Puasa sebagai Ibadah Jasmani dan Rohani

Oleh Abdul Gaffar Ruskhan

  • السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ*

Apa kabar Bapak, Ibu, dan Saudaraku? Semoga semua dalam keadan sehat walafiat, khususnya dalam menyongsong tamu agung bulan Ramadan, dan selalu dilindungi Allah Swt. Amin!

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Surah Al-Baqarah: 183)

Firman Allah Swt. pada surah Al-Baqarah: 183 itu menjadi dasar kewajiban mukmin untuk berpuasa.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan derajat mukmin menjadi muttaqin (orang bertakwa).

Orang berpuasa pasti merasakan lapar pada siang, khususnya tengah hari. Biasanya, mereka makan pada siang saat datang jam istirahat tengah hari, baik di kantor, di lapangan, dan di rumah. Di samping lapar, mereka merasakan haus dan lelah. Bagi orang beriman, lapar, haus, dan lelah itu tidak menjadikannya dia mengeluh.

Ada orang yang di luar Ramadan merasakan kenyang dan puas dengan berbagai makanan yang disantap dan minuman yang diteguk. Bagi orang yang berkecukupan, lapar jarang, bahkan tak pernah, dirasakan. Orang kaya biasa makan pagi, siang, dan sore/malam, atau kapan pun. Namun, bagi orang fakir-miskin tidak makan (lapar) sudah menjadi hal yang biasa.

Sahabat Rasulullah saw. sering mengalami lapar karena ketiadaan makanan. Suatu hari Abu Hurairah jatuh pingsan di antara rumah Aisyah dan mimbar Rasulullah karena tak kuat menahan lapar. Setelah itu, ada seorang laki-laki lewat. Dia pun mendekati Abu Hurairah dan duduk di atas dadanya. Abu Hurairah pun mengangkat kepala dan berkata padanya, “Aku pingsan bukan karena sakit ayan, melainkan lantaran tak kuat menahan lapar.” (HR Bukhari dan Tirmizi).

Dalam kondisi wabah Corona ini apakah umat Islam berpuasa atau dapat dibatalkan (tidak berpuasa)?
Ibadah puasa adalah ibadah fisik dan hati. Fisik menahan lapar dan haus. Dalam situasi bekerja di mana pun, mukmin tidak boleh membatalkan puasa, kecuali ada alasan yang dibolehkan menurut Islam (syar’i). Apalagi, pada saat berjangkit virus Corona, tidak ada alasan untuk tidak berpuasa. Bukankan kita berdiam di rumah, tidak merasakan terik matahari, berdesakan naik kendaraan umum, dan tidak bekerja keras di lapangan. Itu pun kita tetap dituntut berpuasa.

Lain halnya dengan orang yang sakit terpapar virus Corona. Bisa jadi petugas medis atau keamanan yang menyebabkan sangat lelah sehingga kelelahannitu berpengaruh pada tugasnya yang harus menangani penderita. Ada alasan untuk tidak berpuasa bagi petugas tersebut. Kerena itu, muslim yang balig, tanpa alangan syar’i, tetap wajib berpuasa pada bulan Ramadan.
Puasa dikatakan sebagai ibadah hati karena berpuasa pada hakikatnya bagaimana mukmin berjuang mengendalikan nafsunya. Berpuasa bukan hanya menahan lapar dan haus, melainkan juga menahan diri dari berbicara yang tidak bermanfaat, memandang sesuatu yang menimbulkan syahwat, mendengar sesuatu yang sia-sia, dan melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan orang lain tersakiti. Hal itu didorong oleh hawa nafsu. Perhatikan sabda Rasulullah saw.,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut, kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR Ath- Thabrani)

Puasa tidak bernilai karena puasa dipandang sebagai ibadah fisik dengan manahan makan dan minum. Namun, puasa melalui ibadah hati (rohani) tidak dijalani. Akibatnya, puasa yang dilakukan dari terbit fajar sampai Magrib tidak bernilai di sisi Allah Swt.

Semoga bulan Ramadan yang sudah di ambang pintu memberi semangat kepada orang beriman. Puasa yang akan kita lakukan mampu meningkatkan ketakwaan yang akan memberi latihan jasmani dan rohani bagi mukmin. Wabah virus Corona yang melanda bangsa kita tidak menjadi kendala dalam malaksanakan puasa dan ibadah malam (qiyam) Ramadan. Bencana wabah ini semoga cepat berlalu. Amin!

Wassalamualaikum wr. wb

—++—-+——–

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan pesantren Almuflihun yang diasuh oleh ust. Wahyudi Sarju Abdurrahmim, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899