dan beliau juga telah menyusui kita sejak lahir sampai kurang lebih dua tahun, Bapak yang telah bekerja keras untuk memenuhi segala kebutuhan kita sejak dalam kandungan sampai sekarang, akankah semuanya itu terbalas dengan Birrul Walidaini?.
Saya tertarik dengan judul tersebut karena menganggpa bahwasanya Birrul Walidaini pada zaman modern ini semakin tidak diperhatikan. Hal tersebut bisa dibuktikan dengan adanya berita-berita pembunuhan orang tua oleh anak sendiri, adanya pengiriman orang tua ke panti jompo dengan alasan tidak sanggup merawatnya karena sibuk atau mereka diannggap sebagai beban yang menyusahkan.
Selain itu saya akan membahas tentang lawan dari Birrul Walidaini yaitu ‘Uququl Walidaini, karena hal itu merupan salah satu dosa besar. Semoga dengan apa yang saya tulis, kita termasuk orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat kelak. Amien…

II. Definisi Birrul Walidaini

Banyak ulama yang mendefinisikan kata al-birru. Diantaranya adalah :

  1. dalam buku Mishbâhul Munîr, al-birru berasal dari kata al-barru yang berarti : ketaatan kepada orang tua, mengangungkannya, melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dibenci selama tidak keluar dari syariat agama.
  2. Menurut Ibnu atsir dalam bukunya An-Nîhâyah fi Gharîb al-Hadist, al-birru berasal dari kata al-birru : kebaikan yang menyangkut hak-hak orang tua dan kerabat terdekat.
  3. Menurut Ibnu Manzhur dalam kitabnya Lisan al-‘Arab, lawan kata dari al-birru adalah al-‘uququ (kedurhakaan)
  4. Menurut Ibnu ‘Arabi al-birru : melakukan segala amal kebaikan
  5. Menurut Imam Nawawi al-birru isa bermakna al-shilah (hubungan) dan al-luthfu (kelembutan).

Dari beberapa definisi di atas, Hasan Bashrî menyimpulkan arti Birrul Walidaini yaitu berbuat baik kepada kedua orang tua dengan cara mendermakan segala sesuatu yang dimiliki, mentaati segala perntahnya dan menjauhi segala yang di benci, selama hal tersebut tidak melanggar syariat, serta tidak menyakitinya baik dengan perkataan dan perbuatan.

III. Hukum Birrul Walidaini

Asal hukum Birrul Walidaini adalah wajib, kemudian bisa menjadi haram jika bertentangan dengan perintah Allah Swt.. Lalu dalam hal apa saja Birrul Walidaini menjadi wajib atau haram?

  1. Wajib

Kita sebagai anak wajib mentaati dan melaksanakan segala perintah orang tua selama tidak bertentangan dengan syariat agama, sebagaimana firman Allah:
ووصين الإنسان بوالديه حسنا وإن جاهدوك لتشرك بى ما ليس لك به علم فلا تطعهما
Artinya : “Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuan tentang itu, maka jangan kamu ikuti keduanya.” (QS. Al-Ankabut: 8)
Bahkan Birrul Walidaini lebh utama dari pekerjaan nawafi l(sunnah), seperti: jihad, menuntut ilmu, shalat, puasa dan lainnya. Sebagaimana dalam hadist Rasulullah Saw.:
ارجع فأضحكهما كما أبكيتهما) و فى لفظ آخر (لا أبايعك حتى ترجع إليما فتضحكهما ما أبكيتهما
Artinya :”Kembalilah kamu kepada kedua orang tuamu, hentikan tangisnya dan buatlah merelka bahagia.” Dalam hadist lain dikatakan:”Saya (Rasulullah Saw.) tidak membaitmu sampai kamu kembali kepada orang tuanmu untuk menghentikan tangisnya dan membahagiakannya.”

Rasulullah Saw.mengatakan hal tersebut ketika ada seorang pemuda yang datang untuk dibaiat, sedangkan orang tuanya menangis dan tidak meridhoi kepergiannya. Karena begitu pentingnya Birrul Walidaini, maka Rasulullah Saw. tidak membaiatnya dan menyuruhnya kembali kepada orang tuanya untuk membahagiakannya.
Jadi dari hadist tersebut dapat diambil kesimpulan bahwasanya meninggalkan perkara sunnah lebih utama dari pelaksanaan Birrul Walidaini.
Dalam hal yang syubhat pun, mentaati perintah orang tua tetaplah kewajiban, meskipun kita sudah membiasakan diri untuk menghindari segala sesuatu yang syubhat hukumnya. Sebagai contoh; apabila ada seorang anak yang meragukan pekerjaan orang tuanya; apakah halal, haram atau syubhat, di lain sisi dia ingin bersikap wara’. Kemudian apakah dia harus bersikap wara’ dengan cara tidak makan bersama mereka atau Birrul Walidaini dengan makan bersama?. Maka, apabila dengan bersikap wara’ dapat menyakiti orang tua, dia harus mengutamakan Birrul Walidaini, karena menyakiti oarng tua termasuk perbuatan haram dan dosa besar, sedangkan melakukan suatu yang syubhat tidak termasuk perbuatan yang haram. Sebagaimana dalam Al-Qur’an disebutkan:

إما يبلغنّ عندك الكبر أحدهما أو كلا هما أف ولا تنهر هما فقل لهما قولا كريما

Artinya: “Jika salah seorang di antara keduanya(orang tua) atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan jangnalah membentak mereka dan ucapkanlah perkatan yang mulia.” (QS. Al-Isrâ: 23)

Jadi, dari pemaparan diatas sudah jelas bahwasanya ketaatan kita kepada orang tua adalah wajib dan lebih utama daripada melaksanakan sunah dan meninggalakan kesyubhatan.

  1. Haram

Taat kepada perintah orang tua haram hukumnya ketika:
Pertama : Bertentangan dengan syariat Islam, seperti: perintah untuk kufur atau keluar dari agama Islam. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

وإن جاهدوك على أن تشرك بى ما ليس لك به علم فلا تطعهما

Artinya : “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah ikuti keduanya.” (QS. Lukman: 14)

Dalam Tafsîr al-qur’ani’l-‘azhim dijelaskan bahwasanya setelah turun ayat tersebut, ada seorang pemuda bersama Sa’ad bin Malik baru masuk Islam dan dia adalah orang yang selalu berbuat baik kepada orang tua. Akan tetapi ketika ibunya menyuruh untuk kufur (keluar dari agama Islam), kemudian mengancamnya dengan tidak akan makan dan minum sampai dia kufur, dia tetap pada pendiriannya yaitu Islam. Bahkan dia berkata: “wahai ibuku, sesungguhnya andaikan engkau dikarunia Allah Swt. seratus nyawapun dan menghilang satu-persatu, saya tidak akan keluar dari agama Islam. Setelah mendengar perkataan tersebut, pada akhirnya sang ibu kembali makan dan minum seperti biasanya.”
Kedua : Bersinggungan dengan hal-hal yang fardhu ‘ain (wajib), seperti: mencari ilmu karena tidak ada seorangpun yang pergi menuntut ilmu, maka kita tidak boleh mengikuti perintah orang tua untuk tetap di rumah. Sebagaimana firman Allah Swt.:
ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخيرو و يأمرون بالمعروفو وينهون عن المنكر

Artinya : “Dan hendaklah diantara kamu segolongan umat menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.” (QS. Ali Imran: 104)

Begitu juga dengan jihad yang diwajibkan kepada setiap mukallaf. Maka kita harus tetap pergi walau orang tua tidak mengizinkan.

IV. Realisasi Birrul Walidaini dalam Kehidupan Sehari-hari

a. Tidak memanggil orang tua dengan namanya, melainkan dengan panggilan yang lembut dan penuh kasih sayang sehingga membuat mereka bahagia, seperti: Bapak-Ibu atau Aba-Umi. Karena saling mencaci maki orang tua termasuk kedurhakaan, sebagaimana dalam hadist nabawi :

إن من أكبر الكبائر أن يلعن الرجل والديه قيل يا رسول الله! وكيف يلعن الرجل والديه؟: يسب أبا الرجل فيسب أباهو ويسب أمه (رواه البخارى و مسلم)

“sesungguhnya yang termasuk ke dalam dosa-dosa besar adalah seseorag yang mencaci orang tuanya, kemudian sahabat bertanya: wahai Rasulullah bagaimana kriteria orag yang menghina orang tuanya? Maka Rasulullahpun menjawab :apabila dia menghina orang tua temennya maka berarti dia telah menghina orang tuanya sendiri dan ibunya” (HR. Bukhari dan Muslim)

b. Tidak mendahului keduanya dalam segala hal; baik makan, minum, duduk dan berjalan. Dalam hal ini para salafuna as-sholeh telah memberikan teladan kepada kita, salah satunya yaitu bernama Zainal ‘Abidin, dia orang yang dikenal baik kepada ibunya. Orang tidak pernah melihat dia mendahului ibunya ketika makan dalam satu piring, karena dia berpendapat bahwasanya hal itu termasuk kedurhakaan kepada orang tua.
c. Selalu menampakkan wajah berseri-seri di depan keduanya
d. Menasehati keduanya dengan penuh kelembutan dan tidak menyakitinya apabila mereka tidak menerima nasehat tersebut. Dalam firman-Nya, Allah Swt. memerintahkan kita untuk tetap bermuamalah baik kepaad orang tua meskipun kafir:
و صا حبهما فى الدنيا معروفا

Artinya : “ Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Lukman: 15)

Dan berbuat baik kepada orang tua tetaplah merupakan kewajiban meskipun mereka tidak menerima nasehat kita, karena hanya Allah Swt.lah yang memberikan hidayah kepada manusia

e. Selalu melaksanakan perintahnya dengan ikhlas dan tanpa kebencian atau keterpaksaan, selama tidak bertentangan dengan syariat agama
f. Berbicara dengan lembut dan sopan. Sebagaimana dalam firman Allah Swt.:

إما يبلغنّ عندك الكبر أحدهما أو كلا هما أف ولا تنهر هما فقل لهما قولا كريما

Artinya : “Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah membentak mereka dan ucapkanlah perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isrâ: 23)

g. Mencukupi kebutuhan mereka; sandang, pangan dan papan
h. Berdoa kepada Allah Swt. Untuk selalu diberi ampunan dan rahmat-Nya. Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat dalam menafsirkan ayat di bawah ini :

ماكان للنبيّ والذين امنوا أن يستغفروا للمشركين ولو كانوا أولى القربى من بعدما تبين لهم أنهم أصحاب الجحيم

“Nabi dan orang-orang yang beriman tidaklah mendoakan orang-orang musyrik walaupun mereka itu adalah kerabat dekat setelah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah para penghuni neraka jahannam” (QS. At-Taubah: 113)

Pertama: Imam Baghowi berpendapat bahwa doa untuk kedua orang tua agar diberi rahmat dan ampunan, khusus bagi orang tua yang muslim tidak untuk orang tua yang kafir.
Kedua : Imam Nawawi juga tidak membolehkan, tapi kita hanya boleh mendoakan orang tua yang kafir agar dikarunia hidayah dan kesehatan.
Ketiga : Boleh, karena berdoa untuk ampunan dan hidayah orang tua yang kafir,berarti berdoa untuk hidayah Islam sampai diampuni segala dosa yang telah diperbuat sebelumnya.

i. Selalu menghormatinya
j. Meminta doa dan keridhoan dari mereka. Terutama doa seorang ibu, cepat dikabulkan. Di bawah ini ada beberapa kisah mengenai hal tersebut:
Pertama : Doa seorang ibu bisa melepasakan rantai dari kaki anaknya dengan izin Allah Swt..
Pada suatu ketika ada seorang ibu yang mendengar kabar bahwa anaknya berada ditangan raja Romawi, kemudian ibu tersebut berdoa untuk keselamatan anaknya, Allah Sw. mengabulkannya, setiap keluar dari penjara untuk melakukan pekerjaan sebagai tahanan, setiap berjalan beberapa langkah, rantai yang terikat di kakinya selalu terbuka dengan sendirinya. Kemudian petugas penjara yang mengetahui hal tersebut segera melapor kepada atasannya. Akhirnya atasan tersebut bertanya kepadanya : “Apakah ibumu masih hidup?,’Ya’, jawab pemuda itu. Kemudian atasan tersebut membebaskannya dan berkata:”Allah swt. Telah mengabulkan doa ibumu dan kembalilah kepadanya!”
Kedua : Dengan ridho dan doa seorang ibu mempermudah kita dalam mencari ilmu.
Sebagaimana diriwayatka dalam hadist: bahwasannya ada seorang anak berumur sepuluh tahun belajar kepada seorang syeikh. Ketika syeikh menyuruh dia maju dan membaca surat al-Fatihah, ternyata anak tersebut tidak bisa membacanya dengan baik. Kemudian syeik bertanya: “Apakah ibumu masih hidup?”, ‘Ya’, jawabnya,’pulanglah dan mintalah doa darinya untuk kemudahan kamu menuntut ilmu”. Sang ibu mendoakannya dan akhirnya, berkat doa tersebut dia menjadi seorang faqih dan mengajarkan ilmu-ilmu agama di didaerahnya.
Ketiga : Kisah tentang Imam Zamakhsyari.
Pada suatu hari Imam Zamakhsyari menangkap seekor burung dan mematahkan tulang kaki burung tersebut, ketika itu beliau masih kecil. Sang ibu melihat apa yang diperbuatanaknya dan berkata: “Semoga Allah Swt. Mematahkan kakimu sebagaimana kamu mematahkan kaki burung itu!”. Maka ketika dalam perjalanan untuk mencari ilmu, beliau jatuh dari tunggangannya dan tulang kakinya pecah sehingga akhirnya harus diamputasi.

V. Keutamaan Birrul Walidaini

a. Pahalanya lebih utama dari jihad fi sabilillah, sebagaimana diriwayatkan dalam hadist, ketika Rasululah Saw. Ditanya seseorang tentang pekerjaan yang paling utama dalam hidup ini :

أي العمل أفضل؟ قال: الصلاة على وقتهاز قلت ثم أى؟ قال: بر الوالدين قلت ثم أى؟ قال: الجهاد فى سبيل الله (رواه البخارى و مسلم)

Artinya : “Pekerjaan apa yang paling utama?, Rasululah Saw. Menjawab : ‘Shalat pada waktunya’. Kemudian apa?, berbuat baik kepada orang tua. Kemudian apa?, berjuang di jalan Allah Swt..” (QS. Bukhari Muslim)

b. Pahalanya sebanding dengan pahala haji dan umroh. Dikisahkan dalam hadist bahwasanya ada seorang pemuda yang ingin berjihad (haji atau umroh), tapi tida mampu melaksanakannya. Kemudian Rasululah Saw. Berkata :

هل بقى من والدك أحد؟ قال أميز قال رسولالله صلى الله عليه وسلم: فأبل الله فى برها فاإذا فعلت ذلك فأنت حاج و معتمر ومجاهد (رواه أبو يعلى)

Artinya : “Apakah salah satu dari orang tuamu masih hidup?, ‘Ya, ibuku’, jawabnya. Maka Rasululah Saw. Berkata : ‘Allah Swt. Memerintahkanmu untuk berbuat baik kepadanya, dan apabila kamu melaksanakannya niscaya pahala yang Allah Swt. Berikan sebanding dengan pahala haji, umroh dan jihad.”

c. Pahalanya sebagai penghapus dosa-dosa kecil dan kafarat dosa besar.
Pada suatu ketika datang seorang laki-laki yang telah melakukan dosa besar kepada Rasululah Saw., menanyakan bagaimana cara bertaubat dari dosa tersebut. Beliau bertanya :

هل لك من أم؟ لاز قال : فهل لك من خالة؟ قال: نعمز قال: فبرها(رواه الترمذى)

Artinya : “Apakah ibumu masih hidup?,’tidak’, jawabnya. Apakah bibi dari ibumu masih hidup?,’Ya’, jawabnya. Maka Rasululah Saw. Berkata: ‘Berbuat baiklah kepadanya!.” (HR. Tirmizi)

d. Masuk syurga dengan berbuat baik kepada orang tua. Sebagaimana dalam hadist nabawi:

قال رسولالله صلى الله عليه وسلم:دخلت الجنة فسمعت قراءةو فقلت من هذا؟ فقيل: حارثة بن نعمانو فقال رسولالله صلى الله عليه وسلم: كذالكم البرّو و كان أبرالناس بأمه (رواه أحمد)

Artinya : “Rasululah Saw. Berkata :”Saya mendengar suara ketika memasuki syurga dan bertanya ‘siapakah ini?’. Maka dijawab ‘Harist bi Nu’man’. Kemudian Rasululah Saw. berkata : ‘ inilah teladan kalian dalam berbuat baik kepada seorang ibu, karena dia orang yang paling baik kepada seorang ibu.”(HR. Ahmad)

e. Mendapatkan keridhoan Allah Swt. Karena ridho-Nya berada pada ridho orang tua. Dalam hadist dikatakan :

رضى الرب فى رضى الوالدين و سخط الله فى سخط الولدين
(رواه الترمذى)

Artinya : “Ridho Allah Swt. berada pada ridho orang tua dan murka Allah Swt. berada pada kemurkaan orang tua.” (HR. Tirmizi)

f. Menambah panjang umur dan rezeki. Sebagaimana sabda Rasululah Saw. :

من سره أن يمد له فى عمره ويزاد فى رزقه فليبر وليصل رحمه (رواه أحمد)

Artinya : “Merupakan rahasia-Nya untuk memanjangkan umur seseorang dan menambah rezekinya, maka berbuat baiklah kepada orang tua dan jagalah hubunganmu dengan mereka.”
VI. ‘Uququl Walidaini

a. Definisi

‘Uquq berasal dari kata ‘aqqa yang berarti memutus, yang dimaksud adalah semua perbuatan seorang anak yang dapat menyakiti orang tua, baik dari sikap, perkataan dan perbuatan yang tidak merupakan maksiat kepada Allah Swt.. Sebagaimana sabda Rasululah Saw. :
لا طاعة لمخلوق فىمعصية الخالق
Artinya : “Tidak ada ketaatan kepada seorang makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Khaliq.”

b. Dalil-Dalil

Pertama : Ayat-ayat Al-Qur’an

إما يبلغنّ عندك الكبر أحدهما أو كلا هما أف ولا تنهر هما فقل لهما قولا كريما

Artinya : “Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah membentak mereka dan ucapkanlah perkataan yang mulia.”(QS. Al-Isrâ: 23)

واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا و بالوالدين إحسانا

Artinya :“Sembahlah Allah Swt. dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada orang tua.”(QS. An-Nisâ: 36)

وقضى ربك أن لا تعبدوإلاإياه وبالوالدين إحسانا
Artinya : “Dan Tuhanmu yang memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.”(QS. Al-Isrâ: 23)

قل تعالوا أتل ما حرّم ربكم عليكم ألا تشركوا به شيئا وبالوالدين إحسانا

Artinya : “Katakanlah ’Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu. Yakni : janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia dan berbuat baiklah kepada orang tua.” (QS. Al-An’am: 151)

ووّصين الإنسان بوالديه إحسانا حملته أمه كرها ووضعته كرها وحمله و فصاله ثلاثون شهرا

Artinya : “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tua (ibu bapaknya) ibunya mengandung dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah juga. Mengandungnya dan menyapihnya selama tiga puluh bulan.” (QS.Al-Ahqof: 15)

ووّصين الإنسان بوالديه إحسانا وإن جاهداك لتشرك بى ما ليس لك به علم فلا تطعهما

Artinya : “Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tua(ibu bapaknya). Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang kamu tidak ada pengetahuan tentang itu, maka jangan kamu mengikuti keduanya.” (QS. Al-Ankabut: 7)

Kedua : Hadist Rasululah Saw.

إن الله حرم عليكم عقوق الأمهات (رواه البخاري)

Artinya : “Sesungguhnya Allah Swt. mengharamkan kepadamu sekalian durhaka kepada ibu-ibumu.”(HR. Bukhari)

قال رسولالله صلى الله عليه وسلم: ألا أنبئكم بأكبر الكبائر؟ فقلنا: بلى يا رسول اللهز قال: ثلاثاو الإشراك بالله و عقوق الوالدين …

Artinya : “Maukah kalian ku beritahu dosa-dosa besar? Kami menjawab: ‘tentu saja ya Rasulullah. Beliau bersabda: ‘Menyekutukan Allah Swt., durhaka kepada orang tua.”

ثلاثة لا يدخلون الجنة العاق لوالديه والديوث والرجلة (رواه السائى)

Artinya : “Tiga orang tidak akan masuk surga yaitu durhaka kepada orang tua, mucikari dan orang yang tomboy.” (HR. An-Nasâi’)

ولعن الله من لاعن والديه (رواه مسلم)

Artinya : “Dan Allah Swt. melaknat anak yang dilaknat orang tuanya.”(HR. Muslim).

c. Faktor Penyebab

  1. Minimnya pengetahuan anak tentang hak-hak orang tauladan dalil-dalil tentang berbuat baik kepada orang tua, baik berasal dari ayat Al-Qur’an maupun hadist Rasulullah Saw.. Maka dari itu, orang tua harus mendidik anaknya dengan baik; menjelaskan tentang janji Allah Swt. kepada orang yang berbuat baik kepada orang tuanya dan azab-Nya bagi yang durhaka; menanamkan ketakwaan kepada Allah Swt. di hati anak sejak dini; membiasakan anak agar selalu menjaga hak-hak orang tua; membiasakan anak untuk menjauhi teman yang buruk akhlaknya, karena hal tersebut sangat cepat pengaruhnya, sebagaimana Rasulullah Saw. telah mengingatkan kita dalam hadistnya:

إنما مثل الجليس الصالح و جليس السوء كحامل المسك و نافخ الكير فحامل المسك إما أن يحذيك و إما أن تبتاع منه ريحا طيبة و نافخ الكير و إما أن يحرق ثيابك وإما أن تجد منها ريحا منتنة (رواه البخارى و مسلم)

“ Sesungguhnya perumpamaan orang yang berteman denga orang-orang yang baik dan dengan aorang-orang yang berteman dengan orang-orang yang jahat seperti orang pejual minyak wangi dan tukang pembakar besi, maka adapun orang penjual minyak wangi akan menenangkan kamu, atau kamu mendapatkan aroma wangi dari minyak wangi tersebut sedangkan orang yang pembakar besi ia akan membakar bajumu atau memerimu aroma yang busuk” (HR. Bukhari Muslim)

  1. Perceraian kedua orang tua. Pada kondisi seperti ini, terkadang bapak menyuruh anaknya untuk tidak mematuhi apa yang dikatakan ibunya atau sebaliknya. Mereka (orang tua) lupa akan tugasnya untuk menjaga anggota keluarganya dari api neraka. Sebagaimana dalam Al-Qur’an disebutkan :

ياأيها الذين امنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا وقودها الناس و الحجارة

Artinya : “Wahai orang-orang beriman, jagalah dirimu dan anggota keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”(QS. At-Tahrim: 9)

  1. Menikahnya salah satu dari orang tua karena cerai atau kematian. Dalam hal ini, karena minimnya pengetahuan anak akan maslahat orang tua sehingga menimbulkan sikap pertentangan kepada orang tua.
  2. Ketidakadilan orang tua kepada anak-anaknya. Maka dari itu orang tua harus berbuat adil kepada anak-anaknya dalam segala hal yang nampak; baik perbuatan, perkataan, senyuman dan pemberian. Kita sebagai anak harus ingat kepada firman Allah Swt.:

ولا تستوى الحنة ولاالسيئة إدفع بالتى هى أحسن فإذا الذى بينك و بينه عداوة كأنه ولىّ حميم

Artinya : “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang setia.” (QS. Fushilat: 32)

  1. Minimnya pengetahuan anak akan hak orang tua atas dirinya dan segala yang dimiliki. Hal ini menyebabkan kedurhakaan anak ketika orang tua mengambil harta anaknya. Perkara ini pernah terjadi pada zaman Rasulullah Saw., ketika seorang anak mengadukan bapaknya kepada Rasulullah Saw. Karena telah mengambil hartanya. Kemudian Rasulullah Saw. berkata :

أنت و مالك لأبيك (رواه ابن ماجه)

Artinya : “Kamu dan hartamu adalah milik bapakmu.”(HR. Ibnu Majah)

  1. Teladan yang kurang baik dari orang tua, seperti: minum minuman keras, meninggalkan shalat, sering bertindak kasar dan lain sebagainya.
  2. Kedurhakaan orang tua kepada orang tuanya, anak akan melakukan hal yamg sama sebagai balasan dari Allah Swt.. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.:

بروا أبائكم يبركم أبنائكم (رواه الطبرانى)

Artinya : “Berbuat baiklah kepada orang tuamu maka anakmu akan berbuat baik kepadamu.”

  1. Istri yang tidak shoehah dapat menyebabkan suami durhaka kepada orang tuanya dengan rayuan ataupun tipu muslihatnya. Allah Swt. telah menjelaskan bahwasanya seorang istri dan anak bisa saja menjadi musuh:

يا أيها الذين امنوا إن مب أزواجكم وأولادكم عدوا لكم فاذروهم

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, sesunguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu.” (QS.At-Tagabun: 13)

VII. Penutup

Pembahasan singkat di atas menunjukkan pentingnya birrul walidaini untuk kehidupan dunia dan akhirat, ia juga merupakan salah satu faktor pendukung kesuksesan dan kebahagiaan manusia. Oleh karena itu, saya berharap semoga kita semua dapat melaksanakan kewajiban sebagai seorang anak terhadap orang tua dengan baik, dibantu pemahaman kita terhadap dalil-dalil tentang pentingnya birrul walidain dan keutamaannya, serta teladan dari para salafuna as-sholeh. Semoga kita juga terhindar dari kedurhakaan kepada orang tua. Selain itu, semoga tulisan ini juga dapat dijadikan bekal pengetahuan untuk mempersiapkan diri sebagai orang tua di kemudian hari, sehingga kita dapat mendidik anak dengan baik dan terhindar dari api neraka. Kama tukhdim tukhdam (sebagaimana kamu berkhidmah, maka begitu pula orang akan berkhidmah kepadamu). Amien

—++—-+——–

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899