Berakhlak Mulia kepada Rasulullah saw

Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

‎السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Apa kabar saudaraku? Semoga kita senantiasa mendapatkan curahan rahmat dan kasih sayang Allah SWT dan kita termasuk orang yang mencintai Rasulullah saw. Amin!

Allah SWT berfirman,

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab: 21)

Jika kita berbicara tentang akhlak, mungkin timbul di dalam pikiran kita bagaimana berperilaku baik kepada orang tua, saudara, dan orang lain. Sebelum berakhlak kepada orang lain, kita wajib mendahulukan akhlak kepada Rasulullah saw. Namun, berakhlak kepada Allah SWT yang dibicarakan sebelumnya menjadi dasar akhlak untuk yang lain. Berakhlak kepada Rasulullah saw. termasuk bagian akhlak yang wajib dimiliki oleh umat Islam.

Nabi Muhammad saw. merupakan utusan Allah yang memiliki keluhuran budi sehingga menjadi teladan bagi umat manusia. Keteladanan Rasulullah meliputi segala aspek kehidupan, baik pribadi, keluarga, maupun masyarakat. Oleh karena itu, sebagai umatnya setiap muslim harus memiliki akhlak yang luhur pula Rasulullah saw.

Bagaimana umat Islam berakhlak kepada Rasulullah saw.? Rasulullah saw. sudah mengangkat derajat umatnya menjadi hamba yang bertauhid dan menjadikan Allah SWT sebagai Tuhan yang wajib disembah. Pribadi Rasulullah saw. adalah orang yang sangat berjasa menyampaikan jalan kehidupan yang benar kepada kita, yaitu Islam. Karena itu, kita harus mencintainya dan ajaran yang dibawanya.

Mencintai Rasulullah saw. sebagai pribadi berarti kita menjadikannya sebagai model sekaligus idola dalam kehidupan. Manusia yang paling kita cintai adalah Nabi Muhammad saw. Bahkan, kecintaan kita itu harus melebihi kecintaan kita kepada orang tua dan anak-anak kita. Di dalam sebuah hadisnya, Rasulullah saw. bersabda,

لايؤمن أحدكم حتّى اكون أحبّ اليه من نفسه ووالِده وولَده والنّاس أجمعين

“Tidak beriman salah seorang di antaramu sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada dirinya sendiri, orang tuanya, anaknya, dan manusia semuanya. (HR Bukhari-Muslim)

Ukuran keimanan harus dilihat dari kecintaan kita kepada Rasulullah saw. Mungkin kita akan mencintai orang tua dan anak-anak kita. Namun, kecintaan kepada mereka tidak apa-apanya jika dibandingkan dengan kecintaan kita kepada Rasulullah saw. Kita harus lebih cinta kepada Nabi saw. daripada mereka walaupun mereka menjadi bagian kehidupan kita. Kecintaan kepada Rasulullah saw. itu harus ditanamkan kepada anak cucu kita. Jangan sampai mereka lebih mengidolakan artis dan selebritas daripada mengidolakan Rasulullah saw. Allah SWT berfirman yang menjelaskan ,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Ali Imran: 31)

Mencintai Nabi saw. berarti kita mencintai pula ajaran dan sunahnya. Ajaran Nabi saw. adalah syariat Islam yang dibawanya sebagai jalan hidup manusia. Kecintaan terhadap Islam berarti bahwa apa yang ada dalam Islam yang terkait dengan iman, syariat, dan akhlak Islam diakui kebenarannya dan wajib diamalkan. Ajaran Nabi Muhammad saw. adalah hak (benar). Kebenaran Islam tidak diragukan lagi. Kesempurnaannya sudah pasti. Orang yang mengakui kebenaran Islam itu hanya sebagian-sebagian bararti dia tidak membenarkan Rasulullah dan Al-Qur’an sebagai firman Alah SWT.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Maidah : 3)

Jika kalangan nonmuslim tidak membenarkan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., itu adalah haknya yang dibuktikan dengan mereka tidak beriman dan tidak menerima ajaran Islam. Namun, jika ada umat Islam yang menolak kebenaran ayat Al-Qur’an dan hadis Rasulullah saw, itu adalah aneh. Seorang dosen Universitas Indonesia yang ahli komunikasi dan bertitel doktor—saya sengaja tidak menyebut namanya, tetapi pembaca sudah maklum– gencar menimbulkan kegaduhan, baik mengatakan orang Minangkabau sebagai kadrun (kadal gurun) maupun cilotehnya tentang kebenaran Al-Qur’an dan sunah Rasulullah saw. Malah, dalam suatu seminar beberapa tahun yang lalu dia mengatakan bahwa Al-Quran dan hadis Nabi Muhammad menjadi “biang masalah dan pangkal bencana”. Bahkan, dia mengatakan dalam Pidato Kebudayaan dengan judul “Agama Ideal di Masa Depan” “Al-Quran bukan sebagai sumber hukum, bahkan Al-Qur’an diturunkan untuk keperluan pada masa Nabi Muhammad. Saat ini Al-Qur’an tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman karena hanya berisi gagasan. Yang hebatnya lagi, dia mengajari Allah SWT dengan pernyataannya, “Kalau Tuhan ingin Al-Qur’an menjadi kitab hukum, tidak masuk akal mengapa Dia menuntut umat manusia mencari-icari sendiri hukum yang dimaksud di antara ribuan ayat yang ada.” Maksudnya, sistematika Al-Qur’an harus sama dengan sistematika undang-undang. Hebat sekali cara berpikirnya. Memang dia manusia yang sudah keblinger.

Mungkin orang itu yang di dalam istilah agama disebut jahil murakab (bodoh yang memang bodoh) yang dipoles dengan titel doktor. Kebodohannya itu tampaknya lagi ketika dia mengatakan bahwa agama Islam masuk ke Ranah Minangkabau pada abad ke-15. Ternyata dia memang bodoh tentang sejarah. Padahal, pada akhir abad ke-13 (1390 M) sudah ada pedakwah Minangkabau sebagai utusan Raja Minangkabau yang sudah menyebarkan agama Islam ke Filipina, yang bernama Raja Baginda Ali (Rajo Bagindo Ali) di Kepulauan Sulu. Bahkan, dalam sejarah Filipina nama dia itu ternukil sebagai pendiri atau penggagas cikal bakal berdirinya Kesultanan Sulu.

Mencintai sunah Rasulullah berarti juga menghidupkan sunah Rasulullah saw. dalam kehidupan muslim. Rasulullah saw. tidak mewariskan apa-apa, selain Al-Qur’an dan sunah, seperti yang diwasiatkan beliau,

تَـرَكْتُ فِـيْكُمْ اَمـْرَيـْنِ لَنْ تَضِلُّـوْا مَا تَـمَسَّكْـتُمْ بِـهِمَا: كِـتَابَ اللهِ وَ سُنَّـةَ رَسُوْلـــِهِ.

“Aku tinggalkan kepadamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduaya, yaitu Kitab Allah dan sunah Rasul-Nya.” (HR Malik dan Hakim dari Abu Hurairah)

Sunah adalah segala apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw., baik perkataan, perbuatan, maupun pengakuan (takrir)-nya. Sunah kadang-kadang disebut juga hadis. Memang tidak semua hadis mengandung kebenaran karena ada hadis yang benar-benar berasal dari Rasulullah saw. yang dapat dipertanggungjawabkan berupa hadis sahih (valid) dan hadis hasan yang derajatnya di bawah sahih. Namun, ada pula hadis yang tidak dapat dipertanggungjawabkan karena kelemahan sanad (periwayat sebagai sandaran hadis) maupun matan (teks)nya. Hadis seperti itu disebut hadis daif yang tidak dapat dijadikan sebagai sumber hukum. Malah, ada lagi hadis yang pada hakikatnya tidak hadis, tetapi ada yang memasukkan sebagai hadis, yang disebut hadis palsu (mauduk). Jadi, hadis yang dapat dijadikan pegangan dalam menentukan hukum dan dijadikan dasar untuk suatu pendapat adalah hadis sahih dan minimal hadis hasan.

Berselawat kepada Nabi Muhammad saw. merupakan akhlak umatnya kepada beliau. Kemuliaan Rasulullah mengharuskan kita untuk memuliakan beliau dengan mengucapkan selawat kepada beliau. “Orang yang paling utama kepada beliau pada hari Kiamat adalah orang yang banyak berselawat kepada beliau” (Lihat: HR Tirmizi). Bahkan, beliau menyebutkan bahwa “yang benar-benar bakhil adalah orang yang ketika disebut namaku di hadapannya, ia tidak mengucapkan selawat kepadaku (HR Tirmidzi dan Ahmad).” Jangankan kita sebagai umatnya disuruh berselawat kepada Rasulullah saw., Allah SWT dan para malaikat saja berselawat kepada Rasul dengan firman-Nya,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56)

Memiliki akhlak kepada Rasulullah saw. ditunjukkan juga dengan menghormati ahli waris Rasul, yakni ulama. Ulama adalah penyampai kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah saw. yang konsisten dalam menyampaikan pesan-pesan keislaman yang diwariskannya. Tanpa ulama umat tidak akan menerima risalah Islam dan tidak akan paham tentang ajaran Islam. Oleh karena itu, umat Islam yang berakhlak terhadap Rasulullah saw. berkewajiban menghormati dan memuliakan ulama karena ulama memiliki ilmu yang menjadi dasar takut kepada Allah SWT,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُور

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Fatir: 28).

Misi kerasulan Nabi Muhammad saw. tidak saja dilanjutkan oleh para ulama, tetapi juga oleh setiap orang yang mengaku sebagai umatnya. Ulama memang bertugas menyampaikan dakwah islamiah kepada manusia, khususnya kepada umat Islam. Namun, setiap orang pun dituntut untuk menyampaikan kebenaran dan kebaikan walaupun satu ayat. Rusulullah saw. berpesan kepada umatnya,
بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (HR Bukhari)
Sebagai umat Nabi Muhammad saw., kita selalu bangga dengan sosok beliau yang menjadi teladan bagi kita. Keteladanan beliau itu mendorong kita untuk berakhlak mulia kepada Rasulullah saw. Jika menjadikan Rasulullah saw. sebagai manusia yang paling kita cintai, hal itu memang seharusnya demikian. Kerasulan beliau telah menuntun kita menjadi orang mukmin yang telah memilih Islam sebagai agama dan ajaran dalam hidup kita. Oleh karena itu, kecintaan kita kepada Rasulullah harus melebihi kecintaan kita kapada siapa pun.
Kecintaan itu kita wujudkan dengan banyak berselawat kepada beliau dan mengikuti sunah dan keteladanan beliau. Di samping itu, kecintaan dan penghormatan kita kepada para ulama sebagai ahli waris Rasulullah juga merupakan bukti akhlak kita kepada Nabi Muhammad saw. Semoga kita menjadi umatnya yang akan bersama beliau di akhirat dan berharap mendapatkan syafaat beliau yang tidak ada syafaat yang dapat diharapkan, kecuali syafaat Baginda Rasulullah saw. Amin!
Wallahul-muwafiq ila aqwamit-tariq.

‎والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Tangerang, 27 Juni 2020

++++++

Telah dibuka Pendaftaran Pondok Pesantren Modern Almuflihun Putra.

Formulir pendaftaran sebagai berikut:
https://bit.ly/3d9LaR0

Kontak: 0813-9278-8570

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899