Beranda Khazanah Ujian Kekurangan Harta

Ujian Kekurangan Harta


Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

  • السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ*

Apa kabar Bapak, Ibu, dan Saudaraku seiman? Semoga semua dalam keadan sehat walafiat, selalu dilindungi Allah Swt., dan semua amal kita semoga bernilai ibadah di sisi-Nya. Amin!

Mari kita simak ayat berikut ini.

ٱللَّهُ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ وَيَقْدِرُ لَهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Surah al-Ankabut:62)

Ujian lain dalam kehidupan adalah “kekurangan sebagian “harta benda yang di dalam surah al-Baqarah:155 disebut ونقص من الأموال (wanaqshin minal amwaal). Kekurangan harta itu dapat dimaknai keterbatasan rezeki dan kemiskinan. Bahkan, dapat pula terjadi pada orang kaya yang dalam seketika atau berangsur-angsur hartanya berkurang atau hilang dalam suatu bencana.

Sesuai dengan firman Allah di atas, rezeki yang diberikan Allah kepada manusia itu tidak sama. Ada orang yang kehidupannya sulit dan menderita yang sering kita sebut fakir-miskin. Ada pula orang yang rezekinya mudah didapat dan berlimpah.
Orang yang menderita karena kemiskinan banyak ditemukan di sekitar kita. Bisa jadi keluarga, kerabat, tetangga, dan kenalan kita. Jangankan untuk memenuhi keperluan sekunder, memenuhi kebutuhan primer untuk makan saja tidak mampu. Mereka lebih banyak “berpuasa” karena tidak ada yang dimakan.

Suatu ketika Khalifah Umar bin Kattab bersama sahabat Aslam pergi menelusuri perkampungan. Di sebuah rumah Umar mendengar anak yang menangis minta makan kepada ibunya. Si ibu sambil mengaduk-aduk penggorengan mengatakan bahwa Ibu sedang memasak. Padahal, yang diaduknya adalah air dan batu dengan harapan si anak akan tertidur. Umar mengintip apa yang dilakukan wanita itu. Betul, dia sedang menanak sesuatu yang tidak bisa dimakan. Umar terenyuh melihat orang tua itu mengaduk batu dan air. Umar bertanya, am”Apa yang engkau lakukan?” “Memasak untuk anakku agak tertidur dari puasanya. Inilah Umar yang tidak pefuli nasib rakyatnya.”

Umar tertegun dan terisak menahan tangisnya dengan penyataan perempuan yang tidak mengetahui bahwa orang yang bertanya itu Khalifah Umar bin Kattab. Asla ingin menegur perempuan itu, tetapi Umar melarangnya. Umar kembali ke Madinah dan membawakan sekarung gandum untuk keluarga itu.

Subhanallah, pernahkah kita merasakan hal yang separah itu? Masihkah kita menikmati makanan yang enak sementara ada saudara kita yang belum makan pagi, siang, petang/malam, bahkan beberapa hari belum makan? Itulah ujian yang diberikan Allah kepada orang “tidak punya”.

Sabar adalah kunci dari derita itu dan uluran tangan “orang punya” untuk berbagi kepada mereka sangat diharapkan. Ada hak mereka di dalam harta orang yang punya.

فَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ ذَلِكَ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Maka, berikanlah haknya kepada kerabat dekat, orang miskin, dan orang-orang yang berada dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mengharapkan keridaan Allah. Mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Surah Ar-Rum: 38)

Mungkinkah kekurangan harta itu terjadi pada orang kaya? Hal itu sangat mungkin. Sering kita menyaksikan bencana yang datang, baik seketika maupun bertahap. Bencana alam, seperti gempa, banjir, kebakaran, kecelakaan, dan penyakit dapat saja menjadi penyebab kekurangan, bahkan kehabisan harta. Coba kita renungkan diri kita sendiri! Pernah kita mengalami kebanjiran, kebakaran, dan penyakit? Kebakaran dapat menghabiskan harta benda dalam sekejap. Kebanjiran dapat merusak dan menengelamkan harta benda sehingga tidak bisa lagi digunakan dan harus dibuang. Penyakit yang pernah kita alami, keluarga, kerabat, dan sahabat kita. Bisa kita bayangkan berapa biaya perawatan dan penyembuhan penyakit dikeluarkan? Operasi jantung, misalnya, bisa menghabiskan ratusan juta yang kadang-kadang kita harus menjual harta benda kita demi kesembuhan?

Bukankankah itu cara Allah Swt. mengurangi harta kita. Akibatnta, orang yang tadinya punya dan berkecukupan seketika menderita dan kehilangan hartanya. Na’uzubillah!

Pandemi virus Corona saat ini kita rasakan dampaknya begitu terasa terhadap ekonomi masyarakat. Semua sektor ekonomi lumpuh. Kita hanya berdiam di rumah. Seharusnya kita mengais rezeki di berbagai sumber, tetapi usaha terhenti. Bukankah ini pengurangan harta dan pembatasan rezeki dari Allah?

Orang-orang yang diberi kelebihan rezeki oleh Allah Swt. perlu mawas diri. Suatu ketika Allah bisa saja mengambil kembali rezeki yang dianugerahkan itu. Kita tidak tahu. Tapi, jika kita pandai mensyukuri karunia Allah Swt., yakinlah Allah tidak akan tidak “mengambilnya”, justru Allah akan menambahnya. Sebaliknya, jika kita ingkar (kufur) terhadap nikmat Allah, akan datang ujian dahsyat sehingga harta benda kita akan musnah sebagai azab dari Allah Swt.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ”

“Ingatlah tatkala Rabb kalian menetapkan, Jika kalian bersyukur, niscaya akan Kutambah (nikmat-Ku) pada kalian dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), pasti azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim, [14]: 7)

Marilah kita sikapi hidup ini dengan bijak. Jika ujian yang datang kepada kita dalam bentuk kemiskinan dan kekurangan harta, takwa, sabar dan tawakal adalah modal kita. Kita yakin di balik kesulitan (penderitaan) pasti ada kemudahan (kebahagiaan) (Baca surah al-Insyirah:5–6). Manakala kita termasuk orang yang dilapangkan rezeki oleh Allah Swt., bahkan berlimpah, syukuri nikmat Allah itu dengan menggunakan rezeki itu untuk kepentingan ibadah dan takarub kepada-Nya dan berbagi kepada orang yang memerlukannya. Harus juga diingat kekayaan juga merupakan ujian dari Allah, apakah kita pandai bersyukur atau kufur terhadap nikmat Allah itu?

Wallahu a’alam bishshawaab.

Wassalamualaikum wr. wb.

—++—-+——–

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899